NovelToon NovelToon
Lentera Terakhir Sang Kultivator

Lentera Terakhir Sang Kultivator

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.

Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.

Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.

Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Bengkel Tempa

Bengkel tempa sekte berdiri di sisi timur kampung murid luar, dekat saluran air yang dipakai untuk mendinginkan besi. Dari jauh, orang tidak perlu bertanya di mana letaknya. Dentang palu terdengar sejak pagi, dan asap hitam naik dari cerobong di atap yang miring.

Jian Chen tiba pada sore hari kedelapan setelah ia kembali. Pagi tadi ia sudah kembali ke pondok pengobatan, membayar ramuan dengan mengangkat tiga peti, dan menerima pemeriksaan nadi kedua dari Lin Xue yang berakhir dengan satu kalimat: "Sedikit lebih baik, tetapi jangan senang dulu." Kini ia berdiri di depan pintu bengkel dengan sebuah gulungan kertas di tangan.

Di dalam, seorang pemuda bertubuh besar sedang mengayunkan palu ke atas sebatang besi merah yang menyala. Bahunya selebar pintu. Keringat mengalir dari pelipisnya, dan setiap kali palu itu jatuh, percikan api melompat ke segala arah.

"Tunggu sebentar!" teriak pemuda itu tanpa menoleh. "Kalau besi ini dingin sebelum selesai, aku yang dimarahi!"

Jian Chen menunggu. Ia memperhatikan cara pemuda itu memegang jepitan, cara pergelangan tangannya berputar tepat sebelum palu menghantam, dan ia mengakui dalam hati bahwa gerakannya bersih. Delapan belas tahun dan sudah setenang ini. Ia mengenal gerakan itu, dan ia mengenal suara tawa yang sebentar lagi akan terdengar.

Besi itu dicelupkan ke air. Uap putih menyembur. Pemuda itu menghela napas panjang, menaruh palu, dan akhirnya menoleh.

"Nah," kata Dao sambil mengusap tangan ke celemek kulitnya. "Orang yang berdiri di pintu dan tidak ikut bersuara biasanya salah satu dari dua jenis. Peminta utang atau pelamun. Kau yang mana?"

"Pelamun," jawab Jian Chen. "Aku Jian Chen, dari pondok tujuh."

"Dao." Pemuda itu mengulurkan tangan yang lebar dan hitam oleh jelaga. "Jangan salaman kalau tidak mau tanganmu kotor. Tapi kalau mau ya silakan."

Jian Chen menyambut tangan itu. Genggamannya hangat dan kuat, dan ia harus menahan diri supaya tidak menggenggam terlalu lama.

"Jadi, Pelamun dari pondok tujuh," lanjut Dao. "Ada apa? Besi lipat untuk sapu? Mata cangkul patah?"

"Aku butuh baji besi." Jian Chen membuka gulungan kertasnya dan menaruhnya di meja kerja. Di atasnya ada gambar sederhana: sebuah baji pipih setebal dua jari, panjang sejengkal, dengan bagian ujung yang bergerigi. "Enam buah. Bisa?"

Dao membungkuk, menyipitkan mata, dan mengetuk-ngetuk kertas itu dengan jari. "Baji penyangga. Untuk apa? Murid luar biasanya pakai kayu."

"Untuk tambang batu napas. Lorong empat."

"Kayu yang dipasang di lorong itu sudah tua," kata Dao pelan. "Aku tahu. Aku pernah mengantar beberapa alat ke sana dan mendengar batu-batunya berbunyi. Tapi kenapa kau yang minta? Itu urusan pemeriksa."

"Pemeriksa sudah bilang aman dua pekan lalu."

"Ya, dan aku bilang pemeriksa itu mungkin memeriksa dengan mata tertutup." Dao menggaruk dagunya, meninggalkan noda jelaga baru. "Kau mau memasang baji ini sendiri?"

"Kelompok ketiga masuk lorong empat hari kedua puluh. Aku salah satunya."

"Oh." Dao terdiam. Senyumnya yang tadi lebar kini mengecil. "Kau punya perasaan buruk soal itu?"

"Ya."

"Perasaan buruk itu kadang lebih benar daripada pemeriksa." Dao mengambil kertas itu dan mengamatinya lebih lama. "Gambarmu rapi. Ujung bergerigi supaya tidak meleset kalau ditekan batu. Kau yang menggambar?"

"Ya."

"Siapa yang mengajarimu?"

Pertanyaan itu lagi. Jian Chen mulai menghafal berbagai versi jawaban yang aman. "Aku pernah melihat pengrajin di Bukit Lampion," katanya. "Hanya mengingat bentuknya."

