"Bukan aku pelakunya!"
Demi biaya berobat ibunya, Aeris Calythea mengantar ratusan kue ke sebuah rumah mewah. Namun, bukannya uang, ia justru menemukan istri pria kaya tergeletak berlumuran darah. Niat tulus Aeris menolong justru menjebaknya. Sidik jarinya tertinggal, menjadikannya tersangka utama.
Dunia Aeris runtuh saat ibunya meninggal akibat terlambat ditangani. Hilang arah, Aeris bersimpuh pasrah.
"Bunuh aku sekarang! Tujuanku tetap hidup sudah tiada!"
Namun Kaizel Vardan, suami korban yang dibakar dendam, menolak. "Mati terlalu mudah untukmu. Kau harus menggantikan posisi istriku dan menjadi ibu untuk anak kembarku! Tebus dosamu, Aeris!"
Bagaimana nasib Aeris? Di tuduh dan terpaksa menjadi istri serta ibu tiri dari 2 anak kembar? Terlebih dia baru tahu, jika 2 anak kembar Vardan bahkan disiksa di rumah ayahnya sendiri.
"Jangan pukul, kami nda nakal hiks ...,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ular
Avenza langsung tersentak mundur hingga tumit sepatunya membentur meja konsol di belakangnya. Wajahnya yang semula pucat pasi kini berubah semakin pias, kehilangan seluruh rona percaya diri yang biasa ia tunjukkan saat menindas si kembar. Napasnya memburu cepat, sementara matanya bergerak liar mencari perlindungan ke arah sang ibu, Orlena, yang berdiri tak jauh darinya dengan raut wajah tak kalah panik.
"Kaizel ... tunggu! Kamu jangan langsung percaya pada ucapan anak-anak kecil itu!" suara Avenza bergetar hebat, nyaris pecah di ujung kalimat. Ia buru-buru melangkah maju, merentangkan kedua tangannya dengan gestur memohon sembari memasang ekspresi teraniaya yang amat dramatis.
"Anak-anak sekecil itu mana tahu apa-apa! Mereka pasti diajarin dan dihasut sama wanita ular itu!" tuding Avenza dengan jari gemetar mengarah langsung ke wajah Aeris. "Mana mungkin aku tega melukai keponakanku sendiri? Demi apapun, Kaizel, aku ini bibi mereka! Bekas luka itu ... itu pasti luka lama waktu mereka jatuh di taman atau kena benda panas tanpa sengaja, lalu sekarang mereka sengaja memfitnahku karena mereka tidak suka pada Lala!"
Aeris hanya bisa mendengus pelan mendengar pembelaan murahan tersebut. Wanita itu tetap berdiri tenang dalam balutan gaun elegannya, merangkul bahu Ezmira dengan penuh perlindungan, sementara Zara kembali merapat ke sisi kirinya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tatapan mata Aeris menyiratkan seringai dingin penuh kemenangan, ia tahu persis watak pengecut Avenza yang akan selalu mencari kambing hitam saat terpojok.
Kaizel berdiri mematung di hadapan kakak tirinya itu. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di pipinya berkedut hebat. Tatapan matanya yang tajam bak elang memindai setiap inci ekspresi ketakutan di wajah Avenza. Suasana di ruang tengah itu mendadak berubah menjadi sangat senyap dan mencekam, seolah oksigen di ruangan tersebut tersedot habis oleh kemurkaan sang kepala keluarga.
"Ma ...," cicit Kaizel dengan suara rendah, berat, dan sarat akan ancaman mematikan. "Selama ini aku membiarkan kalian tinggal di mansion ini dan mencukupi segala kebutuhan hidup kalian tanpa kurang suatu apa pun. Aku tidak pernah mempermasalahkan fasilitas atau kemewahan yang kalian nikmati di bawah atap rumahku,"
Kaizel melangkah maju satu tapak lagi, memaksa Avenza untuk kembali mundur hingga punggungnya benar-benar menempel di dinding.
"Tapi jika benar kalian berani menyentuh, menyiksa, atau bahkan membakar kulit putri-putri kandungku ... maka jangan harapkan ada ampunan untuk kalian di rumah ini!" bentak Kaizel dengan suara menggelegar yang membuat seluruh isi rumah bergetar.
Orlena yang melihat putrinya terpojok dan hampir kehilangan segalanya langsung bergerak cepat. Wanita paruh baya itu menerobos maju, lalu menjatuhkan dirinya bersimpuh di hadapan Kaizel sambil terisak tangis secara dramatis. Air mata palsu langsung membasahi pipinya yang dipenuhi kerutan akibat usia.
"Kaizel! Anakku ... tolong jangan dengarkan fitnah keji itu!" tangis Orlena pecah, mencengkeram ujung celana bahan formal yang dikenakan Kaizel. "Mana mungkin aku dan Avenza sanggup menyakiti darah daging mendiang Nayvera? Kami juga sangat menyayangi Zara dan Ezmira! Kalaupun Avenza tadi sempat meninggikan suara atau terpancing emosi, itu semua murni karena anak-anak itu memang sangat nakal dan susah diatur sejak ibunya tiada!"
