NovelToon NovelToon
Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Teen / Penyelamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ulva k

Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.

Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.

"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."


Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.

Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.

Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?

Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 18

Ustadz Mahmud sudah pulang ke pondok. Pecinya berlumpur dibawa santrinya.

Bapak masih jongkok di bawah pohon jambu. Aku sama Mami Asih juga masih jongkok. Sampai ibu-ibu di surau kayu selesai baca doa tahlil.

Jam 11.00. Doa selesai.

Ketua ibu-ibu pakai mukena polos keluar dari surau kayu. Bawa nampan nasi berkat yang dari tadi utuh tidak ada yang makan.

"Pak Haji, tahlilannya sudah selesai. Ini nasi berkatnya dimakan di sini atau dibawa pulang?" ibu itu tanya,

Bapak yang jawab. Suaranya serak.

"Makan di sini saja, Bu. Di surau saja. Biar berkah."

Akhirnya kami semua masuk lagi ke surau kayu. Aku pakai gamis putih berlumpur, Mami pakai daster coklat basah, Bapak pakai baju koko lusuh yang kena cipratan lumpur.

Nasi berkat yang 20 bungkus itu dimakan dingin. Lauknya ayam.

Tidak ada yang ngomongin flashdisk merah. Tidak ada yang ngomongin LC. Semua diam makan.

Selesai makan, ibu-ibu dan bapak-bapak pulang lewat jalan becek. Surau kayu kosong lagi. Tinggal tikar plastik, foto kecil ibu yang sobek pinggirnya

3 HARI TAHLILAN SELESAI

Hari kedua tahlilan, yang datang cuma 10 orang. Hari ketiga tahlilan, yang datang cuma 6 orang. Karena cerita sudah nyebar anak Pak Haji yang pakai gamis putih berlumpur itu ternyata Alia, diam diam menjadi seorang LC.

Mami Asih pulang hari kedua sore. Bukan karena diusir. Tapi karena Mami dapat telepon dari Rina di Sampit,anak kariawan kfnya.

"Mami balik ke Sampit dulu ya, Laila. Kamu baik baik disini kalau ada apa apa kamu bisa hubungin mami

Mami naik ojek jam 4 sore. Hilang di jalan becek.

Tinggal aku sama Bapak di rumah.

Habis 3 hari tahlilan ibu selesai, rumah jadi sepi banget. Tidak ada suara Yasin lagi. Cuma suara jangkrik sama ayam kuning Bapak yang baru netas 5 ekor.

Aku kini bukan lagi santriwati dari pesantren Al-Hidayah yang diharapkan Bapak. Di pondok Al-Hidayah, namaku sudah dicoret. Di papan pengumuman pondok ditulis Laila - DIKELUARKAN karena fitnah dan mencemarkan nama pondok.

Padahal yang fitnah bukan aku. Aku yang difitnah. Tapi aku tidak pernah cerita ke Bapak. Selama aku di Sampit jadi Alia, LC aku diam-diam yang bongkar sendiri.

Semua aku lakukan tanpa sepengetahuan Bapak. Tanpa sepengetahuan ibu juga, sampai ibu meninggal jam 3 subuh sambil setrika gamis putih ini.

Sekarang semua sudah tau. Bapak sudah tau aku LC. Orang sekampung sudah tau aku Alia. Ustadz Mahmud sudah tau aku punya flashdisk merah asli.

Tinggal Bapak yang menanggung duka dua kali.

Duka pertama istrinya, ibu ku, pergi jauh ke alam baka. Baru dikubur 3 hari.

Duka kedua anaknya yang diharapkan jadi ustadzah, jadi santriwati kebanggaan yang pakai gamis putih bersih pulang dari pondok Al-Hidayah, ternyata pulang pakai gamis putih berlumpur merah kuburan, dan jadi LC di Sampit.

Bapak tidak marah. Bapak cuma diam. Duduk di depan rumah papan tiap sore, lihat kebun jambu air, tidak ngomong.

