NovelToon NovelToon
ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: DavidTri

Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.

Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.

Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...

baca novelnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6 - Musuh, Teman, dan Sesuatu

Di Malam Hari Tanpa Cahaya Dari Api

Arthur duduk sendirian di ruangan arsip lama setelah ia memikir kejadian-kejadian tepat di depan jendela kamarnya yang telah menimpa keluarga dan dirinya. Dan pergi keruangan yang jarang digunakan sejak hal itu terjadi. Di ruangan berdebu dan bau kertas tua dan lilin memenuhi udara.

Ia membuka peta lama yang sudah sedikit usang dan robek, sebuah peta lama wilayah Tirpen dari kekaisaran Valerion.

Nama ayahnya, Marquis Fireloren keluarga penjaga perbatasan, tertulis disana, dikelilingi garis-garis samar yang mengarah ke berbagai wilayah disekitar.

Arthur tidak mengerti arti garis-garis itu semuanya.

Tapi ia mulai merasakannya perlahan.

Tiga Nama Keluarga Yang Terlalu Sering Muncul

Arthur memperhatikan satu hal:

beberapa nama muncul berulang kali dalam laporan lama, catatan pajak, dan surat diplomatik.

Marquis Florence, Keluarga penjaga perbatasan yang mirip dengan Keluarga Arthur.

Duke New Gate, Keluarga yang telah berdiri lebih lama dari kebanyakan keluarga lainnya di wilayah Tirpen.

Duke Polein, Keluarga yang kaya mengendalikan sebagian arus uang di wilayah Tirpen.

Ia lalu membawa temuan itu pada paman Norvist keesokan paginya.

“Kenapa nama mereka sering ada di arsip kita?” tanya Arthur.

Norvist menatap kertas itu lama sebelum menjawab.

“Karena mereka besar, dan hanya pengecut” katanya singkat.

Arthur menunggu.

“Dan karena mereka tidak suka ada satu keluarga yang terlalu… mandiri.”

Marquis Florence

Norvist berjalan ke jendela, menatap taman.

“Florence adalah keluarga militer yang menjaga perbatasan yang sama seperti kita” katanya.

“Mereka memiliki pasukan besar, tapi mereka tahu bagaimana membuat orang lain takut.”

Arthur mengingat Borein. Perlindungan.

“Mereka ingin menjadikan wilayah Yosemite miliki kita yang terkenal dengan sawit dan bahan tambang untuk menjadi milik mereka dan ayahmu menolak usulan itu untuk dikuasai” lanjut Norvist.

“Karena Moren percaya, wilayah Yosemite bisa disalahgunakan… dan mengancam keselamatan wilayah keluarga kita.”

Arthur menunduk.

Duke New Gate

“New Gate berbeda, Arthur” lanjut Norvist.

“Mereka keluarga yang memiliki segalanya, militer. Kekayaan. dan Koneksi.”

Arthur mengangguk pelan.

“Mereka tidak suka ayahmu karena Moren tidak memerintah dengan rasa takut, dan tanpa keraguan akan melawan jika ada yang mengancam kestabilan wilayah kita” kata Norvist.

“Bagi New Gate, itu kelemahan dan celah.”

Arthur mengepalkan tangan.

Duke Polein

Norvist berhenti sejenak sebelum menyebut nama terakhir.

“Polein…” katanya pelan.

“Mereka tidak suka terlihat.”

Arthur mengangkat kepala.

“Pendanaan bayangan. Kontrak sunyi. Orang-orang yang tidak tercatat.”

Arthur teringat serangan fajar. Bendera berbeda. Tujuan berbeda.

“Yang kutemukan mereka bukan sekutu enam orang itu” lanjut Norvist.

“Tapi mereka juga terlihat tidak menentangnya.”

Arthur menyadari satu hal.

“Mereka semua saling mencurigai, dan ini bisa jadi keberuntungan kita” katanya pelan.

Norvist mengangguk.

“Dan itulah satu-satunya alasan keluargamu belum lenyap sepenuhnya.”

Apa yang Mereka Inginkan

Arthur mengerutkan kening.

“Kalau begitu… apa yang mereka incar dari kita?”

Norvist tidak langsung menjawab.

Ia mengambil sebuah kotak kayu kecil dari lemari besi. Tidak dibuka.

“Bukan emas, dan” katanya.

“Bukan wilayah.”

Arthur menahan napas.

“Melainkan ini” lanjut Norvist.

