Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.
Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Teh Sore untuk Seorang Paman
Laras menelepon tiga orang dalam sepuluh menit, dan tak satu pun dari mereka mendengar nada panik di suaranya.
Pertama, pengacaranya, yang diminta menghubungi penyidik kasus Hendra. Kedua, ayahnya, yang hanya mendengarkan dalam diam dan berkata satu kalimat, "Biarkan Om Bram datang. Aku ada di ruang kerja." Ketiga, Carlo.
"Kamu sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Laras.
"Kemarin. Dokter bilang aku boleh bergerak asal tidak mengangkat beban." Suara Carlo di seberang terdengar waspada. "Ada apa?"
Laras menjelaskan dalam empat kalimat. Hening yang menyusul begitu panjang sampai ia mengira sambungan terputus.
"Om Bram," akhirnya Carlo berkata, nyaris berbisik. "Dia yang mengajariku naik sepeda."
"Aku tahu."
"Dia yang duduk di samping tempat tidurku waktu aku demam sewaktu kecil."
"Aku tahu, Carlo."
"Laras." Suaranya pecah halus. "Aku akan datang."
"Kamu tidak boleh muncul. Dia harus mengira kamu masih di rumah sakit." Laras menarik napas. "Tapi kamu boleh mendengarkan. Ibuku punya ruang baca di sebelah ruang tamu. Dindingnya tipis, dan ada penyidik yang akan duduk bersamamu. Datanglah lewat pintu belakang."
"Dan kalau aku tidak sanggup mendengarnya?"
"Maka kamu keluar. Tidak ada yang akan menyalahkanmu." Nada Laras melunak. "Tapi aku rasa kamu perlu mendengarnya sendiri. Supaya tidak ada ruang untuk berkata *mungkin bukan dia*."
---
Pukul empat sore, rumah keluarga Prameswari tampak seperti biasa: taman rapi, pohon mangga tua di halaman depan, dan aroma kue bolu yang dipanggang Bu Retno, ibu Laras, sejak siang. Perempuan paruh baya itu tak bertanya apa pun ketika putrinya meminta ia menyiapkan teh dan kue untuk tamu penting, hanya mengangguk dan berkata, "Pakai cangkir yang bagus?"
"Pakai yang biasa, Bu. Jangan sampai dia curiga."
Andien duduk di sofa panjang ruang tamu dengan gaun sederhana pinjaman Laras. Jemarinya dingin. Di balik lipatan lengan bajunya terselip perekam kecil yang sama, dan di meja kopi di depannya diletakkan sebuah vas berisi bunga tulip yang sebenarnya menyembunyikan mikrofon kedua.
"Tarik napas," bisik Laras di sampingnya, mengenakan blus biru lembut dan senyum yang dipoles rapi. "Ingat. Kamu gadis desa yang gugup bertemu keluarga besar. Itu bukan akting. Itu kamu."
"Saya memang gugup, Bu."
"Bagus. Pertahankan."
Bel pintu berbunyi pukul empat lewat lima.
Bramantyo Prasetia masuk dengan senyum lebar dan tangan terentang, tubuhnya yang besar dan berat dibalut kemeja batik mahal. Rambutnya hampir putih sepenuhnya, wajahnya ramah dan merah seperti orang yang gemar makan enak. Ia memeluk Laras erat-erat, lalu mencium kedua pipinya.
"Laras sayang! Kamu kurus sekali. Pasti kurang makan sejak kejadian ini." Ia mengusap lengan Laras dengan mata berkaca. "Om prihatin sekali. Carlo itu memang bodoh, tapi dia keponakan Om. Dan kamu sudah seperti anak Om sendiri."
"Terima kasih, Om."
"Dan ini..." Bram menoleh pada Andien. Matanya, kecil dan cokelat di balik kantung-kantung lemak, menyapu gadis itu dengan kehangatan yang terasa hampir sempurna. "Ini pasti Andien. Cantik sekali, ya. Pantas Carlo tidak tahan."
Andien berdiri dengan canggung, membungkuk. "Selamat sore, Pak."
"Panggil Om saja, Nak. Kita keluarga." Bram meraih tangannya dengan kedua telapak, hangat dan lembap. "Ya ampun, tanganmu dingin. Kamu takut pada Om?"
"Tidak, Om. Cuma... belum pernah bertemu orang kota sebanyak ini."
Bram tertawa terbahak, menepuk punggung tangan Andien. "Polos sekali! Laras, kamu beruntung punya pesaing yang jujur begini." Ia mengerling ramah. "Maaf, Om bercanda."
