Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.
Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.
Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.
Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.
Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.
Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang tersimpan
"Bagus sekali gambarnya, Sayang. Papah bangga sama Kaning."
Wajah Kaning langsung berseri-seri.
"Benarkah, Papah?"
"Tentu saja. Ini gambar yang sangat bagus."
Bima memandangi gambar-gambar itu satu per satu. Ia tidak menyangka bahwa selama dirinya bertugas jauh dari rumah, putrinya telah mempelajari begitu banyak hal.
Bocah kecil yang dahulu selalu menangis ketika ditinggalkan neneknya kini mulai tumbuh menjadi anak yang berani, ceria, dan penuh rasa ingin tahu.
"Papah, masih ada lagi!" seru Kaning.
Ia bergegas mengambil sebuah buku tulis dari rak, kemudian membukanya di hadapan sang ayah.
"Ini tulisan Kaning!"
Bima memperhatikan deretan huruf yang ditulis dengan bentuk sederhana. Beberapa huruf memang belum sempurna, tetapi terlihat jelas bahwa Kaning telah berusaha menuliskannya dengan sungguh-sungguh.
"Masyaallah! Kaning sudah bisa menulis nama sendiri?"
"Sudah, Papah! Nih, lihat!"
Kaning menunjuk namanya yang tertulis di bagian atas halaman.
Kahiyang Ayudia.
Bima merasakan tenggorokannya tercekat. Ia mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Alhamdulillah. Putri Papah sudah semakin pintar."
"Kaning belajar sama Bu Ifah. Kalau Kaning salah, Bu Ifah enggak marah. Bu Ifah mengajari Kaning pelan-pelan sampai Kaning bisa."
Bima terdiam.
"Benarkah?"
"Iya, Papah. Bu Ifah juga selalu bilang kalau Kaning harus rajin belajar supaya menjadi anak yang pintar dan berakhlak baik."
Senyum Bima perlahan berubah menjadi tatapan penuh haru. Ia kembali memandang buku tulis itu, kemudian menatap putrinya.
"Terima kasih sudah belajar dengan rajin, Nak. Papah bangga sekali."
Kaning tersenyum lebar, lalu tiba-tiba berlari kecil menuju rak buku.
"Papah, sekarang Kaning mau menunjukkan hafalan!"
Bima mengangkat alisnya.
"Hafalan apa?"
"Surah pendek sama doa!"
Bocah itu kembali duduk di hadapan ayahnya. Ia melipat kedua tangan di pangkuan, kemudian menarik napas kecil.
"Papah dengarkan, ya!"
"Tentu, Sayang. Papah dengarkan."
Kaning mulai melafalkan surah pendek yang telah dipelajarinya dengan suara mungil. Sesekali ia berhenti sebentar ketika mengingat urutan ayat berikutnya, tetapi kemudian melanjutkan kembali dengan bimbingan ringan dari sang ayah.
Setelah selesai, Bima bertepuk tangan pelan.
"Masyaallah, Tabarakallah! Pintar sekali putri Papah!"
Kaning tertawa senang.
"Masih ada doa sebelum makan, Papah! Sama doa sebelum tidur!"
"Kalau begitu, coba bacakan."
Kaning melafalkan doa yang dihafalnya dengan penuh semangat. Bima mendengarkan dengan saksama, sesekali membetulkan pelafalan yang kurang tepat dengan lembut.
Ketika Kaning selesai, Bima tidak mampu lagi menyembunyikan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.
Ia segera menarik putrinya ke dalam pelukannya.
"Ya Allah, Nak..." bisiknya lirih. "Papah bangga sekali sama Kaning."
Kaning mengerutkan kening ketika menyadari ayahnya menangis.
"Papah kenapa menangis? Papah sedih?"
Bima segera menggeleng sambil mengusap pipinya.
"Enggak, Sayang. Papah bukan sedih."
"Lalu kenapa, Papah?"
Bima tersenyum di antara air matanya.
"Papah bahagia. Papah senang karena putri Papah tumbuh menjadi anak yang pintar, rajin mengaji, dan baik hati."
Kaning memeluk leher ayahnya.
"Kaning mau jadi anak pintar supaya Papah bangga!"
Bima mengecup keningnya.
"Papah sudah bangga, Nak. Sangat bangga."
Kemudian, Kaning kembali bercerita tentang kegiatan sehari-harinya di pesantren. Ia menceritakan teman-temannya, pelajaran yang disukainya, serta pengalaman ketika pertama kali berani tampil membaca hafalan di depan teman-teman.
Namun, dari semua cerita itu, ada satu nama yang paling sering disebutnya.
