NovelToon NovelToon
Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26

****

Aroma kayu cendana bercampur mint yang sangat dikenalnya terasa kian pekat saat kesadaran Aini melayang di batas antara pingsan dan terjaga. Sensasi melayang dan dekapan lengan kokoh yang membopong tubuhnya terasa begitu nyata, disertai derap langkah tergesa yang bergema kaku di lorong.

Ivandra tidak membawa Aini ke IGD umum. Sebagai penanggung jawab rumah sakit yang paham betul betapa cepatnya desas-desus menyebar di antara staf, pria itu memilih melangkah lebar menuju lift VIP, membawa tubuh mungil istrinya langsung ke ruang peristirahatannya yang terletak di dalam ruang kerja Kepala Bedah Saraf lantai empat.

Klek.

Pintu kayu tebal itu terkunci rapat. Ivandra merebahkan Aini dengan teramat hati-hati di atas sofa panjang berbahan kulit tebal yang empuk. Tangannya yang biasa menggenggam instrumen bedah dengan kepastian dingin kini tampak gemetaran saat menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Aini hingga ke dada.

Pria jangkung itu bergegas mengambil tensimeter, stetoskop, dan pulse oximeter dari dalam tas medisnya. Dengan jemari yang diusahakan selentur mungkin agar tak mengejutkan Aini, Ivandra memeriksa tanda-tanda vital istrinya.

"Tekanan darah delapan puluh per lima puluh..." bisik Ivandra dengan suara parau. Alis tebalnya bertaut kaku, raut kecemasan murni terpancar jelas di wajahnya yang kusam. "Nadi lemah, hipoglikemia, dan anemia..."

Ivandra mengepalkan tangannya di samping tubuh. Penurunan kondisi fisik Aini yang drastis ini murni akibat stres psikologis berkepanjangan, kurang tidur, serta trauma fisik atas kejadian beberapa hari lalu.

Saat Ivandra sedang memasangkan manset tensimeter kembali untuk memastikan hasil pengukuran, kelopak mata Aini bergetar halus. Manik mata jernih yang redup itu perlahan terbuka, menyesuaikan diri dengan pendar lampu ruang kerja yang temaram.

Begitu pandangannya memfokus dan menangkap figur Ivandra yang berdiri terlampau dekat di samping sofa, pupil mata Aini membelalak lebar secara refleks.

"A-Ah...!" Aini tersentak panik. Tubuhnya otomatis menegang, berusaha mendorong tubuhnya mundur hingga punggungnya menempel kencang pada sandaran sofa. Napasnya mendadak memburu penuh ketakutan.

Melihat reaksi trauma murni itu, Ivandra seketika membeku. Rasa bersalah yang teramat sangat bagai menghantam dadanya hingga sesak.

Tanpa membuang waktu atau mempertahankan dominasinya, Ivandra langsung mengangkat kedua telapak tangannya ke udara, mengambil tiga langkah mundur secara perlahan hingga tubuh jangkungnya berdiri tepat di dekat ambang pintu ruangan—memberikan jarak aman sejauh mungkin yang dibutuhkan Aini.

"Aini... tenang. Jangan panik," tutur Ivandra dengan suara berbariton rendah yang terdengar amat pelan, lembut, dan penuh permohonan. "Saya di sini... jauh dari kamu. Saya tidak akan mendekat."

Aini meremas ujung selimut di dadanya, napasnya masih terengah-engah. Matanya yang membasah menatap Ivandra dengan sorot waspada dan luka yang amat dalam.

"M-Mengapa... kenapa saya ada di sini...?" tanya Aini dengan suara parau yang sangat lemah.

"Kamu pingsan di lorong Poli Mata," jawab Ivandra cermat, berusaha menata intonasi suaranya agar tidak menyiratkan nada perintah atau tekanan. "Tekanan darahmu drop drastis, Aini. Hasil pemeriksaan singkat menunjukkan kamu mengalami anemia sedang dan kelelahan fisik yang sangat berat."

Ivandra menunjuk pelan ke arah meja kecil di dekat sofa, tempat sebuah botol suplemen zat besi, glukosa cair, dan segelas air hangat yang sudah ia siapkan.

"Saya mohon..." bisik Ivandra, menatap Aini dengan pendar mata yang pasrah dan merendah. Pria angkuh itu kini benar-benar membuang seluruh gengsinya. "Saya tahu kamu sangat takut dan benci melihat saya. Tapi demi kesehatanmu... izinkan saya memberikan perawatan medis dasar ini. Kamu tidak perlu bicara dengan saya, kamu tidak perlu menatap saya... cukup minum vitamin dan glukosa itu."

