"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang membawa satu rahasia terbesar. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Saat Rahasia Ziva mulai terkuak, memicu antara benci dan cinta. Apakah Ziva akan benar-benar merajut luka hatinya Rian, atau justru hancur bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Belajar Bersama.
Aroma kopi saset rasa vanila dan tumpukan kertas latihan soal memenuhi kamar belajar Ziva yang biasanya rapi.
Di bawah pendar lampu meja yang temaram, jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Besok adalah hari pertama Ujian Tengah Semester, dan bagi dua murid yang mendadak jadi pusat perhatian satu sekolah, taruhannya terlalu besar.
Ziva mencoret rumus fisika kuantum dengan kasar. "Rian, kalau lo masih salah masukin rumus hukum kekekalan momentum ini, gue jamin besok pagi lo bakal didepak dari peringkat paralel."
Di seberang meja, Rian mengucek matanya yang merah. Lingkaran hitam di bawah kelopak matanya mempertegas betapa lelahnya cowok itu.
Sejak seminggu lalu, lebih tepatnya sejak status hubungan mereka meledak di mading sekolah dan grup angkatan— Rian tidak punya pilihan selain membuktikan bahwa dirinya tidak hancur setelah lepas dari Keysha.
"Otak gue udah mau meledak, Ziv," keluh Rian, suaranya parau. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. "Ternyata belajar bareng cewek peringkat satu umum itu lebih horor daripada diinterogasi guru BK."
Ziva tidak melubangi fokusnya. Matanya tetap tertuju pada buku, namun jemarinya yang memegang pulpen sempat tertahan. Bayangan obrolan mereka di kafe malam itu kembali berputar.
Pita merah satin. Kalimat penyemangat di bawah hujan.
Setiap kali melihat Rian, ada rasa perih yang aneh di dada Ziva. Rian mengabdi pada Keysha selama hampir dua tahun hanya karena sebuah kebohongan busuk.
Keysha memanfaatkan luka terdalam Rian, sementara Ziva, pemilik asli kenangan itu harus menelan kenyataan bahwa pita rambut mendiang adiknya dijadikan alat manipulasi.
"Jangan manja," sahut Ziva datar, menyembunyikan badai di kepalanya. "Keysha sengaja ambil kelas tutor privat sama Marvel minggu ini. Lo mau besok pas pengumuman nilai, muka lo ditaruh di mana kalau kalah dari cowok yang lo sebut bajingan itu?"
Mendengar nama Marvel, rahang Rian seketika mengeras. Kantuk yang menggelayuti matanya mendadak menguap, digantikan kilat determinasi yang tajam. "Gak akan. Gue gak bakal biarkan mereka mengasihani gue lagi."
"Bagus. Tarik kursinya lebih dekat. Kita habisin bab terakhir."
Selama dua jam berikutnya, suasana berubah serius.
Hanya ada suara gesekan pulpen, lembaran kertas yang dibalik, dan sesekali gumaman Rian yang mencoba menghafal rumus biologi.
Ziva memperhatikan bagaimana Rian berjuang. Cowok ini sebenarnya cerdas, hanya saja fokusnya selama ini terlalu banyak terbagi untuk mengurusi mengejar cinta Keysha yang tanpa arah.
Saat Ziva menjelaskan bab tentang pembelahan sel, dia menyadari intensitas respons dari Rian perlahan menurun.
"Jadi, setelah fase metafase, kromosom bakal..." Ziva menggantung kalimatnya.
Tidak ada jawaban.
Ziva menoleh. Rian sudah tidak lagi melihat ke arah buku. Kepala cowok itu terkulai lemah.
Detik berikutnya, tanpa peringatan, kepala Rian terjatuh menyamping, mendarat tepat di atas bahu kiri Ziva.
Deg.
Tubuh Ziva mendadak kaku, persis seperti malam di kafe saat Rian menceritakan rahasianya.
Napas Rian yang teratur dan hangat menerpa kulit leher Ziva, mengirimkan sengatan halus yang membuat bulu kuduknya meremang.
Aromanya mendadak mengunci seluruh indra Ziva.
Ziva menahan napas. Pulpen di tangannya nyaris terlepas. Dia menatap profil samping wajah Rian dari jarak yang sangat dekat.
Dalam posisi tidur seperti ini, gurat lelah di wajah Rian terlihat begitu nyata. Tidak ada topeng cowok tegar atau senyum getir yang biasa dia pasang di koridor sekolah.
Di sini, di bahu Ziva, Rian hanya seorang remaja yang kelelahan setelah dunianya dihantam badai.
Tangan Ziva terangkat perlahan, berniat mendorong kepala Rian agar menjauh. Dia tidak suka kedekatan fisik. Dia tidak suka menjadi rapuh.
Namun, tepat sebelum jemarinya menyentuh bait rambut Rian, cowok itu melenguh kecil dalam tidurnya. Rian justru makin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Ziva, mencari posisi yang lebih nyaman seolah bahu cewek itu adalah satu-satunya tempat paling aman di dunia saat ini.
Jantung Ziva berdentum begitu keras di dalam rongga dadanya, sampai-sampai dia takut suaranya akan membangunkan Rian.
Ziva menurunkan kembali tangannya. Dia membiarkan pulpennya tergeletak di atas meja. Perlahan, matanya beralih menatap pantulan mereka berdua di kaca jendela yang gelap.
Di luar, hujan gerimis mulai turun, persis seperti malam dua tahun lalu di pelataran RSUD.
"Gue yang payungin lo malam itu, Rian" bisik Ziva dalam hatinya, matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan yang mendadak sedingin es.
'Dan sekarang, Keysha sama Marvel bakal tahu rasanya kehilangan segalanya, tepat di musim ujian ini.'
Ziva membiarkan bahunya menjadi sandaran Rian malam itu, merajut rencana balas dendam yang akan dimulai besok pagi saat bel sekolah berbunyi.
......................
...****************...
Tbc,