Laras tersenyum tipis. "Silakan duduk, Om."
---
Bu Retno membawa nampan teh dan bolu, menyapa Bram dengan sopan, lalu menghilang ke dapur. Bram menyeruput tehnya dengan suara puas, menusuk sepotong bolu, dan mulai bicara.
Ia pandai. Andien harus mengakuinya. Bram tak langsung ke pokok, melainkan memutar-mutar dengan cerita masa lalu, tentang ayah Carlo muda, tentang betapa dekatnya ia dengan kakaknya, tentang kesepian yang ia rasakan sejak kakaknya meninggal. Suaranya hangat, matanya sesekali basah, dan dalam sepuluh menit ia berhasil membuat ruang tamu terasa seperti pertemuan keluarga yang penuh kasih.
Andien nyaris tertipu. Itulah yang paling menakutkan.
"Soal rumah singgah itu," akhirnya Bram menyentuh topik utama, menaruh garpunya. "Om dengar idenya mulia sekali. Om bangga padamu, Laras."
"Terima kasih, Om."
"Hanya saja..." Ia mengeluarkan map tipis dari tasnya, meletakkannya di meja. "Masalah legalitas. Rumah Menteng itu aset keluarga, dan pelimpahan hak pakai harus melalui dewan. Om sudah siapkan dokumennya. Tinggal tanda tangan Laras sebagai pengelola dan Carlo sebagai pemilik, lalu Om bantu mengurus ke notaris."
"Bolehkah aku membacanya dulu?"
"Tentu, tentu sayang. Tapi Om sarankan segera. Besok pagi Om harus ke Singapura mengurus urusan perusahaan." Senyumnya melebar. "Lebih cepat lebih baik. Sebelum ada orang yang mengganggu."
Laras membuka map itu pelan. Matanya bergerak cepat di antara baris-baris huruf kecil, dan Andien, yang duduk di sampingnya, melihat jari perempuan itu berhenti di satu paragraf, lalu bergerak lagi tanpa ekspresi.
"Om," kata Laras akhirnya, suaranya tenang. "Pasal tujuh. Klausul pengalihan pengelolaan 'dalam hal pengelola berhalangan tetap'. Siapa yang ditunjuk sebagai pengganti?"
"Itu standar, sayang. Biasanya pihak keluarga yang dipercaya."
"Dan pihak keluarga itu Om."
"Siapa lagi? Carlo masih lemah, ayahmu sibuk." Bram tertawa ringan. "Om kan paman yang paling dekat."
*Berhalangan tetap.* Andien merasakan perutnya mengerut. Dalam bahasa hukum, itu bisa berarti sakit permanen, cacat, atau kematian.
Laras menutup map dengan gerakan tenang. "Aku perlu waktu membacanya, Om. Aku tidak mau menandatangani apa pun yang belum kupahami."
"Tentu, tentu." Bram mengangkat bahu santai, tetapi Andien menangkap sesuatu yang mengeras di sudut matanya, sepersekian detik. "Lagi pula, Om juga ingin mengobrol dengan Andien. Boleh, Nak?"
"B-boleh, Om."
Bram menoleh sepenuhnya. Kehangatan di wajahnya tak berubah, tetapi matanya kini menatap Andien dengan perhatian yang berbeda, seperti pemburu yang akhirnya berhadapan dengan mangsanya.
"Desamu itu Karang Sewu, ya? Jauh sekali dari sini."
"Iya, Om."
"Ibumu bagaimana kabarnya? Bu Rukmini, kalau tidak salah. Batuknya sudah reda?"
Dunia seolah berhenti. Andien merasakan darahnya menarik diri dari wajahnya, dan ia sadar bahwa dalam sepersekian detik itu, ia gagal menyembunyikan ekspresinya.
"Dari mana Om tahu nama ibu saya?"
"Carlo cerita." Bram tersenyum lebar. "Dia cerita banyak sekali tentangmu. Tentang gubukmu di ujung desa, tentang kebun kangkungmu, tentang malam kamu menyeretnya dari tepi sungai di tengah hujan."
Laras tak bergerak. Di balik dinding ruang baca, Andien tahu, dua pasang telinga sedang mendengarkan.
"Mas Carlo tidak pernah menceritakan soal tepi sungai pada siapa pun, Om," kata Andien pelan, dan ia sendiri terkejut betapa jelas suaranya. "Selain pada saya dan Ibu. Dan Bu Laras, baru-baru ini."
