Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Tanpa menunggu lama, mereka bertiga berdiri dan berjalan keluar dari suite utama menuju mushola private yang berada di ujung lorong lantai yang sama. Mushola itu memang tidak besar, tapi suasananya sangat tenang. Karpetnya tebal dan lembut, lampunya temaram hangat dan ada aroma kayu gaharu yang menenangkan. Tempat ini memang selalu disiapkan khusus untuk Nenek Ratna selama beliau tinggal di hotel milik keluarga Mahendra ini di Jakarta.
Sesampainya di dalam mushola, Arga maju ke depan menjadi imam. Ia berdiri dengan tegap. Di belakangnya, Nenek Ratna berdiri sedikit di depan dan Safa berdiri di belakang Nenek Ratna.
Allahu Akbar.
Suara takbir Arga terdengar pelan tapi sangat jelas. Suara itu membuat bulu kuduk Safa merinding. Ini bukan pertama kalinya Arga menjadi imam untuknya, tapi kali ini rasanya sangat berbeda. Lebih khusyuk, lebih dalam, karena ada Nenek Ratna juga.
Arga membaca Al-Fatihah dengan pelan, dengan tajwid yang sangat baik. Setiap ayat dibacanya dengan penghayatan. Safa menunduk, mendengarkan bacaan suaminya dengan hati yang bergetar. Air matanya hampir menetes, tapi ia tahan. Ia merasa sangat bersyukur berada di titik ini.
Saat Arga membaca surat pendek setelah Al-Fatihah, suara lembutnya memenuhi ruangan mushola yang kecil itu. Nenek Ratna yang mendengarkan di belakang juga terlihat khusu.
Gerakan demi gerakan sholat mereka lakukan bersama. Rukuk bersama, bangun dari rukuk bersama, lalu sujud.
Saat sujud terakhir, suasananya terasa paling berbeda. Safa memejamkan matanya erat-erat. Di dalam sujudnya yang lama itu, Safa berdoa dengan segenap hatinya.
Ya Allah, terima kasih sudah menjaga pernikahan kami sampai di titik ini. Terima kasih sudah meluluhkan hati Mas Arga. Jagalah terus suami hamba, jagalah Nenek Ratna, jagalah keluarga kecil kami ini Ya Allah.
Sujud itu terasa lama, karena seolah tidak ada yang ingin segera bangkit dari momen indah itu.
Setelah salam, hening sejenak. Lalu Nenek Ratna mengangkat kedua tangannya dan memimpin doa. Suara Nenek Ratna bergetar menahan haru.
"Ya Allah Ya Rahman, Ya Allah Ya Rahim. Terima kasih Ya Allah, Engkau sudah mengabulkan doaku selama ini. Selama aku tinggal di hotel ini, setiap malam aku selalu berdoa agar kedua cucuku ini Engkau satukan hatinya. Dan hari ini Engkau kabulkan," ucap Nenek Ratna dengan suara yang pelan tapi penuh makna.
"Ya Allah, bahagiakanlah Arga dan Safa. Jadikanlah pernikahan mereka pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah. Segerakanlah Engkau beri mereka keturunan yang sholeh dan sholehah yang akan meneruskan keluarga besar Mahendra. Jadikanlah cicit Nenek nanti menjadi kebanggaan keluarga."
"Amiiin... Amiiin Ya Rabbal Alamin," jawab Safa dan Arga bersamaan. Suara Safa sedikit bergetar, sementara tangan Arga masih menggenggam tangan Safa erat di sampingnya.
Selesai berdoa, Nenek Ratna mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu mengusap kepala Safa dan mengusap pundak Arga dengan penuh kasih sayang.
"Nenek bahagia sekali hari ini. Sangat bahagia," bisik Nenek Ratna sambil tersenyum, matanya masih berkaca-kaca.
Safa tidak bisa menahan haru, ia langsung memeluk Nenek Ratna dari samping. "Terima kasih ya Nek, karna nenek selalu mendoakan kami."
Setelah selesai sholat Maghrib berjamaah, mereka kembali berjalan menuju suite utama. Ternyata di meja makan, makan malam sudah disiapkan dengan sangat cantik oleh chef hotel atas permintaan khusus Nenek Ratna. Ada tiga piring yang tertutup dan ada vas bunga kecil di tengah meja.
