Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.
Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.
Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...
baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 - Musuh, Teman, dan Sesuatu
Di Malam Hari Tanpa Cahaya Dari Api
Arthur duduk sendirian di ruangan arsip lama setelah ia memikir kejadian-kejadian tepat di depan jendela kamarnya yang telah menimpa keluarga dan dirinya. Dan pergi keruangan yang jarang digunakan sejak hal itu terjadi. Di ruangan berdebu dan bau kertas tua dan lilin memenuhi udara.
Ia membuka peta lama yang sudah sedikit usang dan robek, sebuah peta lama wilayah Tirpen dari kekaisaran Valerion.
Nama ayahnya, Marquis Fireloren keluarga penjaga perbatasan, tertulis disana, dikelilingi garis-garis samar yang mengarah ke berbagai wilayah disekitar.
Arthur tidak mengerti arti garis-garis itu semuanya.
Tapi ia mulai merasakannya perlahan.
Tiga Nama Keluarga Yang Terlalu Sering Muncul
Arthur memperhatikan satu hal:
beberapa nama muncul berulang kali dalam laporan lama, catatan pajak, dan surat diplomatik.
Marquis Florence, Keluarga penjaga perbatasan yang mirip dengan Keluarga Arthur.
Duke New Gate, Keluarga yang telah berdiri lebih lama dari kebanyakan keluarga lainnya di wilayah Tirpen.
Duke Polein, Keluarga yang kaya mengendalikan sebagian arus uang di wilayah Tirpen.
Ia lalu membawa temuan itu pada paman Norvist keesokan paginya.
“Kenapa nama mereka sering ada di arsip kita?” tanya Arthur.
Norvist menatap kertas itu lama sebelum menjawab.
“Karena mereka besar, dan hanya pengecut” katanya singkat.
Arthur menunggu.
“Dan karena mereka tidak suka ada satu keluarga yang terlalu… mandiri.”
Marquis Florence
Norvist berjalan ke jendela, menatap taman.
“Florence adalah keluarga militer yang menjaga perbatasan yang sama seperti kita” katanya.
“Mereka memiliki pasukan besar, tapi mereka tahu bagaimana membuat orang lain takut.”
Arthur mengingat Borein. Perlindungan.
“Mereka ingin menjadikan wilayah Yosemite miliki kita yang terkenal dengan sawit dan bahan tambang untuk menjadi milik mereka dan ayahmu menolak usulan itu untuk dikuasai” lanjut Norvist.
“Karena Moren percaya, wilayah Yosemite bisa disalahgunakan… dan mengancam keselamatan wilayah keluarga kita.”
Arthur menunduk.
Duke New Gate
“New Gate berbeda, Arthur” lanjut Norvist.
“Mereka keluarga yang memiliki segalanya, militer. Kekayaan. dan Koneksi.”
Arthur mengangguk pelan.
“Mereka tidak suka ayahmu karena Moren tidak memerintah dengan rasa takut, dan tanpa keraguan akan melawan jika ada yang mengancam kestabilan wilayah kita” kata Norvist.
“Bagi New Gate, itu kelemahan dan celah.”
Arthur mengepalkan tangan.
Duke Polein
Norvist berhenti sejenak sebelum menyebut nama terakhir.
“Polein…” katanya pelan.
“Mereka tidak suka terlihat.”
Arthur mengangkat kepala.
“Pendanaan bayangan. Kontrak sunyi. Orang-orang yang tidak tercatat.”
Arthur teringat serangan fajar. Bendera berbeda. Tujuan berbeda.
“Yang kutemukan mereka bukan sekutu enam orang itu” lanjut Norvist.
“Tapi mereka juga terlihat tidak menentangnya.”
Arthur menyadari satu hal.
“Mereka semua saling mencurigai, dan ini bisa jadi keberuntungan kita” katanya pelan.
Norvist mengangguk.
“Dan itulah satu-satunya alasan keluargamu belum lenyap sepenuhnya.”
Apa yang Mereka Inginkan
Arthur mengerutkan kening.
“Kalau begitu… apa yang mereka incar dari kita?”
Norvist tidak langsung menjawab.
Ia mengambil sebuah kotak kayu kecil dari lemari besi. Tidak dibuka.
“Bukan emas, dan” katanya.
“Bukan wilayah.”
Arthur menahan napas.
“Melainkan ini” lanjut Norvist.