Hari ke-4, ke-5, ke-6 setelah tahlilan 3 hari selesai.

Aku di rumah terus. Bapak tidak kasih izin ke mana-mana.

"Laila, kamu di rumah saja. Jangan ke pondok lagi. Sudah tidak mungkin kamu balik ke pondok. Jangan ke Sampit juga. Di Sampit kamu sudah tidak punya apa apa. Di kampung saja. Bantu Bapak di rumah," kata Bapak tiap pagi.

Aku di dalam rumah papan, pakai gamis putih yang kerak lumpur merahnya sudah keras lagi. Flashdisk merah sama kertas kecil tulisan ibu masih di saku dalam.

Hari demi hari aku memendam gelisah dan benci.

Benci ku bukan ke Bapak. Bukan ke ibu yang sudah meninggal.

Benci ku ke orang munafik yang pakai peci putih bersih, yang bikin mimpiku berantakan. Mimpiku jadi ustadzah, ngajar ngaji di surau kayu ini, pakai gamis putih bersih yang ibu setrika jam 3 subuh. Hancur semua karena fitnah di pondok Al-Hidayah itu.

Aku bingung harus berbuat apa. Mau aku.sebar isi flashdisk merah itu kesosmed tapi bukan waktu yang pas.

Mau balik ke pondok Al-Hidayah sudah tidak mungkin. Namaku sudah dicoret.

Sampai hari ke-7.

Pagi jam 6, Bapak mau ke kebun lagi.

Aku berdiri di depan pintu kayu

"Pak..." aku panggil. Suara ku kecil.

Bapak berhenti.

"Pak, Laila mau izin."

Bapak lihat aku.

"Izin apa?"

"Izin merantau jauh dari kampung halaman, Pak."

"Merantau ke mana lagi? Sampit lagi? Jadi LC lagi?"

Aku geleng. Air mata ku jatuh

"Bukan ke Sampit, Pak. Laila mau merantau jauh, Pak ke Jawa. Laila mau cari kerja saja

Aku keluarin flashdisk merah dari saku. Aku kasih lihat ke Bapak. Tapi tidak aku kasih ke Bapak.

"Flashdisk merah ini Laila bawa, Pak. Bukan buat sebar di kampung. Buat jaga diri. Kalau orang munafik itu ganggu Laila lagi di perantauan, Laila masih punya ini. Tapi kalau Laila di sini terus, Laila cuma jadi beban Bapak. Bapak malu sama tetangga karena Laila ."

Bapak diam lama. Di halaman yang sudah tidak becek lagi, ayam kuning Bapak yang 5 ekor lari-lari.

Bapak duduk,sambil menyandar Kedinding dekat pintu,lama sambil merenung.

Bapak buka pintu lebar-lebar.

"Laila, Bapak pernah kasih izin kamu ke pondok Al-Hidayah dulu. Bapak yang suruh kamu masuk pondok itu. Ternyata pondok itu yang hancurin mimpi kamu. Sekarang kalau kamu mau merantau jauh"

"Sholat lah dulu nak,semenjak kejadian itu kamu tidak kenal lagi siapa tuhanmu,kalau kamu sudah sholat Baru Bapak kasih izin. Karena ibu kamu pasti merindukan Laila yang dulu.

Bapak berdiri. Jalan ke kebun.

Pintu rumah terbuka lebar.

Di dalam saku gamis putih ku, flashdisk merah asli masih panas dikit. Dan kertas kecil tulisan ibu masih lecek.

Jam 6.15 pagi. Aku masih berdiri di depan pintu yang terbuka.

Apakah aku akan mengerjakan sholat lagi hari ini?

Dan apakah Bapak beneran kasih izin aku pergi merantau jauh ?

Ustadz Mahmud di pondok Al-Hidayah sudah tunggu 7 hari. Dia pikir aku akan datang bawa flashdisk itu ke pondok.

Padahal aku mau pergi jauh.

1
Garrel
semngat laila💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!