sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.
sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.
sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.
sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Video Viral Dan Harga Sebuah Cinta
*JUDUL: BAB 24 - VIDEO VIRAL DAN HARGA SEBUAH CINTA
Malam di mushola Polres Waingapu itu dingin. Lantai keramik, bukan dipan kayu jati Rumah Bintang. AC Polres berisik, bukan angin timur sabana Kolorai.
Bintang tidur di pangkuan Sari, tapi tidurnya tidak pulas seperti kemarin saat berlari kejar kupu-kupu. Bintang mengigau, "Mama... jangan... jual... rumah..."
Sari yang hamil 3 bulan, yang tadi pagi pingsan di sabana, yang siang tadi pecahkan kaca kantor tambang dengan batu, yang sore tadi teriak di lobi demi Bintang, kini tidak bisa tidur. Perutnya sakit. Sakit yang beda dari tadi. Sakit melilit, seperti ditusuk dari dalam.
Johan duduk di samping dengan tongkatnya, matanya bengkak habis nangis seharian. Mama Leni sudah tertidur kelelahan di sudut mushola.
"Johan... perutku sakit..." bisik Sari pelan, takut bangunkan Bintang.
Johan langsung panik, pegang tangan Sari, "Sari! Sakit gimana? Kayak kemarin pingsan?"
Sari menggeleng, keringat dingin keluar di jidatnya, padahal mushola dingin, "Bukan... sakit di bawah... seperti... seperti waktu aku melahirkan Bintang dulu di badai..."
Johan lihat kain sarung yang dipakai Sari untuk selimutan. Ada bercak merah. Sedikit, tapi merah.
"YA ALLAH SARI! DARAH! SARI PENDARAHAN!" Johan teriak, suaranya pecah di mushola Polres yang sepi itu.
Polisi jaga malam lari masuk, "Ada apa Pak?"
"ISTRI SAYA HAMIL! PENDARAHAN! TOLONG! PANGGIL AMBULANS!" Johan merangkak dengan tongkatnya, gendong Sari yang sudah lemas, Bintang yang tidur di pangkuan Sari terbangun dan lihat ibunya berdarah, langsung nangis keras.
"BINTANG JANGAN LIHAT NAK! MAMA TIDAK APA-APA!" Sari masih sempat peluk Bintang meskipun perutnya sakit luar biasa, meskipun darahnya makin banyak.
Itu darah yang sama seperti setahun lalu, saat Sari donor darah 750 cc untuk Bintang, saat Sari koma 11 hari setelah donor sumsum. Darah cinta tanpa syarat itu keluar lagi.
Ambulans Polres datang, bawa Sari ke RSUD Waingapu malam itu juga. Johan, Mama Leni, dan Bintang ikut di belakang ambulans pakai motor bebek tua yang tadi ditinggal di depan kantor tambang. Motor bebek itu mogok dua kali di jalan malam, Johan harus dorong dengan tongkatnya.
Di RSUD Waingapu, UGD malam itu ramai.
Bu Dokter Rina yang tadi di Polres, ternyata dokter jaga malam di RSUD, langsung tangani Sari.
"Bu Sari, ini yang saya takutkan kemarin! Saya sudah bilang bed rest total! Ibu stres berat hari ini, lari 35 km naik motor bebek, pecahkan kaca, teriak-teriak, gendong anak diculik! Rahim ibu yang lemah bekas donor sumsum tidak kuat! Janin ibu..." Bu Dokter Rina tidak lanjutkan, matanya berkaca-kaca.
Sari di ranjang UGD, infus di tangan, darah masih keluar, Bintang di samping ranjang dipegang Mama Leni, Johan pegang tangan Sari erat-erat dengan tangan gemetarnya.
"Anak saya... anak kedua saya... Dok..." Sari menangis, suaranya sudah tidak ada tenaga, seperti setahun lalu saat dia melahirkan Bintang sendirian di gubuk bocor.
Bu Dokter Rina pegang tangan Sari, "Bu Sari, kita usahakan ya Bu, kita usahakan... tapi ibu harus siap..."
Di luar UGD, HP Johan bergetar terus. Video yang tadi siang direkam orang Waingapu di lobi kantor tambang, yang judulnya "Ibu Hamil Pecahkan Kaca Kantor Tambang Demi Anak Ajaib yang Diculik", sudah viral.
Viewnya bukan 10 ribu lagi. Sudah 1,2 juta views dalam 6 jam. Komennya 8 ribu. Semua tag @NovelToon, @Yayasan Bintang Kecil Jakarta, @PT Nikel Sejahtera.
Tiba-tiba, ada suster masuk ke UGD bawa amplop putih besar, sama seperti amplop yayasan Jakarta kemarin yang 100 juta, tapi lebih tebal.
"Bu Sari, ada kiriman dari Jakarta, katanya dari Yayasan Bintang Kecil, harus dibuka sekarang," kata suster.
