Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."
Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.
Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.
sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Bekal Siang dan Pemicu Ego
Matahari siang telah merangkak tepat di atas kepala, memancarkan hawa panas yang membakar seluruh petak sawah. Arkan duduk bersandar di lantai bambu gubuk kecil tepi ladang dengan napas yang masih tersengal-sengal. Kaus oblong hitamnya tampak basah kuyup oleh keringat. Rasa pegal di otot-otot nya tidak ia hiraukan sama sekali. Sepasang manik mata cokelat gelap miliknya terus bergerak gelisah, menatap lurus ke arah jalan setapak setapak dari balik bayangan gubuk yang teduh.
Pergulatan batin yang melanda Arkan sejak subuh tadi belum juga menemui titik terang. Di satu sisi, egonya sebagai pria kota yang angkuh terus menolak ide untuk merendahkan diri. Namun di sisi lain, bayangan wajah masam Nayla yang menahan tangis kemarin senja seolah menjadi duri yang terus menusuk ketenangan hatinya. Arkan berulang kali membetulkan balutan kain kasa tipis di telapak tangan kanannya dengan gerakan gusar, mencoba meredam rasa tidak nyaman yang terus bergejolak hebat di dalam dadanya.
"Arkan, itu Nayla datang mengantarkan makan siang untuk bapaknya," suara berat Pak Barkah membuyarkan lamunan panjang Arkan.
Arkan seketika menegangkan seluruh otot tubuh tegapnya. Ia mendongakkan kepala dan melihat sesosok gadis berjalan anggun menyusuri pematang sawah kering pembatas ladang. Sore ini, Nayla terlihat sangat berbeda dan memikat mata. Ia mengenakan baju kurung modern berwarna lilac lembut yang longgar, dipadukan dengan celana panjang kain putih yang bersih. Pakaian itu membuat kulitnya yang putih bersih alami tampak begitu bersinar di bawah terik matahari siang. Di tangan kanannya, Nayla menjinjing sebuah rantang seng tingkat tiga, sementara tangan kirinya membawa sebuah teko plastik berisi es sirup merah yang segar.
Jantung Arkan mendadak berdegup dengan ritme yang jauh lebih cepat begitu sosok gadis itu semakin dekat. Ada dorongan kuat di dalam hatinya untuk langsung berdiri, melangkah mendekat, dan menuntaskan niatnya untuk meminta maaf atas ucapan kasarnya kemarin. Namun, tepat sebelum Arkan sempat menggerakkan kakinya keluar dari gubuk, langkah kaki jangkungnya kembali terkunci rapat di tempat.
Dimas Dananjaya dengan sigap langsung naik dari kubangan lumpur sawah begitu menyadari kedatangan Nayla. Pria lokal berkulit sawo matang bersih itu menyeka keringat di lehernya dengan handuk, lalu melemparkan senyuman hangat yang sangat cerah ke arah Nayla.
"Eh, Nayla. Panas-panas begini kok malah repot-repot mengantarkan rantang ke sawah?" sapa Dimas dengan nada suara yang sangat lembut dan perhatian.
Nayla menghentikan langkahnya di pematang yang agak tinggi, membalas sapaan itu dengan sebuah senyuman tipis yang manis alami. "Tidak apa-apa, Mas Dimas. Kebetulan Ibu tadi masak semur jengkol dan sambal terasi kesukaan Bapak, jadi sekalian saya antarkan ke mari bersama es sirup segar agar Bapak dan Mas Dimas tidak kehausan."
Mendengar interaksi yang begitu akrab dan panggilan 'Mas Dimas' yang terdengar sangat lembut keluar dari bibir Nayla, sepasang alis tebal milik Arkan seketika menukik tajam. Rahang tegasnya mengeras kuat-kuat, dan kepalan tangan kirinya di atas lantai bambu meremas kuat anyaman hingga berderit keras. Rasa dongkol dan gelombang emosi panas yang luar biasa besar mendadak meledak di ubun-ubun sang Tuan Muda Jakarta. Sifat gila hormatnya merasa terhina melihat gadis yang kemarin membentaknya, kini bertingkah begitu manis pada pria desa bermotor bebek itu.
Kejadian yang paling membakar ego Arkan pun terjadi dalam sekejap mata. Saat Nayla hendak melangkah turun dari pematang tanah yang agak miring untuk menyerahkan teko plastik kepada bapaknya, ujung sandal jepit karetnya tidak sengaja menginjak bagian tanah yang gembur dan licin.
"Eh!" pekik Nayla kaget, tubuh mungilnya kehilangan keseimbangan hingga condong ke arah depan.
