Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 — Syarat dari Seorang Gadis Sederhana
Pukul lima sore, Alisha Amanda baru saja menyelesaikan pekerjaannya di toko roti. Ia melepas celemek yang dikenakannya, merapikan beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatannya, lalu mengambil tas kecil dari loker pegawai.
Hari itu terasa lebih melelahkan daripada biasanya.
Sejak pagi, pikirannya terus tertuju pada pertemuan yang akan dilakukannya dengan Adrian Mahendra. Pria itu memberinya kesempatan untuk bertanya sebelum mengambil keputusan, tetapi kesempatan tersebut justru membuat Alisha semakin banyak memikirkan berbagai kemungkinan.
Bagaimana jika Adrian ternyata tidak seperti yang dibayangkannya?
Bagaimana jika kehidupan setelah pernikahan justru membuatnya semakin kesulitan?
Dan bagaimana jika, setelah satu tahun, ia harus berpisah dari seseorang yang sudah menjadi bagian dari kehidupannya?
Alisha segera menggelengkan kepala.
Ia bahkan belum menerima tawaran tersebut. Tidak ada gunanya memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.
"Alisha!"
Suara Natasya membuatnya menoleh.
Sahabatnya itu berdiri di dekat pintu belakang toko sambil membawa dua kotak roti.
"Kamu sudah selesai?"
"Sudah. Kenapa?"
"Aku membawakan beberapa roti yang tidak terjual hari ini. Pemilik toko mengizinkan kita membawanya pulang."
Alisha tersenyum kecil.
"Wah, lumayan. Ibu pasti senang."
"Nah, begitu dong. Setidaknya malam ini kamu nggak perlu membeli makanan lagi."
Natasya menyerahkan salah satu kotak kepadanya.
"Ngomong-ngomong, kamu jadi ke rumah sakit denganku besok pagi?"
Alisha mengangguk.
"Jadi. Aku akan meminta informasi mengenai bantuan biaya pengobatan."
"Bagus. Kita coba dulu semua kemungkinan yang ada."
Alisha memeluk kotak roti itu sambil tersenyum.
"Makasih, Tas."
Natasya menyipitkan mata.
"Kamu berterima kasih lagi."
"Memangnya kenapa?"
"Karena aku sudah bilang berkali-kali, jangan berterima kasih hanya karena aku menemanimu. Aku sahabatmu, bukan orang yang baru kamu kenal kemarin."
Alisha tertawa kecil.
"Iya, iya. Aku tahu."
Natasya kemudian melirik jam tangannya.
"Kalau begitu, aku pulang dulu. Jangan lupa makan malam, ya. Dan jangan begadang lagi!"
"Siap, Bu Natasya."
"Bagus!"
Natasya melambaikan tangan sebelum berjalan meninggalkan toko.
Alisha tersenyum melihat tingkah sahabatnya.
Namun, setelah Natasya menghilang dari pandangan, senyumnya perlahan memudar.
Ia melirik ponsel yang berada di dalam tasnya.
Ada sebuah pesan dari Daniel yang belum sempat dibalasnya.
Daniel:
Selamat sore, Nona Alisha. Pak Adrian bersedia menemui Anda besok pukul 16.30 di kantornya. Apakah waktu tersebut sesuai?
Alisha membaca pesan itu beberapa kali.
Besok pukul setengah lima sore.
Ia masih memiliki waktu untuk bekerja pada pagi harinya, kemudian bisa pergi ke kantor Adrian setelah selesai.
Alisha akhirnya mengetik balasan.
Alisha:
Selamat sore, Pak Daniel. Baik, saya bisa datang pada waktu tersebut. Terima kasih.
Setelah mengirim pesan, ia memasukkan ponselnya ke dalam tas dan mulai berjalan pulang.
Ia belum tahu keputusan apa yang akan diambilnya.
Namun, besok ia akan memastikan bahwa semua pertanyaannya mendapatkan jawaban.
---
Pertemuan Kedua
Keesokan harinya, Alisha datang ke kantor Mahendra Group tepat pukul 16.25.
