Astrid mengorbankan segalanya untuk keluarga. Namun, pengorbanannya justru dibalas dengan hinaan.
Setelah melahirkan, tubuh Astrid berat badannya naik drastis hingga membuat Lucas, suaminya yang seorang dokter, merasa malu memiliki istri sepertinya. Tak hanya itu, Marta, sang mertua, juga menganggap Astrid sebagai wanita tidak berguna karena tidak memiliki pekerjaan maupun prestasi yang bisa dibanggakan.
Puncaknya terjadi saat Lucas dan Marta mempermalukannya di depan banyak tamu undangan. Harga dirinya diinjak-injak tanpa belas kasihan, seolah seluruh pengorbanannya selama ini tidak pernah berarti. Hari itu, Astrid memutuskan untuk berhenti menangis.
Dengan bantuan Mateo, Astrid bangkit dan mengubah hidupnya. Saat satu per satu kesuksesan berhasil diraihnya, orang-orang yang dulu merendahkan mulai menyadari kesalahan mereka.
Kini giliran mereka yang memohon, sementara Astrid tak lagi peduli. Karena ada penghinaan yang bisa dimaafkan, tetapi tidak pernah bisa dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sudah hampir satu minggu sejak Astrid mulai bekerja sama dengan Mateo dan Julio. Namun selama itu pula, tidak ada kabar apa pun mengenai hasil penyelidikan. Astrid berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia bangun pagi, menyiapkan sarapan, mengurus Ariana, membereskan rumah, dan beberapa kali dalam seminggu membantu proyek desain interior yang dipercayakan Mateo kepadanya.
Kesibukan itu sedikit banyak membantu mengalihkan pikirannya. Karena setiap kali malam tiba dan Lucas kembali pulang larut, semua kecemasan itu datang lagi tanpa diundang.
Malam itu, jarum jam menunjukkan pukul sembilan. Ariana sudah tertidur setelah memaksa Astrid membacakan dongeng kelinci kesukaannya sampai tiga kali. Rumah kembali sunyi.
Astrid sedang membereskan mainan yang berserakan di ruang keluarga ketika ponselnya tiba-tiba bergetar di atas meja. Nama Julio muncul di layar.
Jantung Astrid langsung berdegup lebih cepat. Tangannya mendadak terasa dingin. Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
"Maaf menghubungimu malam-malam, Astrid."
Suara Julio terdengar lebih serius dari biasanya.
Astrid langsung menghentikan aktivitasnya. Ia duduk perlahan di sofa sambil menggenggam ponsel erat-erat.
"Ada sesuatu?"
Julio terdiam sesaat. Jeda singkat itu justru membuat Astrid semakin tegang.
"Ada."
Dada Astrid langsung terasa sesak. Jari-jarinya mencengkeram ujung bantal yang berada di pangkuannya.
"Apa?" tanya Astrid penasaran.
"Aku belum bisa memastikan semuanya," jawab Julio.
Astrid memejamkan mata sesaat. "Tolong bicara saja, Julio."
Terdengar embusan napas pelan dari seberang sana. "Lucas memang sering bertemu dengan Starla."
Astrid membeku. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Seolah otaknya menolak mencerna kalimat yang baru saja didengarnya.
"Ma-maksudmu ...?"
"Mereka beberapa kali terlihat makan malam bersama di sebuah restoran mewah. Jelas sekali kalau hubungan mereka bukan pertemanan biasa."
Astrid menundukkan kepala. Matanya langsung memanas.
Julio melanjutkan dengan hati-hati. "Aku juga punya foto mereka keluar dari sebuah restoran lainnya tiga hari lalu."
Napas Astrid terasa semakin berat. Makan malam berdua. Bukan sekali, tetapi beberapa kali dalam seminggu. Sementara dirinya selalu menunggu Lucas pulang di rumah. Menyiapkan makanan. Menghangatkan makan malam yang akhirnya dingin sia-sia karena tak pernah disentuh.
"Astrid?" Suara Julio terdengar pelan. "Kamu masih di sana?"
"Iya," jawab Astrid hampir seperti bisikan.
Julio kembali berbicara. "Aku belum menemukan bukti hubungan fisik."
Astrid tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. "Perlukah?"
Julio terdiam.
Astrid menelan ludah yang terasa pahit. "Sudah jelas suamiku berbohong. Dia bilang lembur. Kadang dia bilang ada pasien mendadak yang kondisinya darurat."
Suara Astrid perlahan pecah. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Tangannya mulai gemetar.
Astrid mengangkat wajahnya ke langit-langit ruang keluarga, berusaha menahan air mata yang semakin mendesak keluar. "Padahal dia sedang makan malam dengan perempuan lain."
Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.
Julio tidak langsung menjawab. Karena terkadang fakta memang jauh lebih menyakitkan daripada dugaan.
Setelah sambungan telepon berakhir, Astrid tetap duduk sendirian di ruang keluarga. Lampu-lampu rumah masih menyala terang. Namun, entah kenapa semuanya terasa begitu gelap.
Pandangan Astrid jatuh pada foto keluarga yang terpajang di atas lemari kecil dekat televisi. Foto yang diambil dua tahun lalu setelah Ariana baru lahir.
