NovelToon NovelToon
Antara Sunyi Dan Riuh

Antara Sunyi Dan Riuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Romansa
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: winda Whyn

Bagi Kirana Putri, rumah megah milik Orang tuanya adalah museum kaku yang sunyi. Hidup di bawah bayang-bayang prestasi kakaknya, Kanaya, membuat Kirana harus selalu tampil sempurna dan pendiam. Satu-satunya tempat ia bisa menjadi gadis riuh penuh tawa adalah saat bersama ketiga sahabatnya di sekolah.
Dunia sunyi Kirana mendadak terusik oleh kehadiran Keenan Abimara, si genius rebel dari kelas MIPA-1. Berbeda total dengan Kirana, Keenan hidup di tengah keluarga kaya yang super santai bersama Ayah Abimara dan Ibu Karina. Meski hobi melanggar aturan sekolah bersama geng cowoknya, Keenan perlahan membawa warna baru yang hangat ke hidup Kirana lewat perhatian kecil dan investasi susu cokelatnya.
Namun, kedekatan dua juara umum ini memicu badai gosip anonim di mading sekolah yang menuduh Keenan mendekati Kirana hanya demi taruhan murahan dua minggu. Diuji oleh aturan kaku rumah dan kepercayaan yang goyah, mereka harus bekerja sama membongkar kebenaran lewat rekaman CCTV sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda Whyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Riuh Pagi dirumah Abimara

Jika rumah Kirana laksana museum yang sunyi dan kaku, maka kediaman megah keluarga Abimara adalah sebuah wahana bermain yang tidak pernah kehabisan energi. Rumah dua lantai bergaya modern-minimalis yang terletak di kawasan elite itu selalu riuh bahkan sejak matahari belum sepenuhnya meninggi.

"Keenan! Sepatu basket lo yang baru kok ada di bagasi mobil gue?!" Sebuah teriakan dengan suara bariton yang berat terdengar dari arah garasi, memantul di langit-langit rumah yang tinggi.

Tak lama, Arkan, kakak laki-laki Keenan, berjalan masuk ke ruang makan. Arkan sudah rapi dengan kemeja kerja bermerek dan celana bahan, tipikal manajer muda yang sukses di perusahaan sang ayah. Namun, wibawa kantorannya mendadak lenyap saat dia menjinjing sepasang sepatu basket merah menyala dengan wajah masam yang dibuat-buat.

Keenan yang sedang asyik mengoles selai cokelat ke roti panggangnya hanya menyeringai tanpa dosa. "Hehe, pinjam bagasinya bentar, Kak. Bagasi motor sport gue penuh sama buku cetak tebal. Nggak muat."

Arkan ikut duduk di sebelah adiknya, meletakkan sepatu itu di lantai lalu menyambar kopi hitamnya yang masih mengepul. Dia langsung menjitak pelan kepala Keenan. "Enak aja! Lagian sejak kapan seorang Keenan Abimara peduli sama buku cetak? Biasanya juga lo ke sekolah cuma bawa satu pulpen yang diselipin di kantong baju, sampai tintanya bocor ke mana-mana."

"Itu namanya efisiensi taktis, Kak," sahut Keenan membela diri, membuat Arkan tertawa lepas dan merangkul pundak adiknya dengan gemas. Hubungan dua bersaudara ini memang selalu kompak dan penuh candaan.

Di seberang meja, Keisha, adik perempuan Keenan yang masih duduk di bangku SMP, sibuk menata kotak bekalnya. Keisha yang mewarisi otak encer dan sifat ramah keluarga ini langsung menyahut dengan nada menyindir yang jenaka. "Kak Keenan bawa buku banyak buat gaya-gayaan doang, Kak Arkan. Biar kalau dihukum lari keliling lapangan sama Pak Bambang guru BK, ada alasan buat neduhin kepala pakai buku!"

Keenan membelalakkan matanya dramatis. "Heh, cilok aci! Kecil-kecil pinter banget ya kalau nyusun skenario fitnah buat abangnya sendiri, seru kali berdiri dilapangan sehat dapat sinar matahari pagi."

"Bukan fitnah, tapi prediksi akurat berbasis data mingguan!" balas Keisha sambil menjulurkan lidahnya.

"Sudah, sudah. Masih pagi jangan mulai konser ya anak-anak Ibu yang paling cakep dan cantik," lerai Ibu Karina yang berjalan anggun dari arah dapur. Alih-alih pusing dengan anak-anaknya yang berisik, Ibu Karina justru tersenyum cerah. Dengan penuh kasih sayang, dia meletakkan sepiring besar pancake madu hangat di tengah meja, lalu mengusap rambut Keenan dan Keisha bergantian.

Tak lama kemudian, Ayah Abimara turun dengan pakaian kasual rapi. Sebagai pengusaha besar yang sukses, Ayah Abimara sama sekali tidak kaku. Wajahnya selalu ramah dan penuh senyum. Beliau duduk di kepala meja, melirik Keenan dengan binar mata jenaka yang penuh arti.