Ia mengenakan blus biru muda, celana bahan hitam, dan sepatu sederhana. Rambutnya dibiarkan tergerai, sementara tas kecil berwarna cokelat menggantung di bahunya.
Seperti sebelumnya, ia merasa sedikit canggung ketika memasuki gedung tersebut.
Beberapa karyawan berjalan melewatinya dengan pakaian formal. Sebagian berbicara melalui telepon, sementara yang lain membawa dokumen menuju lift.
Alisha menarik napas pelan.
Ia tidak boleh merasa rendah diri hanya karena orang-orang di sekitarnya memiliki kehidupan yang berbeda.
Ia datang ke tempat ini untuk membicarakan sebuah kesepakatan, bukan untuk meminta pengakuan dari siapa pun.
Setelah melapor kepada petugas lobi, ia naik menuju lantai tiga puluh dua.
Daniel sudah menunggunya di depan lift.
"Selamat sore, Nona Alisha."
"Selamat sore, Pak Daniel."
"Silakan. Pak Adrian sedang menunggu Anda."
Alisha mengikuti langkah Daniel menuju ruangan yang sama seperti kemarin.
Ketika pintu terbuka, Adrian terlihat sedang berdiri di dekat jendela sambil membaca sebuah dokumen.
Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan jam tangan berwarna perak di pergelangan tangannya.
"Anda datang tepat waktu," katanya tanpa menoleh.
"Saya berusaha tidak terlambat, Pak."
Adrian meletakkan dokumennya di atas meja, lalu menunjuk kursi di hadapannya.
"Duduklah."
Alisha duduk dengan tenang.
Daniel meletakkan sebuah map baru di atas meja sebelum berpamitan keluar.
"Saya akan menunggu di luar, Pak."
Adrian mengangguk.
Setelah pintu tertutup, suasana ruangan menjadi hening.
Adrian mengambil sebuah gelas berisi air putih, lalu meletakkannya di hadapan Alisha.
"Silakan."
"Terima kasih."
Alisha meneguk sedikit air sebelum mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya.
Adrian memperhatikan benda tersebut.
"Anda membawa catatan?"
"Iya. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan."
"Silakan."
Alisha membuka halaman pertama.
Ia sempat menarik napas sebelum mulai berbicara.
"Pertama, mengenai ibu saya."
Adrian mengangguk, memberi isyarat agar ia melanjutkan.
"Jika saya menerima pernikahan ini, apakah saya masih boleh mengunjungi ibu saya kapan pun dibutuhkan?"
"Selama kunjungan tersebut tidak mengganggu kewajiban yang telah kita sepakati, saya tidak akan melarangnya."
"Kalau ibu saya harus dirawat di rumah sakit?"
"Anda tetap boleh mendampinginya."
Alisha mengangkat wajah.
"Termasuk jika saya harus menginap di rumah sakit untuk menemaninya?"
Adrian terdiam sejenak.
"Jika memang diperlukan, ya. Namun, saya meminta Anda memberi tahu saya terlebih dahulu jika hal itu memengaruhi jadwal yang sudah kita sepakati."
Alisha mengangguk pelan.
Jawaban itu sedikit mengurangi kekhawatirannya.
Ia melanjutkan ke pertanyaan kedua.
"Kedua, mengenai uang yang akan diberikan."
Adrian menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Pembayaran akan dilakukan sesuai ketentuan yang tertulis dalam kontrak. Saya akan meminta Daniel memastikan bahwa jadwal pembayarannya jelas dan tidak menimbulkan masalah bagi Anda."
"Saya ingin memastikan bahwa biaya operasi ibu saya bisa dipersiapkan tepat waktu."
"Karena itu, kita harus mencantumkan kebutuhan tersebut secara jelas dalam perjanjian."
Alisha menatap pria di hadapannya.
"Jadi, semuanya akan tertulis?"
"Ya. Saya tidak ingin ada kesalahpahaman dalam kesepakatan ini."
Alisha mengangguk.
Ia menyukai jawaban tersebut. Setidaknya, Adrian tidak meminta dirinya menerima sesuatu hanya berdasarkan janji lisan.
