NovelToon NovelToon
OM GANTENG ITU SUAMIKU

OM GANTENG ITU SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Leny Fairuz

Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Di Antara Janji dan Bayang-Bayang Masa Lalu

Sore harinya, Denis baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan di ruang kerjanya ketika ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari Siska.

“Mas, maaf kalau aku terlalu menuntut. Aku cuma ingin kita bersama mempersiapkan pernikahan ini. Mungkin keinginanku terlalu berlebihan, tapi jabang bayi ingin selalu dekat dengan papanya.”

Denis membaca pesan itu berulang kali. Ia tidak segera membalas. Pandangannya terpaku pada layar, sementara pikirannya kembali dipenuhi perasaan bersalah yang belakangan semakin sulit diabaikannya.

Ia tahu Siska sedang berusaha memperbaiki keadaan. Ia tahu perempuan itu telah berkali-kali mengalah setiap kali percakapan mereka berakhir dengan pertengkaran. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, Siska justru meminta maaf meskipun Denis menyadari bahwa dirinyalah yang lebih dahulu bersikap kasar.

Namun, mengapa ia masih merasa gelisah? Mengapa setiap kali Siska berbicara tentang masa depan, hatinya justru dipenuhi keraguan?

Denis mengusap wajahnya, lalu mulai mengetik balasan.

“Maaf juga karena mas emosian. Mas memang sedang banyak pikiran. Kita cari waktu untuk membicarakan semuanya, ya.” Ia membaca kalimat itu sebelum mengirimkannya.

Setidaknya, kali ini ia berusaha memilih kata-kata yang tidak akan melukai Siska.

Balasan datang tidak lama kemudian.

“Baik, Mas. Aku tunggu.”

Hanya tiga kata sederhana yang disertai harapan besar.

Denis meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian menyandarkan tubuh ke kursi. Ia memejamkan mata, mencoba mengusir berbagai pikiran yang berdesakan di kepalanya.

Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Siska. Ia ingin berhenti membuat perempuan itu menangis setiap kali mereka berbicara. Ia juga ingin bertanggung jawab atas anak yang sedang dikandung Siska.

Anak itu tidak pernah meminta dilahirkan dalam situasi serumit ini. Kelak, jika semuanya berjalan sesuai rencana, anak itu berhak mendapatkan keluarga yang utuh, orang tua yang saling menghormati, dan rumah yang dipenuhi kasih sayang.

Tetapi keinginan untuk bertanggung jawab ternyata tidak serta-merta membuat hatinya tenang. Sebab, di balik semua rencana dan kewajiban itu, ada satu nama yang terus muncul tanpa diundang.

Mita.

Denis membuka mata. Nama itu bahkan tidak perlu disebutkan oleh siapa pun untuk membuat dadanya terasa sesak. Cukup dengan mengingat sebuah percakapan lama, tawa kecil, atau kebiasaan sederhana yang pernah mereka lakukan bersama, seluruh kenangan seolah kembali hidup.

Ia teringat bagaimana Mita selalu mendengarkannya ketika pekerjaan terasa berat. Perempuan itu tidak selalu memberikan solusi, tetapi kehadirannya membuat Denis merasa bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Bersama Mita, ia tidak perlu berpura-pura menjadi laki-laki yang selalu kuat.

Ia bisa menceritakan kegagalannya tanpa takut dihakimi. Ia bisa mengakui kelemahannya tanpa merasa kehilangan harga diri. Bahkan dalam keheningan, ia tetap merasa diterima.

Dulu, Denis mengira perasaan seperti itu akan selalu ada. Ia terlalu yakin bahwa Mita akan tetap berada di sisinya, apa pun yang terjadi. Ia tidak pernah benar-benar membayangkan bahwa satu keputusan buruk bisa menghancurkan sesuatu yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Sampai akhirnya, ia sendiri yang merusak semuanya. Satu kesalahan yang awalnya mungkin dianggapnya sepele berubah menjadi rangkaian kebohongan, keputusan, dan konsekuensi yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Sekarang, ketika ia berdiri di ambang pernikahan dengan Siska, ia mulai memahami betapa mahal harga yang harus dibayar untuk sebuah pengkhianatan.