"Terus, Papah tahu enggak? Bu Ifah itu sabar banget!"
Bima tersenyum.
"Oh, ya?"
"Iya! Kalau Kaning enggak bisa membaca, Bu Ifah mengajari Kaning lagi. Kalau Kaning menangis karena kangen Papah, Bu Ifah memeluk Kaning. Kalau Kaning sakit, Bu Ifah juga sering menanyakan keadaan Kaning."
Bima terdiam, mendengarkan setiap perkataan putrinya.
"Bu Ifah bilang Kaning enggak boleh menyerah. Bu Ifah juga mengajari Kaning berdoa supaya Papah selalu dilindungi Allah."
Mata Bima kembali terasa panas.
Ia baru menyadari betapa besar peran Latifah dalam kehidupan putrinya. Wanita muda itu bukan hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga memberikan kehangatan yang selama ini sulit ia hadirkan dari kejauhan.
"Papah harus berterima kasih langsung kepada Bu Ifah," gumamnya.
Kaning mengangguk penuh semangat.
"Iya, Papah! Bu Ifah baik sekali!"
Bima memeluk putrinya sekali lagi.
"Insyaallah, Nak. Papah akan berterima kasih kepadanya."
Dalam hati, ia berjanji akan selalu menghargai orang-orang yang telah menjaga dan menyayangi Kaning selama dirinya tidak berada di sisinya.
Terutama Latifah.
Seorang guru yang telah membantu putrinya tumbuh menjadi anak yang lebih mandiri dan berakhlak baik.
Sementara Bima menghabiskan waktu bersama Kaning, Latifah kembali menjalankan tugasnya di pesantren.
Setelah memastikan para santri siap mengikuti kegiatan berikutnya, ia berpamitan kepada kedua orang tuanya yang masih duduk bersama Bu Almira di ruang tamu.
"Abi, Umi, Ifah pamit mengajar dulu, ya. Sebentar lagi anak-anak mulai masuk kelas."
Umi Aisyah mengangguk.
"Iya, Nak. Hati-hati. Nanti kalau sudah selesai, temui kami lagi."
"Baik, Umi."
Latifah menoleh kepada Bu Almira.
"Bu Almira, Ifah pamit dulu, ya."
"Tentu, Nak. Silakan lanjutkan tugasmu. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menyambut kami."
Latifah tersenyum sopan, kemudian melangkah meninggalkan ruang tamu.
Setelah kepergian Latifah, suasana ruangan perlahan berubah lebih serius.
Ustaz Umar yang sejak tadi menunggu kesempatan akhirnya meletakkan cangkir tehnya di atas meja.
"Bu Almira," katanya dengan nada hati-hati, "apakah soal perjodohan yang dulu pernah tertunda akan kembali kita laksanakan?"
Bu Almira mengangguk mantap.
"Tentu saja, Pak Ustaz. Bukankah dulu kita sudah membicarakan hal ini? Almarhum suami saya, Pak Ibnu, juga sudah menyampaikan keinginannya agar Bima menikah dengan Latifah."
Umi Aisyah menatap Bu Almira dengan penuh perhatian.
"Benar, Bu. Kami masih mengingat pembicaraan itu. Namun, dulu Mayor Bima menolak perjodohan tersebut, bukan?"
Bu Almira menghela napas.
"Benar, Umi. Dulu Bima menolak karena merasa belum siap menikah lagi. Setelah kehilangan istrinya, dia lebih banyak mencurahkan perhatian kepada Kaning dan tugasnya sebagai tentara."
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan.
"Saya tidak menyalahkannya. Bima memang sangat mencintai almarhum istrinya. Tetapi, sekarang keadaan sudah berbeda. Kaning semakin besar dan Bima pun sudah menyelesaikan penugasannya di Lebanon."
Ustaz Umar mengangguk pelan.
"Semoga kali ini Allah memberikan jalan yang lebih mudah."
"Aamiin," jawab Bu Almira.
Umi Aisyah kemudian bertanya dengan nada khawatir.
"Lalu, bagaimana dengan Bima sendiri? Apakah Ibu sudah memberitahukan kepadanya bahwa perjodohan itu akan kembali dilaksanakan?"
Bu Almira menggeleng.
"Belum, Umi. Saya belum mengatakan apa pun mengenai Latifah. Saya ingin berbicara dengan Bima terlebih dahulu dan membujuknya agar bersedia membuka hati."
Ustaz Umar terdiam sejenak sebelum berkata, "Kami memahami keadaan itu, Bu. Hanya saja, kami juga berharap agar Latifah tidak terlalu lama dibiarkan dalam ketidakpastian."
