"Kurang ajar! Beraninya kalian mengotori rumah tangga kita!" bentak Sandra dengan suara bergetar hebat, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi.
Sebelum Sandra bisa memberikan pelajaran lebih jauh kepada wanita itu, sebuah benturan keras mendarat di pipi kirinya.
Plak!
Tamparan itu begitu kuat hingga kepala Sandra terpelanting ke samping. Rasa perih langsung menjalar di pipinya, meninggalkan sensasi panas yang membakar. Pelaku pemukulan itu tidak lain adalah Anton sendiri. Suami yang selama empat tahun ini ia layani dengan sepenuh hati, kini berdiri tegak dengan mata melotot dan tangan mengepal.
"Seharusnya kamu sadar, kamu wanita lusuh, jelek, tidak bisa menjaga tubuhmu, aku muak denganmu!" teriak Anton dengan suara menggelegar, melampiaskan seluruh kebencian yang selama ini ia pendam.
Kata-kata itu menghujam jantung Sandra jauh lebih tajam daripada pisau bermata dua. Wanita lusuh? Jelek? Selama ini ia mengorbankan waktu istirahatnya demi mengurus rumah, sementara Anton
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Ibu di Ambin Sekolah
Seusai sarapan dan berganti pakaian rapi, suasana di pelataran utama mansion tampak sibuk namun penuh keceriaan. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap sudah terparkir manis di depan tangga aula. Pak Biworo membukakan pintu belakang dengan senyuman penuh rasa hormat.
Elzard tampil sangat menggemaskan dengan kemeja kotak-kotak cilik dan celana bahan yang membuatnya terlihat makin mirip dengan sang ayah versi mungil. Di sampingnya, Sandra tampil anggun mempesona dalam balutan dress pastel dengan tatanan rambut terurai halus. Sedangkan Dante berdiri tegap dalam balutan kemeja kancing atas terbuka yang dipadukan dengan jas santai namun tetap memancarkan aura penguasa yang dominan dan berkelas.
"Ayo Ibu! Ayo Ayah! Nanti kita terlambat!" seru Elzard sabar menanti di samping mobil seraya melambaikan tangan mungilnya.
Dante melangkah mendekat, mengapit jemari lembut Sandra di dalam genggaman erat tangannya. "Mari, Nyonya Dante," bisik Dante dengan suara berat nan hangat di samping telinga Sandra.
Rona merah tipis menyapu pipi Sandra, mengangguk pelan seraya melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang harum dan selesa. Dante menyusul masuk di sampingnya, lalu memangku Elzard yang sibuk celoteh riang sepanjang perjalanan.
Beberapa puluh menit membelah jalanan kota yang cerah, mobil mewah itu akhirnya memasuki gerbang sebuah sekolah TK (Taman Kanak-Kanak) internasional paling ternama dan bergengsi di kawasan elit kota. Area parkir sekolah sudah dipenuhi oleh deretan mobil-mobil mewah milik para orang tua murid kalangan atas.
Begitu pintu mobil dibukakan, Dante melangkah keluar lebih dulu. Dengan sikap protektif dan penuh kelembutan, Dante mengulurkan tangannya membantu Sandra turun, lalu menggendong Elzard di lengan kokohnya.
Kehadiran mereka bertiga seketika menarik perhatian dan pandangan kagum dari orang-orang di sekitar area sekolah. Aura wibawa Dante yang luar biasa dipadukan dengan keanggunan alami Sandra yang cantik memikat, membuat mereka terlihat seperti keluarga sempurna dari majalah terkemuka.
"Wah, lihat itu... Pria itu bukankah pemilik Vancity Group?" bisik beberapa ibu-ibu muda di dekat lorong pendaftaran dengan pandangan takjub.
"Istrinya cantik sekali, sangat anggun dan serasi..." bisik yang lainnya.