“Sebuah benda yang tidak bisa mereka ambil dengan pedang ataupun uang dan hanya dengan darah mereka bisa mengambilnya.”

Arthur merasakan dingin.

“Benda apa?”

Norvist menatapnya.

“Benda yang bisa menentukan siapa yang boleh berdiri… dan siapa yang harus runtuh.”

Arthur tidak sepenuhnya paham.

Tapi ia merasakan beratnya.

Pemahaman yang Retak

Malam itu, Arthur berjalan menyusuri lorong rumah. Setiap langkah terasa berbeda.

Ia mulai mengerti bahwa kejatuhan keluarganya bukan karena satu pengkhianatan.

Bukan hanya karena satu kesalahan.

Melainkan karena mereka berdiri di tempat yang terlalu banyak kepentingan.

Dan berdiri… sering kali lebih berbahaya daripada menyerang.

Arthur menemukan Hendry duduk sendirian, memandangi pedang tua yang hendak dulu diserahkan padanya.

“Hendry, Apakah...” kata Arthur.

“Apakah ayahku tahu semua ini sejak awal?”

Hendry menggeleng perlahan.

“Dia mungkin hanya tahu sebagian.”

“Lalu kenapa tetap melangkah walaupun bisa membahayakannya?”

Hendry menatap Arthur lama.

“Karena Moren percaya, jika tidak ada orang yang berdiri di tempat ini… dunia akan selalu condong ke yang paling kejam.”

Arthur terdiam.

“Dan sekarang?” tanya Arthur.

Hendry tersenyum tipis.

“Sekarang giliranmu memilih… berdiri mematung disini, atau bergerak dengan bebas.”

Kemudian di luar wilayah itu

Marquis Florence sedang mengirim utusan dengan senyum sopan.

Duke New Gate meningkatkan latihan pasukan militernya.

Duke Polein menulis banyak kontrak yang tidak bertanda tangan.

Enam nama lama perlahan bergerak di antara mereka,

masing-masing dengan luka dan ambisi sendiri.

Sementara Arthur berdiri di ambang kedewasaan.

belum sepenuhnya mengerti permainan ini,

namun sudah terlalu dalam untuk mundur.

Dan untuk pertama kalinya, ia sadar:

Keluarganya tidak diburu karena lemah.

tetapi karena mereka memegang sesuatu yang dunia tidak ingin tetap berada di tangan orang baik.

Lalu.

Hujan turun ringan pagi itu, seperti sengaja dibuat agar tidak mengganggu siapa pun. Arthur sedang berlatih pernapasan bersama Asean di lapangan pelatihan Knight, ketika suara derap kuda berhenti di depan gerbang utama.

Toxen segera bergerak lebih dulu.

Seorang pria turun dari kuda hitam. Pakaiannya rapi, mantel abu-abu dengan sulaman emas di tepi lengan. Ia tidak membawa senjata terbuka hanya tongkat utusan dan sebuah tabung logam bersegel.

“Aku membawa undangan atas nama Marquis Florence” katanya tenang.

“Ditujukan langsung kepada Arthur, putra Marquis Moren.”

Arthur kemudian menghentikan latihannya.

Hendry berdiri di ambang pintu, matanya menyipit.

“Undangan macam apa yang dikirim kepada korban?”

Utusan itu tersenyum tipis.

“Jenis yang tidak bisa ditolak tanpa konsekuensi.”

Pertemuan Para Penerus Setiap Keluarga Di Wilayah Tirpen, Kekaisaran Valerion.

Undangan itu dibuka di ruang utama. Segelnya pecah dengan bunyi kering.

Norvist membaca keras-keras:

Pertemuan Besar Para Penerus Keluarga Wilayah Tirpen

Di bawah naungan Kekaisaran Valerion

Dihadiri para ahli waris sah dari keluarga utama masing-masing

Arthur menelan ludah.

“Ini bukan sekedar jamuan biasa, Arthur” gumam Norvist.

“Ini seperti pengukuran untuk menentukan.”

Asean mengangguk.

“Mereka ingin melihat… siapa yang bisa dipatahkan.”

Dua Puluh Satu Nama

Norvist membentangkan daftar keluarga-keluarga yang akan hadir.

Kemudian dia memisahkan tujuh Keluarga yang Pernah Berpihak atau berhubungan dengan keluarga Moren.

