NovelToon NovelToon
Segalanya Kamu (Kontrak Pernikahan Dengan Sahabatku) Part Of Rafa Dan Aluna

Segalanya Kamu (Kontrak Pernikahan Dengan Sahabatku) Part Of Rafa Dan Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hasriani

“Nikah sama aku saja, Aluna.”

Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.

Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.

Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal

mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rafa di Jodohkan

Jantung Aluna berdetak lebih cepat saat melihat Rafa sudah duduk di ruang tamunya bersama kedua orang tua Aluna dan kedua kakaknya yang juga ada di sana. Namun, bukan hanya Rafa yang menjadi tamu mereka malam ini. Ada juga Sarah, tunangan kakak keduanya yang sebentar lagi akan menikah dengan Andrew.

"Tuan putri kita ternyata ada di rumah. Seharian ini gue gak lihat Lo. Gue pikir lo lagi asyik main di luar." Ucap Andrew, kakak keduanya, dengan nada sarkas, seolah yang biasa Aluna lakukan hanya bermain saja.

"Andrew..." Tegur Mamanya yang tahu betul bagaimana perlakuan Andrew pada adiknya itu.

Aluna hanya cuek. Ia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh Andrew. Gadis itu lalu berjalan mendekat ke arah Rafa dengan tatapan canggung.

"Kamu di sini, Rafa." Sapa Aluna sambil tersenyum kikuk, padahal sebelumnya mereka berdua sangat akrab, bahkan seperti saudara sendiri.

"Aku mau jemput kamu, Al." Jawab Rafa sambil tersenyum lembut pada Aluna.

Aluna hanya mengangguk pelan. Ia tidak bisa menolak karena Rafa sudah jauh-jauh datang ke rumahnya untuk menjemputnya.

"Pa... Ma, Aluna izin mau makan malam sama Rafa, sama teman-teman yang lain juga di restorannya Juna." Kata Aluna meminta izin pada kedua orang tuanya.

"Iya, Sayang. Tadi Rafa sudah kasih tahu kita kok." Ucap Mamanya memberikan izin.

"Saya izin bawa Aluna, Om, Tante." Giliran Rafa yang kembali meminta izin pada mereka berdua. Tadi pun ia sudah meminta izin sembari memberitahu ke mana mereka akan pergi malam ini.

"Tante titip Aluna sama kamu ya, Rafa." Jawab Mamanya Aluna berpesan.

"Iya, Tante."

Rafa kemudian bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Aluna.

"Bang Abraham, gue pamit bawa Aluna ya." Ucapnya pada Abraham, kakak tertua Aluna.

"Oke, Raf. Hati-hati di jalan. Adek gue tuh, jaga baik-baik." Jawab Abraham dengan nada setengah mengancam.

Rafa hanya mengangguk mengerti.

"Aluna pamit ya, Pa... Aluna pamit, Ma."

Aluna bergantian mencium pipi Papa dan Mamanya sembari berpamitan.

"Hati-hati, Sayang." Pesan Papanya dengan senyum hangat yang penuh cinta pada putrinya yang sudah beranjak dewasa.

Rafa dan Aluna pun beranjak meninggalkan ruang tamu. Aluna sempat melambaikan tangannya pada Abraham yang dijawab dengan anggukan kepala oleh kakak tertuanya itu.

"Kan lihat, cuma pamit sama Papa dan Mama aja. Sama Bang Abra juga. Aku sama Sarah emang kasat mata ya?" Protes Andrew saat keduanya sudah tidak terlihat lagi di sana.

"Ya salah kamu sendiri selalu judes dan kasar sama adik kamu." Jawab Mama mereka dengan nada mengejek.

Sarah yang sedari tadi diam di tempatnya hanya tersenyum mendengar ejekan calon mertuanya itu pada tunangannya. Sejak tadi ia diam-diam memperhatikan Aluna dan Rafa, terutama Rafa.

Ia tidak berhenti mencuri pandang ke arah sahabat calon adik iparnya itu. Sarah baru tahu kalau Aluna memiliki sahabat laki-laki lain selain teman-temannya yang selama ini sering ia lihat di media sosial Aluna.

"Dianya aja yang nggak punya sopan santun." Cecar Andrew yang memang sangat tidak menyukai adik bungsunya itu.

