Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".
Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Jam 6.45 pagi. Gerbang kampus masih sepi, kabut tipis masih ada, tukang parkir aja baru datang.
Kila sudah berdiri di sana seperti satpam. Kemeja motif yang disetrika semalam sampai licin, celana hitam bahan, sepatu kets putih bersih, tas ransel hitam berisi air minum, bekal roti, dan 50 kuesioner yang dia rapikan dan hitung 3 kali semalaman biar tidak salah lagi. Rambutnya dikuncir rapi.
Di grup angkatan WA, gosip tentang Pak Rhaegar ini tidak pernah habis, selalu jadi trending topic.
Eh kalian sadar nggak sih, jam tangan Pak Rhaegar itu Richard Mille? Harganya puluhan juta cuy, gue cek di google!
Mobilnya beda sama dosen lain! Dosen lain Avanza sama Xenia, dia SUV hitam gede!
Parfumnya juga bukan parfum dosen-dosen! Wanginya mahal! Kayak parfum di mall!
Dia tuh sebenernya siapa sih? Anak rektor?
Semua bertanya-tanya, semua penasaran, tapi tidak ada yang tahu jawabannya. Bahkan dosen-dosen lain pun bisik-bisik di ruang dosen: kok ada dosen muda gaya-nya kayak bukan dosen, kayak pengusaha?
Dan hari ini Kila akan berdua saja dengan manusia misterius itu.
Jam 7.00 tepat, tidak kurang tidak lebih. Sebuah mobil SUV hitam mengkilap berhenti pelan di depannya. Bersih banget, kinclong sampai bisa ngaca, tidak ada debu setitik pun. Wangi dari luar. Bukan mobil dosen pada umumnya yang ada stiker himpunan dan gantungan wayang.
Kaca jendela penumpang turun otomatis. Pak Rhaegar di balik kemudi. Kemeja biru muda rapi digulung 3/4, kacamata hitam Ray-Ban, rambut tertata rapi. Bukan dosen, ini model majalah.
"Masuk," katanya singkat, satu kata.
"Selamat pagi Pak!" Kila membuka pintu mobil dengan hati-hati, takut meninggalkan sidik jari. Jok kulitnya lembut, dingin, wangi kulit mahal. Di dashboard ada jam analog kecil yang terlihat mahal dan ada botol parfum kecil. Di setir ada logo yang... mahal.
"Pakai sabuk pengaman," perintah Pak Rhaegar, masih fokus depan.
"Siap Pak," Kila menarik seatbelt dengan gemetar, tangannya susah nge-klik karena gugup dan seatbeltnya agak berat, ceklek ceklek tidak masuk-masuk.
Pak Rhaegar melirik dari balik kacamata hitamnya, mendesah pelan dengan napas, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Kila membantu mengkliknya. Tangannya yang besar menutupi tangan Kila yang kecil.
"Klik. Sudah. Begini caranya," katanya datar. Jarak dekat sekali, wajahnya hanya 20 cm dari wajah Kila, kacamata hitamnya memantulkan wajah Kila yang merah. Kila menahan napas total, tidak bernapas.
Mobil melaju pelan meninggalkan gerbang kampus. AC dingin menggigil, musik jazz pelan dari speaker Bose yang suaranya jernih banget.
Di perjalanan yang sunyi selama 20 menit, Kila tidak tahan. Rasa penasarannya meledak. Dia melirik jam tangan hitam di pergelangan Pak Rhaegar yang berkilau kena matahari pagi. Lalu melirik sepatu loafers kulitnya yang bersih mengkilap tanpa debu.
"Pak..." Kila memberanikan diri memecah keheningan, suaranya kecil.
"Hmm?" Pak Rhaegar tetap fokus nyetir, satu tangan di stir, santai tapi tegas.
"Mobil Bapak bagus banget Pak. Bersih banget. Nggak kayak mobil dosen-dosen lain yang saya lihat," katanya pelan, setengah berbisik takut menyinggung dan takut dimarahi karena lancang.
Pak Rhaegar tetap fokus ke jalan desa yang mulai berbatu, tangannya santai memutar stir.
"Memang kenapa mobil dosen lain?" tanyanya balik, nadanya santai.
"Ya... biasanya... berdebu Pak, ada stiker anak, ada gantungan kunci banyak, ada tissue, ada... ada sandal di belakang," Kila jujur apa adanya, polos, "Kalau Bapak... kayak... kayak bukan dosen Pak. Kayak... ya kayak bukan dosen aja."
Hening dua detik di dalam mobil. Kila langsung menyesal sudah lancang, menggigit bibir. Aduh salah ngomong, mati gue.
Lalu, dari balik kacamata hitam itu, sudut bibir Pak Rhaegar tertarik. Dia tersenyum tipis. Sangat tipis, tapi terlihat jelas.