Count Sebastian Valeris - penerus: Elrian Valeris

Viscount Mercy Kaedryn-penerus: Maelis Kaedryn

Baron Alex Thornveil-penerus: Rowan Thornveil

Baron Marcellus Liorant-penerus: Seren Liorant

Viscount Boren Brackenford - penerus: Gareth Brackenford

Count Alejandro Elyndor - penerus: Iris Elyndor

Baroness cellis Morcant - penerus: Aldric Morcant

Norvist berhenti sejenak.

“Mereka pernah membela ayahmu,” katanya.

“Sebagian masih berutang budi. Sebagian hanya belum lupa.”

Arthur mengangguk perlahan.

Empat Keluarga yang Bermusuhan/Terlihat Bermusuhan

Duke Varon New Gate - penerus: Albrecht New Gate

Duke Fors Polein - penerus: Varyn Polein

Count Lount Viremont - penerus: Luwhin Viremont

Baron Miguel Halbrecht - penerus: Oskar Halbrecht

“Mereka...” lanjut Norvist.

“Biasanya, yang paling keras bicara… sedang menyembunyikan rasa permusuhan.”

Terakhir Sepuluh Keluarga Netral

Duke Vlorein Alveric – penerus: Nessa Alveric

Baron Xinus Caelum – penerus: Thane Caelum

Viscount Caron Redwyn – penerus: Mirel Redwyn

Countess Amerin Fenroth – penerus: Joran Fenroth

Baron Clora Iskend – penerus: Vael Iskend

Viscount O'Ryan Orynth – penerus: Selwyn Orynth

Marquis Benjamin Pelgrave – penerus: Darian Pelgrave

Duke Ishak Kresthal - penerus: Lyra Kresthal

Baron Norman Norrveil - penerus: Edric Norrveil

Marquis Helper Calden - penerus: Rhea Calden

Arthur memperhatikan satu hal:

tidak satu pun nama terasa seperti kebetulan.

Florence Tidak Disebutkan

Arthur mengangkat kepala.

“Marquis Florence tidak tercantum?.”

Norvist tersenyum tipis.

“Karena mereka tuan rumah.”

Hendry mengetuk lantai dengan ujung tongkatnya.

“Dan Duke New Gate serta Duke Polein?” tanyanya.

Norvist menggeleng.

“Mereka tidak diprediksi apakah hadir atau tidak… tapi pasti mereka mengamati.”

Arthur merasakan sesuatu mengendap di dadanya.

“Ini bukan pertemuan penerus biasa, ini seperti...” katanya pelan.

“Seperti pemilahan.”

Percakapan Ayah dan Anak

Malam itu, Moren memanggil Arthur ke ruang kerjanya.

“Ayah tidak akan melarangmu pergi, Arthur” kata Moren sambil membalut ulang lukanya.

“Larangan hanya membuat mereka yakin kau rapuh.”

Arthur menatap ayahnya.

“Ayah tahu apa yang mereka cari.”

Moren mengangguk pelan.

“Dan mereka berharap kau belum tahu.”

Arthur terdiam sejenak.

“Ayah, aku...” katanya akhirnya,

“jika aku pergi… aku tidak akan datang sebagai anak yang meminta pengakuan.”

Moren tersenyum lelah, tapi bangga.

“Itulah yang paling mereka takuti.”

Tanda Terakhir dari Hendry

Di luar, Hendry berdiri memandangi hujan.

“Kau akan pergi sebagai pewaris, tuan muda” katanya tanpa menoleh.

“Bukan sebagai korban ataupun pria lemah lagi.”

Arthur menatapnya.

“Aku tidak tahu apakah aku siap, Hendry.”

Hendry tersenyum tipis.

“Kesiapan bukan soal tahu segalanya.”

Ia menepuk dada Arthur pelan.

“Melainkan tahu siapa dirimu… ketika semua orang ingin menentukannya.”

Di wilayah Tirpen yang lainnya, aula besar Marquis Florence mulai dipersiapkan.

Florence tersenyum di balik tirai.

New Gate menghitung langkah.

Polein menulis kontrak tanpa nama.

Dua puluh satu penerus bersiap menunjukkan wajah terbaik mereka.

Dan bagi Arthur

Sebelum genap delapan belas tahun

Akan melangkah ke ruangan

Di mana nama keluarganya Marquis Fireloren akan diuji sejak ia memutuskan hal ini...

