Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 2
Kereta kencana berhenti di depan Gerbang Istana Seleksi yang menjulang megah. Puluhan pengawal berpakaian besi berbaris kaku di sepanjang jalan masuk, menggenggam tombak dengan mata pedang yang mengkilap tertimpa cahaya matahari.
Suasana di sekitar gerbang terasa sangat dingin dan mencekam, membuat kandidat selir lain menahan napas ketakutan.
Namun, mata Xiao Yu justru bergerak cepat. Secara refleks, naluri militernya bekerja. Ia mengamati posisi berdiri para pengawal. Menghitung jarak antarpos penjagaan yang terlalu renggang, serta menilai kualitas besi tombak mereka yang ternyata kurang tempaan.
Meski dari luar ia berpura-pura gemetar canggung menundukkan kepala, di dalam hatinya Xiao Yu sudah memetakan seluruh celah keamanan gerbang itu.
Aula Seleksi Utama Kerajaan berdiri dengan megah dan terasa menakutkan. Pilar-pilar kayu merah berukuran besar menjulang tinggi, menyangga atap istana yang dihiasi ukiran naga emas.
Di dalam ruangan yang begitu luas itu, udara terasa sangat dingin dan tegang. Bau wangi dupa bercampur dengan aroma tinta hitam yang menyengat, menciptakan suasana kaku yang membuat siapa saja menahan napas.
Di bagian depan aula, tiga penguji senior kerajaan duduk sejajar di atas mimbar kayu yang tinggi. Mereka mengenakan jubah pejabat berwarna biru tua dengan sulaman rumit di dada.
Wajah ketiga pria tua itu terlihat dingin, kaku, dan tanpa ekspresi. Mata mereka yang tajam terus mengawasi setiap gerak-gerik para peserta seleksi yang berdiri berbaris rapi di bawah.
Tidak ada suara yang berani keluar dari mulut para calon selir. Setiap kali seorang peserta selesai diperiksa, salah satu penguji akan menggoreskan kuasnya di atas gulungan bambu tebal, mencatat setiap detail kesalahan atau kelebihan calon tersebut.
Langkah kaki para pengawal di pinggir aula yang berbunyi teratur menambah rasa takut di hati gadis-gadis muda yang hadir. Mereka saling pandang dengan wajah pucat, cemas jika membuat satu kesalahan kecil saja yang bisa mempermalukan nama keluarga mereka. Di tempat yang serba diatur ini, ketenangan Xiao Yu justru menjadi hal yang paling aneh.
"Selanjutnya, Xiao Yu dari keluarga Xiao!"
Suara kasim kerajaan bergema keras di seluruh aula. Xiao Yu menarik napas pelan, menundukkan kepala, lalu melangkah maju ke tengah ruangan. Di dalam hatinya, ia sudah siap menjalankan rencana besarnya.
Ujian pertama dimulai dengan tes kaligrafi dan Puisi. Seorang pelayan meletakkan selembar kertas putih halus, batu tinta, dan busa kuas di depan Xiao Yu.
Gadis ini sengaja memegang kuas dengan cara yang sangat salah. Dia bertingkah bukan seperti seorang wanita berpendidikan yang memegang alat tulis dengan lembut.
Xiao Yu mulai menulis beberapa goresan kasar yang sama sekali tidak rapi.
"Coba bacakan puisi yang kau tulis," perintah salah satu penguji dengan nada malas.
Xiao Yu membungkuk sedikit, lalu membaca tulisan di kertasnya dengan suara lugu.
Ujian puisi yang seharusnya berisi ungkapan keindahan alam atau pujian untuk kerajaan justru dijawab dengan kalimat tentang makanan.
Bagus. Aku sudah tampak bodoh sekali, batin Xiao yu puas.
Penguji di tengah mengurut dahinya, menghela napas panjang sambil mencoret nama Xiao Yu di gulungan bambu.
Ujian berikutnya adalah tata krama menyeduh teh. Sebuah meja kecil lengkap dengan poci seramik dan cangkir-cangkir mahal diletakkan di depan Xiao Yu. Air panas yang masih berasap diisikan ke dalam poci. Xiao Yu mengangkat poci itu, tetapi tangannya sengaja dibuat gemetaran hebat.
