NovelToon NovelToon
Datang Untuk Membayar

Datang Untuk Membayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Iblis
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

DATANG UNTUK MEMBAYAR

(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)

"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."

Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.

Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.

Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.

Siapa yang baru saja membayar?



Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: PAGAR YANG TERKUNCI

Malam makin melarut ketika suara deru mesin sepeda motor matik milik Dini terdengar berhenti tepat di depan pagar rumah. Roda besi pagar terdorong berderit halus memecah keheningan gang permukiman kami sekitar pukul sembilan malam lewat tiga puluh menit.

Sreeek!

Aku meletakkan kacamata baca di atas tumpukan berkas kerja di meja kayu jati ruang tengah. Langkah kakiku yang beralas sandal kain tipis bergegas menyusuri ubin semen dingin untuk menyambut kedatangan putri keduaku itu.

Dini baru saja kembali setelah menyelesaikan tugas kelompok perkuliahan bersama teman-temannya di kampus. Di usianya yang menapak dua puluh satu tahun dan duduk di semester lima universitas negeri Kota Malang, jadwal akademiknya memang sedang amat padat.

"Assalamu’alaikum, Bu," sapa Dini halus sembari menuntun sepeda motornya masuk ke pelataran teras depan.

"Wa’alaikumsalam, Din. Ayo masuk, hawa malam di luar makin dingin," sahutku sembari membukakan daun pintu kayu lebar-lebar.

Dini mengulurkan tangan kanannya, mencium punggung tanganku dengan penuh takzim. Wajah cantiknya tampak sedikit letih dengan beberapa helai rambut halus yang menempel di sekitar dahinya yang basah oleh keringat tipis.

Ia melepas sepatu kets putihnya, menatanya rapi di rak kayu dekat sudut pintu, lalu meletakkan tas ransel kain yang sarat beban buku di atas sofa. Ranti, putri bungsu saya, keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil berwarna biru.

"Mbak Dini sudah makan malam belum? Ibu tadi masak sayur bening bayam sama tahu goreng," tanya Ranti sembari mendekati kakaknya di ruang tengah.

"Sudah, Ran, tadi Mbak sempat makan mi pangsit hangat di warung depan kampus sama temen-temen," jawab Dini sembari berjalan menuju meja makan ruang tengah.

Tangan Dini meraih gelas porselen, lalu menuangkan air putih hangat dari dalam teko seng antik milik keluarga. Ia meneguknya perlahan-lahan hingga menyisakan separuh cairan di dalam gelas.

Glek! Glek!

Dini menghela napas lega setelah tenggorokannya disiram air hangat. Namun, ketika tangannya hendak menyapu sisa tetesan air di bibir dengan selarik tisu, matanya mendadak melirik ke arah lorong gang samping rumah.

"Bu, tadi waktu Dini buka pagar gang samping, rumahnya Tante Maya kok mati lampu total ya?" tanya Dini dengan kening berkerut halus.

Pertanyaan polos dari mulut anak keduaku itu seketika membuat jari-jariku yang sedang merapikan taplak meja makan mendadak memaku kaku. Aku menatap pasang mata Dini, berusaha keras menjaga raut wajahku agar tetap tenang dan menyembunyikan rasa cemas.

"Tante Maya tadi sore sempat ke sini sebentar pinjam uang belanja dapur, Din," sahutku pelan sembari menarik kursi kayu jati untuk duduk. "Mungkin mereka sengaja mematikan lampu karena mau tidur lebih awal."

Aku sengaja menyimpan rapat rahasia memar kebiruan di pergelangan tangan Maya yang kulihat tadi sore. Sebagai seorang ibu, aku tidak ingin membebankan kecemasan atau dugaanku tentang masalah rumah tangga tetangga ke dalam pikiran anak-anakku.

Dini menggelengkan kepala pelan, meletakkan gelas porselennya di atas tatakan kain. Keningnya makin berkerut dalam saat mengingat detail suasana lorong gang yang baru saja dilaluinya saat menuntun motor.

"Bukan cuma gelap, Bu, tapi pintu pagar besi samping rumah Tante Maya itu dipasangi gembok dari luar," bisik Dini dengan nada heran.

"Gembok dari luar?" ulangku refleks dengan suara yang sedikit meninggi.

"Iya, Bu. Dini lihat sendiri gembok besi itu tergantung di pintu pagar mereka," kata Dini. "Sepeda motor Mas Rian juga tidak kelihatan di pekarangan."

Aku terdiam sejenak mendengar penuturan Dini di dalam keheningan ruang tengah. Di dalam benakku, timbul rasa heran yang amat sulit kujelaskan secara langsung.

Gembok di pintu pagar dari arah gang membuatku berpikir bahwa kelihatannya tidak ada orang di dalam rumah itu malam ini. Namun, aku membatin sendiri di dalam hati, mengapa Maya pergi setelah menerima uang pinjaman dariku?

Bukankah tadi sore ia mengaku sangat membutuhkan uang itu untuk membeli beras dan kebutuhan dapur besok pagi? Dan mengapa ia mengucap janji tanggal delapan dengan raut wajah yang begitu cemas serta gemetar?

"Ibu kok malah melamun begitu? Ada yang salah ya, Bu?" tegur Ranti sembari memegang bahu kiriku.

Aku tersentak kecil dari lamunanku, lalu buru-buru mengukir senyuman tipis untuk menenangkan kedua putriku. Tanganku terulur mengusap lembut jemari Ranti dan Dini yang melingkar di atas meja makan.