Orlena mendongak, menampilkan wajah melas yang menyedihkan. "Kami hanya mencoba mendisiplinkan mereka sebagai keluarga pengganti, Kaizel! Tolong ... percayalah pada keluargamu sendiri, jangan pada wanita asing yang baru kemarin sore masuk ke rumah ini dan sengaja ingin memecah belah kita!"
Avenza yang melihat sang ibu bersimpuh langsung ikut menjatuhkan lututnya ke lantai. Ia meraih tangan Kaizel, mencium punggung tangan adiknya itu sambil terisak tersedu-sedu.
"Maafkan aku, Kaizel ... hiks ... Maafkan kelalaianku kalau selama ini aku dianggap terlalu keras mengurus mereka," ratap Avenza penuh penyesalan palsu.
"Aku bersumpah demi apapun, aku tidak pernah berniat membakar atau menyakiti Zara. Luka itu ... sungguh aku tidak sengaja waktu itu tidak sengaja menyenggol puntung rokok di dekatnya. Aku khilaf, Kaizel! Tolong maafkan Kakak ...,"
Aeris yang mendengar pengakuan terselubung itu tersenyum miring. "Ah, akhirnya pertahanan mereka runtuh juga," batinnya penuh kepuasan.
Meskipun Avenza berkedok kata 'tidak sengaja' dan 'khilaf', pengakuan itu sudah lebih dari cukup untuk membongkar kebohongan mereka di hadapan Kaizel.
Kaizel terdiam seribu bahasa. Ia menatap ke arah Avenza dan Orlena yang kini bersimpuh meratap di kaki nya, lalu perlahan mengalihkan pandangannya menatap punggung kecil Zara yang masih menyisakan bekas luka hitam di balik kerah bajunya.
Kaizel menarik napas panjang, meresapi rasa sesak dan amarah yang bergemuruh di dadanya. Pria itu menutup matanya sejenak untuk menenangkan gejolak emosi yang hampir meledakkan kepalanya.
"Bangunlah," ucap Kaizel akhirnya dengan suara dingin tanpa emosi.
Orlena dan Avenza mendongak bersamaan, menyelipkan secercah harapan di balik air mata palsu mereka.
Kaizel menarik tangannya dari genggaman Avenza, lalu melangkah mundur dengan angkuh. "Aku tidak ingin mendengar ada keributan seperti ini lagi di dalam rumahku. Jika aku sampai mendapati kalian berani menyakiti atau membuat putri-putriku menangis sekali lagi ... maka detik itu juga, aku akan pastikan kalian diusir dari mansion ini tanpa membawa apa pun!" tegas Kaizel mutlak.
"Baik, Kaizel ... Terima kasih, terima kasih banyak ...," cicit Avenza dan Orlena berulang kali, buru-buru bangkit dari lantai dengan kaki gemetar. Mereka saling melempar pandangan lega, merasa untuk saat ini mereka masih lolos dari amukan besar sang kepala keluarga.
Setelah memberikan peringatan keras pada keluarganya, Kaizel memutar tubuhnya perlahan. Sepasang matanya yang sedingin es langsung menghujam tajam ke arah Aeris. Pria itu melangkah mendekati Aeris dengan aura dominan yang mengintimidasi, membuat jarak di antara mereka terpangkas hingga hanya tersisa beberapa langkah saja.
Ezmira yang merasa terancam langsung mengeratkan pelukannya pada kaki Aeris, sementara Zara bergeser sedikit menutupi tubuh adiknya.
"Dan kau ...," bisik Kaizel tajam tepat di depan wajah Aeris, suaranya sarat akan kebencian yang mendalam. "Jangan merasa di atas angin hanya karena kau mencoba bertindak pahlawan di hadapan anak-anakku."
Aeris tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Ia mendongakkan dagunya, membalas tatapan tajam Kaizel dengan sorot mata yang tak kalah menantang. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang ibu ... sesuatu yang rupanya gagal dilakukan oleh keluarga busukmu ini," balas Aeris tanpa nada takut.
Urat di pelipis Kaizel menegang mendengar jawaban berani dari wanita di hadapannya. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat, menahan hasrat untuk mencekik leher wanita itu seketika di tempat. Namun, Kaizel tahu ini bukan waktu yang tepat. Ia ingin menghancurkan Aeris perlahan-lahan dengan bukti-bukti telak yang sudah ia pegang.
"Ikut aku ke ruang kerja sekarang," perintah Kaizel mutlak. Tanpa menunggu jawaban, Kaizel membalikkan badannya dan melangkah pergi lebih dulu menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Aeris menghela napas panjang dalam diam. Ia menunduk, mengusap lembut kepala Zara dan Ezmira bergantian untuk menenangkan mereka.
"Bunda..." cicit Zara cemas, menarik ujung gaun Aeris dengan jemari kecilnya yang gemetaran. "Jangan ikut Daddy... nanti Bunda dimarahi."
Aeris tersenyum tulus, mencoba menepis segala rasa takut yang mulai merayapi hatinya sendiri. "Jangan khawatir, Sayang. Bunda tidak apa-apa. Kalian tunggu di kamar ya, sebentar lagi Bunda kembali," bujuk Aeris lembut.
sebelah tangan ya kaizel tp kami nggak peka korbannya anakmu
lalu pertanyannya siapa yg udh bunuh nayvera apa selingkuhannya itu ??? hemmm 🤔
hamil anak siapa itu????🤔
Yang jelas bukan anak Kaizel.