NovelToon NovelToon
The Yakuza’S Cold Princess

The Yakuza’S Cold Princess

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: KimiHaruka

Empat kehidupan, satu takdir terlarang. Di balik aura Antartika sang putri tersembunyi, ada pengawal Yakuza yang rela menantang maut demi melindunginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KimiHaruka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terasingkan........

Malam hari H makan malam bulanan klan Uchiha di Ginza akhirnya tiba.

​Dua mobil sedan hitam mewah ber-kaca gelap tampak meninggalkan gerbang utama kediaman Uchiha di Tokyo. Di dalamnya, sang Ayah, Itachi, Shisui, dan Sasuke—yang malam itu terbalut setelan jas formal hitam super elegan—berangkat menuju restoran Kaiseki eksklusif di kawasan Ginza.

​Begitu deru mesin mobil-mobil itu menghilang di kejauhan, kediaman tradisional yang sangat luas itu mendadak hening seketika. Hanya tersisa puluhan penjaga klan yang bersiaga ketat di luar benteng, serta Kakashi yang berdiri membisu di lorong utama.

​Di ruang makan pribadi yang luas, Yoona duduk sendirian di atas lantai tatami. Di depannya tersaji hidangan malam khusus yang disiapkan koki pribadi: ramen super pedas dengan irisan daging sapi wagyu kualitas terbaik, ditemani segelas matcha latte dingin yang kental. Tidak ada babi, tidak ada udang, dan tentu saja tidak ada sup miso yang sangat dibencinya.

​Kakashi melangkah masuk tanpa suara. Dia telah melepas jas resminya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung rapi hingga siku, memperlihatkan ukiran tato Yakuza (Irezumi) yang samar mengintip di balik kulitnya.

​"Makanan malamnya sesuai selera, Nuna?" tanya Kakashi pelan, suaranya yang berat memecah kesunyian ruangan.

​Yoona meletakkan sumpitnya sejenak. Wajah cantiknya yang tanpa make-up berlebih tampak rileks—jauh dari topeng Antartika yang selalu dipakainya di luar. "Sempurna. Makanan pedas dan matcha selalu berhasil memperbaiki suasana hatiku."

​Yoona melirik ke arah tempat duduk kosong di seberang mejanya. "Duduklah, Kakashi. Rumah ini sepi sekali, tidak usah berdiri seperti patung di sana."

​Kakashi sempat ragu sejenak demi menjaga batas profesionalnya, namun menatap binar sepi di mata Yoona, dia akhirnya melangkah dan duduk bersimpuh di seberang meja.

​"Mereka pasti sedang sibuk membahas bisnis Yakuza dan pembagian wilayah di Ginza," gumam Yoona pelan, menyandarkan dagunya di telapak tangan sambil menatap lilin aroma terapi yang menyala di tengah ruangan. "Sedangkan aku... dibiarkan di sini."

​Kakashi menatap wajah Yoona dari jarak dekat. Hatinya selalu tercubit setiap kali melihat sisi rapuh gadis berusia 20 tahun ini. Pria matang itu mengulurkan tangannya melintasi meja, dengan lembut menyentuh dan menggenggam jemari tangan Yoona yang dingin.

​Sensasi hangat dari jemari Kakashi langsung menjalar ke seluruh tubuh Yoona.

​"Mereka membicarakan kekuasaan dan wilayah di luar sana, Nuna," bisik Kakashi dengan tatapan mata yang mendalam dan intens. "Tapi wilayah yang paling ingin saya jaga... ada di depan saya sekarang."

​Yoona menahan napasnya sejenak. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Di balik kesederhanaan kalimat dan sentuhan tipis pria berusia 30 tahun itu, ada proteksi mendalam yang sanggup meluluhkan seluruh dinding es di hatinya.

​Tiba-tiba, alat komunikasi (earpiece) rahasia di telinga Kakashi berkedip merah dan berbunyi bib pelan.

​Seketika aura hangat Kakashi menguap, berganti menjadi kewaspadaan tinggi khas eksekutor Yakuza kelas atas. Dia tidak melepaskan genggaman tangannya pada Yoona, namun pandangan matanya menajam menatap ke arah pintu geser luar.

​"Lapor, Tuan Kakashi... Ada dua mobil tidak dikenal melintas mencurigakan di sekitar perimeter luar gerbang belakang," suara pengawal klan terdengar dari earpiece.

​Yoona yang menyadari perubahan raut wajah Kakashi ikut menegang pelan. "Ada apa, Kakashi?"

​Kakashi perlahan melepaskan genggaman tangannya, berdiri tegap membelakangi Yoona dan menarik pistol bersilencer yang tersembunyi di balik simpul pinggangnya.

