NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kera Putih

Kebangkitan Kera Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SERANGAN GELOMBANG KEDUA

Fajar belum sepenuhnya menyingsing di atas Kota Pinggiran. Udara pagi yang biasanya segar kini berbau sangit, bercampur uap amis darah dan debu reruntuhan yang belum mengendap. Kabut tipis menyelimuti lorong-lorong klan, menyembunyikan sisa-sisa kehancuran dari pertempuran semalam.

Di dalam gudang perkakas, Lin Yuan duduk bersila di atas lantai tanah. Matanya terpejam rapat. Di bawah lapisan kulit dadanya yang terbebat kain linen, kehangatan tipis dari aura Kera Putih terus berputar, merayap perlahan menyusuri meridian yang sebelumnya kaku dan tersumbat.

Setiap kali aliran hangat itu melintasi tulang rusuknya yang retak, rasa sakitnya berangsur mendingin, digantikan oleh sensasi gatal pelan—tanda jaringan tubuhnya sedang memulihkan diri dengan kecepatan di luar nalar manusia biasa.

BAM!

Gempa mendadak mengguncang pondasi gudang kayu. Debu-debu tua berjatuhan dari atap seng, menimpa lampu minyak yang sudah mati.

Lin Yuan mendadak membuka mata. Pupil hitamnya berkilat tajam di dalam kegelapan remang.

"Bocah, kau merasakannya?" Tanya Paman Gu yang berdiri sergap di tepi jendela, memegang erat tongkat kayunya.

"Getaran ini... beda dari Serigala Besi," Sahut Lin Yuan serak sambil berdiri pelan. Ia menguji pijakan kakinya; rasa sakit di dadanya sudah jauh berkurang dibanding semalam.

BAM! BAM!

Dentuman itu datang beruntun, makin dekat dan kian berat. Suaranya bukan lagi langkah kaki kawanan serigala yang lincah, melainkan gempuran sesuatu yang sangat besar, menghantam batu jalanan dengan bobot ton-tonan.

ROAAAR!

Raungan yang begitu pekak membelah udara pagi. Suaranya bergema begitu berat hingga membuat kaca-kaca jendela di sekitar kompleks klan bergetar dan pecah berkeping-keping.

"Tolong! Gerbang dalam jebol!"

"Beruang Zirah Besi! Monster kelas dua menembus barikade!"

Teriakan-teriakan histeris memecah keheningan fajar. Dari kejauhan, suara kayu tumbang dan tembok batu yang roboh bersahut-sahutan.

Paman Gu membuka pintu gudang sedikit lebih lebar, menatap ke arah lorong utama klan yang menghubungkan distrik luar dan distrik dalam. "Sialan. Monster tipe berat berhasil menerobos saat penjagaan fajar melemah."

Lin Yuan melangkah keluar dari pintu gudang, berdiri di samping Paman Gu. Pandangannya menembus sisa-sisa kabut pagi di lorong jalan.

Di sana, sekitar dua ratus langkah dari posisi mereka, sesosok makhluk raksasa muncul dari balik tembok batas yang hancur. Tinggi tubuhnya hampir mencapai empat meter saat berdiri dengan dua kaki. Bulu hitam tebal menyelimuti tubuhnya, tetapi yang paling mengerikan adalah lempengan-lempengan cangkang keras menyerupai zirah besi hitam yang tumbuh alami melapisi dada, pundak, dan seluruh lengan depannya.

Beruang Zirah Besi. Monster kelas dua yang terkenal memiliki pertahanan fisik paling sulit ditembus oleh kultivator tingkat rendah.

Monster itu mengayunkan cakar raksasanya yang dilapisi tonjolan besi, menghantam sebuah tiang batu gerbang hingga hancur berkeping-keping. Tiga orang pengawal klan yang mencoba menahannya dengan tombak spiritual terpental belasan meter, memuntahkan darah segar di udara sebelum jatuh tak bergerak di atas tanah.

"Serangan kita tidak mempan! Kulit zirahnya terlalu tebal!" Teriak seorang pengawal yang lengannya patah sambil merangkak mundur ketakutan.

Dari lorong sebelah kanan, muncul Lin Heng bersama empat murid elit klan. Mereka memegang pedang bermutu tinggi yang terpancar aura *qi* tipis berawarna biru.

"Gunakan formasi pemotong!" Teriak Lin Heng mencoba memberi komando, walau nada suaranya terdengar bergetar panik. "Incar matanya atau celah di persendian lehernya!"

Keempat murid elit itu melompat maju bersamaan, mengayunkan pedang mereka dengan dorongan *qi* penuh ke arah leher Beruang Zirah Besi.

TANG! TANG! TANG!

Suara benturan logam keras beradu menggema nyaring. Kilatan percikan api memercik di udara, namun tebasan pedang berlapis *qi* itu bahkan tidak sanggup menggores lempengan zirah hitam di leher sang beruang. Bilah pedang salah satu murid justru patah menjadi dua bagian akibat kerasnya tekanan benturan.

"Apa?!" Pekik Lin Heng kaget, matanya melotot lebar.

ROAAAR!