"Tentu, Pak Ustaz. Saya pun tidak ingin membuatnya menunggu terlalu lama."
Bu Almira kemudian menatap kedua orang tua Latifah dengan sungguh-sungguh.
"Bagaimana dengan Latifah sendiri? Apakah dia sudah mengetahui rencana perjodohan ini?"
Ustaz Umar mengangguk.
"Kebetulan, seminggu yang lalu kami sudah memberitahunya. Namun, seperti yang Ibu bayangkan, dia belum bisa menerimanya. Latifah merasa belum siap menikah dengan pria yang bahkan belum dikenalnya."
Bu Almira menghela napas pelan.
"Saya bisa memahami perasaannya."
"Meski begitu," lanjut Ustaz Umar, "saya akan berusaha meyakinkannya. Bagaimanapun, ini adalah wasiat almarhum Pak Ibnu, sahabat baik saya sekaligus suami Ibu."
Umi Aisyah menggenggam tangan suaminya.
"Kami hanya berharap keputusan ini kelak membawa kebaikan bagi anak-anak kita."
Bu Almira mengangguk.
"Saya pun berharap demikian. Namun, untuk sementara waktu, saya ingin kita merahasiakan identitas masing-masing dari mereka. Bima belum perlu tahu bahwa wanita yang hendak dijodohkan dengannya adalah Latifah. Sebaliknya, Latifah juga belum perlu mengetahui bahwa pria itu adalah Bima."
Ustaz Umar mengernyitkan keningnya.
"Jadi, kita membiarkan mereka mengenal satu sama lain terlebih dahulu tanpa mengetahui rencana ini?"
"Kurang lebih begitu, Pak Ustaz. Jika Bima sudah bersedia menerima perjodohan dan Latifah juga mulai membuka hatinya, barulah kita mempertemukan mereka secara resmi."
Umi Aisyah tampak berpikir sejenak.
"Lalu, di mana pertemuan itu akan dilaksanakan?"
"Di Bandung, di kediaman Ustaz Malik. Beliau juga sudah mengetahui rencana ini dan berharap agar wasiat almarhum suami saya dapat terlaksana."
Ustaz Umar akhirnya mengangguk mantap.
"Baiklah, Bu Almira. Kami setuju. Untuk sementara, biarlah mereka menjalani kehidupan masing-masing. Nanti, ketika waktunya tiba, kita akan mempertemukan mereka di kediaman Ustaz Malik."
Umi Aisyah turut mengangguk.
"Semoga Allah memberikan kemudahan dan melembutkan hati mereka."
"Aamiin," sahut Bu Almira.
Ketiganya saling berpandangan, seolah menyadari bahwa keputusan yang mereka ambil akan menjadi awal dari perjalanan panjang bagi anak-anak mereka.
Namun, ada satu hal yang belum diketahui oleh Bu Almira maupun kedua orang tua Latifah.
Latifah masih menyimpan perasaan terhadap Ustaz Firman.
Dan Bima sendiri belum benar-benar membuka hatinya untuk wanita lain setelah kehilangan istrinya.
Mereka mungkin bisa mengatur pertemuan, menyusun rencana, bahkan menyimpan rahasia selama mungkin. Namun, tidak seorang pun dapat memastikan bagaimana hati dua orang yang belum saling mengenal itu akan bereaksi ketika kebenaran akhirnya terungkap.
Di kamar kecilnya, Kaning masih sibuk memperlihatkan hasil gambarnya kepada sang ayah, sesekali tertawa ketika Bima memujinya.
Sementara itu, di ruang tamu, tiga orang tua menyimpan harapan yang sama: melihat anak-anak mereka menemukan kebahagiaan.
Dan tanpa disadari oleh siapa pun, takdir telah membawa Abimanyu Wicaksono dan Latifah berada di bawah satu atap, hanya beberapa langkah dari rahasia yang kelak akan mengubah hidup mereka.
Akankah Bima bersedia menerima perjodohan yang pernah ditolaknya? Dan bagaimana reaksi Latifah ketika mengetahui bahwa pria yang dipilihkan kedua orang tuanya ternyata adalah ayah dari anak yang selama ini begitu ia sayangi?
Bersambung...
lah emboh lah ..AQ mumet ngerasain km Latifa gak bs tegas rugi dong AQ tadi undangan di pestamu,ud amplop q tebal lagi,🤭🤭🤭🤭
mungkin ustadz firma mau ngasih selamat x atas pernikahan km Ifah