​"Ada serangga yang mencoba mendekati rumah utama saat para Tuan Muda sedang pergi," bisik Kakashi dingin, suaranya berubah menjadi iblis mematikan. "Tetap di ruangan ini, Nuna. Saya akan membereskannya dalam lima menit."

Hujan gerimis yang membasahi pelataran kediaman utama klan Uchiha di Tokyo mendadak terasa makin dingin. Di balik jendela kaca dan pintu geser shoji yang tertutup rapat, aroma dupa kayu cendana beradu dengan uap hangat dari mangkuk ramen pedas milik Yoona.

Yoona tidak bergerak dari duduknya. Jemari lentiknya yang terawat rapi memegang cangkir keramik berisi matcha latte, matanya yang tajam menatap lurus ke arah pintu geser. Dia tidak takut. Di dalam vena darahnya mengalir silsilah Yakuza paling disegani di Jepang, dan yang paling penting: di depan pintu itu berdiri Hatake Kakashi.

"Tetap di dalam, Nuna. Jangan kunci pintunya dari dalam, tapi jangan sekali-kali melangkah keluar," bisik Kakashi. Suaranya berubah 180 derajat—tidak ada lagi nada lembut dan penuh kasih sayang. Yang tersisa hanyalah nada dingin, datar, dan mematikan.

Kakashi menarik masker hitam melar hingga menutupi sebagian besar wajahnya, menyisakan sepasang mata kelam yang menancap bagaikan pisau. Dengan gerakan sehalus bayangan, pria berusia 30 tahun itu memutar tubuhnya, menyelipkan pistol bersilencer ke dalam holster rahasia di balik pinggangnya, lalu menarik belati berbilah ganda (kunai Yakuza) dari balik lengannya.

Begitu pintu geser terbuka seukuran celah sempit, tubuh tegap Kakashi meluncur keluar dan melebur sepenuhnya ke dalam pekatnya malam yang diguyur hujan.

Di area taman batu Zen bagian belakang—dekat gerbang kayu kuno yang terhubung ke benteng luar—empat sosok berpakaian hitam pekat merayap di antara deretan pohon bambu. Mereka adalah tim penyusup dari klan musuh yang sudah berminggu-minggu memantau pergerakan kediaman Uchiha. Mereka tahu malam ini petinggi klan, termasuk sang Patriark dan ketiga putranya, sedang menghadiri jamuan makan malam resmi di Ginza.

"Area belakang bersih. Tempat ini cuma dijaga pengawal biasa," bisik salah satu penyusup melalui mikrofon radio di kerahnya. "Cari dokumen silsilah klan atau kamar rahasia di lantai dua. Bos bilang ada rumor Uchiha menyembunyikan sesuatu yang sangat berharga di rumah utama ini."

"Kamu sedang membicarakan milikku?"

Suara berat dan dingin memotong bisikan itu tepat dari balik tengkuk sang penyusup.

Sebelum pria itu sempat memutar kepalanya, sebuah celah tak kasat mata tercipta. Tangan kokoh Kakashi yang dilapisi sarung tangan kulit menyambar leher penyusup itu dari belakang, memutarnya dengan satu gerakan cepat dan tak bersuara. Tubuh pria itu ambruk ke atas rumput wet tanpa sempat menghembuskan napas terakhir.

Tiga penyusup lainnya tersentak kaget. Mereka refleks menarik senjata tajam dari pinggang mereka. Namun di bawah guyuran hujan malam Tokyo, Kakashi bergerak bukan seperti manusia biasa, melainkan seperti iblis pencabut nyawa yang lapar.

Serangan pertama dilancarkan oleh penyusup berbadan besar yang mengayunkan pisaunya ke dada Kakashi. Dengan refleks mematikan, Kakashi mencengkeram pergelangan tangan musuh, memutarnya hingga terdengar bunyi retakan tulang yang keras, lalu menancapkan kunai tepat di selangkangan leher pria itu. Darah segar terciprat membasahi batu-batu kerikil taman, bercampur dengan air hujan.

Penyusup ketiga mencoba melarikan diri sambil mencabut pistol, namun Kakashi sudah berada di depannya dalam sekejap mata. Tangan kiri Kakashi membekuk mulut pria itu rapat-rapat untuk meredam jeritan, sementara tangan kanannya mematahkan leher musuhnya tanpa ragu sedikit pun.

Penyusup terakhir—sang ketua tim—gemetar hebat. Dia jatuh terduduk di atas lantai kayu koridor luar, menatap sosok tinggi besar di depannya dengan mata terbelalak ketakutan. Di bawah lampu lampion tradisional yang remang, jas hitam Kakashi yang basah terkuak sedikit. Baju kemejanya yang melekat di kulit memperlihatkan guratan tato Yakuza (Irezumi) bertema naga dan tengkorak yang menjalar gagah di dadanya.

Kakashi melangkah mendekat, menginjak dada pria yang tersisa itu dengan sepatu boot mewahnya. Ujung pistol bersilencer terarah lurus ke tengah dahi sang ketua penyusup.