Beruang Zirah Besi itu meraung murka karena merasa terganggu. Tanpa membuang waktu, monster itu memutar tubuhnya yang kekar dan mengibaskan lengan depannya yang seberat batang pohon raksasa.

Brak!

Dua murid elit dihantam telak oleh punggung cakar sang beruang. Tubuh mereka terlempar menghantam dinding batu rumah warga hingga tembok itu rubuh menimbun mereka.

Lin Heng yang berada paling dekat berhasil melompat mundur secara refleks, namun gelombang angin dahsyat dari pukulan monster itu tetap menghempaskannya hingga berguling-guling kasar di atas batu jalanan.

"Lari! Monster ini bukan tandingan kita!" Jerit Lin Heng panik saat melihat Beruang Zirah Besi itu berbalik, mengincarnya dengan mata merah membara.

Lin Heng merangkak naik dengan susah payah, berlari kencang tanpa menoleh lagi ke arah rekan-rekannya yang terluka. Ia berlari lurus menuju lorong gudang belakang—jalur yang ia anggap paling sepi untuk melarikan diri.

"Awas!" Teriak Paman Gu di depan pintu gudang.

Beruang Zirah Besi itu mengejar Lin Heng dengan kecepatan yang mengerikan untuk ukuran tubuh sebesar itu. Setiap pijakan kakinya meremukkan lantai batu jalanan. Karena pandangannya yang tertutup amarah, monster itu tidak hanya mengincar Lin Heng, tetapi mengayunkan tubuhnya lurus menghantam jajaran bangunan di sepanjang lorong—termasuk gudang perkakas tua milik Paman Gu.

Di sudut lorong dekat gudang, seorang wanita tua pembersih jalanan terhenyak kaku, tersudut di antara tumpukan kayu dan dinding mati, tak bisa lari karena kakinya lumpuh ketakutan.

Beruang itu mengangkat cakar depannya yang sebesar perisai, bersiap meremukkan wanita tua itu bersama dinding gudang di belakangnya.

"Lari, Paman! Masuk ke dalam!" Teriak Lin Yuan pada Paman Gu.

Sebelum Paman Gu sempat menahannya, Lin Yuan sudah melesat maju.

Tanpa pedang berbahan emas, tanpa zirah pelindung mewah, Lin Yuan berlari murni mengandalkan kekuatan otot kakinya. Kehangatan aura Kera Putih di dadanya meledak seketika, mengalir cepat membasahi setiap serabut otot di paha dan betisnya.

SREK!

Lin Yuan meluncur rendah di atas lantai tanah yang basah, melewati kolong cakar beruang yang sedang terangkat. Saat tubuhnya berada tepat di samping kaki belakang monster itu, Lin Yuan menekuk lututnya, menancapkan tumitnya ke tanah, lalu menghantamkan bagian siku tangannya tepat ke belakang sendi lutut sang beruang dengan seluruh bobot tubuhnya.

BAM!

Pukulan itu tidak melukai zirah besi monster tersebut, tetapi tekanan mekanis tepat pada sudut persendian membuat kaki belakang beruang itu terlipat mendadak.

Beruang Zirah Besi itu kehilangan keseimbangan, raungannya terputus saat tubuh raksasanya terhuyung miring dan menghantam tanah dengan dentuman keras, melepas target serangan utamanya.

Wanita tua itu selamat, tersapu oleh gelombang angin runtuhan batu.

Lin Heng yang berlari di depan mendadak terhenti, menoleh dengan mata terbelalak. Wajahnya pucat pasi melihat Lin Yuan berdiri sendirian di samping monster raksasa yang baru saja terjerembap.

"Kau... kau gila?!" Jerit Lin Heng dari kejauhan dengan suara melengking. "Monster itu punya zirah tebal! Kau cuma mencari mati, sampah!"

Lin Yuan tidak menjawab atau melirik sedikit pun ke arah Lin Heng. Ia berdiri tegak di tengah debu yang membumbung, bernapas teratur dari hidungnya.

Di dalam dadanya, lautan jiwa Kera Putih bergejolak hebat. Raungan sang beruang dan tekanan maut yang terpancar dari monster kelas dua ini bukannya membuat Lin Yuan gentar, melainkan memicu denyut energi perak-keemasan di meridiannya berputar dua kali lebih cepat.

Kera Putih di dalam jiwanya menuntut pertarungan yang lebih keras.

ROAAAR!

Beruang Zirah Besi itu bangkit kembali dengan cepat. Matanya yang merah pekat kini sepenuhnya terkunci pada Lin Yuan. Rasa sakit di persendian kakinya membuat monster itu mengamuk gila. Cakar depannya terangkat tinggi, memancarkan aura hitam berbau kebusukan saat ia mengayunkannya ke bawah, hendak meremukkan Lin Yuan menjadi bubur darah.

Lin Yuan melebarkan kuda-kudanya, menatap lurus ke arah cakar maut yang turun menerjangnya. Tidak ada niat sedikit pun di matanya untuk mundur.

1
Iskandar Muda
mantap
Fery Oktavian: semoga suka dengan ceritanya 👍🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!