Di sana Lucas tersenyum lebar sambil memeluk dirinya. Pria itu bahkan mencium kepala Ariana yang saat itu masih bayi. Mereka terlihat seperti keluarga yang sempurna.
Astrid menatap foto itu cukup lama. Lalu, perlahan air matanya jatuh. Ia tidak menangis keras, bahkan menahan suara isak tangisnya. Justru itulah yang membuat semuanya terasa lebih menyakitkan. Karena air mata itu keluar dalam diam dan dalam kesendirian. Saat kenyataan diketahui, orang yang paling dipercayainya perlahan menjauh darinya.
"Mama ...."
Astrid langsung mengangkat kepala. Suara kecil itu terdengar dari arah tangga.
Ariana berdiri di sana sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya. Rambutnya berantakan. Matanya masih setengah terpejam karena mengantuk.
"Mama nangis?"
Astrid buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan. "Tidak, Sayang."
Ariana berjalan menghampiri dengan langkah kecil yang sedikit sempoyongan. Setelah sampai di dekat sofa, ia berusaha memanjat sendiri sebelum akhirnya berhasil duduk di samping ibunya.
Anak itu menatap wajah Astrid beberapa saat. Lalu menyentuh pipi ibunya dengan tangan mungilnya.
"Jangan nangis."
Astrid tersenyum. Senyum yang nyaris runtuh. "Ariana kok bangun?"
Ariana mengusap mata dengan punggung tangannya. "Mama cedih?"
Pertanyaan polos itu menghantam hati Astrid begitu keras. Tanpa mampu menahan diri lagi, ia langsung menarik putrinya ke dalam pelukan, sangat erat. Seolah takut kehilangan satu-satunya hal yang masih benar-benar tulus dalam hidupnya.
Ariana ikut memeluk leher ibunya. "Ana cayang Mama."
Suara cadel itu membuat air mata Astrid kembali jatuh. Kali ini ia tidak mampu menahannya.
Astrid mencium rambut putrinya berkali-kali sambil memejamkan mata. "Mama juga sayang Ariana."
Dan apa pun yang terjadi nanti, ia akan tetap kuat demi putrinya.
Keesokan harinya, Mateo datang ke kantor proyek saat Astrid sedang mengerjakan revisi desain. Pria itu langsung menyadari sesuatu yang berbeda.
"Aku boleh jujur?"
Astrid tidak mengangkat kepala dari gambar yang sedang dikerjakannya. "Ya?"
"Kamu terlihat kurang tidur."
Astrid menghentikan pensilnya. Lalu tertawa kecil. Tawa yang tidak mengandung kebahagiaan.
"Julio menelepon tadi malam."
Mateo langsung mengerti. Wajahnya berubah serius. "Apa yang dia temukan?"
Astrid menatap sketsa di hadapannya. Namun, pandangannya kosong.
"Lucas memang sering bertemu Starla."
Ruangan mendadak hening. Mateo tidak langsung berbicara. Karena ia tahu tidak ada kalimat yang mampu menghilangkan rasa sakit seperti itu.
"Astrid." Mateo menatapnya dengan tenang. "Kamu baik-baik saja?"
Wanita itu menoleh. Pertanyaan sederhana itu justru membuat mata Astrid kembali memanas. Karena sejak semua ini dimulai, hampir tidak ada yang benar-benar peduli apakah dirinya baik-baik saja atau tidak.
Astrid mengembuskan napas panjang. Lalu ia menjawab dengan jujur. "Tidak."
Suaranya bergetar. "Aku tidak baik-baik saja."
Mateo tetap diam. Tidak menyela atau memberi nasihat, ia hanya mendengarkan. Dan entah kenapa, itu jauh lebih berarti.
Astrid menundukkan kepala. Air mata kembali memenuhi matanya. "Aku hanya tidak mengerti."
"Apa?"
"Aku memberikan segalanya untuk dia. Semuanya. Harta orang tuaku. Waktuku. Mimpiku. Hidupku."
Astrid tertawa pahit sambil menggeleng pelan. "Lalu sekarang aku harus mengetahui bahwa suamiku menghabiskan banyak waktunya bersama wanita lain."
Rahang Mateo mengeras. Namun, ia tetap diam. Karena saat ini Astrid tidak membutuhkan pembela. Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.
Astrid membiarkan dirinya menangis. Bukan sebagai istri Lucas dan sebagai menantu Marta, atau sebagai wanita yang selalu dituntut kuat. Melainkan sebagai Astrid, deorang wanita yang sedang patah hati karena dikhianati oleh orang yang paling dicintainya.
Sementara itu, di tempat lain, Julio sedang menatap beberapa foto baru di layar laptopnya. Foto-foto yang baru saja diterimanya sore itu.
Di sana terlihat Lucas dan Starla memasuki hotel yang sama. Jelas itu bukan pertemuan biasa. Julio menatap foto-foto itu cukup lama sebelum mengembuskan napas berat. Ia tahu, apa yang akan ditemukannya setelah ini mungkin akan menghancurkan Astrid jauh lebih dalam lagi.
ku kirim 🌹&☕.. biar semangat...
Ini br awal Lucas...Setelah ini akan byk badai yg siap menerpa km