"Siapa yang menyuruh kalian datang ke sini?" tanya Kakashi pelan. Suaranya serendah guruh malam, sanggup meremukkan keberanian siapa pun yang mendengarnya.

"K-kami... kami cuma diperintah oleh klan saingan di Yokohama..." ratap pria itu dengan bibir gemetar.

"Mereka denger rumor... Uchiha punya anak perempuan tersembunyi yang jadi kartu truf klan... Kami cuma disuruh memastikan—"

CTAK.

Suara bisikan silencer mengakhiri kalimat itu. Peluru bersarang tepat di tengah dahi pria tersebut sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya.

Kakashi berdiri bergeming di tengah koridor yang basah. Wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan emosi. Kebenaran bahwa klan saingan mulai mencium keberadaan Yoona membuat aura membunuh Kakashi makin pekat. Tidak ada satu orang pun di dunia ini—bahkan klan terbesar di Jepang sekalipun—yang boleh menyentuh atau mengetahui rahasia tentang gadisnya.

Kakashi memencet tombol earpiece di telinganya. "Pembersih. Bawa empat bangkai ini ke pelabuhan Yokohama, buang ke laut tanpa jejak. Cuci seluruh batu taman belakang sampai tak ada tersisa bau darah."

"Baik, Tuan Kakashi," sahut suara pengawal rahasia dari balik garis komunikasi.

Kakashi menyarungkan senjatanya kembali, melepaskan sarung tangan kulitnya yang ternoda air hujan dan bercak darah tipis, lalu membuangnya ke wadah pembuangan. Dia membasuh tangan dan wajahnya dengan air dingin di bak batu taman, merapikan tatanan kemeja hitamnya, dan memastikan kerah bajunya tertutup rapat untuk menyembunyikan tato nama "Yoona" di lehernya.

Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, sang iblis Yakuza kembali menjelma menjadi pengawal pribadi yang tenang dan berwibawa.

Langkah kaki Kakashi berbunyi halus di atas lantai kayu saat dia kembali ke ruang makan pribadi Yoona. Dia menggeser pintu perlahan.

Yoona masih duduk di posisi yang sama. Di depannya, mangkuk ramennya sudah hampir habis, dan dia sedang menikmati cangkir matcha-nya yang kedua. Begitu melihat Kakashi melangkah masuk, tatapan mata Yoona yang semula tegang perlahan melunak kembali.

"Sudah selesai?" tanya Yoona pendek, mengamati Kakashi dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Sudah, Nuna. Cuma serangga kecil dari luar yang tersesat," jawab Kakashi pelan. Dia melangkah mendekati Yoona, lalu berlutut di sebelah gadis itu.

Yoona menyadari ada beberapa tetes air hujan yang menempel di helai rambut perak Kakashi dan di sekitar kerah kemeja hitamnya. Tanpa ragu, Yoona mengulurkan tangannya. Jemari lentiknya yang lembut bergerak mengusap tetesan air di pipi Kakashi.

Sentuhan hangat jari Yoona membuat Kakashi menahan napas sejenak. Matanya menatap dalam-dalam ke manik mata Yoona yang jernih dan indah.

"Kamu tidak terluka, kan?" bisik Yoona. Ada nada khawatir yang samar di balik kepura-puraan dinginnya.

"Serangga seperti mereka tidak akan pernah sanggup menyentuh saya, Nuna," sahut Kakashi lembut.

Saat tangan Yoona bergerak hendak merapikan kerah kemeja Kakashi yang agak berantakan akibat pertarungan tadi, jemarinya secara tidak sengaja menarik sedikit kain kemeja di pangkal leher Kakashi. Di balik kerah yang terbuka beberapa sentimeter itu, terbias ukiran tinta hitam dan merah di atas kulit leher Kakashi.

Yoona menyipitkan matanya, melihat ada guratan huruf katakana yang terukir sangat rapi di sana. Namun sebelum Yoona sempat melihat lebih jelas huruf apa yang tertulis, Kakashi dengan halus dan cepat menggenggam pergelangan tangan Yoona, menghentikan gerakannya dengan lembut namun tegas.

"Ada apa, Nuna?" tanya Kakashi, mengalihkan perhatian Yoona dengan menyunggingkan senyum tipis di balik maskernya.

Yoona mengerutkan keningnya sedikit, menatap leher Kakashi yang kini kembali tertutup kerah kemeja.

"Tatomu... sampai ke leher?"

Kakashi terkekeh pelan—suara tawa rendah yang hangat.

"Ini cuma tato sumpah Yakuza lama, Nuna. Tidak ada yang spesial."

Yoona mendengkus pelan, menarik tangannya kembali meski tatapannya masih menyimpan rasa penasaran.

"Kamu selalu punya banyak rahasia."