Pertanyaan ketiga membuatnya sedikit ragu.
Ia menatap catatannya sebelum kembali berbicara.
"Apakah saya masih boleh bekerja di toko roti?"
Adrian mengerutkan kening.
"Bukankah Anda akan tinggal di rumah saya?"
"Iya, tetapi saya sudah bekerja di sana selama hampir dua tahun. Saya tidak ingin langsung meninggalkan pekerjaan saya."
"Untuk apa? Anda akan mendapatkan uang dari perjanjian ini."
Alisha terdiam sebentar.
Kemudian, ia menjawab dengan tenang.
"Karena pekerjaan itu bukan hanya tentang uang. Saya menyukai pekerjaan saya. Saya juga memiliki tanggung jawab kepada pemilik toko dan rekan kerja saya."
Adrian menatapnya tanpa berkedip.
"Kita perlu membicarakan jadwalnya. Jika Anda tetap ingin bekerja, saya tidak akan langsung melarangnya. Namun, saya tidak ingin pekerjaan tersebut mengganggu acara keluarga atau kewajiban lain yang telah kita sepakati."
Alisha mengangguk.
"Itu bisa dibicarakan."
Adrian melirik buku catatan di tangan Alisha.
"Masih ada pertanyaan lain?"
"Ada satu lagi."
"Silakan."
Alisha menatapnya dengan serius.
"Bagaimana jika selama satu tahun ini salah satu dari kita merasa tidak nyaman dengan pernikahan tersebut?"
Adrian tidak langsung menjawab.
Untuk pertama kalinya, pertanyaan itu membuatnya berpikir lebih lama.
"Ketidaknyamanan seperti apa yang Anda maksud?"
"Misalnya, jika saya merasa tidak bisa menjalani kehidupan di rumah Anda atau jika ada masalah yang tidak bisa kita selesaikan."
Adrian menyilangkan kedua tangannya di atas meja.
"Jika masalah tersebut masih bisa dibicarakan, kita akan mencari penyelesaian. Jika tidak, kita mengikuti ketentuan yang tercantum dalam kontrak."
"Jadi, tidak ada yang boleh memaksa pihak lain untuk melakukan sesuatu di luar kesepakatan?"
"Tepat."
Alisha mengembuskan napas perlahan.
Ia merasa sedikit lebih tenang.
Setidaknya, pria itu bersedia menjelaskan hal-hal yang ingin diketahuinya.
Namun, masih ada satu pertanyaan yang sejak kemarin mengganggu pikirannya.
Pertanyaan yang sebenarnya tidak tercantum dalam catatannya.
"Pak Adrian, boleh saya bertanya sesuatu di luar perjanjian?"
Adrian mengangkat pandangan.
"Tergantung pertanyaannya."
Alisha mengangguk kecil.
"Kenapa Anda memilih saya?"
Ruangan itu kembali hening.
Adrian memandangnya beberapa saat sebelum menjawab.
"Karena keadaan Anda dan keadaan saya memungkinkan kita membuat kesepakatan yang saling menguntungkan."
Alisha mengerutkan kening.
"Maksudnya?"
"Andalah yang membutuhkan bantuan finansial. Saya membutuhkan seseorang yang bersedia menjalani pernikahan dengan persyaratan yang jelas. Saya tidak melihat alasan untuk memperumit sesuatu yang sebenarnya bisa dibicarakan secara terbuka."
Jawaban itu terdengar masuk akal.
Namun, entah mengapa, Alisha tetap merasa ada sesuatu yang kurang.
"Jadi, bagi Anda, saya hanya seseorang yang kebetulan membutuhkan uang?"
Adrian terdiam sesaat.
"Saya tidak mengatakan begitu."
"Tapi itu alasan Anda memilih saya, bukan?"
Adrian menatapnya dengan ekspresi datar.
"Anda ingin saya memberikan alasan lain?"
Alisha segera menggeleng.
"Tidak. Saya hanya ingin memahami situasinya."