"Kau ingat bentuk sampai ke ukuran dua jari? Hebat." Dao menyeringai. "Baik, baik, aku tidak akan bertanya lagi. Tapi baji besi sebanyak enam butuh dua kati besi, arang, dan setengah hari kerjaku. Harganya sekitar lima belas poin kontribusi."

Jian Chen menelan ludah. Ia punya empat poin, dua dikurangi Lin Xue sudah masuk hitungan itu. "Aku tidak punya sebanyak itu."

"Aku tahu. Wajahmu seperti orang yang baru dikenalkan pada harga sayur." Dao menaruh kertas itu di meja dan menyilangkan tangan. "Tapi aku punya tawaran. Aku punya sisa besi dari pesanan minggu lalu, tidak akan dipakai siapa pun. Arangnya aku ambil dari jatah bengkel. Yang kubutuhkan adalah tenaga untuk menjaga perapian dan memutar penghembus udara selama tiga sore. Kau bisa?"

"Tiga sore."

"Mulai hari ini. Penghembus itu berat. Kau akan membenciku sebelum minggu ini selesai."

"Aku bisa mencoba."

"Mencoba tidak cukup." Dao menunjuk sebuah roda kayu besar di sudut ruangan yang tersambung ke kantong kulit raksasa. "Sana. Putar sampai perapian itu putih. Kalau kau berhenti, aku akan mengomel."

Jian Chen berjalan ke roda itu dan memegang tuasnya. Ia mendorong. Roda itu tidak bergerak. Ia mendorong lagi dengan seluruh tubuhnya dan baru bergerak setelah ia menggeram.

"Pelan-pelan!" seru Dao dari balik landasan. "Jangan ditarik pakai lengan! Pakai pinggul! Bayangkan kau sedang mendorong kerbau yang sedang malas!"

"Kerbau mana yang malas?" tanya Jian Chen sambil terengah.

"Semua kerbau. Itu sebabnya mereka kerbau."

Jian Chen tertawa, pendek dan kaget. Sudah lama sekali ia tidak tertawa. Dao menoleh, mengangkat alis, lalu nyengir lebar.

"Nah, itu baru manusia," kata Dao. "Dari tadi wajahmu seperti orang menghadiri pemakaman. Siapa yang meninggal?"

"Tidak ada," jawab Jian Chen. Tangannya berhenti sejenak di tuas. "Belum ada."

Dao tidak menanyakan apa maksud kalimat itu. Ia hanya menatap Jian Chen sebentar, lalu kembali mengambil jepitan dan sebatang besi baru dari perapian.

Mereka bekerja dalam diam selama beberapa saat. Roda itu berderit, kantong kulit mengembus, dan api di perapian berubah dari merah menjadi kuning pucat. Dao mengayunkan palu dengan irama teratur, sementara Jian Chen menghitung putaran dalam kepalanya supaya lengannya tidak menyerah.

"Kau tahu," kata Dao tanpa menghentikan palunya, "aku biasanya tidak mau bantu murid luar yang tidak membayar. Bukan karena pelit. Tapi karena kalau aku bantu satu, besok antre sepuluh."

"Lalu kenapa kau membantuku?"

"Karena gambarmu bagus. Dan karena kau tidak mengeluh waktu kusuruh memutar roda." Dao menurunkan palunya. "Dan karena kau bilang perasaan buruk. Orang yang bilang begitu biasanya tidak bohong."

"Terima kasih."

"Jangan berterima kasih dulu. Kau belum selesai tiga sore." Dao menyeringai. "Oh, satu hal lagi. Kalau besi itu jadi dan kau memasangnya, jangan bilang itu buatanku kalau pengawas bertanya. Aku tidak mau ditanya kenapa membuat barang untuk tambang tanpa pesanan resmi."

"Aku akan bilang aku menempanya sendiri."

"Kau bahkan tidak bisa memutar roda tanpa menggeram." Dao tertawa keras. "Bilang saja kau menemukannya. Pengawas tidak pernah bertanya lebih dari dua kali."

Menjelang malam, tangan Jian Chen lecet dan bahunya terasa seperti dilempar dari tebing. Dao melemparkan sepotong roti keras kepadanya dari balik landasan.

"Makan. Besok kau kembali. Dan besoknya lagi."

"Aku akan kembali."

"Bagus." Dao mengangguk. "Namaku Dao. Kalau kau butuh sesuatu yang bisa ditempa, tanya aku dulu sebelum orang lain."

Jian Chen menggigit roti itu. Rasanya keras dan asin, dan ia tidak pernah merasa lebih lega makan sesuatu. Dari pintu bengkel, ia memandang langit yang mulai gelap, lalu menghitung ulang hari yang tersisa. Dua belas hari. Tiga sore menunggu perapian. Enam baji besi. Dan satu orang lagi yang belum ia temui kembali.

1
Paw_chan🐾
bagus🤟
Uranenantios: Makasih 😺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!