**Surat Terakhir Bapak**
*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*
Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.
Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.
Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.
*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu di Tengah Hujan
Tak ada yang bergerak selama hampir satu menit penuh.
Di halaman, pemuda itu masih berdiri di bawah hujan, seakan menunggu izin yang tak pernah ia yakin akan diberikan. Air menetes dari ujung rambutnya, menggelap di bahu jaket abu-abunya. Ia tidak mengetuk. Ia tidak memanggil. Ia hanya menunggu.
"Tutup tirainya, Bim," kata Laras. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Kita belum siap."
"Dia sudah di sini, Mbak."
"Aku bilang tutup."
Bima tidak menurut. Ia justru melepaskan tirai, berjalan ke pintu, dan memutar kuncinya. Sebelum Laras sempat mencegah, daun pintu kayu jati itu sudah terbuka, membawa masuk bau tanah basah dan dingin yang menggigit.
"Masuk," kata Bima. Hanya itu. Tidak ramah, tidak juga mengusir.
Pemuda itu melangkah ke teras dengan hati-hati, melepas sepatunya yang kotor lumpur, lalu meletakkannya rapi di samping rak. Gerakan kecil itu membuat tenggorokan Laras tercekat. Cara menyejajarkan sepatu persis seperti yang dilakukan Bapak setiap pulang dari toko, kiri dan kanan lurus, ujungnya menghadap pintu.
"Assalamualaikum," ucapnya pelan.
Tak ada yang menjawab salam itu, sampai suara Ibu terdengar dari belakang.
"Waalaikumsalam, Dimas."
Nama itu meluncur dari bibir Ibu dengan begitu mudah, tanpa jeda, tanpa tanya. Sekar menoleh cepat pada Ibu, lalu pada pemuda itu, lalu kembali lagi pada Ibu, seperti anak kecil yang menonton sesuatu yang tak bisa ia pahami.
Mereka duduk melingkar di ruang tamu, tetapi tidak ada yang benar-benar duduk dengan tenang.
Dimas mengambil kursi paling ujung, yang paling dekat dengan pintu, seolah sudah bersiap pergi kapan pun diminta. Ibu menyodorkan handuk kering. Ia menerimanya dengan kedua tangan dan mengucapkan terima kasih sambil menunduk, sopan sampai terasa menyakitkan.
Bima tidak duduk. Ia bersandar di bufet, tepat di bawah foto Bapak, lengan terlipat di dada.
"Sebelum siapa pun bicara," katanya, "aku mau tanya satu hal. Kamu ke sini mau apa?"
"Mas Bima ..."
"Jangan panggil aku begitu."
Dimas terdiam. Tak ada kemarahan di wajahnya, hanya sesuatu yang lebih lelah dan lebih tua dari umurnya. "Baik. Saya tidak akan memanggil begitu." Ia menarik napas. "Saya ke sini karena Pak Surya menelepon pagi tadi dan bilang Bapak ... bilang Pak Hartono sudah meninggal. Saya tidak tahu. Saya baru tahu pagi ini."
"Tiga hari," kata Sekar lirih. "Pemakamannya tiga hari yang lalu."
"Saya tahu. Saya menyesal tidak bisa datang." Dimas menatap handuk di tangannya. "Saya tidak minta apa-apa dari keluarga ini. Surat itu pun saya tidak tahu isinya. Saya hanya ingin ... melihat rumahnya. Sekali saja. Lalu pergi."
"Melihat rumahnya," ulang Bima getir. "Setelah dua puluh tiga tahun."
"Bima," tegur Ibu.
"Ibu mau aku diam? Ibu mau aku bersikap seolah ini biasa saja?" Suara Bima naik, pecah di tengah. "Tiga hari yang lalu aku mengubur Bapak. Hari ini aku diberi tahu aku punya adik yang tak pernah kukenal. Dan Ibu ... Ibu bahkan tidak kaget."
Ruangan membeku. Kalimat itu akhirnya diucapkan keras-keras, kalimat yang sejak tadi berputar di kepala Laras tetapi tak berani ia sentuh.
Ibu menutup matanya sebentar. Ketika ia membukanya lagi, tatapannya lurus pada Bima, tidak menghindar.
"Ibu memang tidak kaget," katanya. "Ibu sudah tahu sejak sebelum kamu lahir, Bim."
"Sebelum aku ..."
"Sebelum Laras lahir pun, Ibu tahu ada kemungkinan. Dan sejak dua puluh tiga tahun lalu, Ibu tahu pastinya."
Sekar menangis terang-terangan sekarang. Laras bergerak menghampiri adiknya, merangkul bahunya yang gemetar, tetapi matanya sendiri tak lepas dari Ibu. Perempuan di depannya ini, perempuan yang menyisir rambutnya setiap pagi sampai SMA, yang menyuapinya bubur ketika demam, yang tak pernah sekali pun berteriak, ternyata menyimpan rahasia sebesar ini selama dua dekade.
"Kenapa Ibu diam?" suara Laras bergetar. "Kenapa Ibu tidak pernah bilang apa-apa?"
"Karena kalau Ibu bicara, rumah ini runtuh." Ibu tersenyum tipis, senyum yang jauh dari kata bahagia. "Dan Ibu tidak sanggup melihat anak-anak Ibu kehilangan rumahnya."