Ia kehilangan kepercayaan Mita. Ia kehilangan ketenangan yang dahulu begitu mudah ditemukan. Dan yang paling menyakitkan, ia kehilangan hak untuk kembali kepada perempuan yang pernah menjadi tempatnya pulang.

Denis menunduk, menatap kedua tangannya sendiri. Ia tidak berhak menyalahkan Siska atas kegelisahannya. Perempuan itu tidak menciptakan masa lalu Denis. Ia juga tidak pernah memintanya mengkhianati Mita. Apa pun yang terjadi sekarang, Siska hanyalah seseorang yang sedang berusaha menjalani kehidupan berdasarkan janji-janji yang pernah Denis berikan.

Anak yang dikandung Siska pun tidak bersalah. Denis menyadari bahwa penyesalannya tidak bisa dijadikan alasan untuk melarikan diri dari tanggung jawab. Ia tidak bisa terus-menerus membandingkan Siska dengan Mita, lalu menganggap dirinya sebagai korban keadaan.

Bukankah ia sendiri yang memilih jalan ini? Bukankah ia yang membiarkan semuanya terjadi sampai akhirnya tidak ada lagi jalan mudah untuk kembali?

Denis menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa penyesalan tidak selalu datang bersama jalan keluar.

Kadang-kadang, penyesalan hanya mengingatkan seseorang bahwa ada keputusan yang tidak bisa ditarik kembali, kepercayaan yang telah dihancurkan, dan hati yang mungkin tidak akan pernah lagi memandangnya dengan cara yang sama.

Mita mungkin masih mengenangnya sebagai seseorang yang pernah dicintai. Mungkin juga perempuan itu sudah berhasil melanjutkan hidup, menemukan ketenangan, dan membuka hati untuk seseorang yang lebih pantas menerimanya.

Denis tidak tahu. Ia bahkan tidak berani mencari tahu. Ada bagian dalam dirinya yang ingin mengetahui kabar Mita, ingin memastikan bahwa perempuan itu baik-baik saja. Namun, ada pula rasa takut bahwa mengetahui Mita telah bahagia tanpa dirinya justru akan membuat penyesalan itu semakin dalam.

Lebih dari itu, Denis sadar bahwa keinginannya mencari tahu mungkin bukan lagi bentuk kepedulian yang tulus. Bisa jadi, ia hanya sedang mencari sedikit penghiburan bagi dirinya sendiri, sebuah celah untuk merasa bahwa ia masih memiliki tempat dalam kehidupan perempuan yang telah disakitinya.

Padahal, Mita tidak pernah meminta Denis mengkhianatinya. Denislah yang memilih jalan tersebut. Dan kini, ketika ia kehilangan ketenangan, ia harus menghadapi akibat dari pilihannya sendiri.

……………..

Cahaya jingga mulai memenuhi langit Pontianak ketika Denis bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati jendela. Dari sana, ia bisa melihat kendaraan yang berlalu-lalang, orang-orang yang mulai meninggalkan tempat kerja, dan kehidupan yang terus bergerak seolah tidak ada seorang pun yang sedang bergulat dengan penyesalan.

Ponselnya kembali bergetar. Pesan dari Siska.

“Mas, untuk fitting besok bagaimana? Kalau Mas sibuk, aku bisa menyesuaikan jadwal. Aku cuma perlu tahu kapan Mas ada waktu.”

Denis membaca pesan itu cukup lama.

Dahulu, pertanyaan semacam itu mungkin akan dijawabnya dengan cepat. Ia akan segera memeriksa jadwal, menentukan waktu, lalu memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Sekarang, pertanyaan sederhana tentang fitting pakaian pernikahan saja terasa seperti pengingat bahwa hari itu semakin dekat.

Hari ketika ia akan berdiri di hadapan keluarga, mengucapkan janji, dan memulai kehidupan baru bersama seorang perempuan yang sedang menunggunya memberikan kepastian.