"Wah, sudah siap," kata Nenek Ratna. "Ayo kita makan malam dulu ya, Nenek sudah pesankan makanan kesukaan kalian. Nenek masih ingat semua kesukaan kalian. Ada sop buntut kesukaan Arga, ada ayam bakar madu kesukaan Safa dan ada sambal matah kesukaan Nenek."
Safa tersenyum penuh haru. "Nenek masih ingat saja makanan kesukaan aku."
"Tentu ingat sayang." jawab nenek Ratna.
Makan malam itu berlangsung sangat hangat dan penuh canda tawa. Tidak ada lagi rasa gugup seperti di awal kedatangan. Safa sudah mulai banyak bercerita, Arga juga sudah mulai banyak tertawa.
" Nenek betah disini?" tanya Arga.
"Betah sekali disini Nenek bisa lebih mudah memantau kamu, Arga," goda Nenek Ratna sambil melirik Arga.
Safa langsung tertawa kecil melihat ekspresi Arga yang pura-pura kaget.
"Memantau aku terus Nek?" tanya Arga.
"Iya. Kalau Arga berulah sama Safa, Nenek bisa langsung turun ke penthouse kalian," jawab Nenek Ratna, membuat mereka semua tertawa bersama.
Waktu terasa berjalan begitu cepat saat makan malam bersama orang yang disayangi. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 7.30 malam. Teh hangat di cangkir mereka juga sudah habis.
Nenek Ratna melihat jam tangan mungil di pergelangan tangannya.
"Sudah malam ya sayang, kalian pulang ya. Nenek sudah sangat bahagia hari ini, doa Nenek sudah terkabul. Jangan terlalu malam di jalan, Jakarta itu kalau malam semakin macet," kata Nenek Ratna dengan nada lembut.
Safa dan Arga saling pandang, lalu mengangguk.
Mereka berdua pamit. Safa memeluk Nenek Ratna dengan sangat erat dan lama, seolah tidak ingin melepas pelukannya.
"Terima kasih banyak ya Nek untuk hari ini, untuk semuanya, untuk doanya, untuk makan malamnya," kata Safa dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Nenek Ratna mengusap punggung Safa dengan lembut. "Sama-sama sayang. Jaga kesehatan ya, jaga suami kamu juga. Nenek tunggu kabar baik selanjutnya yang kalian janjikan tadi."
Arga ikut salim, mencium tangan Nenek Ratna lama. "Kami pamit ya Nek, Nenek istirahat yang cukup. Jangan terlalu lelah."
"Nenek akan telepon GM untuk menyiapkan mobil kalian di lobby bawah," kata Nenek Ratna.
Mereka turun ke lobby dengan perasaan yang sangat lega dan bahagia. Semua beban yang tadinya mereka bawa dari penthouse, hilang seketika. Nenek tidak marah sama sekali, justru sangat bahagia dan memberi restu penuh.
Sampai di dalam mobil yang sudah terparkir di lobby depan, Arga tidak langsung menyalakan mesin. Ia menatap Safa yang duduk di kursi penumpang sebelahnya dengan wajah yang masih bersinar bahagia.
"Masih ada rasa gugup atau takut ngga sayang?" tanya Arga sambil mengusap pipi Safa.
Safa menggeleng dengan cepat. "Sudah tidak Mas, malah aku seneng banget mas, lega banget.
Arga tersenyum, senyum yang sangat tulus.
"Kalau begitu kita jangan langsung pulang ke penthouse ya," kata Arga.
"Kemana Mas?" tanya Safa penasaran, matanya sedikit berbinar.
Arga memasang seatbelt Safa dengan pelan, memastikan Safa aman. "Mas mau ajak kamu keliling melihat keindahan kota saat malam hari. Sudah lama kita menikah,mas belum pernah sekalipun ajak kamu jalan-jalan berdua.Jadi malam ini kita akan jalan-jalan anggap saja kita sedang merayakan hari bahagia kita."
"Mau Mas! Mau sekali," jawab Safa dengan antusias.