"Andrew..."

Kali ini Papa mereka yang membuka suara dan menegur putra keduanya.

"Taulah, tuan putri. Nggak boleh ada yang usik." Kesal Andrew yang sangat tidak suka melihat bagaimana Aluna begitu dimanjakan di rumah ini.

"Sudah, ayo kita makan malam juga. Ayo, Sarah, makan malam dulu, Sayang." Ajak Mamanya agar Andrew tidak lagi melanjutkan perdebatan dengan Papanya.

"Iya, Tante." Jawab Sarah yang langsung berdiri dan menghampiri calon mertuanya itu.

***

Di dalam mobil yang dikemudikan oleh Rafa terasa sangat sunyi. Keduanya tidak saling berbicara. Ada rasa canggung yang tiba-tiba menciptakan tembok pembatas di antara dua sahabat yang sebelumnya begitu dekat ini.

"Al..."

Panggil Rafa membelah kesunyian di antara mereka.

"Kenapa, Rafa?" Jawab Aluna berusaha terlihat biasa saja.

"Canggung ya? Karena waktu itu?" Tanya Rafa merasa tidak enak pada Aluna.

"Sedikit..." Jawab Aluna ragu.

"Maaf ya, aku nggak bermaksud buat hubungan kita jadi canggung kayak gini." Ucap Rafa menyesali perbuatannya yang sudah membuat mereka berada di situasi seperti sekarang.

Padahal, mereka sudah lama tidak bertemu dan hanya berkomunikasi secara online selama lima tahun terakhir. Keduanya begitu tidak sabar untuk bertemu lagi setelah sekian lama.

Namun, Rafa justru merutuki dirinya sendiri karena telah membuat pertemuan pertama mereka setelah lima tahun terakhir berakhir dengan kecanggungan seperti saat ini.

"Nggak kok, cuma ya emang agak kaget aja kamu tiba-tiba..." Aluna menggantungkan kata-katanya.

"Tiba-tiba apa?" Tanya Rafa yang sebenarnya sudah tahu apa maksud Aluna.

"Tiba-tiba..."

Sangat berat bagi Aluna untuk melanjutkan ucapannya.

"Ngajak kamu nikah?"

Tebak Rafa yang pada dasarnya memang sudah tahu ke mana arah pembicaraan mereka.

Aluna mengangguk pelan. Bahkan, untuk menyebutkan kata-kata yang barusan diucapkan oleh Rafa saja terasa berat jika harus ia sendiri yang mengucapkannya.

Rafa menghela napasnya dengan berat.

"Maaf, Aluna. Waktu itu aku lagi banyak pikiran. Papa mau jodohin aku sama anak kolega bisnisnya. Kamu tahu sendiri lah bagaimana Papa." Ucapnya kemudian.

Ada perasaan kecewa di dalam hati Aluna mendengar penuturan Rafa. Entah dari mana rasa kecewa itu bisa lolos dan masuk ke dalam hatinya saat mendengar ucapan Rafa.

Di saat yang bersamaan, ada pula rasa lega yang tidak bisa ia tafsirkan.

Kedua perasaan itu muncul bersamaan dan membuat Aluna sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang ia rasakan.

"Jahat kamu, Rafa. Tega banget mau jadiin aku tameng supaya kamu nggak dijodohin sama Papa kamu."

Aluna tidak menyembunyikan rasa kecewanya. Ia menunjukkan kekecewaannya pada Rafa dengan begitu jelas.

"Makanya aku minta maaf. Karena kebodohan aku, kita jadi canggung begini." Ucap Rafa yang tidak hentinya meminta maaf pada Aluna.

Keduanya kembali terdiam.

Aluna masih sibuk menata hatinya yang memunculkan berbagai rasa yang bahkan tidak bisa ia kenali satu per satu.

***

"Nggak mau dijodohin?" Tanya Aluna begitu ia sudah merasa sedikit lebih tenang.

Rafa menatap Aluna dengan tatapan dalam.

"Andai kamu tahu, Aluna". Batin Rafa menyimpan sesuatu di balik tatapannya yang dalam pada gadis itu.

"Fokus nyetir, Rafa. Kamu mau kita celaka?" Tegur Aluna saat Rafa tidak juga berniat memalingkan pandangannya dari wajah teduh Aluna.

