Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Gudang Arsip
Sehari setelah kejadian di ruang genset, Nadia dan Arif saling menghindar.
Gara-gara foto satpam kemarin - foto mereka jalan berduaan pakai satu jas hujan - hampir dikirim satpam ke grup WA. Untung Pak Bambang cegat dan suruh hapus. Tapi gosipnya sudah menyebar di kantin: "Admin baru sama Pak Arif jalan berduaan pas hujan."
Di kantin siang itu, Nadia makan sendirian di pojok. Arif makan di meja Manager, tidak lihat Nadia sama sekali.
Mbak Sari bisik ke Nadia, "Bu Nadia, hati-hati ya. Gosipnya sudah sampai ke mess tamu. Tadi Dr. Karin tanya ke saya, siapa yang jalan sama Pak Arif pakai jas hujan kemarin."
Nadia kaget, langsung tidak nafsu makan.
Malamnya, jam delapan malam, hujan turun lagi. Lebih deras dari kemarin. Petir menyambar, listrik pabrik mati lagi untuk kedua kalinya dalam minggu ini.
Tapi kali ini genset besar masih nyala, cuma lampu di area administrasi yang mati karena kabelnya kena air.
Nadia ada di gudang arsip, di belakang ruang administrasi. Ia sedang cari buku timbangan tahun 2020 yang diminta Bu Lastri. Gudang arsip itu kecil, pengap, penuh tumpukan kertas, cuma muat dua orang. Tidak ada jendela.
Arif juga ada di sana, cari buku SOP lama yang diminta Pak Hendra untuk audit besok. Mereka tidak janjian, kebetulan sama-sama di gudang arsip pas listrik mati.
Pintu gudang arsip yang dari kayu itu, karena hujan dan kayu mengembang, tiba-tiba macet tidak bisa dibuka dari dalam. Mereka coba dorong bersama, tidak bisa.
"Nad, pintunya macet! Kayunya ngembang kena hujan!" kata Arif panik, coba dorong lagi.
Nadia juga dorong, tapi tenaganya tidak kuat. Pintu tetap terkunci.
"Pak, kita kejebak?" tanya Nadia, suaranya gemetar. Senter HP-nya cuma sisa 10 persen.
Arif nyalakan senter besarnya. Cahaya senter itu ia taruh di lantai, menghadap ke atas, jadi ruangan remang-remang, bukan gelap total.
Gudang arsip itu sangat sempit. Mereka berdua harus duduk di lantai di antara tumpukan kardus, lutut hampir bersentuhan. Bau kertas lama dan debu.
Hujan deras di luar, suara atap seng berisik.
"Nad, maaf ya soal kemarin. Di ruang genset. Saya... saya bicara terlalu banyak soal perjodohan. Dan foto kita pakai jas hujan itu... saya sudah minta satpam untuk menghapus. Maaf ya bikin kamu tidak nyaman," kata Arif pelan, buka pembicaraan.
Nadia menggeleng. Rambut panjangnya yang diikat kuda tadi sudah agak lepas, beberapa helai jatuh ke pipi.
"Gak apa-apa, Pak. Saya yang harusnya minta maaf. Saya yang curhat terus soal Rizki dan pelaminan Ivory Cream. Bikin Bapak jadi kepikiran juga," kata Nadia.
Hening. Hanya suara hujan.
Lalu Arif lihat mata Nadia yang berkaca-kaca kena cahaya senter dari bawah.
"Nad, boleh saya jujur lagi? Seperti kemarin saat ruangan genset?" tanya Arif, suaranya hampir berbisik.
Nadia mengangguk pelan.
"Sejak kamu datang, saya merasa tidak sendirian lagi jadi korban perjodohan. Karin tidak pernah mau dengar curhat saya. Dia cuma mau cerita soal gelar dokternya. Tapi kamu... kamu dengarkan saya. Dan itu... itu bikin saya nyaman, Nad. Nyaman yang salah," kata Arif jujur.
Nadia air matanya jatuh. Ia juga merasa sama.
"Pak, saya juga begitu. Di mess putri, cuma Mbak Sari yang mau dengar saya. Mama saya gak pernah
mau dengar saya. Rizki tidak mau dengar. Cuma Bapak yang mau dengar saya tanpa menghakimi. Dan itu bikin saya... saya sayang sama Bapak," kata Nadia akhirnya, kata sayang itu keluar dengan air mata.
Mendengar kata sayang dari Nadia, Arif tidak tahan lagi.
Pelan-pelan, Arif majukan wajahnya. Nadia tidak mundur. Jarak mereka yang sudah dekat karena gudang sempit, sekarang jadi sangat dekat. 10 cm.
Arif mulai menundukan kepala dan mendekati bibir Nadia dan mencium bibir Nadia duluan. Ciuman pertama mereka. Ciuman yang singkat, dua detik, tapi hangat, di tengah bau debu arsip dan suara hujan.
Nadia kaget, tapi tidak mendorong. Setelah Arif mundur dengan wajah menyesal, Nadia malah majukan wajahnya dan membalas ciuman Arif. Balasan yang juga singkat, tapi lebih berani, dengan mata terpejam.
Setelah itu, mereka berdua saling menatap, napas ngos-ngosan, kaget dengan apa yang baru mereka lakukan.
"Pak, kita salah ya?" bisik Nadia, pegang bibirnya.
Arif mengangguk, pegang kepala. "Salah, Nas. Kita salah besar. Kita sudah punya tunangan."
Mereka berdua duduk diam lagi, tapi sekarang bahu mereka bersentuhan, tangan mereka di bawah kardus saling genggam erat, sembunyi-sembunyi.
Sepuluh menit kemudian, dari luar terdengar suara Pak Bambang gedor-gedor pintu gudang arsip.
"Bu Nadia! Pak Arif! Ada di dalam? Pintunya macet ya? Saya bawa linggis!" teriak Pak Bambang.
Pintu akhirnya dibuka paksa oleh Pak Bambang.
Nadia dan Arif keluar dengan wajah merah, rambut berantakan, baju kotor debu arsip.
Pak Bambang lihat mereka berdua keluar dari gudang arsip yang sempit, gelap, cuma berdua, langsung curiga, tapi tidak bicara.
Malam itu, setelah listrik nyala lagi, Arif dan Nadia janji di depan gudang arsip.
"Nad..yang tadi di gudang arsip, kita anggap tidak pernah terjadi ya? Kita lupakan. Kita teman kerja saja. Janji?" kata Arif pelan, sedih.
Nadia mengangguk sambil nangis. "Iya, Pak. Janji. Kita lupakan."
Mereka jalan masing-masing ke mess, dengan janji yang mereka tahu tidak akan bisa mereka tepati.
Karena di HP Pak Bambang, ada foto baru: foto Arif dan Nadia keluar berduaan dari gudang arsip yang gelap, rambut Nadia berantakan.
Bersambung
---