"Kalau begitu, saya akan menjelaskannya dengan sederhana. Saya tidak mencari hubungan romantis. Saya mencari pasangan untuk menjalani kesepakatan yang sudah kita bicarakan. Saya tidak ingin Anda berharap sesuatu yang tidak bisa saya janjikan."
Alisha menunduk.
Entah mengapa, mendengar kalimat itu secara langsung terasa lebih menyakitkan daripada membacanya di atas kertas.
Bukan karena ia mengharapkan Adrian mencintainya.
Ia bahkan baru mengenal pria itu selama beberapa hari.
Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang terasa kecil ketika menyadari bahwa pernikahan yang akan dijalaninya benar-benar tidak memiliki tempat untuk perasaan.
Alisha menarik napas panjang.
"Baik. Saya mengerti."
Adrian mengambil dokumen dari dalam map.
"Jika Anda sudah memahami semua ketentuannya, Anda bisa mempertimbangkan tawaran ini sekali lagi."
Alisha memandang dokumen tersebut.
"Saya masih membutuhkan waktu sampai besok."
Adrian mengangguk.
"Baik. Besok adalah batas waktu yang saya berikan."
"Saya mengerti."
Alisha memasukkan buku catatannya ke dalam tas, kemudian berdiri.
Namun, sebelum ia melangkah menuju pintu, Adrian kembali berbicara.
"Satu hal lagi, Nona Alisha."
Alisha menoleh.
"Ya?"
"Jika Anda memutuskan untuk menerima tawaran ini, saya ingin Anda memahami bahwa kehidupan sebagai istri saya tidak akan selalu mudah. Keluarga saya memiliki banyak aturan dan saya juga memiliki tanggung jawab yang tidak bisa saya tinggalkan begitu saja."
Alisha menatapnya.
"Saya tidak mengharapkan kehidupan yang mudah, Pak Adrian."
"Bagus."
Adrian kembali duduk.
"Kalau begitu, saya menunggu keputusan Anda."
Alisha mengangguk, kemudian meninggalkan ruangan.
Ketika pintu tertutup, Adrian mengembuskan napas pelan.
Ia tidak tahu apakah perempuan itu akan menerima tawarannya.
Namun, ia mulai menyadari bahwa Alisha bukan seseorang yang bisa diperlakukan hanya sebagai bagian dari sebuah perjanjian bisnis.
Perempuan itu memiliki prinsip, keinginan, dan batasan yang ingin dipertahankannya.
Dan Adrian harus memutuskan apakah ia bersedia memberikan ruang bagi semua itu dalam pernikahan yang direncanakannya.
---
Keputusan yang Tidak Mudah
Alisha pulang ketika langit mulai berubah jingga.
Sepanjang perjalanan, pikirannya terus berputar.
Adrian sudah menjawab semua pertanyaannya. Ia juga bersedia membicarakan beberapa ketentuan tambahan yang menurut Alisha penting.
Namun, itu tidak membuat keputusan yang harus diambilnya menjadi lebih mudah.
Setibanya di rumah, Alisha meletakkan tasnya di kursi ruang tamu.
"Ibu?"
Tidak ada jawaban.
Ia segera berjalan menuju kamar dan mendapati Ratih sedang berbaring dengan mata terpejam.
Alisha mendekat, lalu menyentuh tangan ibunya dengan lembut.
"Ibu sudah makan?"
Ratih membuka mata perlahan.
"Sudah, Nak."
Alisha mengangguk.
"Kalau begitu, Ibu istirahat saja."
Ratih memperhatikan wajah putrinya.
"Kamu kelihatan sedang memikirkan sesuatu."
Alisha tersenyum kecil.
"Aku hanya lelah, Bu."
Ratih tidak langsung percaya, tetapi ia tidak memaksa putrinya untuk bercerita.
"Kalau kamu punya masalah, jangan dipendam sendirian."
Alisha menggenggam tangan ibunya.
"Iya, Bu."
Ia ingin menceritakan semuanya.
Ia ingin mengatakan bahwa ada seseorang yang menawarkan pernikahan kontrak kepadanya dengan imbalan bantuan finansial yang bisa digunakan untuk operasi ibunya.
Namun, Alisha mengurungkan niatnya.