NB-(Nama keluarga Arthur itu diganti ke Fireloren, Nama ayahnya jadi Moren)

1
cimownim
gak yakin kalau cuma kebetulan 🤭🤭
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: 😄hehehe
total 1 replies
evrensya
Aku takut tiap hari Arthur, takut duit habis' 🤦🤣
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: apalagi di akhir bulan begini kak😄
total 1 replies
evrensya
Intinya mereka adalah para pengkhianat, kan?
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: secara cerita iya kak, tapi nanti ada yang ###### sama ####### jadi gak ##### ##### sama Arthur
total 1 replies
putrijawa
terdengar kayak pesan terakhir
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: Hendry udah tua kak, 70±
total 1 replies
MARDONI
Wahhh seru banget nih! 😮💥 Arthur harus pergi jauh sebelum ulang tahun ke-18, tapi malah bertemu Borein dari kelompok yang mengawasi keluarganya! 😱 Borein bilang ada yang mau Arthur mati atau hancur perlahan, bahkan kasih cincin tua dengan lambang keluarga Moren yang retak! 😯 Pas Borein bilang ayah Arthur juga buat keputusan besar di usia 18 tahun, Arthur jadi curiga sama Hendry yang selalu bilang cuma pelayan biasa. Akhirnya Arthur minta Hendry cerita tentang dirinya sendiri di perjalanan besok - beneran penasaran banget sama rahasia Hendry dan apa yang terjadi sama keluarga Arthur dulu! 💖✨
izmie kim
kejujuran biasanya akan terdengar menyakitkan tapi bila kita tau yang sebenarnya rasa sakit itu akan lebih sedikit lega
izmie kim: betul banget kunci dari segala hal di mulai dari kejujuran
total 2 replies
Indira Mr
kapan harus baik kapan harus berhenti??
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: kebaikan datang saat di perlukan aja, buat kebaikan seakan barang berharga butuh biaya yang besar untuk memberi nya.🔥🔥😄
total 1 replies
Indira Mr
mendengarkan angin,air, daun
cimownim
si dunia asli pun banyak orang yang suka memanfaatkan orang lain/Frown/
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: benar tuh😄
total 1 replies
putrijawa
kebetulan yg di sengaja kah?🤔
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: disengaja sama author🤔😂
total 1 replies
evrensya
Quotes yg bagus✊
evrensya
wah tanda2 anak yg cerdas
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: nanti pas udah dewasa bakal cerdas beneran kak🔥
total 1 replies
♡✿⁠Almi_Wahy
waw luar biasa, ceritanya seruu, semangat terus thorr
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: makasih kak🔥
total 1 replies
MARDONI
WOWWW SERU PARAHHH!!! 😱✨ Paman Norvist yang mendengar percakapan Arthur terus ke sana ada kelompoknya Clorfin, Permo, Ervin, Forlen, Vastorci sama Borein tuh kayak siap buat apa aja gitu! 😨 Hendry yang selalu ada buat Arthur bikin hati hangat banget, pas dia bilang gak akan pergi jauh dan siap melindunginya! 🥰 Moren yang merasa bersalah sama Isabel dan Norvist juga bikin emosi banget, padahal dia cuma mau bantu orang aja kan? 😢 Terus pas Hendry punya simbol rahasia tuh bikin penasaran banget!! Semoga Arthur bisa aman dan Hendry bisa selalu ada buat dia deh!
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: semoga aja sih kak😄
total 1 replies
izmie kim
karna gak semua kebaikan akan di balas kebaikan karna , terkadang manusia berhati busuk akan memanfaatkan kebaikan orang lain demi keuntungan dirinya sendiri
putrijawa
orang² yg cuma manfaatin kebaikan orang lain
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel
benar, btw Otra Heos kalau dibaca dari belakang bakal jadi...
Indira Mr
masih bingung artinya kehilangan tanpa membalas dengan kebencian.
Indira Mr
100 persen benar
MARDONI
Merinding waktu ayah Arthur tiba-tiba berkata, “Sialann!? Bagaimana bisa mereka…” sebelum pintunya tertutup 😭🔥 Dari suasana hangat penuh tawa pas Norvist main sama Arthur, tiba-tiba berubah jadi tegang banget dalam hitungan detik. Arthur yang kecil itu cuma bisa berdiri bingung dengan kegelisahan yang belum ia pahami, dan aku ngerasa kayak ada badai besar yang lagi disiapin buat keluarganya 🥺 Hendry yang berusaha nenangin dengan menyebut Raja Arthur juga bikin hati hangat sekaligus was-was, karena rasanya kalimat itu bukan cuma penghiburan… tapi pertanda kalau perjalanan Arthur bakal jauh lebih besar dari yang dia bayangkan sekarang.
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: keren kak udah langsung nangkep gimana alur kedepannya 🗿🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!