NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Mengenal Lebih Dekat

#

Seminggu.

Seminggu aku matiin HP. Seminggu aku nghindar dari dunia luar. Seminggu aku cuma fokus ke Bapak—ngasih makan, ngasih obat, mandiin, ngajak ngobrol tentang hal-hal nggak penting biar dia nggak stress.

Seminggu aku nahan diri buat nggak nyalain HP.

Tapi... tapi setiap malem, aku nangis.

Diam-diam. Di pojokan kamar. Sambil meluk bantal lusuh yang baunya apek. Sambil bayangin wajah Arkan. Senyumnya. Suaranya. Cara dia natap aku dengan mata yang... hangat.

"Ya Allah... kenapa aku gabisa lupain dia?"

Aku udah sholat tahajjud setiap malem. Udah baca Qur'an. Udah doa sekuat tenaga. Tapi... tapi bayangannya nggak ilang-ilang.

Malah makin jelas.

"Zahra... kamu kenapa? Dari tadi melamun terus."

Bapak. Suaranya udah lebih kuat. Batuknya udah jarang. Napasnya udah normal. Dokter bilang kondisinya membaik—meskipun masih harus kontrol rutin.

"Nggak apa-apa, Pak. Zahra cuma... cuma capek aja."

"Kamu kurusan, Zahra. Makan yang banyak. Jangan mikirin yang nggak-nggak."

Yang nggak-nggak.

Maksudnya Arkan kan?

"...iya Pak."

---

Pagi itu, aku keluar buat belanja sayur di pasar. Bapak udah bisa ditinggal sebentar—Bu Ria janji bakal ngecek dia tiap setengah jam.

Pasar pagi. Rame. Bau amis ikan campur bau sayur busuk. Ibu-ibu pada tawar-menawar dengan suara nyaring. Penjual daging teriak-teriak nawarin dagangannya. Dan aku... aku jalan sambil ngitung uang di dompet.

Lima puluh ribu.

Sisa uang dari Arkan—yang harusnya buat ongkos tapi aku simpen buat belanja.

"Mbak Zahra!"

Mbok Tini. Penjual gorengan langganan ku. Mukanya ramah, senyumnya lebar meskipun giginya udah ompong.

"Pagi Mbok..."

"Lho, HP-mu mati ya? Dari seminggu yang lalu aku coba hubungi, nggak bisa terus."

"Eh... iya Mbok. HP ku... HP ku rusak."

Bohong. Lagi.

"Oh iya, ada yang nyariin kamu lho."

Aku berhenti. "Nyariin? Siapa?"

"Cowok. Ganteng. Tinggi. Pake jas. Naik mobil mewah." Mbok Tini senyam-senyum. "Pacar baru ya?"

Jantung ku berhenti sedetik.

"Cowok... yang mana, Mbok?"

"Ya itu. Namanya... apa ya... Arkan? Iya, Arkan. Dia dateng kesini tiga hari yang lalu. Nanya-nanya kamu. Aku bilang kamu lagi di rumah. Tapi dia nggak bisa ketemu kamu karena HP-mu mati."

Arkan... kesini?

"Dia... dia bilang apa, Mbok?"

"Dia bilang, kalau ketemu kamu, suruh kamu hubungin dia. Katanya penting." Mbok Tini natap aku curiga. "Emang kalian kenapa? Putus ya?"

"Nggak... nggak ada apa-apa, Mbok. Dia cuma... cuma temen."

"Temen kok sampe nyariin segitunya? Hehehe, Mbok tau kok. Pasti pacar."

Aku nggak jawab. Langsung beli gorengan—lima biji, lima ribu—terus kabur.

Tapi sepanjang jalan pulang... otak ku nggak bisa diem.

Arkan nyari aku?

Dia... dia masih inget aku?

Padahal aku udah kirim pesan perpisahan. Padahal aku udah matiin HP. Padahal aku... aku udah nyoba lupain dia.

"Zahra, jangan... jangan pikirin dia lagi..."

Tapi kenapa... kenapa dadaku makin sesak?

---

Sampe kontrakan, aku liat ada mobil parkir di depan gang. Mobil hitam. Sedan mewah. Yang pernah aku liat seminggu yang lalu.

Mobil Arkan.

"Ya Allah..."

Jantung ku dag-dig-dug. Kaki ku lemas. Gorengan di tangan ku nyaris jatuh.

Dia... dia disini?

Aku jalan pelan. Masuk gang. Dan...

Arkan.