Johan buka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya bukan cek 100 juta. Di dalamnya ada surat resmi dengan kop surat PT Nikel Sejahtera Sumba dan Yayasan Bintang Kecil Jakarta, dalam satu kop surat yang sama.
Surat itu isinya:
_"Kepada Ibu Sari Kolorai,_
_Kami turut prihatin atas kejadian penculikan yang dilakukan oknum karyawan kami. Oknum tersebut sudah kami pecat. Sebagai permintaan maaf, Yayasan Bintang Kecil Jakarta (anak perusahaan CSR PT Nikel Sejahtera) tetap ingin menjadikan Bintang sebagai duta kami dengan bayaran 100 juta._
_Namun, karena Ibu Sari telah merusak kaca kantor kami senilai 15 juta dan mencemarkan nama baik perusahaan di video viral 1,2 juta views, maka kami tawarkan solusi: Bayaran 100 juta untuk Bintang akan dipotong 15 juta ganti rugi kaca, sisa 85 juta akan kami berikan JIKA Ibu Sari mau tanda tangan surat jual tanah 2 hektar warisan itu seharga 50 juta. Jadi total Ibu Sari terima 135 juta, tanah 2 hektar jadi milik kami, Bintang jadi milik yayasan kami untuk 1 tahun kontrak di Jakarta._
_Jika menolak, kami akan laporkan Ibu Sari ke polisi atas pengrusakan dan pencemaran nama baik, dan kami akan gugat tanah sengketa itu di pengadilan. Suami Ibu yang lumpuh juga akan kami laporkan ikut merusak._
_Batas waktu: 12 jam, sampai jam 8 pagi besok._
_Hormat kami,_
_Direktur PT Nikel Sejahtera & Yayasan Bintang Kecil Jakarta"_
Johan baca surat itu keras-keras di UGD, suaranya gemetar, air matanya jatuh ke kertas.
Sari yang di ranjang UGD, yang sedang pendarahan, yang janin keduanya terancam tidak tertolong, dengar surat itu, langsung kejang, bukan karena sakit perut, tapi karena hatinya hancur.
"Jadi... yayasan Jakarta yang mau bayar Bintang 100 juta itu... punya tambang yang mau beli tanah kita 50 juta itu... satu perusahaan... mereka mau beli anak saya dan tanah saya sekaligus... 135 juta..." Sari berbisik, darahnya makin banyak keluar.
Bintang yang dipegang Mama Leni, yang dari tadi diam, tiba-tiba demam tinggi. Badannya panas seperti terbakar. Sama seperti setahun lalu sebelum donor sumsum, saat Bintang hampir meninggal.
"MAMA! BINTANG PANAS! BINTANG KEJANG!" Mama Leni teriak.
Bintang kejang lagi, mata putih, seperti dulu. Di ranjang UGD sebelah Sari.
Dua ranjang UGD di RSUD Waingapu malam itu, satu Sari hamil 3 bulan pendarahan janin terancam tidak tertolong, satu Bintang umur 1 tahun 14 hari kejang demam tinggi setelah diculik.
Johan berdiri di tengah dua ranjang itu, dengan tongkatnya, tidak tahu harus pegang siapa dulu. Di tangannya surat 135 juta yang mau beli tanah dan anaknya.
Di luar UGD, polisi datang lagi, bukan untuk bantu, tapi bawa surat panggilan, "Pak Johan, Bu Sari, Anda dilaporkan PT Nikel atas pengrusakan kaca 15 juta. Harap ikut ke Polres setelah istri selesai dirawat."
Di HP Johan, video viralnya sudah 2 juta views, tapi komennya berubah, ada yang bilang Sari settingan demi uang 100 juta, ada yang bilang Sari ibu pemberani.
Jam dinding UGD menunjukkan jam 2 pagi. Batas waktu 12 jam sampai jam 8 pagi besok.
Sari harus pilih dalam 6 jam, saat pendarahan dan Bintang kejang:
Tanda tangan jual tanah 2 hektar dan jual Bintang 1 tahun ke Jakarta demi 135 juta untuk selamatkan janin kedua dan berobat Bintang? Atau pertahankan Rumah Bintang dan kehilangan segalanya, bahkan dipenjara karena pecahkan kaca 15 juta?
Sari menatap Bintang yang kejang di ranjang sebelah, dan pegang perutnya yang berdarah.
"Bintang... maafkan Mama nak... Mama sudah tidak kuat lagi... seperti setahun lalu Mama melahirkanmu sendirian..."
Lampu UGD tiba-tiba redup, Bintang kejang makin keras.
BERSAMBUNG.
Hai pembaca setiaku, terimakasih telah menemani author sampai bab ini, jika kalian ada yg kurang puas silahkan komen di bawah ya! Nanti komen kalian akan author masukan ke bab selanjutnya. Terimakasih 🙏