Hening. Bram tak berkedip. Senyumnya masih di sana, tetapi sudah seperti topeng yang tak lagi menempel di wajah.
"Mungkin Hendra yang cerita," ujarnya ringan.
"Pak Hendra tidak pernah tahu soal hujan, Om. Dia hanya tahu soal sungai." Andien menelan ludah. "Tadi Om bilang *hujan*. Tidak ada orang di luar sana yang tahu malam itu hujan, kecuali yang ada di sana."
Detik demi detik berlalu. Di luar jendela, seekor burung berkicau tak peduli.
Lalu Bram tertawa. Pelan, rendah, dan sama sekali tak hangat.
"Kamu lebih tajam daripada kelihatannya, Nak." Ia menyandarkan punggung ke sofa, meraih cangkir tehnya, dan menyeruputnya dengan tenang, seolah baru saja membicarakan cuaca. "Itu berbahaya. Gadis desa tidak seharusnya pandai menghitung."
"Om," kata Laras dengan suara sangat datar. "Apa maksud Om?"
"Maksud Om sederhana, sayang." Bram meletakkan cangkir. Ia menatap Laras, lalu Andien, dengan sorot yang kini dingin dan jernih. "Om sudah terlalu tua untuk berputar-putar. Kamu akan menandatangani dokumen itu. Dan gadis ini akan pulang ke desanya, melupakan semuanya, dan menjaga ibunya yang sakit-sakitan dengan sebaik-baiknya."
"Dan kalau tidak?"
"Maka sayang sekali, batuk Bu Rukmini mungkin kambuh lagi." Bram tersenyum lembut. "Orang tua sakit paru gampang sekali tiba-tiba memburuk. Sering terjadi."
Pintu ruang baca terbuka keras.
Carlo berdiri di ambang pintu dengan lengan kiri masih dalam kain gendong, wajahnya pucat seperti kapur, matanya merah. Di belakangnya berdiri seorang pria bertubuh tegap dengan lencana tergantung di dadanya.
"Om," kata Carlo. Suaranya bergetar, tetapi tidak berhenti. "Om sendiri yang mengajariku bahwa orang yang mengancam keluarga orang lain berarti sudah kalah."
Bram menatap keponakannya. Untuk sepersekian detik, topeng itu retak sepenuhnya, dan Andien melihat sesuatu yang bukan kebencian, bukan kemarahan, melainkan kekecewaan yang aneh, seperti pemain catur yang menyadari bidak yang ia remehkan telah mengepungnya.
"Carlo," bisiknya. "Kamu seharusnya di rumah sakit."
"Aku memang seharusnya banyak hal, Om."
Pria berlencana itu melangkah maju. "Bramantyo Wiranegara, kami membawa surat penahanan terkait dugaan perencanaan percobaan pembunuhan dan ancaman terhadap saksi. Anda berhak diam."
Bram tidak melawan. Ia berdiri perlahan, merapikan batiknya, lalu tersenyum pada Laras dengan kehangatan yang tiba-tiba terasa sangat busuk.
"Sup ayammu enak sekali, sayang," katanya. "Sayang sekali Om tidak sempat menambah."
Ia keluar diapit dua petugas yang muncul dari lorong, melewati Carlo tanpa menatapnya.
Andien baru sadar napasnya tertahan sejak tadi ketika ia menghembuskannya dengan gemetar. Laras menggenggam tangannya erat, dan untuk beberapa detik tak ada yang berbicara.
Lalu ponsel di saku Andien bergetar.
Nomor tak dikenal dari kode wilayah desanya. Ia mengangkatnya dengan jari kaku.
"Halo?"
"Dien!" Suara Mbok Darmi pecah oleh tangisan dan angin. "Dien, Ibumu... Ibumu dijemput orang tadi siang! Dua laki-laki, naik mobil putih, bilang dari rumah sakit! Mbok sudah teriak-teriak, tapi mereka bawa pergi Ibumu!"
Dunia berputar. Andien mendengar piring pecah, entah dari dapur Bu Retno atau dari dalam kepalanya sendiri.
"Mbok... kapan?"
"Jam dua, Dien. Jam dua siang tadi."
Jam dua. Dua jam sebelum Bram tiba. Dua jam sebelum ia duduk di sofa ini dengan senyum ramah dan tawa hangat.
*Bram tidak datang untuk menjerat mereka,* Andien menyadari dengan dingin yang menusuk. *Ia datang untuk mengulur waktu.*
---
*Bersambung ke Bab 19...*
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya