Annisa Marwa harus pergi dari kehidupan keluarganya setelah dia tahu bahwa dua orang yang dia sayangi dan dia percaya menjalin hubungan dibelakangnya.
Disakiti oleh kedua orangtuanya, Dikecewakan oleh Kakak dan Tunangannya tak membuat Marwa mundur atas kepergian itu. Tak ada air mata tangisan yang mengiringi langkahnya dalam meninggalkan kota itu.
Hingga pertemuannya dengan Rayyan Al Ghafa Pangestu merubah hidupnya. Marwa menjadi wanita yang lebih tangguh dan kuat dalam menghadapi apapun.
••••••••
"Aku Marwa, Sesuai dengan namaku.. Aku akan jadi wanita tangguh dan kuat tanpa takut pada siapapun.. " Annisa Marwa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai Hidup Baru
"Kamu?
Nina sedikit terkejut setelah melihat siapa yang bertamu kerumahnya malam-malam begini. Seorang pria yang sangat Nina kenal sekali. Seorang pria yang menjadi penyebab perginya sang sahabat dari kota ini. Seorang pria yang tanpa perasaan menyakiti hati Marwa.
Pria itu adalah Raski, Pria yang ikut andil dalam mengkhianati Marwa sampai gadis itu membuat keputusan untuk pergi.
"Ada apa kakak malam-malam datang kesini?" Tanya Nina. Gadia itu jelas tahu niat pria ini datang, Tapi pura-pura tidak tahu saja dulu..
"Nina.. Boleh saya masuk dulu? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan sama kamu.." Ucap Raski pada sahabat Marwa itu. Nina langsung merubah ekspresinya menjadi tenang sekali.
"Oh ya kak.. Ayo masuk dulu.." Nina mengajak Raski untuk masuk, Gadis itu juga mempersilahkan pria tersebut untuk duduk.
"Aku buatin minum dulu ya kak..
"Gak usah.. Kamu duduk aja dulu, Ada sesuatu yang mau aku tanyakan ke kamu.." Nina mengangguk lalu duduk dikursi dengan posisi berhadapan dengan kekasih Tania itu.
"Ada apa ya kak.. Kok tumben kakak datang kesini.." Tanya Nina pura-pura tidak tahu. Padahal gadis itu sudah menyiapkan banyak jawaban untuk pertanyaan dari pria ini.
"Aku kesini mau tanya tentang Marwa.." Nina langsung bereaksi terkejut.
"Wawa?
"Iya.. Kamu tahu gak kemana Wawa pergi?" Nina terdiam, Dia harus akting sekarang.
"Wawa pergi? Pergi kemana kak?" Raski menatap Nina dengan reaksi yang cukup kaget itu.
"Kamu, Kamu gak tahu dia pergi?" Nina menggelengkan kepalanya.
"Akhir-akhir ini Wawa emang gak bisa dihubungi kak.. Aku gak tahu kalo dia pergi. Dia gak bilang apa-apa ke aku.. " Jawab Nina, Mana mungkin ia beritahu tentang kepergian Marwa dari kota ini. Biarkan saja pria ini mencarinya, Suruh siapa berbuat kurang ajar.
"Kamu jangan bohong Nina.. Kamu adalah sahabat Wawa. Hubungan kalian itu dekat sekali, Kamu paling tahu tentang dia. Dan aku kesini karena aku yakin kalau kamu pasti tahu dimana keberadaan dia.. " Nina terdiam, Raut wajahnya berubah seolah ia curiga dengan Raski.
"Aku dan Marwa memang sahabat dekat kak.. Tapi akhir-akhir ini sikap Wawa berubah. Dia kayak sembunyiin sesuatu dari aku.. Pas aku tanya, Katanya dia gapapa dan baik-baik saja.. Dan selama dua hari ini aku mencoba hubungi dia, Tapi gak bisa.. Dan sekarang Kakak datang kesini bilang kalau Wawa pergi. Emang dia pergi kemana? Apa ada masalah sehingga buat dia hilang? Kakak adalah tunangannya, Harusnya kakak yang lebih tahu dia ada dimana?" Pertanya itu berbalik pada Raski sendiri. Raski menunduk, Lalu menjawab..
"Marwa telah membatalkan pertunangan kita..
"Apa!!? Tapi kenapa?" Nina sok kaget, Ah akting yang bagus sekali Nina.
Pria itu mulai bercerita dengan pelan-pelan tentang masalahnya dengan Marwa yang sebenarnya sudah Nina ketahui sejak lama. Bahkan tentang tuduhan Tania kemari juga Raski ceritakan.
"Owh.. Jadi selama ini, Cinta Kak Raski ke Wawa itu cuma pura-pura?" Raski tak menjawab. Katakanlah dia memang berpura-pura dalam berhubungan dengan Marwa selama ini. Namun untuk sekarang, Raski sadar kalau kehilangan gadis itu membuat seolah hatinya hampa.
"Pantas aja sikap Wawa berubah.. Mungkin karena dia tahu kalau selama ini, Pria yang dia cintai dan dia percaya itu udah permainkan perasaannya.. Mana mainnya gak tanggung-tanggung lagi. Mainnya malah bareng kakak sepupunya.. Hebat ya, Kalian.." Nina sudah tidak dapat menahan emosi lagi. Sudah sejak tadi gadis itu ingin marah, Akan tetapi masih ia tahan. Tapi sekarang..
"Aku gak ada niat buat nyakitin dan khianati Marwa..
"Kalau gak ada niat apa dong namanya? Kakak tahu gak sih? Wawa itu gadis baik kak. Dia selalu bilang kalau kakak itu pria baik, Dia juga bilang kalau kakak itu adalah hidupnya. Seorang pria dia percaya, Seorang pria yang memberikan dia kasih sayang setelah ayahnya itu kakak.. Dia selalu membanggakan kakak.. Tapi ini wujud asli kakak.. Kakak buat sahabat aku pergi tahu gak?" Tangis Nina pecah. Bukan air mata buaya atau air mata bohongan. Air mata itu adalah air mata kekecewaan Nina terhadap Raski karena telah tega mengkhianati cinta tulus sahabatnya.
"Mending sekarang kakak pergi! Wawa gak ada disini.. Dan jangan cari Wawa kesini lagi.. Dasar pria gak tahu diri!!" Maki Nina pada Raski yang secara terang-terangan diusir oleh gadis itu.
Raski pun segera keluar dari rumah itu karena sang Tuan rumah sudah telah mengusirnya.
BRAAAK!
Pintu tertutup dengan rapat membuat Raski terjingkat kaget. Pria itu menarik nafas panjang, Nina saja tidak tahu kemana gadis itu pergi. Yang artinya niat Marwa pergi memang benar-benar telah bulat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Carilah Marwa sampai kemanapun karena gadis yang dicari tidak akan mungkin menampakkan batang hidungnya.
Karena gadis yang dicari saat ini sedang menata lembaran baru yang akan disambut dengan baik.
Marwa..
Sudah dua hari dua malam ia berada dan tinggal diapartemen. Dan bisa saja kemungkinan besok pemilik Apartemen ini akan datang berkunjung.
Selama berada ditempat ini, Marwa merasa hidupnya semakin tenang. Tidak ada gedoran pintu, Tidak ada bentakan, Tidak ada caci dan makian. Mungkin karena orang itu Marwa, Sehingga ia mampu menjalankan hidup yang penuh dengan ujian ini. Andai itu orang lain, Mungkin saja sudah lebih memilih untuk pergi dari dunia ini.
"Kenapa tidak sejak dulu saja aku pergi.. Tinggal seorang diri tidak semenyeramkan itu.."
Ya, Jika kita tinggal bersama keluarga yang haus akan kekuasaan. Apalagi posisi kita hanya seorang diri, Kita akan kalah. Jalan satu-satunya ialah lebih baik pergi saja dan mulai semuanya dari awal.
Ddrrttt...
Marwa yang tengah sibuk didapur itu melihat ke arah benda pipihnya. Nina, Sang sahabat menelfon. Tanpa menunggu waktu Marwa langsung menggeser icon hijau tersebut.
"Halo...
"Hay... Lagi apa?
"Aku lagi masak, Lapar soalnya.." Marwa meletakkan ponselnya tak jauh dari tempatnya memasak untuk makan malam.
"Wah.. Kayaknya enak ya? Mau dong...
"Kalau mau ya, Kesini.. Minta kak Haidar biar nyusul kamu.." Nina tampak tertawa diseberang sana.
"Enggak ah.. Nanti aku malah ganggu lagi. Kata kak Haidar aku gak boleh sering ganggu calon bu bos.." Nina langsung menutup mulutnya. Mendengar itu, Marwa langsung menatap Nina dengan dahi yang mengkerut.
"Calon Bu bos?
"Hehe.. Enggak.. Aku cuma asal ngomong aja kok. Yaudah, Kalau kamu mau masak.. Lanjutin aja, Nanti gosong loh... Bye..
Marwa tersenyum, Panggilan itu berakhir secara sepihak. Marwa kembali meletakkan ponselnya diatas meja sebelum akhirnya dia menyelesaikan masak makan malamnya.
Sebenarnya Marwa tidak memasak enak. Hanya sosis goreng dan sambal bawang, Dan itu sungguh terlihat nikmat sekali.
"Bismillahirrohamanirrohim..." Gadis itu bersiap menyantap makan malamnya dengan nikmat. Ini adalah awal yang baru dalam hidupnya. Jauh dari orang-orang munafik itu.
Tanpa disadari, Seorang pria duduk dengan tenang sambil menyesap kopinya. Dihadapannya sebuah laptop memperlihatkan kegiatan seorang gadis yang tidak akan lama lagi akan dia bawa kerumah ini.
"Kau sudah semenderita ini, Mana mungkin aku biarkan menderita lagi...
•
•
•
TBC
Dina mana.. dina manaaa..
biar makin seru nechdrama ny 😃😃😃
gmn tuuh ,, gmn tuuuh ,,
pgen jungkir balik rasa ny aq ,, 🤸🤸🤸🤸🤸🤸🤸
aq rasa udh ijooo mukany si tania ,,
udh pulang aj ke Susan ,, dy juga istri km koq raskii ,,