Hujan mereda menjelang tengah hari, berubah menjadi gerimis tipis yang menempel di kaca jendela.
Ibu menyuruh Sekar mengambil teh, lalu menyuruh Bima duduk. Anehnya, keduanya menurut. Ada wibawa dalam suara Ibu hari itu yang tak pernah Laras dengar sebelumnya. Bukan wibawa seorang istri yang berduka, melainkan wibawa seseorang yang sudah lama menyiapkan diri untuk hari ini.
"Dimas," kata Ibu. "Kamu bawa kotak itu?"
Dimas mengangguk. Ia membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah kotak sepatu tua yang sudutnya sudah lembek karena kelembapan. Ia meletakkannya di meja dengan sangat hati-hati, seperti benda yang bisa pecah.
"Ibu saya menyuruh saya membawanya," katanya. "Kalau suatu hari saya bertemu keluarga ini."
Laras menatap kotak itu. Sesuatu di dalam dirinya, jauh di bawah rasa marah dan bingung, mulai bergerak. Sebuah ingatan yang sudah dua belas tahun ia tekan sampai gepeng.
Stasiun Purwokerto. Sore bulan Juli. Ia baru dua puluh tahun, pulang dari kampus dengan koper kecil, dan dari seberang peron ia melihat punggung yang sangat ia kenal: kemeja kotak-kotak cokelat, tas selempang kulit yang sudah belel. Bapak. Di samping Bapak berdiri seorang perempuan dan seorang anak lelaki sebelas tahun yang menggenggam ujung kemeja itu erat-erat.
Laras tidak memanggil. Ia hanya berdiri di sana sampai kereta datang, sampai ketiganya naik, sampai peron kosong. Malam itu ia pulang dan duduk makan malam bersama Bapak dan Ibu seperti tak terjadi apa-apa. Dua bulan kemudian ia pindah ke Jakarta. Dan sejak itu ia tak pernah benar-benar pulang.
"Mbak Laras."
Suara Dimas menyentakkannya kembali. Pemuda itu menatapnya langsung, untuk pertama kalinya sejak masuk. Matanya gelap dan tenang, mata Bapak, tak salah lagi.
"Saya ingat Mbak," kata Dimas pelan. "Waktu itu saya masih kecil, tapi saya ingat. Mbak berdiri di seberang peron. Mbak pakai jaket biru. Saya sempat melambai, tapi Mbak tidak membalas."
Tangan Laras mendingin. Di sampingnya, Sekar berhenti terisak. Bima menoleh perlahan.
"Mbak," ucap Bima, "apa maksudnya itu?"
Laras membuka mulut, tetapi tak ada suara yang keluar. Dua belas tahun ia menyimpan ini sendirian. Dua belas tahun ia menjadikannya alasan untuk menjauh, sambil berpura-pura alasan itu tak pernah ada. Dan kini seseorang yang ia kira orang asing menyebutnya begitu saja, di ruang tamu yang sama, di bawah foto yang sama.
"Aku ... melihat Bapak," katanya akhirnya. "Waktu kuliah. Bapak sama seorang perempuan dan anak laki-laki. Aku tidak pernah bilang karena ..." Ia menelan ludah. "Karena kalau aku bilang, itu jadi nyata."
Ibu tidak membantah. Ibu tidak bertanya apa pun. Ia hanya menatap Laras dengan mata yang basah, dan itu cukup menjawab bahwa semuanya benar.
Dimas membuka tutup kotak sepatu. Isinya tidak banyak: sebundel surat yang diikat karet gelang, beberapa foto yang sudah menguning, dan sebuah buku tabungan lusuh. Ia mengambil buku tabungan itu dan mendorongnya perlahan ke arah Bima.
"Mas ... maaf, Bim," katanya, meralat diri. "Kamu yang mengurus toko, kan? Mungkin kamu perlu lihat ini. Setiap tanggal lima, selama dua puluh dua tahun. Bukan dari Pak Hartono."
Bima membuka halaman pertama dengan wajah curiga. Halaman kedua. Ketiga. Alisnya perlahan berkerut. Jarinya menyusuri deretan angka dan tanggal, lalu berhenti pada satu kolom di pinggir halaman. Kolom pengirim.
Wajahnya memucat.
"Bu," katanya tanpa mengangkat kepala. "Ini nama Ibu."
Sekar menoleh. Laras menahan napas.
"Setiap bulan," Bima melanjutkan, suaranya hampir tak terdengar. "Dari rekening Ibu. Dua puluh dua tahun. Untuk ... untuk biaya sekolah dan hidup anak ini." Ia akhirnya mengangkat wajah. "Ibu yang membiayai dia? Selama ini? Kenapa?"
Ibu menatap kotak sepatu itu cukup lama. Jemarinya meremas ujung kerudung, satu-satunya tanda bahwa ketenangannya hanya selapis tipis yang sebentar lagi retak.
"Karena bukan hanya Bapak yang berutang pada anak itu," kata Ibu pelan. "Ibu juga."
"Apa maksud Ibu?"
Ibu menarik napas panjang, sepanjang napas yang sudah ditahan dua puluh tiga tahun.
"Ibunya Dimas bernama Ratna," katanya. "Dia bukan perempuan asing, Laras. Dia adik kandung Ibu."
Gelas teh di tangan Sekar jatuh ke lantai dan pecah, tetapi tak seorang pun menoleh.