“Sebuah benda yang tidak bisa mereka ambil dengan pedang ataupun uang dan hanya dengan darah mereka bisa mengambilnya.”
Arthur merasakan dingin.
“Benda apa?”
Norvist menatapnya.
“Benda yang bisa menentukan siapa yang boleh berdiri… dan siapa yang harus runtuh.”
Arthur tidak sepenuhnya paham.
Tapi ia merasakan beratnya.
Pemahaman yang Retak
Malam itu, Arthur berjalan menyusuri lorong rumah. Setiap langkah terasa berbeda.
Ia mulai mengerti bahwa kejatuhan keluarganya bukan karena satu pengkhianatan.
Bukan hanya karena satu kesalahan.
Melainkan karena mereka berdiri di tempat yang terlalu banyak kepentingan.
Dan berdiri… sering kali lebih berbahaya daripada menyerang.
Arthur menemukan Hendry duduk sendirian, memandangi pedang tua yang hendak dulu diserahkan padanya.
“Hendry, Apakah...” kata Arthur.
“Apakah ayahku tahu semua ini sejak awal?”
Hendry menggeleng perlahan.
“Dia mungkin hanya tahu sebagian.”
“Lalu kenapa tetap melangkah walaupun bisa membahayakannya?”
Hendry menatap Arthur lama.
“Karena Moren percaya, jika tidak ada orang yang berdiri di tempat ini… dunia akan selalu condong ke yang paling kejam.”
Arthur terdiam.
“Dan sekarang?” tanya Arthur.
Hendry tersenyum tipis.
“Sekarang giliranmu memilih… berdiri mematung disini, atau bergerak dengan bebas.”
Kemudian di luar wilayah itu
Marquis Florence sedang mengirim utusan dengan senyum sopan.
Duke New Gate meningkatkan latihan pasukan militernya.
Duke Polein menulis banyak kontrak yang tidak bertanda tangan.
Enam nama lama perlahan bergerak di antara mereka,
masing-masing dengan luka dan ambisi sendiri.
Sementara Arthur berdiri di ambang kedewasaan.
belum sepenuhnya mengerti permainan ini,
namun sudah terlalu dalam untuk mundur.
Dan untuk pertama kalinya, ia sadar:
Keluarganya tidak diburu karena lemah.
tetapi karena mereka memegang sesuatu yang dunia tidak ingin tetap berada di tangan orang baik.
Lalu.
Hujan turun ringan pagi itu, seperti sengaja dibuat agar tidak mengganggu siapa pun. Arthur sedang berlatih pernapasan bersama Asean di lapangan pelatihan Knight, ketika suara derap kuda berhenti di depan gerbang utama.
Toxen segera bergerak lebih dulu.
Seorang pria turun dari kuda hitam. Pakaiannya rapi, mantel abu-abu dengan sulaman emas di tepi lengan. Ia tidak membawa senjata terbuka hanya tongkat utusan dan sebuah tabung logam bersegel.
“Aku membawa undangan atas nama Marquis Florence” katanya tenang.
“Ditujukan langsung kepada Arthur, putra Marquis Moren.”
Arthur kemudian menghentikan latihannya.
Hendry berdiri di ambang pintu, matanya menyipit.
“Undangan macam apa yang dikirim kepada korban?”
Utusan itu tersenyum tipis.
“Jenis yang tidak bisa ditolak tanpa konsekuensi.”
Pertemuan Para Penerus Setiap Keluarga Di Wilayah Tirpen, Kekaisaran Valerion.
Undangan itu dibuka di ruang utama. Segelnya pecah dengan bunyi kering.
Norvist membaca keras-keras:
Pertemuan Besar Para Penerus Keluarga Wilayah Tirpen
Di bawah naungan Kekaisaran Valerion
Dihadiri para ahli waris sah dari keluarga utama masing-masing
Arthur menelan ludah.
“Ini bukan sekedar jamuan biasa, Arthur” gumam Norvist.
“Ini seperti pengukuran untuk menentukan.”
Asean mengangguk.
“Mereka ingin melihat… siapa yang bisa dipatahkan.”
Dua Puluh Satu Nama
Norvist membentangkan daftar keluarga-keluarga yang akan hadir.
Kemudian dia memisahkan tujuh Keluarga yang Pernah Berpihak atau berhubungan dengan keluarga Moren.
