Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Arthur Bond, Rexana Nycekerh hidup bagai pajangan mahal di dalam sangkar emas. Demi menyelamatkan perusahan ayahnya yang terancam runtuh, Rex terpaksa menelan bulat-bulat dinginnya penghinaan dan tuduhan atas rahasia masa lalu yang enggan ia bocorkan. Namun, ketika kembali ke New York, takdir memainkan lelucon paling kejam.
Lexana, kakaknya sendiri, secara terang-terangan memamerkan kekasih barunya—Diedrick Glodereus Ashford.
Pria itu adalah pemilik masa lalu Rex, cinta pertamanya yang kini hadir kembali membawa dendam dan kepahitan.
Di tengah kepungan tuntutan keluarga yang tak berhati dan intrik kekuasaan, Rex harus berdiri sendirian di antara dua pria yang membencinya.
Akankah rahasia di balik perpisahan masa lalu mereka terkuak, atau justru Rex akan benar-benar hancur dalam permainan pembalasan dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
...PERINGATAN...
...🔞...
Suara hempasan pintu kayu jati kamar utama masih bergema halus saat Diedrick mengunci slot pintu dari dalam.
Suasana kamar bertransformasi seketika—pendar lampu dinding yang temaram, keheningan malam New York yang terkunci di luar jendela kaca, serta kehangatan napas dua manusia yang terengah-engah dalam kepungan emosi yang meluap.
Diedrick tidak mendudukkan Rexana di tepi peraduan dengan kelembutan yang lambat.
Pria itu membawa tubuh ramping Rexana langsung ke tengah tempat tidur berseprai sutra kelabu, mengukung wanita itu di bawah bayangan tubuh tegapnya yang dipenuhi dominasi murni.
"D-Diedrick..." bisik Rexana, suaranya parau dan terputus-putus. Keberanian liar yang sempat meluncur dari bibirnya di balkon tadi mendadak luluh lantak begitu ia menatap kilatan mata elang Diedrick yang membara tanpa ampun.
"Kau yang meminta ini, Bellerina," desis Diedrick dengan suara serak yang begitu rendah di telinga Rexana.
Jemari tegapnya mencengkeram lembut kedua pergelangan tangan Rexana, menahannya di atas kepala wanita itu. "Kau yang menantangku untuk memiliki seluruh tubuhmu sampai kau tidak punya tenaga untuk kabur. Dan aku... tidak akan pernah menolak permintaan calon istriku."
Greb.
Sentuhan pertama Diedrick malam itu bukan lagi sekadar kehangatan yang manis, melainkan sebuah hukuman atas kebohongan dan rencana pelarian yang tersembunyi.
Bibir pria itu menyapu leher jenjang Rexana tanpa memberi jeda untuk bernapas, menyesap kulit porselen wanita itu hingga menyisakan jejak-jejak merah yang menandai kepemilikan mutlak.
"Nghh... Diedrick..." erang Rexana pasrah, matanya terpejam erat saat hawa panas merayapi seluruh persendiannya.
Diedrick tidak memberikan ruang untuk negosiasi.
Pria itu menuntaskan rasa lapar dan kerinduan yang terpendam selama empat tahun dalam satu gelombang gairah yang intens dan tak terhentikan.
Setiap gerakannya di atas ranjang dirancang untuk meremukkan sisa ketegaran Rexana, memaksa wanita itu merasakan betapa dalamnya ikatan yang menyatukan tubuh dan jiwa mereka.
Satu jam berlalu, berganti menjadi dua jam yang membakar.
"T-tidak... Diedrick... kumohon..." jerit Rexana histeris di antara helaan napasnya yang tersengal-sengal.
Keringat dingin membasahi dahi dan leher porselennya. Seluruh otot di tubuh rampingnya terasa lemas, tak berdaya menahan gempuran tanpa jeda dari pria Ashford di atasnya.
Diedrick menundukkan kepalanya, menyapu pelipis basah Rexana dengan bibirnya, namun ritme pergerakannya tak sedikit pun mengendur. "Katakan padaku, Rexana... apa kau masih berniat lari ke Zurich esok pagi?"
"Aah! T-tidak... kumohon hentikan...!" desah Rexana pecah dalam tangis pasrah, jarinya mencengkeram kencang sprei sutra di bawahnya.
"Cukup, Diedrick... kumohon ampun...!"
"Katakan!" gertak Diedrick rendah, mengunci pinggang Rexana semakin rapat.
"Aku berjanji...! Aku berjanji tidak akan pernah pergi lagi!" teriak Rexana histeris, suaranya serak dan bergetar hebat. "Aku tidak akan kabur... aku tidak akan meninggalkanmu! Demi Tuhan, Diedrick... aku milikmu...! Ampun...!"