Ia teringat bahwa perjanjian itu harus dirahasiakan.
Bahkan ibunya sendiri tidak boleh mengetahui alasan sebenarnya di balik pernikahan tersebut.
Alisha merasa bersalah karena harus menyembunyikan sesuatu dari wanita yang selama ini selalu mempercayainya.
Namun, untuk saat ini, ia belum memiliki pilihan lain.
Ia tidak ingin ibunya mengkhawatirkan hal yang belum pasti.
Alisha akhirnya tersenyum dan membetulkan selimut ibunya.
"Aku baik-baik saja, Bu. Ibu jangan terlalu banyak berpikir."
Ratih mengusap tangan putrinya.
"Baiklah. Tapi jangan lupa makan."
Alisha tertawa kecil.
"Iya."
Setelah memastikan ibunya kembali beristirahat, Alisha keluar dari kamar.
Ia mengambil ponselnya dan melihat pesan dari Natasya.
Natasya:
Lis, bagaimana urusanmu hari ini? Aku baru pulang dari toko. Jangan lupa kabari aku kalau kamu sudah sampai rumah.
Alisha mengetik balasan.
Alisha:
Aku sudah sampai. Semuanya baik-baik saja. Besok aku mau ke rumah sakit untuk menanyakan bantuan biaya pengobatan.
Natasya:
Bagus! Aku ikut, ya. Jangan menolak!
Alisha tersenyum.
Alisha:
Baiklah, kita pergi bersama.
Ia meletakkan ponsel di atas meja.
Kemudian, ia duduk di kursi dan menatap dokumen yang dibawanya dari kantor Adrian.
Besok adalah batas waktu terakhir.
Sebelum mengambil keputusan, ia ingin mencoba mengurus bantuan biaya pengobatan bersama Natasya.
Jika ada jalan lain, ia akan mempertimbangkannya.
Namun, jika tidak ada...
Alisha memejamkan mata.
Ia tidak ingin menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya.
Tetapi ia juga tidak ingin kehilangan kesempatan untuk membantu ibunya.
Malam itu, Alisha tidur dengan pikiran yang masih dipenuhi berbagai kemungkinan.
Ia belum tahu bahwa keputusan yang akan diambilnya besok akan menjadi awal dari kehidupan yang sama sekali berbeda.
---
Pagi Terakhir Sebelum Keputusan
Keesokan paginya, Alisha dan Natasya tiba di rumah sakit tidak lama setelah loket pelayanan dibuka.
Mereka mengurus beberapa dokumen, kemudian menemui petugas yang menangani informasi bantuan biaya pengobatan.
Alisha menjelaskan kondisi ibunya dengan saksama.
Petugas itu mendengarkan, memeriksa dokumen yang dibawa, lalu menjelaskan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi.
Ada formulir yang perlu dilengkapi, dokumen keluarga yang harus disiapkan, serta proses verifikasi yang membutuhkan waktu.
Alisha mencatat semuanya.
"Berarti saya bisa mengajukan permohonan bantuan, Bu?" tanyanya.
"Ya, silakan lengkapi persyaratannya. Nanti permohonan Anda akan diperiksa sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, kami tidak bisa memastikan kapan keputusan akan keluar."
Alisha mengangguk.
"Baik, Bu. Terima kasih."
Setelah keluar dari ruangan, Natasya menepuk bahunya.
"Setidaknya sekarang kita tahu apa yang harus dilakukan."
"Iya."
"Kita urus semuanya satu per satu, ya."
Alisha tersenyum.
Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa proses tersebut mungkin tidak akan selesai dalam waktu dekat.
Sementara itu, kebutuhan pengobatan ibunya tidak bisa begitu saja menunggu.
Ketika mereka duduk di ruang tunggu, Alisha membuka ponselnya.
Ada pesan baru dari Daniel.
Daniel:
Selamat pagi, Nona Alisha. Pak Adrian menanyakan apakah Anda sudah mengambil keputusan. Beliau berharap dapat menerima jawaban Anda hari ini.
Alisha membaca pesan itu lama sekali.
Natasya yang duduk di sampingnya memperhatikan perubahan ekspresinya.