Denis mengetik balasan, “Besok mas usahakan datang. Nanti malam kita bicarakan waktunya, ya.”

Ia menekan tombol kirim. Sebuah jawaban sederhana. Sebuah langkah kecil untuk memperbaiki hubungan yang sedang retak.

Namun, setelah meletakkan ponselnya, Denis kembali merasakan kegelisahan yang sama.

Ia tidak bisa terus-menerus menghindar. Cepat atau lambat, ia harus berbicara jujur kepada dirinya sendiri, kemudian kepada Siska. Ia harus memahami apakah keraguannya hanya berasal dari rasa bersalah atas masa lalu atau justru merupakan tanda bahwa ia sedang memaksakan sebuah pernikahan tanpa kesiapan emosional yang sebenarnya.

Ia tahu bahwa mengakui keraguan itu tidak akan mudah. Ada keluarga yang telah berharap, persiapan yang telah berjalan, dan seorang anak yang akan segera lahir. Ada pula kemungkinan bahwa kejujuran justru akan membawa lebih banyak luka daripada diam.

Tetapi bukankah membiarkan seseorang melangkah menuju pernikahan tanpa mengetahui isi hati pasangannya juga merupakan bentuk ketidakadilan?

Denis mengembuskan napas panjang. Ia belum menemukan jawaban. Yang ia tahu, ia tidak ingin terus menyakiti Siska. Namun, ia juga tidak bisa berpura-pura bahwa bayangan Mita telah benar-benar menghilang.

Di luar sana, waktu terus berjalan. Persiapan pernikahan semakin mendekati tahap akhir, sementara Siska masih berusaha percaya bahwa laki-laki yang akan menjadi suaminya kelak benar-benar menginginkan kehidupan bersama mereka.

Sarah pun masih berharap putranya dapat memperbaiki sikap dan membangun keluarga yang bahagia.

Tidak seorang pun menyadari sepenuhnya betapa rumitnya pergulatan yang sedang berlangsung di dalam hati Denis.

Ia telah berjanji kepada Siska. Ia telah membiarkan keluarga mereka menyusun masa depan berdasarkan janji itu. Namun, jauh di dalam hatinya, sebuah pertanyaan terus mendesak untuk dijawab.

Jika ia benar-benar ingin menikahi Siska, mengapa bayangan Mita justru semakin sering hadir ketika masa depan bersama Siska semakin dekat? Pertanyaan itu tidak bisa lagi dijawab dengan alasan pekerjaan, kelelahan, atau perubahan suasana hati.

Sebab, mungkin yang paling ditakuti Denis bukanlah kehilangan Mita untuk kedua kalinya. Melainkan menyadari bahwa selama ini ia sedang berjalan menuju sebuah pernikahan tanpa pernah benar-benar menyelesaikan persoalan di dalam dirinya sendiri.

Dan selama ia belum berani menghadapi kebenaran itu, hari pernikahannya akan terus mendekat bersama kegelisahan yang semakin sulit ia sembunyikan.

Di antara janji yang telah terucap dan bayang-bayang masa lalu yang belum menghilang, Denis berdiri di persimpangan yang semakin sempit. Ia harus memilih untuk berhenti bersembunyi di balik alasan dan mulai bertanggung jawab atas kebenaran.

Sebab, pernikahan bukan sekadar tentang siapa yang bersedia menunggunya di pelaminan. Pernikahan adalah tentang siapa yang benar-benar ia pilih dengan hati yang jujur. Dan untuk saat ini, Denis bahkan belum berani menjawab pertanyaan itu kepada dirinya sendiri.

1
Lenita Vernandes
mantap lanjut
Farida Dalle
Ternyata cinta dan cemburu itu berjalan seiring, hehe🤭
Heti Supriyati Laela
ikutan senyum sendiri
Heti Supriyati Laela
semangat up othor
Heti Supriyati Laela
gasss kapten
rayhan dirgantara
up lg ga ka aku rayhan kls 4sd ka slm knal ya
Farida Dalle: Duh.... si Rayhan, masih kcl sdh baca novel jg, hehe🙏✌️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!