Arkan berdiri di depan pintu kontrakan ku. Ngobrol sama Bu Ria. Mukanya... cape. Mata berkantung. Rambutnya nggak rapi kayak biasanya. Jas abu-abunya kusut.

Kayak... kayak dia nggak tidur berhari-hari.

"Zahra!"

Bu Ria ngeliatin aku. Arkan langsung nengok.

Mata kami bertemu.

Dan saat itu... saat itu aku pengen nangis.

"Zahra..." Suaranya serak. "...akhirnya ketemu juga..."

Aku nggak bisa ngomong. Mulut ku kelu. Kaki ku nggak bisa gerak.

"Zahra, Mas Arkan ini dari tadi nunggu kamu. Udah sejam lebih." Bu Ria senyum. "Cowok yang baik ya, Zah. Setia banget."

"Bu Ria... aku... aku..."

"Udah, ngobrol sono. Ibu masuk dulu. Bapak kamu tidur, jadi nggak bakal tau." Bu Ria ngasih kode. Terus masuk rumahnya.

Tinggal aku sama Arkan. Berdua. Di gang sempit yang becek. Di bawah matahari yang panas menyengat.

"Zahra... kenapa kamu ngilang?"

Suaranya... sakit. Sakit yang bisa aku rasain sampe ke tulang.

"Mas... maaf... aku... aku nggak bisa jelasin—"

"Nggak bisa jelasin apa? Kenapa tiba-tiba kamu putus kontak? Kenapa HP kamu mati? Kenapa... kenapa kamu ngirim pesan kayak gitu terus kabur?" Dia jalan deket. "Aku... aku bingung, Zahra. Aku pikir aku salah. Aku pikir aku nyakitin kamu. Aku... aku nggak bisa tidur mikirin kamu..."

"Mas... ini bukan salah Mas..."

"Terus salah siapa? Salah aku yang terlalu memaksa? Salah aku yang... yang terlalu nunjukin perasaan aku?"

"BUKAN!" Suara ku keluar keras. "Ini... ini salah aku, Mas. Aku... aku yang nggak bisa... aku yang nggak berani..."

"Nggak berani apa?"

Aku nunduk. Air mata jatuh.

"...nggak berani ngelanjutin ini. Karena... karena kita beda, Mas. Kita... kita nggak mungkin..."

Hening.

"...karena aku Kristen?"

Aku ngangguk pelan.

"...karena Bapak kamu nggak setuju?"

Ngangguk lagi.

Arkan napas panjang. Keras. Kayak nahan emosi.

"Zahra... liat aku."

Aku angkat muka. Mata ku basah. Hidung meler. Muka ku pasti ancur.

Tapi Arkan... Arkan natap aku dengan tatapan yang... hangat. Meskipun matanya juga berkaca-kaca.

"Aku nggak peduli kita beda agama. Aku nggak peduli Bapak kamu nggak setuju. Aku... aku cuma peduli sama kamu. Sama perasaan aku. Sama... sama perasaan kamu."

"Mas jangan ngomong kayak gitu..."

"Kenapa? Kenapa aku nggak boleh jujur?" Dia pegang bahu ku. Lembut. "Zahra, aku suka sama kamu. Aku suka sejak pertama kali liat kamu. Dan aku... aku nggak mau kehilangan kamu gara-gara hal-hal yang bisa kita atur."

"Tapi ini bukan hal yang bisa diatur, Mas! Ini soal iman! Soal keyakinan! Soal—"

"Aku tau!" Suaranya naik. Dikit. "Aku tau ini nggak gampang. Aku tau ada banyak rintangan. Tapi... tapi aku nggak mau nyerah sebelum mencoba. Aku... aku mau berjuang buat kamu. Buat kita."

Kita.

Kata itu... kata itu bikin dada ku sesak.

"Mas... aku nggak bisa janji apa-apa..."

"Aku nggak minta kamu janji. Aku cuma minta... satu kesempatan. Kesempatan buat kamu kenal aku lebih jauh. Buat kamu liat... liat aku serius sama kamu."

"Tapi Bapak—"

"Aku bakal bicara sama Bapak kamu. Aku bakal jelasin semuanya. Aku bakal buktiin kalau aku serius."

"Mas nggak ngerti... Bapak aku keras kepala... dia nggak bakal—"

"Zahra." Dia pegang kedua tanganku. Erat. "Please. Kasih aku kesempatan. Cuma satu. Kalau setelah itu kamu masih mau pergi... aku nggak bakal ngejar lagi. Aku janji."