"Tapi tidak ada satu pun rahasia saya yang akan membahayakanmu," janji Kakashi serius. Dia meraih jemari Yoona kembali, mengusap punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya.

"Malam ini mereka yang di Ginza mungkin sibuk berpesta dan memamerkan kekuasaan, tapi di sini, saya berjanji akan selalu ada di sampingmu."

Yoona menyandarkan kepalanya di bahu tegap Kakashi, menikmati wangi aroma kayu sandalwood dan kesegaran air hujan yang tersisa di pakaian pria itu. Di tengah kesepian dan rasa terbuang yang selalu menghantuinya setiap kali klan mengadakan acara tanpa dirinya, keberadaan Kakashi selalu menjadi satu-satunya tempat perlindungan yang utuh.

Menjelang pukul dua dini hari, suara deru mesin mobil-mobil mewah kembali terdengar memasuki pelataran depan kediaman Uchiha. Jamuan makan malam bulanan di Ginza telah usai.

Langkah kaki yang riuh terdengar melintasi lorong utama. Sasuke melangkah paling depan dengan wajah masam, melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher. Di belakangnya, Shisui berjalan santai sambil membawa sebuah kantong kertas eksklusif, sementara Itachi melangkah anggun dengan aura es Arktik yang tak tersentuh.

"Sumpah ya, bener-bener ngebosenin acara makan malam tadi!" cercah Sasuke kencang-kencang sambil melepas sepatunya di genkan. "Isinya cuma bapak-bapak tua pamer saham sama politisi busuk yang tebar pesona! Mending gua nongkrong di kelab!"

"Jaga mulutmu, Sasuke. Ayah masih ada di belakang," tegur Itachi singkat dengan suara dinginnya yang datar.

Shisui cuma tertawa pelan, lalu memisahkan diri dari rombongan dan melangkah menuju arah kamar Yoona. Kakashi yang sudah bersiap di lorong langsung membungkuk hormat begitu melihat Shisui mendekat.

"Gimana situasi rumah malam ini, Kakashi?" bisik Shisui dengan nada rendah agar tidak terdengar Sasuke.

"Aman, Tuan Shisui. Ada sedikit gangguan di perimeter belakang, tapi sudah dibersihkan sepenuhnya," jawab Kakashi tenang.

Shisui mengangguk paham. Sebagai sahabat karib Kakashi, Shisui tahu betul apa arti 'dibersihkan' dalam kamus Kakashi. Dia kemudian mengangkat kantong kertas di tangannya. "Nih, kue matcha hangat pesanan khusus dari toko langganan di Ginza. Nana belum tidur, kan?"

"Belum, Tuan. Nona Yoona sedang di kamarnya," sahut Kakashi sambil menggeser pintu kamar Yoona sedikit.

Shisui masuk ke dalam kamar Yoona dan menyapa adiknya dengan ceria, memamerkan kue matcha yang dibawanya. Dari ambang pintu, Kakashi memperhatikan bagaimana Yoona menyambut Shisui dengan senyuman tipis yang manis—pemandangan yang selalu membuat hati Kakashi terasa hangat sekaligus protektif.

Tiba-tiba Sasuke nyelonong muncul dari balik punggung Kakashi, mengintip ke dalam kamar Yoona dengan cengiran konyolnya. "Oi, Nana! Lu kagak tahu kan betapa sengsaranya gua malam ini dengerin pidato Yakuza dua jam nonstop? Lu mah enak santai-santai di rumah!"

Yoona melirik Sasuke dari meja riasnya dengan tatapan Antartika yang membeku.

"Kalau tidak suka, potong saja lidahmu sendiri, Sasuke. Bising sekali dari tadi."

"BWAHAHAHA! Mampus lu, Suke!" tawa Shisui pecah melihat Sasuke yang langsung kicep dan mengerucutkan bibirnya kesal.

"Kalian bertiga emang jahat banget sama gua, heran," cibir Sasuke sambil ngeloyor pergi menuju kamarnya sendiri.

Di tengah kebisingan kecil keluarga Uchiha malam itu, pandangan mata Yoona dan Kakashi sempat bertemu sebentar di antara celah pintu. Tidak ada kata-kata yang diucapkan, tapi tatapan tipis dan dalam di antara mereka berdua sudah cukup untuk menyampaikan sejuta makna yang terikat rapat oleh takdir reinkarnasi.

...----------------...

FYI : Cerita ini mengandung sedikit unsur kekerasan, adegan dewasa dan Age Gap (Cinta beda usia), bagi yang tidak suka boleh skip aja.

Cerita ini hanya fiksi belaka, tidak ada hubungan dengan tokoh atau organisasi manapun. Mohon bijak dalam membaca dan berikan komentar, saran, atau kritik yang sopan dan membangun. Arigatou Gozaimasu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!