"Keenan," panggil Ayah Abimara sambil menyesap tehnya hangat. "Ayah dengar dari grup komite sekolah, minggu lalu ada 'surat cinta' lagi dari ruang BK? Kasus apa lagi kali ini, hm?"

Keenan langsung memasang wajah paling polos yang dia bisa. "Surat cinta gimana, Yah? Itu cuma... sertifikat apresiasi karena Keenan berhasil meramaikan suasana kelas Fisika yang tegang. Guru-guru kan suka kurang paham sama seni menghidupkan suasana. lagian teman-teman juga senang kok."

Arkan langsung tersedak kopinya karena menahan tawa, sementara Ayah Abimara hanya menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum bangga—meski mencoba menyembunyikannya. "Apresiasi katanya. Kamu ini pinter, Nan, tapi bandelnya itu bikin pusing. Tapi Ayah pegang janji kamu ya, nilai ujian semester ini harus tetap nomor satu di kelas. ayah dengar kamu mau ikut seleksi olimpiade?"

"Beres, Bos! Otak Keenan kan duplikatnya Ayah, dijamin aman, iya ayah ada 2 orang yang terpilih ikut seleksi ini, satu dari kelas mipa sebelah" balas Keenan sambil melakukan fist bump kompak dengan sang ayah, lalu beralih melakukan hal yang sama dengan Arkan.

"Ya sudah, habisin rotinya. Jangan sampai telat lagi, Nan. Kasihan Danu nanti capek nungguin dan jagain di gerbang, kali ini belajar bener-bener biar lolos olimpiade" ucap Ibu Karina sambil mencium pelipis Keenan dengan penuh sayang sebelum anaknya itu berpamitan.

"Siap, Kanjeng Ratu! Keenan berangkat dulu!" Keenan bangkit dengan gesit, menyampirkan tas ranselnya di satu bahu. Namun, sebelum benar-benar melesat pergi, tangan jahilnya dengan secepat kilat menarik ikat rambut berbentuk pita milik Keisha hingga lepas, membuat rambut adiknya berantakan seketika.

"KAK KEENANNN!!! AWAS YA KALO PULANG NANTI GUE KEMPESIN BAN MOTOR LO!!!" teriakan melengking Keisha yang kesal langsung pecah di ruang makan.

Bukannya takut, Keenan justru tertawa terbahak-bahak sepanjang jalan menuju garasi. Dia menghidupkan mesin motor sport-nya yang berderu nyaring, membelah jalanan kota dengan sisa tawa yang masih melekat di bibirnya. Keenan membawa seluruh keriuhan, kasih sayang, dan energi positif dari rumahnya, siap dialirkan menuju gerbang SMA Nusa Bangsa yang sebentar lagi akan ditutup rapat.

Motor sport hitam itu melesat cepat bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Angin pagi langsung menerpa jaket denim yang dia kenakan, memberikan sensasi bebas yang selalu dia sukai. Keenan dengan lincah meliuk-liuk di antara beberapa mobil di jalan raya, memanfaatkan celah sempit dengan perhitungan yang sangat matang. Dia tidak hanya sekadar asal mengebut; insting dan refleksnya sangat tajam, sama tajamnya dengan otaknya saat memecahkan rumus matematika dan fisika.

Saat jarum jam digital di spidometernya menunjukkan pukul 07.12, Keenan menyeringai di balik helmnya. Jarak ke sekolah masih sekitar dua kilometer lagi, dan gerbang akan dikunci tepat pukul 07.15.

"Waktunya sprint terakhir," gumam Keenan.

Dia menurunkan posisi tubuhnya agar lebih aerodinamis, lalu menaikkan gigi motornya. Suara raungan mesinnya semakin nyaring membelah jalanan kota. Keenan menyalip angkot yang sedang berhenti di lampu kuning dengan tikungan miring yang mulus, mengabaikan klakson protes dari pengendara lain. Baginya, adrenalin di pagi hari seperti ini jauh lebih ampuh membuat matanya melek ketimbang segelas kopi hitam milik Kak Arkan.

Tepat pukul 07.14, ban motor Keenan berdecit tajam saat dia melakukan pengereman mendadak tepat di depan gerbang samping sekolah. Namun sial, gerbang besi setinggi dua meter itu baru saja digeser menutup oleh satpam.

Keenan membuka kaca helmnya, mendapati Raihan sudah berdiri di sana sambil memegang bungkusan cilok bumbu kacang dengan wajah melas.

"Gue bilang juga apa, Nan! Jangan lewat gerbang utama, kesiangan kan lo! Telat semenit kita!" omel Raihan, meski tangannya tetap sibuk memasukkan cilok ke dalam mulut.

Keenan turun dari motornya, memarkirkannya di warung seberang sekolah dengan santai, lalu melempar kunci motor ke udara dan menangkapnya lagi. Cengiran bandelnya sama sekali tidak pudar.

"Alah, banyak protes lo. Lewat belakang lah. Yuk, tumpuan biasa. Satu... dua... lompat!"

1
winda Whyn
siap terimakasih kak... ayo kita saling membantu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!