Aku natap mata dia. Mata yang penuh harapan. Penuh... kesungguhan.

Dan aku...

Aku nggak kuat nolak.

"...oke. Satu kesempatan."

---

Arkan ngajakin aku ke kantornya. Dia bilang dia mau aku liat dunianya. Biar aku ngerti dia bukan cuma "orang kaya yang kasih charity". Dia mau aku tau... siapa dia sebenarnya.

Aku ragu. Tapi... tapi akhirnya aku ikut.

Aku bilang ke Bapak aku mau ke pasar lagi—bohong—terus naik mobil Arkan.

Mobilnya... wah. Dalemnya dingin. AC nyala. Jok kulit empuk. Ada wangi parfum mahal. Musik klasik pelan ngalun dari speaker.

Beda banget sama angkot yang biasa aku naiki.

"Zahra, nanti kalau udah sampe kantor, jangan kaget ya. Kantorku... agak... rame."

"Rame gimana?"

"Ya... banyak orang. Banyak meeting. Banyak kerjaan. Jadi mungkin kamu bakal ngerasa... nggak nyaman."

"Mas... aku... aku nggak pantas masuk ke kantor Mas..."

"Kenapa nggak pantas?" Dia nengok sekilas. "Kamu tetep kamu. Nggak ada yang nggak pantas."

Tapi aku liat baju ku—daster lusuh warna pink pudar, hijab coklat bolong di ujung, sendal jepit yang solnya copot sebelah.

Sementara Arkan pake jas hitam rapi, kemeja putih, dasi merah marun, sepatu pantofel kilap.

Kami... kami beda dunia.

---

Gedung Wijaya Group. Tower A. 28 lantai. Kaca-kaca mengkilap. Pintu otomatis. Lobby luas dengan lantai marmer putih, sofa kulit hitam, dan resepsionis cantik yang senyumnya... palsu.

"Selamat pagi, Pak Arkan."

"Pagi." Arkan jalan cepet. Aku ngikutin di belakang—kayak anak ayam ngikutin induknya.

Lift. Musik klasik lagi. Angka lantai naik—10, 15, 20, 25, 28.

TING.

Pintu lift kebuka. Dan...

Ya Allah.

Kantor seluas lapangan bola. Puluhan orang duduk di meja-meja kaca. Komputer dimana-mana. Telepon bunyi nyaring. Orang-orang pada ngomong sambil jalan cepet. Semuanya pake jas, blazer, sepatu hak tinggi.

Dan aku?

Aku kayak sampah yang kemasukan angin ke gedung mewah.

"Pak Arkan, selamat pagi."

"Pagi Pak Arkan."

"Pak, meeting jam 10 dengan klien dari Singapura."

"Pak, proposal proyek Surabaya sudah saya kirim ke email."

Orang-orang pada nyapa Arkan. Arkan bales dengan singkat—profesional. Dia jalan ke ruangan paling ujung. Ruangan dengan pintu kaca bertuliskan:

**ARKAN ALEXANDER WIJAYA**

**Director of Operations**

Dia buka pintu. Masukin aku duluan.

"Silakan masuk."

Ruangannya... gede. Meja kayu besar. Kursi putar empuk. Rak buku penuh file. Jendela gede ngadep pemandangan kota Jakarta. Ada foto keluarga di meja—Arkan, kakaknya, dan orang tua mereka. Semuanya senyum. Bahagia.

"Duduk, Zahra. Santai aja."

Aku duduk di sofa tamu—sofa kulit coklat yang empuk banget. Kaki ku nggak nyampe lantai karena sofa-nya tinggi.

Arkan duduk di sebelah ku. "Gimana? Nggak nyangka kan?"

"Aku... aku nggak tau Mas sehebat ini..."

"Hebat? Nggak kok. Aku cuma... cuma beruntung lahir di keluarga yang punya perusahaan. Itu aja."

"Tapi Mas pasti pinter. Nggak mungkin jadi direktur kalau nggak pinter."

Arkan senyum. "Makasih. Tapi... semuanya ada harganya, Zahra. Aku kerja 12 jam sehari. Pulang malem. Meeting terus. Stress. Tekanan dari klien, dari keluarga, dari... dari Mama."

"Mama Mas... gimana orangnya?"

Arkan diam. Mukanya berubah.

"...dia... strict. Perfeksionis. Dan... dia nggak bakal suka kamu."

DEG.

"K-kenapa?"

