Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Jingga baru saja menyelesaikan pemeriksaan pasien ketika ponselnya bergetar. Pesan dari Samudera muncul di layar.
Samudera: [Sudah sarapan?]
Jingga tersenyum tipis sebelum membalas.
Jingga: [Sudah. Mas sendiri?]
Samudera: [Sudah. Aku cuma memastikan kamu tidak lupa makan lagi.]
Jingga menggeleng kecil, perhatian sederhana pria itu mulai terasa akrab. Justru karena itulah ia harus berhati-hati. Ia tidak ingin rasa nyaman membuatnya melangkah terlalu cepat, tetapi ia juga tak bisa menyangkal bahwa pesan Samudera mampu memperbaiki suasana hatinya.
Belum sempat ia menyimpan ponsel, Maya muncul dari balik pintu ruang perawat.
“Senyum-senyum sendiri. Ada yang kirim pesan, ya?”
“Teman,” jawab Jingga, berusaha biasa saja.
“Teman yang namanya Dokter Samudera?”
Jingga menatap temannya tajam, tapi Maya justru terkekeh.
“Aku tidak melarangmu bahagia, Jingga. Setelah semua yang kamu lewati, kamu pantas punya seseorang yang memperlakukanmu dengan baik.”
“Aku baru mengenalnya lebih dekat.”
“Baguslah, kenali pelan-pelan. Tapi jangan menolak kebahagiaan hanya karena takut terluka lagi.”
Ucapan Maya melekat di benak Jingga bahkan setelah Maya pergi.
Siang harinya, rapat singkat membahas program pemeriksaan kesehatan gratis kembali digelar. Leo datang sebagai perwakilan perusahaan mitra. Ia membawa beberapa dokumen, tetapi begitu melihat Jingga masuk, perhatiannya segera beralih kepadanya.
“Kamu terlihat lebih segar hari ini,” katanya setelah rapat selesai.
“Terima kasih. Kalau ada yang perlu dibahas soal program, kita bisa bicara di ruang rapat.”
Leo tertawa kecil. “Selalu kembali ke urusan pekerjaan, ya?”
“Karena kita memang sedang bekerja.”
“Aku mengerti.” Leo mengangkat kedua tangan seolah menyerah. “Kalau begitu, izinkan aku mengajakmu makan siang. Bukan sebagai rekan kerja, bukan sebagai sepupu Rangga. Tapi sebagai diriku pribadi.”
Jingga hendak menjawab ketika Samudera muncul di ujung lorong. Ia baru selesai memeriksa pasien dan membawa berkas ke ruang administrasi. Pandangannya sempat berhenti pada mereka.
“Kami sudah punya rencana makan siang,” kata Jingga, lalu menoleh kepada Samudera. “Benarkan, Dokter Samudera?”
Samudera sedikit terkejut, tetapi segera memahami maksud Jingga. “Benar. Kalau kamu masih punya waktu, kita bisa makan di kantin.”
Leo menatap mereka bergantian. Senyumnya tetap terpasang, tetapi sorot matanya berubah.
“Tentu. Aku tidak ingin mengganggu.” Ia kembali menatap Jingga. “Tawaran itu tetap berlaku kalau suatu hari kamu berubah pikiran.”
Setelah Leo pergi, Jingga mengembuskan napas lega. Samudera tidak langsung bertanya, hanya berjalan di sampingnya menuju kantin.
“Kamu tidak harus menjadikanku alasan untuk menolak ajakannya,” ucap pria itu ketika mereka duduk.
“Aku tahu, maaf. Tapi aku memang tidak ingin pergi dengannya.”
“Karena dia sepupu Rangga?”
“Bukan hanya itu.” Jingga merapikan sendok di samping piringnya. “Leo baik, tetapi aku merasa dia sedang berusaha membuatku melihatnya sebagai pilihan. Aku belum siap menghadapi hal seperti itu.”
Samudera mengangguk, tidak menyembunyikan kelegaan yang singgah di dadanya. “Kalau begitu, kamu tidak perlu menjelaskan apa pun kepadanya melebihi yang kamu inginkan.”
Jingga tersenyum. “Kamu selalu membuat semuanya terdengar sederhana.”
“Tidak selalu sederhana, aku hanya tidak ingin menambah bebanmu.”
Kalimat itu membuat Jingga terdiam. Ia menatap Samudera lebih lama dari biasanya, menyadari bahwa pria itu tidak berusaha mengambil alih hidupnya. Ia memberi ruang, tetapi tetap hadir ketika dibutuhkan.
Sore harinya, saat Jingga hendak pulang, Samudera menunggunya di dekat lobi. “Aku mau menjemput Arka dari tempat pengasuhnya. Kalau kamu tidak keberatan, mau ikut? Dia tadi menanyakan Tante Susternya.”
Jingga tersenyum spontan, tetapi kemudian ragu.
“Aku tidak mau merepotkan.”
“Kamu tidak merepotkan. Tapi kalau kamu lelah, tidak apa-apa.”
Jingga teringat betapa senangnya Arka ketika mereka bermain bersama. “Aku ikut, Mas.”
Di perjalanan, obrolan mereka mengalir ringan. Samudera bercerita bahwa Arka mulai mau makan sayur jika disajikan dalam potongan kecil. Jingga memberi beberapa saran sederhana, dan Samudera mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Saat mereka menjemput Arka, anak itu langsung mengulurkan tangan kepada Jingga.
“Tante Suster!”
Jingga menyambutnya, tertawa kecil ketika Arka menunjukkan beruang cokelat yang dibawanya. Momen sederhana itu membuat Samudera memandang mereka dengan perasaan hangat yang semakin sulit ia abaikan.
___
Rangga belum tidur ketika ponselnya berdering menjelang tengah malam. Nama Dira muncul di layar. Ia sempat membiarkannya berdering, berharap perempuan itu hanya ingin membahas sesuatu yang tidak penting. Namun, panggilan kedua datang hampir seketika.
“Ada apa?” jawab Rangga akhirnya.
“Aku harus bertemu denganmu. Sekarang.”
Rangga mengusap wajahnya lelah. “Besok saja, Dira.”
“Ini tidak bisa menunggu.”
Nada suaranya membuat Rangga terdiam. Setelah beberapa saat, ia menyebutkan sebuah kafe kecil yang masih buka dan meminta Dira datang tanpa menarik perhatian.
Dira sudah duduk di sudut ruangan ketika Rangga tiba. Wajahnya pucat, kedua tangannya saling menggenggam di atas meja. Biasanya, ia akan segera mengeluh atau memancing simpati. Malam ini, ia tampak kesulitan menyusun kata.
“Apa yang terjadi?” tanya Rangga.
Dira mengangkat wajah. “Aku hamil.”
lanjut Thor👍
thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu