Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 8 - Kenapa Bersembunyi Di Sini?
Ethan berdiri beberapa saat di depan sofa, memperhatikan wajah Ashlyn yang tertidur begitu lelap.
Rambut panjangnya sedikit menutupi pipi, sementara kedua tangannya masih memeluk bantal sofa seolah takut bantal itu ikut menghilang. Rasanya Ashlyn adalah satu-satunya orang yang selalu merasa takut kehilangan.
Ethan mengembuskan napas lirih. Melihat Ashlyn yang mudah sekali tidur seperti ini membuatnya berpikir bahwa Gadis ini benar-benar kelelahan.
Dengan gerakan hati-hati, Ethan membungkukkan badan. Satu tangannya menyelip di bawah lutut Ashlyn, sementara tangan yang lain menopang punggungnya.
Perlahan Ethan mulai mengangkat tubuh gadis ini. Tubuh Ashlyn terasa sangat ringan. Begitu berada dalam gendongannya, Ashlyn tanpa sadar menggesekkan pipinya ke dada Ethan.
"Suamiku," ucap Ashlyn bergumam dalam tidurnya.
Ethan hanya terdiam. Ia berjalan menuju tempat tidur berukuran king size yang berada di sisi lain kamar, lalu menurunkan Ashlyn dengan sangat hati-hati.
Tubuh kecil ini kemudian diselimuti selimut tebal.
"Jangan tinggalkan Ashlyn," gumam Ashlyn lagi.
Entah mimpi apa yang sedang dialaminya, kedua alis Ashlyn terlihat berkerut pelan.
Ethan tanpa sadar mengusap lembut rambut gadis ini. "Aku tidak pergi," gumam Ethan pelan.
Barulah setelah memastikan Ashlyn kembali tenang, Ethan pun masuk ke ruang ganti.
Beberapa menit kemudian ia keluar dengan setelan kemeja hitam dan celana panjang berwarna senada. Aura seorang jenderal yang tegas kembali terlihat jelas.
Sebelum meninggalkan kamar, Ethan sekali lagi menoleh ke arah tempat tidur. Melihat Ashlyn yang masih tertidur pulas. Ethan mematikan sebagian lampu kamar agar suasananya lebih redup, lalu keluar tanpa menimbulkan suara.
Ruang kerja Ethan berada di ujung koridor lantai dua. Begitu pintu terbuka, ruangan luas bernuansa hitam itu langsung menyambutnya.
Di salah satu sisi terdapat rak-rak penuh dokumen militer dan peta wilayah perbatasan. Sementara di tengah ruangan berdiri meja kerja besar dengan beberapa berkas yang sudah disusun rapi oleh Sander.
Ethan duduk, lalu membuka map paling atas. Isinya adalah laporan terbaru mengenai kondisi Perbatasan Utara wilayah kekuasaannya.
Esok pagi Ethan dijadwalkan menghadiri rapat bersama Presiden beserta para petinggi militer. Ada banyak hal yang harus dibahas tentang penyelundupan warga asing, pergerakan kelompok bersenjata dan pembangunan pos pertahanan baru.
Hingga strategi pengamanan wilayah perbatasan yang dalam beberapa bulan terakhir semakin memanas.
Tatapan Ethan berubah serius. Semua pikirannya kembali dipenuhi oleh urusan negara. Namun baru beberapa halaman laporan yang selesai dibacanya, ponsel pribadinya bergetar di atas meja.
Nama yang muncul di layar membuat sorot matanya sedikit berubah jadi lembut.
Mommy Aluna, sang ibu.
Ethan segera menerima panggilan itu. "Mom."
"Ethan." Suara hangat seorang wanita langsung terdengar dari seberang sana.
"Iya, Mom."
"Kata Sander kamu sudah kembali ke Kota Servo."
"Baru tiba beberapa jam yang lalu."
"Kamu ada waktu pulang ke rumah utama?"
Ethan terdiam sesaat. Tatapannya tanpa sadar mengarah ke pintu ruang kerja, membayangkan Ashlyn yang saat ini sedang tertidur di kamarnya.
"Aku masih sangat sibuk, Mom. Besok ada pertemuan dengan Presiden.Sesudah itu masih ada beberapa rapat yang harus kuselesaikan. Aku belum bisa pulang," jelas Ethan.
Terdengar helaan napas kecewa dari seberang telepon. "Kalau begitu Mommy saja yang datang ke rumahmu."
Ethan langsung menggeleng, meski sang ibu tidak bisa melihatnya. "Tidak usah dulu, Mom."
"Kenapa?"
Karena Ethan tak ingin sang ibu sampai bertemu dengan Ashlyn. Belum saatnya siapa pun mengetahui keberadaan gadis itu.
Bahkan dirinya sendiri masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi pada Ashlyn.
"Aku benar-benar sedang banyak pekerjaan. Nanti setelah semuanya selesai, aku sendiri yang akan datang," jawab Ethan, alasan inilah yang akhirnya ia gunakan.
Aluna kembali terdiam beberapa detik. "Baiklah." Meski terdengar pasrah, nada suaranya masih menyimpan sedikit kekecewaan. "Kamu dan Evan benar-benar sama saja."
Ethan tersenyum tipis. "Evan juga belum pulang?"
"Jangankan pulang." Mom Aluna berkeluh kesah,"Mengangkat telepon Mommy saja kadang harus menunggu berjam-jam."
Ethan sudah bisa membayangkan wajah saudara kembarnya saat ini. Jika dirinya menghabiskan sebagian besar waktu di markas militer dan wilayah perbatasan, maka Evan hampir tidak pernah keluar dari gedung Harold Kingdom.
Seluruh bisnis keluarga kini berada di bawah kendali saudara kembarnya itu.
"Perusahaan sedang banyak proyek baru," ujar Ethan coba ikut menjelaskan keadaan sang saudara.
"Mommy tahu, Tapi tetap saja...." Suara Aluna berubah lebih lembut. "Mommy selalu merindukan kalian berdua, dua adikmu juga sibuk dengan kuliahnya. Kadang Mommy merasa lebih sulit sekali bertemu anak sendiri."
"Nanti kalau semuanya sudah selesai, aku akan pulang," balas dengan cepat.
"Jawabanmu selalu seperti itu."
Ethan tak menjawab lagi.
Mommy Aluna sebenarnya sudah hendak mengakhiri panggilan ini, namun seketika teringat sesuatu, ia kembali memanggil putranya.
"Oh iya, Ethan."
"Iya, Mom?"
"Kalau memang belum sempat bertemu Mommy tidak apa-apa."
Ethan mengangkat sebelah alisnya.
"Tapi setidaknya luangkan waktu untuk bertemu Nadine," timpal mom Aluna.
Nama itu membuat Ethan terdiam beberapa saat. Sementara mom Aluna melanjutkan dengan nada membujuk. "Mommy sudah beberapa kali mengatur jadwal makan malam, tapi selalu batal karena kamu dipanggil ke perbatasan,"
"Nadine juga sibuk dengan pekerjaannya, tapi dia masih berusaha meluangkan waktu. Kasihan anak itu," kata mom Aluna lagi.
Kali ini Ethan mengusap pelipisnya pelan. "Mom_"
"Tahun ini usiamu sudah tiga puluh delapan." Nada suara mom Aluna berubah semakin lembut. "Mommy tahu pekerjaanmu sangat berat. Mommy juga bangga padamu. Tapi Mommy tetap ingin melihatmu menikah. Kalau terjadi sesuatu padamu setidaknya ada istri yang akan menunggumu di rumah."
Untuk sesaat ruang kerja itu menjadi sunyi. Ethan tidak segera menjawab. Entah mengapa, justru wajah Ashlyn tiba-tiba terlintas di dalam pikirannya.
Gadis itu, yang terus memanggilnya Suamiku. Yang selalu takut ia tinggalkan.
Sebuah pikiran aneh tiba-tiba muncul begitu saja. Kalau Mommy melihat Ashlyn mungkin beliau akan berhenti menjodohkannya. Pikiran itu membuat Ethan sedikit mengernyit.
Bahkan dirinya sendiri merasa ide tersebut terdengar tidak masuk akal.
'Ashlyn hanyalah gadis malang yang sedang ku lindungi. Memanfaatkannya hanya demi menghindari perjodohan jelas bukan sesuatu yang seharusnya aku lakukan.' Ethan segera membuang jauh-jauh pemikiran itu.
"Aku belum memiliki rencana untuk bertemu siapa pun, Mom," ucap Ethan akhirnya.
Aluna mengembuskan napas panjang. "Kamu selalu menjawab seperti itu."
Ethan hanya terdiam.
"Kalau begitu Mommy tidak bisa memaksamu. Tapi pikirkan baik-baik. Mommy hanya ingin melihatmu bahagia."
"Aku mengerti."
"Baiklah,Jangan lupa istirahat."
"Iya, Mom."
"Mommy tutup teleponnya."
"Baik."
Panggilan pun berakhir, Ethan meletakkan ponselnya perlahan di atas meja.
Tatapannya kembali jatuh pada tumpukan dokumen yang terbuka di hadapannya. Namun kini pikirannya tidak lagi sepenuhnya berada pada laporan perbatasan.
Bayangan Ashlyn yang tersenyum polos sambil memanggilnya Suamiku kembali melintas di benaknya.
Ethan mengembuskan napas pelan, lalu menyandarkan tubuh ke kursi. Untuk pertama kalinya ia menyembunyikan sesuatu dari keluarganya.
Bukan karena tidak percaya, melainkan karena Ethan sendiri belum mengetahui siapa sebenarnya Ashlyn.
Sampai Sander membawa seluruh informasi mengenai gadis itu, Ethan memilih menjaga semuanya tetap menjadi rahasia. Hanya setelah mengetahui masa lalu Ashlyn secara utuh, ia akan memutuskan langkah berikutnya.
Tok Tok Tok!!
"Tuan!" panggil pelayan di luar sana.
"Masuk," titah Ethan.
Seorang pelayan masuk dengan wajah cemas. "Maaf Tuan, Nona Ashlyn terbangun dan menangis mencari Anda."
Dan detik itu juga Ashlyn menerobos masuk ke ruang kerja Ethan dengan berlari dan menangis. "Suamiku," panggil Ashlyn lirih, ia terus berlari hingga akhirnya jatuh di atas pangkuan sang suami.
Brug! "Kenapa bersembunyi di sini?" tanya Ashlyn sesenggukan.
Deg! Ethan tak mampu langsung menjawab, sebab tubuh Ashlyn di atas pangkuannya membuat Ethan sejenak membeku.