"Karena kamu bukan dari keluarga kaya. Karena kamu muslim. Karena... karena Mama punya 'standar' buat calon istri anak-anaknya." Dia natap aku sedih. "Tapi aku nggak peduli. Aku... aku bakal berjuang buat kamu."

TOK TOK TOK.

Ketukan pintu.

"Masuk."

Pintu kebuka. Seorang wanita masuk—tinggi, langsing, pake blazer hitam ketat, rok pensil, sepatu hak tinggi. Rambutnya lurus panjang. Wajahnya... cantik. Cantik yang artificial. Makeup tebal.

"Pak Arkan, ini dokumen yang Bapak minta."

"Makasih, Vero. Taruh di meja aja."

Vero. Dia taro dokumen di meja. Terus... matanya ngelirik ke aku.

Tatapannya... dingin. Menghakimi.

"Pak... ini... siapa?"

"Temen aku. Zahra."

"Oh." Vero senyum. Tapi senyumnya nggak sampe mata. "Salam kenal, Mbak... Zahra."

Aku cuma ngangguk kecil. Nggak berani ngomong.

"Vero, ada lagi?"

"Tidak, Pak. Saya permisi dulu." Dia keluar. Tapi sebelum keluar... dia ngelirik aku lagi. Sekilas. Tajam.

Pintu tertutup.

"Mas... dia siapa?"

"Sekretaris aku. Veronica Tan. Dia... dia udah kerja di sini tiga tahun. Efficient. Tapi... agak... possessive."

"Possessive?"

"Dia... dia suka sama aku. Aku tau. Meskipun dia nggak pernah ngomong langsung."

Oh.

Jadi... jadi dia rival aku?

Tunggu. Rival? Emang aku siapa? Aku kan bukan pacar Arkan.

Tapi... tapi kenapa dadaku sesak ngebayangin wanita cantik itu... deket sama Arkan?

---

Siang itu, Arkan ngajak aku makan di kantin karyawan. Bukan di restoran mewah—dia bilang dia mau aku ngerasain "real working life" dia.

Kantin karyawan di lantai 15. Luas. Bersih. Menu banyak—nasi padang, nasi goreng, bakmi, sampai makanan western.

Kami pesen nasi padang. Duduk di meja pojok.

"Zahra, enak nggak?"

"Enak, Mas. Rendangnya... empuk banget."

"Syukur deh. Aku suka makan disini. Lebih... humble. Nggak se-fancy restoran."

Aku senyum.

Tapi dari ujung mata ku... aku liat Veronica. Dia duduk di meja seberang. Bareng dua karyawan cewek lain. Mereka... mereka ngeliatin kami. Bisik-bisik. Ketawa kecil.

"Mas... sekretaris Mas ngeliatin kita..."

Arkan nengok sekilas. "Bodo amat. Biarin aja."

Tapi aku... aku nggak bisa biarin.

Karena aku tau...

Veronica... dia bakal jadi masalah.

Dan aku nggak salah.

---

Sore itu, setelah Arkan nganterin aku pulang, Veronica langsung nelpon seseorang.

Dari dalam mobilnya—mobil BMW putih yang parkir di basement gedung—dia ambil HP. Cari satu kontak.

**Mrs. Angelina Wijaya**

Dia pencet call.

Nada dering. Satu kali. Dua kali.

"Halo?"

Suara dingin. Autoritatif.

"Selamat sore, Tante Angelina. Saya Veronica."

"Veronica? Ada apa?"

"Tante... saya mau lapor sesuatu. Soal Pak Arkan."

"Arkan kenapa?"

"Pak Arkan... hari ini membawa seorang wanita ke kantor. Wanita itu... bukan dari kalangan kita, Tante. Penampilannya... sangat sederhana. Dan... saya dengar dari satpam, wanita itu naik mobil Pak Arkan."

Hening di seberang.

"...wanita itu... siapa?"

"Namanya Zahra. Saya nggak tau lebih detail. Tapi... Tante pasti nggak mau kan kalau Pak Arkan dekat dengan wanita yang... tidak setara dengan keluarga kita?"

Lagi hening. Panjang.

"...Veronica, kamu sudah melakukan hal yang benar. Aku akan urus ini. Terima kasih."

"Sama-sama, Tante."

KLIK.

Veronica senyum. Senyum puas.

"Maaf ya, Mbak Zahra. Tapi Pak Arkan... bukan untuk orang seperti kamu."

---

**BERSAMBUNG KE BAB 9...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!