Sandra yang mendengar bisikan-bisikan kagum tersebut tersenyum manis, memegang erat lengan Dante. Tak ada lagi rasa minder atau cemas seperti di masa lalunya. Kini, di balik perlindungan mutlak dari Dante dan genggaman tangan mungil Elzard, Sandra melangkah penuh percaya diri menyambut babak baru kehidupan keluarga mereka yang penuh kebahagiaan.
Suasana di koridor utama sekolah TK internasional itu sangat ramai oleh suara tawa, celoteh riang, dan langkah kaki anak-anak yang diantar oleh orang tua mereka. Dinding-dinding lorong dihiasi lukisan warna-warni, gambar abjad, dan hiasan gantung yang ceria.
Sandra, Dante, dan Elzard berjalan beriringan menuju ruang kelas baru tempat proses pengenalan lingkungan sekolah akan berlangsung. Sebelum melangkah masuk menembus pintu kelas yang terbuka lebar, Sandra menghentikan langkahnya. Ia berlutut di atas lantai marmer yang bersih, menyamakan tinggi pandangannya dengan putra kecilnya.
Dengan penuh kelembutan, Sandra merapikan kerah kemeja kotak-kotak cilik yang dikenakan Elzard, lalu membelai pipi tembam bocah itu yang merona merah.
"Elzard... nanti di kelas jangan berantem, yaa," ucap Sandra lembut namun penuh ketegasan manis seorang ibu. "Sama teman-teman harus ramah, tidak boleh nakal, dan kalau ada apa-apa harus bicara baik-baik."
Elzard menatap mata bening Sandra dengan membulatkan mata bulatnya secara menggemaskan. Mengingat sifat tengil dan gengsi tinggi yang diwarisinya dari sang ayah, Elzard membusungkan dadanya yang kecil, lalu mengangguk mantap.
"Siap, Ibu!" jawab Elzard dengan nada penuh keyakinan. "Elzard kan anak hebat pilihan Ibu Baru—eh, Ibu Sah! Elzard tidak akan nakal, Elzard mau jadi pangeran yang jagoan tapi baik hati!"
Sandra tak mampu menahan tawa renyah yang meluncur anggun dari bibirnya. Ia merengkuh tubuh mungil Elzard ke dalam pelukan hangatnya, mencium kedua pipi dan puncak kepala bocah itu dengan kasih sayang murni.
Di samping mereka, Dante berdiri tegap dengan kedua tangan terbenam santai di saku celananya. Menatap interaksi manis antara istri dan putranya, bibir tegas sang penguasa kegelapan membentuk sunggingan senyum tipis yang amat menawan. Dante merendahkan tubuhnya sedikit, mengusap kepala Elzard dengan satu tangan kokohnya.
"Dengar kata Ibumu, Elzard," tambah Dante dengan suara beratnya yang penuh wibawa. "Seorang pria sejati melindungi yang lemah, bukan mencari keributan."
"Siap, Ayah!" balas Elzard antusias seraya melepaskan pelukan Sandra.
Seorang guru TK berparas ramah melangkah mendekati mereka dari dalam kelas dengan senyuman hangat. "Selamat pagi Tuan Dante, Nyonya... Wah, Elzard sudah siap masuk kelas dan bermain bersama teman-teman?"
"Sudah, Ibu Guru!" jawab Elzard riang. Bocah itu menyalami tangan Sandra dan Dante bergantian, lalu melambaikan tangan kecilnya sebelum melangkah masuk ke dalam kelas dengan percaya diri tanpa rasa takut sedikit pun.
Sandra berdiri perlahan, ditopang oleh lengan kokoh Dante yang merangkul pinggangnya protektif. Menyaksikan putra mereka melangkah masuk dengan senyuman lebar, dada Sandra berdesir hangat. Di bawah naungan cinta Dante dan kehangatan Elzard, masa depan keluarga mereka kini terbentang begitu indah dan tak tergoyahkan.
tapi cocok sih, laki-laki pengecut seperti kamu punya istri pelacur murahan yang ga tahu diri 🤣🤣😂😂 dan kalian berdua siap-siap mati