Aini menatap gelas air hangat di atas meja, lalu beralih menatap Ivandra yang tetap berdiri mematung di dekat pintu, sama sekali tidak berniat mengikis jarak. Untuk pertama kalinya, Aini melihat sosok sang 'Dokter Iblis' berdiri dalam posisi yang begitu lemah, kalah, dan penuh penyesalan murni.

Aini menarik napas panjang yang terasa menyakitkan di dada, berusaha menenangkan detak jantungnya yang memburu.

"Saya... saya bisa minum sendiri," tutur Aini pelan, suaranya terdengar sangat dingin dan berjarak.

"Baik... ambil saja sendiri," sahut Ivandra cepat, menganggukkan kepalanya kaku. "Saya tetap di sini, tidak akan bergerak mendekat sedikit pun."

Dengan jemari yang masih sedikit gemetaran akibat lemas, Aini mengulurkan tangannya meraih glukosa cair dan meminumnya perlahan, disusul dengan beberapa teguk air hangat. Efek rasa manis dari glukosa itu perlahan-lahan mengurai rasa pening yang menusuk di kepalanya.

Ivandra menghembuskan napas lega yang amat berat saat melihat Aini mau menerima asupan tersebut.

"Aini..." panggil Ivandra lagi dengan suara sangat pelan.

Aini tidak menoleh, tetap menatap lurus ke arah ujung selimut. "Ada hal lain yang ingin Anda sampaikan, Dokter Ivandra?"

Panggilan formal itu kembali menegaskan dinding tebal di antara mereka, namun Ivandra menerima kepahitan itu tanpa membantah.

"Stase Poli Mata kamu untuk hari ini... sudah saya batalkan perizinannya," ujar Ivandra dengan nada suara yang teramat penuh kehati-hatian. "Kamu butuh istirahat total. Jika kamu merasa sudah sedikit lebih kuat... saya akan minta Suster Maya mengantarmu pulang ke apartemen, atau... ke mana pun tempat yang membuatmu merasa aman."

Aini terdiam sejenak. Kalimat "ke mana pun tempat yang membuatmu merasa aman" terdengar amat kontras dari mulut seorang Ivandra yang dulu selalu menuntut kepatuhan atas kontrak yang ia buat.

"Saya mau kembali ke kamar saya di apartemen," sahut Aini lirih. "Saya butuh istirahat tanpa gangguan siapa pun."

Ivandra mengepalkan tangannya rapat-rapat di dalam saku celananya, menahan rasa nyeri yang meremas hatinya. Ia paham betul maksud dari kata 'gangguan' yang dilontarkan Aini.

"Baik," angguk Ivandra pasrah. "Saya tidak akan mengganggumu. Saya akan tidur di ruang kerja rumah sakit beberapa hari ini sampai kamu benar-benar merasa tenang."

Aini memalingkan wajahnya ke samping, membiarkan keheningan kembali merayapi ruang kerja luas itu. Meskipun ketakutan dan lukanya belum terkikis sepenuhnya, tindakan Ivandra yang mau menurunkan keangkuhan dan memberinya jarak aman perlahan-lahan memberi sedikit celah udara di tengah sesaknya trauma yang menyelimuti pernikahan rahasia mereka.

Beberapa minggu berlalu sejak hari yang penuh kepanikan itu.

Dinamika di antara Ivandra dan Aini mengendap dalam keheningan yang amat membeku. Sesuai janjinya, Ivandra benar-benar menjaga jarak. Pria itu memilih menghabiskan sebagian besar malamnya bertugas di rumah sakit atau tidur di sofa ruang kerja, memberikan Aini ruang penuh di apartemen tanpa interogasi mau pun intimidasi. Aini perlahan pulih secara fisik, namun jarak emosional di antara mereka kini berdiri jauh lebih kokoh dari sekadar lembaran kontrak.

Hingga suatu pagi, ketenangan kaku itu terusik saat sebuah mobil mewah hitam berhenti di lobinya VIP RS Utama Wigunadi. Nyonya Rosalia Wigunadi dan suaminya datang secara khusus untuk menjalani pemeriksaan kesehatan rutin tahunan (medical check-up) yang langsung dipimpin oleh tim dokter senior rumah sakit.

Usai menjalani serangkaian tes laboratorium dan pemeriksaan jantung di lantai tiga, Nyonya Rosalia menyempatkan diri melangkah menuju ruang kerja Ivandra di lantai empat.

Klek.

Nyonya Rosalia masuk tanpa mengetuk, melangkah anggun dengan senyum mengembang amat lebar. "Ivan! Papa kamu masih di laboratorium sama Dokter Hendra. Mama ke sini mau lihat kamu."