"Maaf."

Ucap Rafa untuk kesekian kalinya.

Ia pun kembali fokus ke jalanan dan mengemudikan mobilnya dengan hati-hati.

"Jadi kenapa? Kamu nggak mau dijodohin?" Tanya Aluna lagi, berusaha untuk mengembalikan suasana mereka seperti saat bersama dulu, sebelum "kebodohan" yang disebutkan oleh Rafa tadi terjadi.

"Ya nggak mau lah. Emang aku segitu nggak lakunya sampai harus dijodohin?" Jawab Rafa dengan nada suara tidak suka.

"Bukan nggak laku, tapi orang tua kamu pasti cari yang setara sama keluarga kamu." Kata Aluna mengetahui betul bagaimana keluarga Rafa karena orang tuanya sudah berteman begitu lama dengan kedua orang tua Rafa.

Bahkan, orang tua Rafa sudah menganggap Aluna seperti putri mereka sendiri. Begitu pula keluarga Aluna terhadap Rafa.

"Setara atau nggaknya, tetap aja nggak menjamin aku bakal suka sama orangnya." Ucap Rafa.

Aluna mengangguk pelan mendengar perkataan sahabatnya itu.

"Terus, Papa kamu mau jodohin sama siapa?"

"Belum tahu. Papa cuma bilang anak teman bisnisnya. Dia bahkan belum kasih tahu siapa orangnya."

"Kalau ternyata cantik?"

"Cantik juga belum tentu aku suka."

"Kalau baik?"

"Baik juga belum tentu cocok."

"Kalau kaya?"

"Al, keluarga aku juga kaya. Ngapain aku cari orang karena hartanya?"

"Kalau dia suka sama kamu?"

Rafa terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan terakhir Aluna.

"Kalau aku nggak suka, ya tetap nggak bisa dipaksain."

Jawaban Rafa membuat Aluna ikut terdiam.

Entah kenapa, mendengar jawaban itu membuat hatinya sedikit lebih tenang.

Padahal, seharusnya hal itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.

"Tapi kalau orangnya cocok, mungkin bisa dicoba kan?" Tanya Aluna lagi.

"Mungkin."

"Berarti masih ada kemungkinan kamu mau dijodohin."

"Aluna, kamu sebenarnya di pihak siapa sih?" Tanya Rafa sambil melirik gadis itu.

Aluna langsung menoleh dengan wajah kesal.

"Ya gue cuma nanya."

"Kenapa jadi semangat banget kalau bahas aku dijodohin?"

"Gue cuma penasaran aja."

Rafa tersenyum kecil mendengar jawaban Aluna.

"Cemburu ya?"

"Hah?" Aluna langsung menatap Rafa dengan ekspresi tidak percaya. "Pede banget."

"Bukan nggak mungkin."

"Rafa, kalau lo ngomong aneh-aneh lagi, gue turun."

"Ini lagi jalan, Al."

"Ya berhentiin."

Rafa tertawa kecil melihat wajah kesal Aluna.

"Canda, Al. jangan pake Lo gue ah, ga enak dengernya."

"Garing."

"Padahal lucu."

"Nggak."

"Lumayan."

"Nggak."

Rafa hanya bisa tersenyum melihat Aluna yang akhirnya kembali seperti dirinya yang biasa.

Rasa canggung yang sejak tadi memenuhi mobil mereka perlahan mulai menghilang.

Dan untuk pertama kalinya sejak pesta seminggu lalu, Rafa merasa bisa bernapas sedikit lebih lega.

Ia sempat takut satu ucapan bodohnya akan benar-benar merusak hubungan yang sudah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Namun, melihat Aluna yang mulai kembali berdebat dengannya seperti biasa, setidaknya membuat Rafa merasa masih ada harapan untuk memperbaiki semuanya.

Hanya saja, satu hal yang tidak diketahui Aluna adalah...

Alasan Rafa menolak perjodohan itu bukan hanya karena ia tidak ingin menikah dengan orang yang tidak ia kenal.

Ada seseorang yang sejak lama sudah memenuhi hatinya.

Seseorang yang saat ini duduk tepat di sampingnya.

Dan selama ini, sama sekali tidak menyadari perasaan yang ia miliki.

1
Mira Hastati
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!