Dengan gerakan refleks yang sangat cepat dan cekatan, Dimas langsung memajukan tubuh tegap proporsionalnya. Kedua tangan kasar Dimas menangkap kedua lengan pendek baju kurung milik Nayla dengan erat, menahan tubuh gadis berkulit putih bersih itu agar tidak jatuh terjerambah ke dalam kubangan lumpur sawah yang kotor di bawahnya. Jarak tubuh mereka mendadak menjadi sangat dekat selama beberapa detik, di mana Nayla menatap Dimas dengan mata bulatnya yang terkejut, sebelum akhirnya mengembuskan napas lega.
"Kamu tidak apa-apa, Nay? Hati-hati, tanah di sebelah sini memang agak licin setelah dialiri air parit tadi subuh," ucap Dimas dengan nada suara yang penuh rasa khawatir yang tulus, perlahan membantu Nayla berdiri tegak kembali di atas tanah yang aman tanpa melepaskan pegangannya dengan kasar.
Nayla merapikan letak baju kurungnya yang sedikit kusut dengan canggung, wajah putih bersihnya merona merah jambu cerah karena malu. "I-iya, Mas Dimas. Terima kasih banyak ya. Kalau tidak ada Mas Dimas tadi, baju saya pasti sudah kotor semua terkena lumpur."
Melihat sentuhan fisik yang begitu alami dan perhatian lembut yang diberikan Dimas kepada Nayla—serta bagaimana Nayla memberikan senyuman manis sebagai rasa terima kasih—dinding kesabaran di dalam diri Arkananta Dewangga runtuh sepenuhnya. Niat baiknya untuk menurunkan gengsi dan meminta maaf atas kesalahpahaman kemarin sore seketika menguap terbang tak berbekas, digantikan oleh rasa cemburu buta yang sangat pekat yang membakar seluruh logikanya. Pria kota itu menolak mengakui bahwa ia terbakar api cemburu, namun tubuh tegapnya tidak bisa berbohong.
Arkan bangkit berdiri dari gubuk bambu dengan sentakan kasar, mengabaikan panggilan Pak Barkah yang heran melihat perubahan ekspresi wajahnya yang mendadak berubah menyeramkan. Dengan langkah kaki jangkungnya yang lebar dan dihentak-hentakkan ke tanah kering pematang, Arkan berjalan cepat menghampiri kerumunan keluarga Pak Suryo di batas ladang luar. Aura dingin yang sangat mengintimidasi memancar kuat dari perawakannya yang tegap, memotong kehangatan suasana siang itu dalam sekejap mata.
"Urusan program penyuluhan kelompok tani desamu itu ternyata mengharuskan adanya adegan pelukan di tengah sawah kotor begini ya, Gadis Desa?" cetus Arkan dengan suara baritonnya yang berat, dingin, dan penuh dengan nada sindiran yang sangat tajam menohok telinga.
Nayla, Pak Suryo, dan Dimas seketika menghentikan aktivitas mereka dan menoleh dengan cepat ke arah sumber suara. Nayla tertegun di tempatnya, sepasang mata bulatnya menatap Arkan dengan dahi berkerut dalam, merasa tidak percaya pria kota yang angkuh itu kembali melontarkan kalimat kasar yang menyakitkan hati setelah pertengkaran mereka kemarin senja.
Dimas Dananjaya yang semula selalu bersikap ramah dan sopan, kini perlahan mengubah ekspresi wajah manis khas jawanya menjadi sangat serius dan tegas. Sebagai seorang ketua pemuda karang taruna yang dihormati dan memiliki harga diri tinggi, nada bicara Arkan yang terkesan merendahkan kehormatan Nayla jelas memicu batas kesabarannya. Dimas melangkah satu langkah ke depan, memposisikan tubuh tegapnya di depan Nayla seolah ingin bertindak sebagai pelindung bagi gadis itu dari intimidasi Arkan.
Dimas menatap lurus tepat ke dalam manik mata cokelat gelap milik Arkan dengan pandangan mata yang tak kalah tajam, berani, dan tanpa ada rasa takut sedikit pun di hadapan wibawa metropolitan sang Tuan Muda Jakarta.
"Mas Arkan," suara Dimas terdengar berat dan penuh penekanan di tengah keheningan pematang sawah yang terik. "Jaga ucapanmu. Nayla tadi hampir saja tergelincir jatuh, dan saya hanya menolongnya agar tidak terluka. Di desa ini, kami saling menolong dengan ketulusan, bukan dengan pikiran buruk atau kata-kata sindiran yang tidak punya tata krama seperti itu."
Dua pria dari latar belakang dunia yang bertolak belakang itu kini berdiri saling berhadapan dalam jarak dekat, saling melempar pandangan mata yang sangat tajam dan penuh dengan letupan emosi ego masing-masing di bawah terik matahari siang, membangun sebuah puncak konflik ketegangan baru yang jauh lebih rumit di antara mereka.