Count Sebastian Valeris - penerus: Elrian Valeris
Viscount Mercy Kaedryn-penerus: Maelis Kaedryn
Baron Alex Thornveil-penerus: Rowan Thornveil
Baron Marcellus Liorant-penerus: Seren Liorant
Viscount Boren Brackenford - penerus: Gareth Brackenford
Count Alejandro Elyndor - penerus: Iris Elyndor
Baroness cellis Morcant - penerus: Aldric Morcant
Norvist berhenti sejenak.
“Mereka pernah membela ayahmu,” katanya.
“Sebagian masih berutang budi. Sebagian hanya belum lupa.”
Arthur mengangguk perlahan.
Empat Keluarga yang Bermusuhan/Terlihat Bermusuhan
Duke Varon New Gate - penerus: Albrecht New Gate
Duke Fors Polein - penerus: Varyn Polein
Count Lount Viremont - penerus: Luwhin Viremont
Baron Miguel Halbrecht - penerus: Oskar Halbrecht
“Mereka...” lanjut Norvist.
“Biasanya, yang paling keras bicara… sedang menyembunyikan rasa permusuhan.”
Terakhir Sepuluh Keluarga Netral
Duke Vlorein Alveric – penerus: Nessa Alveric
Baron Xinus Caelum – penerus: Thane Caelum
Viscount Caron Redwyn – penerus: Mirel Redwyn
Countess Amerin Fenroth – penerus: Joran Fenroth
Baron Clora Iskend – penerus: Vael Iskend
Viscount O'Ryan Orynth – penerus: Selwyn Orynth
Marquis Benjamin Pelgrave – penerus: Darian Pelgrave
Duke Ishak Kresthal - penerus: Lyra Kresthal
Baron Norman Norrveil - penerus: Edric Norrveil
Marquis Helper Calden - penerus: Rhea Calden
Arthur memperhatikan satu hal:
tidak satu pun nama terasa seperti kebetulan.
Florence Tidak Disebutkan
Arthur mengangkat kepala.
“Marquis Florence tidak tercantum?.”
Norvist tersenyum tipis.
“Karena mereka tuan rumah.”
Hendry mengetuk lantai dengan ujung tongkatnya.
“Dan Duke New Gate serta Duke Polein?” tanyanya.
Norvist menggeleng.
“Mereka tidak diprediksi apakah hadir atau tidak… tapi pasti mereka mengamati.”
Arthur merasakan sesuatu mengendap di dadanya.
“Ini bukan pertemuan penerus biasa, ini seperti...” katanya pelan.
“Seperti pemilahan.”
Percakapan Ayah dan Anak
Malam itu, Moren memanggil Arthur ke ruang kerjanya.
“Ayah tidak akan melarangmu pergi, Arthur” kata Moren sambil membalut ulang lukanya.
“Larangan hanya membuat mereka yakin kau rapuh.”
Arthur menatap ayahnya.
“Ayah tahu apa yang mereka cari.”
Moren mengangguk pelan.
“Dan mereka berharap kau belum tahu.”
Arthur terdiam sejenak.
“Ayah, aku...” katanya akhirnya,
“jika aku pergi… aku tidak akan datang sebagai anak yang meminta pengakuan.”
Moren tersenyum lelah, tapi bangga.
“Itulah yang paling mereka takuti.”
Tanda Terakhir dari Hendry
Di luar, Hendry berdiri memandangi hujan.
“Kau akan pergi sebagai pewaris, tuan muda” katanya tanpa menoleh.
“Bukan sebagai korban ataupun pria lemah lagi.”
Arthur menatapnya.
“Aku tidak tahu apakah aku siap, Hendry.”
Hendry tersenyum tipis.
“Kesiapan bukan soal tahu segalanya.”
Ia menepuk dada Arthur pelan.
“Melainkan tahu siapa dirimu… ketika semua orang ingin menentukannya.”
Di wilayah Tirpen yang lainnya, aula besar Marquis Florence mulai dipersiapkan.
Florence tersenyum di balik tirai.
New Gate menghitung langkah.
Polein menulis kontrak tanpa nama.
Dua puluh satu penerus bersiap menunjukkan wajah terbaik mereka.
Dan bagi Arthur
Sebelum genap delapan belas tahun
Akan melangkah ke ruangan
Di mana nama keluarganya Marquis Fireloren akan diuji sejak ia memutuskan hal ini...
NB-(Nama keluarga Arthur itu diganti ke Fireloren, Nama ayahnya jadi Moren)
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