"A-ampun, hamba sangat gugup..." bisik Xiao Yu pelan.
Pyar!
Air panas meluap dari bibir poci, menumpahi meja dan membasahi kain penutup meja yang mahal. Xiao Yu buru-buru meletakkan poci itu kembali dengan kasar, menimbulkan suara benturan keras yang membuat para penguji terperanjat.
Dengan ekspresi panik yang sangat meyakinkan, Xiao Yu langsung berlutut dan membungkukkan kepalanya berkali-kali ke lantai. "Maafkan hamba! Hamba sangat ceroboh! Tangan hamba memang sering gemetar kalau memegang barang mahal!"
Penguji paling kanan menggelengkan kepala dengan raut wajah penuh kekecewaan.
"Cukup. Kau boleh berdiri," katanya dingin. Bagi para penguji, gadis di depan mereka ini hanya menang di wajah saja. Cantik, tetapi sama sekali tidak punya keanggunan, bodoh, tidak berpendidikan, dan hanya akan menjadi beban jika masuk ke dalam istana.
Xiao Yu berjalan keluar dari Aula Seleksi Utama dengan menundukkan kepala, menjaga raut wajahnya agar tetap terlihat sedih di hadapan orang lain. Namun begitu ia melewati pintu gerbang kayu yang besar dan sampai di lorong yang sepi, senyum kemenangan terukir jelas di bibirnya.
Hatinya terasa sangat lega dan berbunga-bunga. Rencananya berjalan seratus persen sempurna. Dari reaksi wajah ketiga penguji tua tadi, ia sangat yakin namanya akan berada di urutan paling bawah dalam daftar nilai.
****
Esok pagi, surat penolakan resmi pasti akan dikirimkan ke rumahnya, dan ia akan dipulangkan dengan alasan tidak memenuhi kualifikasi sebagai selir.
"Tinggal tunggu besok, lalu aku bisa memikirkan cara lain untuk pergi ke perbatasan," gumam Xiao Yu gembira dalam hati. Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan saat berjalan meninggalkan area istana.
Tanpa diketahui oleh Xiao Yu, di lantai dua aula seleksi, berdiri seorang pria di balik tirai sutra berwarna emas. Tirai itu cukup tebal untuk menyembunyikan posisinya, tetapi cukup tipis untuk melihat seluruh isi ruangan di bawah.
Pangeran Zhang Li berdiri menyandarkan badannya ke tiang kayu, mengamati jalannya seleksi dengan pandangan mata yang sangat bosan. Ia sudah muak melihat belasan gadis cantik yang sibuk memamerkan keahlian demi menarik perhatiannya. Bagi Zhang Li, wanita-wanita dari keluarga bangsawan itu hanya akan menjadi beban dan mata-mata politik di rumahnya.
Namun, tatapan matanya mendadak tertahan pada nama Xiao Yu yang baru saja dicoret oleh para penguji di bawah.
Zhang Li memperhatikan Xiao Yu yang berjalan keluar dengan wajah panik dan canggung. Di matanya, gadis itu terlihat sangat lugu, lambat, dan tidak mengerti intrik istana sama sekali. Seorang gadis yang benar-benar tidak berpendidikan dan sangat mudah diatur.
Sebuah senyum sinis yang penuh kepuasan terbit di bibir Zhang Li. Ini adalah kesempatan sempurna untuk membalas perlakuan ayahanda dan para menteri yang terus memaksanya mengambil selir.
"Sempurna," bisik Zhang Li dalam hati, tatapannya menyapu sosok Xiao Yu yang menghilang di balik pintu gerbang. "Kalian memaksaku mengambil selir, maka aku akan memberikan kalian selir paling bodoh dan tidak berguna di seluruh kerajaan ini."
Zhang Li berbalik, lalu memberi isyarat dingin kepada kasim pribadinya. "Catat nama gadis dari keluarga Xiao itu. Dia pilihan utamaku."