Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.
Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.
Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Panas
Javier tertawa pelan melihat tatapan membunuh yang dilemparkan Yoselin dari ambang pintu. Bukannya takut dengan ancaman racun tersebut, sang CEO justru melangkah cepat dengan sisa tenaganya, memotong jarak di antara mereka sebelum Yoselin sempat memutar gagang pintu.
Srett!
Sebelum Yoselin menyadarinya, lengan kekar Javier sudah melingkar erat di pinggang rampingnya. Dalam satu hentakan kuat, Javier menarik tubuh Yoselin ke dalam dekapannya, mengunci wanita itu merapat sempurna ke dada bidangnya.
"Pak Javier! Lepaskan!" jerit Yoselin kaget, dadanya berdebar kencang akibat tindakan impulsif pria di hadapannya.
Javier tidak memedulikan perintah itu. Manik mata abu-abunya menatap lurus ke arah bibir merona Yoselin yang meracuninya dengan rasa penasaran sejak awal. Dengan tatapan sarat obsesi, Javier menundukkan wajahnya, berniat mendaratkan ciuman manis tepat di atas bibir bervolume tersebut.
Yoselin yang menyadari pergerakan itu langsung memberontak hebat. Ia memutar kepalanya dan membuang muka ke samping sekuat tenaga.
Cup.
Ciuman yang seharusnya mendarat di bibir Yoselin pun meleset, jatuh tepat di permukaan pipi mulus wanita itu.
Javier menghentikan gerakannya, memajukan bibirnya sedikit seraya cemberut memasang raut wajah merajuk yang terasa konyol untuk pria setinggi dan seagresif dirinya.
"Kamu sungguh wanita yang sangat jahat, Yoselin..." komentar Javier dengan suara serak, menatap Yoselin yang masih memalingkan wajah.
"Padahal aku cuma ingin mencium bibirmu sebentar. Kenapa harus menghindar?"
Yoselin membalikkan wajahnya kembali, matanya menyala penuh amarah dan napasnya memburu kasar. Kedua tangannya mendorong dada bidang Javier, berusaha menciptakan jarak meski cengkeraman lengan pria itu di pinggangnya sangat kokoh.
"Jaga batasan Anda, Pak Javier!" bentak Yoselin dengan nada suara bergetar menahan kejengkelan dan kejutan.
"Lepaskan saya sekarang juga! Jika Anda tidak melepaskan saya dan terus bertindak melampaui batas seperti ini, saya bersumpah akan membawa kasus ini ke pihak berwajib!"
Javier menaikkan sebelah alisnya, mengamati raut wajah marah Yoselin dari jarak yang amat dekat.
"Pihak berwajib?"
"Iya! Kepolisian!" tegas Yoselin tanpa ragu, menatap tajam ke dalam manik mata abu-abu di hadapannya.
"Tindakan Anda ini sudah termasuk pelecehan dan pemaksaan! Saya bisa melaporkan Anda atas tuduhan pelecehan seksual! Jadi lepaskan saya sebelum saya benar-benar menuntut Anda!"
Bukannya panik atau melepaskan pegangannya, senyuman lebar nan menawan justru mengembang sempurna di paras tampan Javier. Tawa kecil yang penuh dominasi meluncur dari tenggorokannya, membuat Yoselin makin merinding.
"Pelecehan?" ulang Javier santai, memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan.
"Tuduhan mu terlalu berat, Sayang. Lagipula, bukankah tadi ciumanku cuma mendarat di pipimu? Aku bahkan belum sempat menyentuh bibirmu."
"Pak Javier, jangan main-main—"
"Supaya tuduhan mu ke polisi nanti terbukti benar dan tidak dianggap fitnah..." bisik Javier tepat di depan bibir Yoselin dengan intonasi berbahaya.
"Sebaiknya kita berciuman secara nyata sekarang."
"Apa—mmpft!"
Sebelum Yoselin sempat menyelesaikan kalimatnya atau menjerit, Javier sudah lebih dulu membungkam bibir merona itu dengan bibirnya sendiri.
Javier mencium bibir Yoselin secara dalam, menuntut, dan penuh paksaan. Tangan kirinya bergerak cepat ke belakang kepala Yoselin, menahan tengkuk wanita itu agar tidak bisa memalingkan wajah lagi, sementara tangan kanannya mengunci pinggang Yoselin hingga tubuh mereka menempel tanpa celah.
Yoselin terbelalak kaget. Ia berusaha memberontak, memukul-mukul bahu dan dada bidang Javier dengan jemarinya yang mengepal. Namun, perbedaan kekuatan fisik di antara mereka terlalu jauh. Javier mengunci seluruh pergerakan Yoselin dengan sempurna, memutus segala akses bagi Yoselin untuk melarikan diri.
Ciuman Javier terasa begitu dominan dan membakar. Pria itu menyapu setiap inci bibir bawah dan atas Yoselin, memagutnya secara perlahan namun pasti, menyalurkan seluruh kekaguman, rasa kepemilikan, dan obsesi yang selama ini ia tahan di dalam dadanya.
"Mmph... Ja-Javier..." rintih Yoselin di sela-sela ciuman itu, berusaha mempertahankan kesadarannya.
"Balas ciumanku, Yoselin..." desis Javier pelan tanpa melepaskan tautan bibir mereka, memberikan tekanan lembut pada tengkuk Yoselin.
"Atau aku tidak akan pernah melepaskanmu dari ruangan ini seharian penuh."
Ancaman bertopeng bisikan serak itu berhembus tepat di atas kulit bibir Yoselin, mengirimkan sengatan hangat yang merayapi seluruh pembuluh darahnya. Ritme ciuman Javier yang intens, aroma parfum maskulin yang melingkupinya, serta dominasi pria itu perlahan-lahan mengikis pertahanan mental Yoselin yang sedang lelah.
Entah karena terbawa suasana yang kian memanas, efek kelelahan fisik setelah rentetan trauma pernikahan, atau ancaman Javier yang terdengar sangat tidak main-main, pertahanan Yoselin akhirnya runtuh sepenuhnya.
Jemari tangan Yoselin yang tadinya memukul dada Javier perlahan melonggar. Jemari mulusnya merayap naik, meremas kain kemeja di bahu Javier, sebelum akhirnya melingkar pelan di leher pria itu.
Yoselin memejamkan matanya rapat-rapat, lalu mulai membalas pagutan bibir Javier secara perlahan.
Merasakan balasan yang lembut dan pasrah dari Yoselin, binar di mata Javier seketika menyala terang. Keheningan kamar rawat pribadi itu pecah oleh hembusan napas mereka yang makin memburu. Ciuman yang tadinya diawali dengan paksaan dan dominasi satu arah kini berubah menjadi pergulatan emosi yang kian panas dan menuntut di antara keduanya.
Javier memperdalam ciumannya, melumat bibir Yoselin dengan kehangatan yang makin membara, seolah berusaha menghapus seluruh jejak kepahitan dan kebrutalan yang pernah ditinggalkan oleh Edward di dalam hidup wanita ini. Yoselin mendesah pelan dalam buaian ciuman tersebut, membiarkan dirinya tenggelam dalam dominasi sang CEO yang bersedia melakukan apa saja demi menjadikannya milik penuh.
"Bibirmu manis sekali, Sayang!" bisik Javier serak dan kembali mencium bibir Yoselin lebih dalam lagi.
Bersambung...