"Kenapa, Lis?"
Alisha segera mematikan layar ponselnya.
"Nggak apa-apa. Cuma ada pesan pekerjaan."
Natasya mengangguk tanpa curiga.
"Kalau begitu, ayo kita pulang setelah menyelesaikan dokumennya."
Alisha mengangguk.
Ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Sepanjang perjalanan pulang, ia berusaha memikirkan segala kemungkinan.
Ia bisa terus bekerja dan mengurus permohonan bantuan.
Ia bisa mencari pekerjaan tambahan.
Ia bisa mencoba meminjam uang kepada beberapa orang yang dikenalnya.
Namun, ia tidak tahu apakah semua itu akan cukup untuk memenuhi kebutuhan ibunya tepat waktu.
Sore harinya, setelah Natasya pulang, Alisha duduk sendirian di ruang tamu.
Ia mengambil dokumen perjanjian dari tasnya.
Halaman demi halaman dibacanya kembali.
Ia memeriksa ketentuan pembayaran, kewajiban masing-masing pihak, masa berlaku kontrak, serta aturan yang akan berlaku setelah mereka menikah.
Ia tidak menemukan alasan yang cukup untuk langsung mempercayai Adrian.
Namun, ia juga tidak menemukan alasan untuk menganggap semua tawaran itu sebagai sesuatu yang mustahil dijalankan.
Adrian memang dingin.
Ia juga tidak menawarkan cinta.
Tetapi setidaknya, pria itu bersedia membuat kesepakatan secara tertulis dan memberikan kesempatan kepada Alisha untuk mengajukan syarat.
Alisha menutup dokumen tersebut.
Ia menatap foto kecil di atas meja, foto dirinya bersama ibunya ketika mereka masih sering berjalan-jalan di taman dekat rumah.
Saat itu, Ratih masih bisa berjalan jauh tanpa merasa kelelahan.
Alisha tersenyum sedih.
"Aku akan berusaha, Bu," bisiknya.
Kemudian, ia mengambil ponsel dan menghubungi Daniel.
Tangannya sedikit gemetar ketika mulai mengetik.
Alisha:
Selamat sore, Pak Daniel. Saya sudah mempelajari perjanjian tersebut dan ingin bertemu dengan Pak Adrian untuk menyampaikan keputusan saya.
Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan.
Mohon sampaikan bahwa saya bersedia menerima tawaran pernikahan kontrak tersebut, dengan ketentuan yang sudah kami bicarakan sebelumnya dicantumkan secara jelas dalam perjanjian.
Alisha membaca pesan itu sekali lagi.
Dadanya terasa berat.
Namun, ia tahu bahwa ia sudah mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh.
Akhirnya, ia menekan tombol kirim.
Pesan tersebut terkirim.
Beberapa menit kemudian, Daniel membalas.
Daniel:
Baik, Nona Alisha. Saya akan menyampaikan keputusan Anda kepada Pak Adrian. Beliau akan mengatur jadwal pertemuan untuk membahas dan menandatangani perjanjian.
Alisha meletakkan ponselnya di meja.
Ia menundukkan kepala dan menarik napas panjang.
Keputusan itu sudah dibuat.
Ia akan menikah dengan Adrian Mahendra.
Bukan karena cinta.
Bukan karena menginginkan kekayaan.
Melainkan karena ia ingin memiliki kesempatan untuk membantu ibunya mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan.
Alisha tidak tahu apakah dirinya akan menyesali keputusan tersebut suatu hari nanti.
Ia juga tidak tahu apakah pernikahan itu akan memberinya kebahagiaan atau justru membuat hidupnya semakin rumit.
Yang ia tahu, ia sedang mengambil langkah yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya.
Dan mulai saat itu, ia harus siap menghadapi segala konsekuensinya.
---
Di Kantor Adrian
Daniel memasuki ruangan Adrian sambil membawa sebuah tablet.
"Pak, saya baru menerima kabar dari Nona Alisha."
Adrian mengangkat wajah dari dokumen yang sedang diperiksanya.
"Bagaimana jawabannya?"