Ivandra yang sedang memeriksa berkas rekam medis di meja kerjanya mendongak pelan. Melihat sosok ibunya, rahang tegas pria itu seketika mengetat kaku. Sorot mata elangnya meredup, menyisakan aura dingin yang amat menekan.

"Ada apa, Ma?" tanya Ivandra singkat, suaranya mengalun berbariton rendah tanpa ada nada kehangatan.

Nyonya Rosalia mendekat, mendudukkan dirinya di kursi depan meja kerja Ivandra dengan raut antusias yang begitu kentara. "Aduh, Ivan... masa sama Mama sendiri suaranya kaku begitu? Mama cuma mau tanya, bagaimana kondisi hubungan kamu sama Aini beberapa minggu ini? Ramuan herbal khusus dari Mama waktu itu manjur, kan?"

Mata Nyonya Rosalia berbinar gembira, tak menyadari riak kepanikan dan kemarahan yang mendadak membakar dada anaknya. "Mama itu sudah tidak sabar menunggu kabar baik dari kalian. Kapan Mama bisa dapat cucu dari Aini?"

Brak!

Ivandra menepuk permukaan meja marmernya cukup keras. Gerakan refleks itu membuat Nyonya Rosalia terlonjak kaget di kursinya.

"Ivan...?" bisik Mamanya heran, menatap raut wajah putranya yang kini memerah padam akibat kemarahan yang ditahan setengah mati.

Ivandra memajukan tubuhnya, menatap lurus mata ibunya dengan pendar mata yang amat tajam, dingin, dan sarat akan luka penyesalan yang membakar.

"Cukup, Ma," tegur Ivandra dengan suara rendah yang begitu menekan dan bergetar hebat. "Jangan pernah lagi Mama mencampuri urusan rumah tangga saya dan Aini. Apalagi dengan cara-cara manipulatif seperti waktu itu."

Nyonya Rosalia mengerutkan keningnya, merasa tersinggung. "Ivan! Mama melakukan itu semua demi kebaikan kalian! Kalau tidak Mama dorong, kalian berdua mau sampai kapan bersikap dingin begitu? Kamu itu suami, kamu berhak—"

"Tindakan Mama waktu itu hampir menghancurkan Aini!" potong Ivandra cepat, suaranya meninggi penuh ketegasan yang tak terbantahkan. "Mama tidak tahu apa-apa! Gara-gara tindakan bodoh dan ramuan itu, Aini mengalami trauma berat! Dia sakit, demam tinggi, dan sampai pingsan di rumah sakit!"

Nyonya Rosalia membeku di tempatnya. Wajah cantiknya seketika pucat pasi mendengar pengakuan bergetar dari bibir putranya. "A-Aini... sakit...?"

"Ya! Dan itu semua karena saya kehilangan kendali akibat ramuan dari Mama!" cecar Ivandra dengan napas yang memburu. Pria itu meremas jemarinya sendiri kencang-kencang di atas meja. "Saya yang menanggung rasa bersalah ini setiap hari, Ma. Saya yang harus melihat istri saya sendiri ketakutan setengah mati setiap kali melihat saya mendekat!"

Ivandra menarik napas panjang yang terasa sangat sesak di dada, menatap ibunya dengan ketegasan mutlak seorang kepala keluarga.

"Ini peringatan pertama dan terakhir dari saya, Ma," tutur Ivandra dengan suara berbariton rendah yang amat dingin. "Jika Mama masih menyayangi saya dan mau menghormati posisi Aini sebagai menantu di keluarga ini... jangan pernah mencampuri kehidupan pribadi kami lagi. Jangan pernah membicarakan soal cucu atau menyusupkan hal-hal seperti itu lagi. Biarkan saya menyembuhkan luka Aini dengan cara saya sendiri."

Nyonya Rosalia bungkam sepenuhnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat ketakutan dan penyesalan yang teramat dalam di mata putra tunggalnya yang selama ini terkenal angkuh dan dingin. Sang Mama mengangguk kaku dalam keheningan yang amat mencekam, menyadari betapa fatalnya dampak dari campur tangan yang ia anggap sepele.

Bersambung..

1
Anonim
CRAZY UP THOR
Anonim
crazy up thor
Anonim
up thor
Shuttttttttttt
pls crazy up thooor
Anonim
crazy up
Anonim
crazy up thor
Ai Nurlaela Jm
karyamu kereen Thor
Anonim
crazy up thor
Anonim
crazy up
Putry Chan
dokter pria itu serem deh bikin merinding jangan sampai ketemu lagi
mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Aini Mungkin kmu sedikit ceroboh
Putry Chan
maaf gak sengaja kau pikir aku buta 🙄
Putry Chan
semangat Aini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!