"Memang saya bukan dosen seperti dosen pada umumnya," jawabnya santai, ringan, seolah itu rahasia umum.
"Eh? Maksudnya Pak? Bukan dosen pada umumnya gimana?" Kila makin penasaran, menoleh.
"Orang-orang di kampus juga bertanya-tanya hal yang sama kayak kamu, Kila. Dosen-dosen lain juga," kata Pak Rhaegar, masih fokus ke jalan, menyalip motor pelan, "Biarkan saja mereka bertanya-tanya. Nggak penting."
Jawabannya menggantung di udara AC. Tidak menjelaskan apa-apa, malah bikin Kila semakin penasaran seribu kali lipat. Jawaban paling misterius abad ini.
Biarkan saja mereka bertanya-tanya? Jadi dia sengaja bikin misterius? Jadi dia emang bukan dosen biasa? Terus dia siapa? Anak orang kaya yang iseng jadi dosen?
Kila ingin nanya lagi, mulutnya sudah terbuka, tapi Pak Rhaegar keburu memotong dengan suara sedikit lebih keras.
"Pegangan. Jalannya rusak parah di depan. Pegangan yang kuat."
Mobil berguncang keras karena jalan desa berbatu. Kila memegang pegangan di atas pintu dengan erat, tubuhnya berguncang. Pertanyaannya tertahan di tenggorokan, terguncang juga.
Sepanjang jalan desa yang berbatu dan berdebu, Kila diam-diam mencuri pandang dari samping. Jam mahal yang berkilau, mobil SUV yang harganya setengah miliar lebih, gaya bicara tenang seperti orang yang terbiasa memerintah banyak orang, bukan seperti dosen yang terbiasa mengajar. Siapa sebenarnya Bapak Dosen ini? Kenapa dia jadi dosen di kampus biasa ini?
Sampai di balai dusun jam 8.30, semua berjalan lancar. Warga ramah, Kila pintar ngomong, 50 kuesioner selesai dibagikan dan diisi jam 11 siang, lebih cepat dari target.
Saat pulang, matahari terik di atas kepala, jam 11.30. Kila jalan duluan dengan langkah riang sambil menghitung kuesioner di tangannya, tidak melihat akar pohon besar yang melintang di jalan tanah.
Kakinya tersandung akar itu.
"Eh! Aduh!"
Tubuh Kila oleng ke depan, kuesioner hampir terbang.
Sebuah tangan menangkap lengan atasnya dengan cepat. Sangat cepat dan kuat. Refleks yang terlatih.
Tangan Pak Rhaegar. Sudah melepas kacamata hitamnya.
Wajah Kila hanya beberapa senti dari dada bidang Pak Rhaegar yang kemejanya agak basah keringat. Dia bisa mendengar detak jantung Pak Rhaegar... yang ternyata juga kencang?
"Pelan-pelan. Makanya lihat jalan, jangan lihat kertas terus," kata Pak Rhaegar, nada khawatirnya jelas terdengar, tidak dingin lagi. Tangannya masih memegang lengan Kila erat, tidak dilepas, memastikan Kila tidak jatuh.
Mata mereka bertemu. Tanpa kacamata hitam, tanpa jarak, mata Pak Rhaegar coklat gelap dan teduh dan... khawatir. Dalam banget.
"Iya... maaf Pak, nggak lihat akar tadi," bisik Kila pelan, suaranya habis karena deg-degan dan malu.
Pak Rhaegar melepas pegangannya perlahan, berdeham pelan, seperti sadar kelamaan megang.
"Hati-hati makanya, Udah berapa kali saya bilang hati-hati sama kamu?" katanya.
Kila mengangguk dengan wajah merah padam seperti kepiting rebus di bawah matahari. "Buat yang kesekian kalinya Bapak bilang itu ke saya. Saya hitung udah 5 kali."
"Karena kamu ceroboh terus. Makanya saya harus bilang terus," jawab Pak Rhaegar sambil membukakan pintu mobil penumpang untuk Kila, dengan satu tangan. Gerakan gentleman, smooth, yang sama sekali tidak dosen banget.
Kila masuk dengan senyum merekah yang tidak bisa ditahan, jantungnya masih berdebar karena hampir jatuh dan karena ditangkap.
Misteri tentang siapa Pak Rhaegar ini masih belum terpecahkan, malah makin dalam. Tapi satu hal yang pasti di hati Kila sekarang...
Dia bukan dosen biasa. Dan dia mulai tidak peduli Pak Rhaegar itu siapa, yang penting...
Jantungnya sudah tidak bisa tenang lagi kalau dekat Bapak ini.
---
ayok ada dibaca🤭