Mobil melaju pelan keluar dari lobby Hotel Langham, masuk ke jalanan SCBD yang sudah dipenuhi lampu-lampu kota yang gemerlap.
Jakarta di malam hari memang sangat indah. Gedung-gedung tinggi menjulang dengan lampu warna-warni, jalanan ramai dengan kendaraan yang melintas, tapi di dalam mobil mereka terasa sangat tenang dan hangat. Arga sengaja tidak mengambil jalan tol yang cepat, ia memilih jalan pelan melalui Jalan Sudirman, Jalan MH Thamrin, sampai ke Bundaran HI agar Safa bisa menikmati pemandangan lebih lama.
"Lihat sayang, bagus ya lampu-lampunya," kata Arga sambil menggenggam tangan Safa dengan satu tangan, tangan satunya tetap fokus di setir.
Safa menatap keluar jendela, wajahnya hampir menempel ke kaca, matanya berbinar-binar melihat keindahan kota. "Bagus sekali Mas, Masya Allah. Baru kali ini aku melihat keindahan jakarta saat malam."
"Maaf kalau mas tidak pernah menyempatkan waktu buat ajak kamu jalan-jalan, Mas tidak pernah sempat ajak kamu pergi berduaan seperti ini kan? Mas minta maaf ya," kata Arga dengan nada sedikit menyesal.
Safa menoleh dan menggeleng pelan. "Tidak apa-apa Mas, yang penting sekarang Mas sudah di sini sama aku, itu sudah lebih dari cukup."
Mobil berhenti sebentar di lampu merah dekat Bundaran HI. Di depan mereka, air mancur Bundaran HI menyala dengan sangat indah, dengan lampu warna-warni yang menari-nari mengikuti irama air. Banyak pasangan dan keluarga yang berhenti untuk berfoto di sana.
Arga membuka kaca jendela mobil sedikit, agar angin malam masuk dan Safa bisa melihat lebih jelas.
"Mas masih ingat dulu pertama kali Mas ajak kamu ke kantor lewat jalan ini, kamu diam saja di mobil, tidak berani bicara sama Mas sama sekali," goda Arga sambil tertawa kecil.
Safa ikut tertawa malu. "Iya Mas, kan waktu itu Mas kaku,dingin,cuek sekali, tatapan Mas tajam, aku takut salah bicara."
"Kalau sekarang masih takut?" tanya Arga sambil menatap dalam ke mata Safa di bawah cahaya lampu kota.
Safa menoleh, menatap mata Arga yang terlihat sangat hangat. "Sudah tidak takut lagi Mas. Sekarang Mas sudah lebih hangat, Mas sudah menjadi suami aku seutuhnya."
Jawaban itu membuat Arga tersenyum semakin lebar.
Lampu merah berubah menjadi hijau, mobil kembali melaju pelan. Arga memutar musik pelan di dalam mobil, lagu cinta yang syahdu membuat suasana semakin romantis. Mereka melewati Monas yang lampunya terang benderang, terlihat sangat gagah di malam hari. Sesekali Safa menyandarkan kepalanya di bahu Arga sambil tetap menggenggam tangan Arga dengan erat.
Setelah hampir satu jam keliling kota Jakarta, melihat keindahan malam dari dalam mobil, Arga akhirnya memutar balik mobil menuju arah penthouse mereka.
"Kamu seneng sayang?" tanya Arga.
"Seneng sekali Mas, terima kasih banyak ya Mas sudah ajak aku keliling. Ini malam yang sangat indah," jawab Safa dengan wajah yang penuh kebahagiaan.
"Sama-sama sayang. Nanti kalau ada waktu lagi, Mas janji akan ajak kamu keliling lagi, melihat keindahan kota malam-malam seperti ini. Hanya kita berdua," janji Arga dengan tulus.
Mobil masuk ke basement penthouse mereka dengan perlahan. Perjalanan sore yang dimulai dengan rasa gugup bertemu Nenek Ratna di hotel milik keluarga Mahendra, diakhiri dengan kebahagiaan yang sempurna, makan malam yang hangat, dan keliling kota berdua di malam hari.
Safa merasa hari ini adalah salah satu hari paling indah dalam hidupnya yang tidak akan pernah ia lupakan.