Mendengar janji suci yang terucap dari bibir Rexana yang bergetar di tengah jeritan ampunnya, Diedrick akhirnya membiarkan gelombang terakhir dari percintaan panas itu menuntaskan hasrat mereka berdua.
Pria itu menyandarkan keningnya di atas bahu halus Rexana, hembusan napas hangatnya yang memburu beradu dengan tangis lega wanita di bawahnya.
...~...
Keheningan kembali menguasai kamar utama saat jam menunjukkan pukul tiga dini hari.
Suara rintik hujan halus menyapu kaca jendela, menciptakan simfoni alam yang menenangkan di balik kekacauan gairah yang baru saja mereda. Selimut tebal berbulu domba membungkus dua tubuh yang kini saling berpelukan erat di tengah peraduan.
Rexana menyandarkan kepalanya yang berat di atas dada bidang Diedrick, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur dan menenangkan.
Seluruh tubuhnya terasa pegal dan tak bertenaga, seolah-olah setiap sendinya telah dilumpuhkan oleh "hukuman" Diedrick. Namun, di dalam dadanya, rasa hangat dan kedamaian murni akhirnya berlabuh.
Jemari tegap Diedrick bergerak perlahan, mengusap punggung polos Rexana di balik selimut dengan kelembutan yang teramat sangat—sangat berbanding terbalik dengan kekejamannya beberapa saat lalu di atas ranjang.
"Masih sakit?" bisik Diedrick lembut, merendahkan wajahnya untuk mengecup dahi Rexana.
Rexana mencubit pelan pinggang Diedrick tanpa tenaga, menyembunyikan wajah merah padamnya di ceruk leher pria itu. "Kau jahat... kau benar-benar tidak memberiku napas sedikit pun."
Diedrick terkekeh pelan, sebuah tawa serak yang bergetar di dadanya. Pria itu makin mempererat pelukannya, merengkuh tubuh ramping Rexana seolah wanita itu adalah permatanya yang paling berharga di dunia.
Namun, beberapa saat kemudian, kekehan Diedrick perlahan memudar.
Raut wajah tampannya yang tertutup bayangan temaram lampu tidur berubah sedikit serius. Ada sebuah gejolak samar yang terpancar dari mata elangnya saat ia menatap ceiling kamar.
Diedrick menghembuskan napas panjang yang terasa sangat lirih.
"Bellerina..." panggil Diedrick dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat lembut dan sarat akan beban tersembunyi.
Rexana mengedipkan matanya pelan, mendongak sedikit dari dada Diedrick. "Ya?"
"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu," gumam Diedrick, jemarinya berhenti berputar di punggung Rexana, menatap lurus ke dalam pupil mata bulat milik wanita yang dicintainya. "Tapi... berjanjilah padaku untuk tidak marah atau berpikiran yang tidak-tidak terlebih dahulu."
Rexana mengernyitkan dahinya tipis, melihat keseriusan yang tidak biasa pada raut wajah Diedrick. Rasa penasaran perlahan merayapi hatinya.
"Soal apa? Kau membuatku cemas, Diedrick."
Rexana menganggukkan kepalanya pelan di atas dada Diedrick. "Aku berjanji. Aku tidak akan marah. Ada apa sebenarnya?"
Diedrick menelan ludahnya yang terasa agak kaku. Pria itu menarik napas dalam-dalam, mengusap helai rambut pendek Rexana yang sedikit lepek oleh keringat.
"Ini... ini terkait dengan Shopia," ujar Diedrick lirih.
Rexana tersentak samar.
Matanya membelalak kecil mendengar nama kembaran kandungnya disebut oleh Diedrick di tengah suasana privat seperti ini.
"Shopia? Ada apa dengan kembaranku??"
Diedrick menatap Rexana dengan pandangan yang rumit—sebuah perpaduan antara rasa ragu, dan keinginan untuk jujur tanpa melukai hati wanita di dalam pelukannya.
"Sebenarnya... terkait alasan kenapa dia langsung mengenaliku kemarin."
Rexana memajukan tubuhnya sedikit di bawah selimut, menatap wajah Diedrick dengan raut penasaran yang kian memuncak.
"Rahasia apa? Maksudmu... kalian pernah bertemu di Zurich sebelum ini?"
Diedrick memejamkan matanya sejenak, lalu menggelengkan kepala secara perlahan.
Pria itu menghembuskan napas panjang, memutuskan untuk tidak membeberkan detail cerita itu dari mulutnya sendiri.
"Rasanya tidak adil jika aku yang menceritakannya padamu dari sudut pandangku, Bellerina," tutur Diedrick lembut, menangkup pipi porselen Rexana dan mengecup bibirnya singkat.
"Sepertinya... biar Shopia sendiri yang menceritakan dan menjelaskannya padamu secara langsung."
boleh up lagi gak Thor 🤭
dan diedrick pria ashford paling bar" gak bisa tahan🤣