"Tidak ada apa-apa, Ran, Din. Ibu cuma agak lelah saja setelah seharian berdiri menghitung uang setoran nasabah di bank," balasku menenangkan. "Ya sudah, Dini segera cuci muka dan ganti baju, biar kalian berdua bisa cepat istirahat."

Dini dan Ranti mengangguk nurut, lalu pamit berjalan menuju kamar tidur mereka masing-masing di lorong dalam. Langkah kaki mereka yang ringan meninggalkan ruang tengah yang kembali merayap sepi dan dingin.

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam ketika aku masuk ke dalam kamar tidur utamaku di bagian depan rumah. Selot besi pintu kamar kumatikan dari dalam dengan geseran pelan.

Klek!

Aku menyandarkan punggung pada daun pintu kayu, menghirup aroma kapur barus dan minyak kayu putih yang selalu menyelimuti kamar ini. Di kamar sederhana berukuran empat kali empat meter ini, kenangan bersama almarhum suamiku dan perjalanan merawat ketiga putri kami tersimpan rapi.

Pekerjaanku sebagai teller bank swasta di kawasan alun-alun Malang telah melatihku selama belasan tahun untuk selalu teliti terhadap detail angka, catatan transaksi, dan keabsahan lembaran uang. Bagiku, setiap catatan harus cocok antara debet dan kredit, tanpa ada selisih sepeser pun di akhir hari kerja.

Namun, urusan pinjaman uang Maya sore tadi rasa-rasanya tidak memiliki rumus matematika yang bisa kupahami secara biasa. Ada rasa ganjil yang terus mengusik kepalaku saat aku teringat tatapan matanya yang tajam dan cengkeraman tangannya yang membeku.

Aku melangkah mendekati ranjang kayu jati, mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur bercahaya temaram di sudut meja. Punggungku kurebahkan di atas kasur kapuk yang empuk, memandangi bayangan bilah kipas angin gantung yang berputar lambat di langit-langit. Hawa dingin Kota Malang merayap perlahan menembus celah jendela kayu.

Pandanganku menerawang ke arah dinding samping yang berbatasan langsung dengan rumah Maya. Pandangan itu memicu ingatan kilat saat Maya pertama kali pindah dua tahun lalu bersama Rian.

Saat itu ia sosok ramah yang sering tersenyum menyapa dan mengantar kue buatan rumah saat sore hari. Namun dalam enam bulan belakangan ini, ia perlahan berubah menjadi makin diam, pucat, dan jarang keluar rumah.

Di luar jendela kamar, hembusan angin malam Kota Malang bertiup cukup kencang, menggoyangkan dedaunan pohon mangga tetangga. Suara gesekan ranting kayu itu terdengar kaku di kegelapan malam, menyatu dengan derit halus daun jendela samping yang sesekali bergetar.

Krrrkkk...

Sensasi dingin yang kurasakan sore tadi saat menutup pintu kembali melintas samar di pikiranku. Bau tanah basah dan kain lembap yang kucium sore tadi terasa seperti aroma sudut ruangan gelap yang lama tak tersentuh udara segar.

Aku memeluk bantal guling erat-erat, menatap kegelapan kamar sembari membaca doa-doa pendek sebelum tidur. Dalam kesunyian malam yang dingin itu, aku akhirnya tertidur lelap hingga fajar menyapa.

Sekitar pukul lima lewat tiga puluh menit pagi, suara ayam jantan milik Pak RT di ujung gang bersahut-sahutan memecah heningnya fajar Kota Malang. Udara pagi terasa dingin dan menyegarkan ketika aku selesai menunaikan salat Subuh di kamar.

Kuk-kuruyuk!

Aku mengenakan daster katun bersih berlengan panjang, lalu berjalan menuju dapur untuk menyeduh cangkir teh hangat dan memasak air untuk sarapan anak-anak. Uap panas dari teko mendidih membumbung tipis di udara dapur yang tenang dan remang.

Suara denting sendok stainless steel yang beradu dengan dinding cangkir porselen membawa kembali ritme kehidupan rumah tangga yang biasa. Aku meminum beberapa teguk teh hangat manis itu, membiarkan rasa hangatnya membasahi kerongkonganku yang kaku.

Tring! Tring!

Setelah meminum teh, aku meraih gagang sapu lidi yang tersandar di sudut dapur dekat rak piring. Menyapu pekarangan depan dan lorong gang samping rumah memang sudah menjadi kebiasaanku setiap pagi sebelum berangkat kerja menuju kantor bank.

Aku melangkah mendekati pintu samping tempat Maya berdiri kemarin sore. Tanganku meraih selot besi dingin yang berembun tipis, lalu memutarnya perlahan ke arah kiri.

Klek!

Daun pintu kayu tebal itu kudorong ke luar, membiarkan udara pagi yang segar berhembus masuk menyapa wajahku. Aku melangkah keluar membawa sapu lidi, berdiri di koridor semen sempit yang memisahkan dinding rumahku dengan tembok samping rumah Maya.

Sinar matahari pagi yang masih lembut menerobos samar di antara celah genteng rumah-rumah warga yang berdiri rapat. Suasana di lorong gang samping pagi itu terasa amat sepi, tanpa ada suara kegiatan dari dalam rumah sebelah.

Aku mengayunkan sapu lidi di atas ubin semen, mengumpulkan beberapa helai daun mangga kering dan guguran bunga kertas yang berserakan. Suara sabetan lidi di atas permukaan semen keras berirama teratur memecah keheningan.

Srek! Srek! Srek!

Langkah kakiku menyapu perlahan makin mendekati area pagar besi samping rumah Maya. Mataku terarah pada kaitan pintu besi bercat hijau kusam milik tetanggaku itu.

Gembok perak di pintu pagar masih terpasang di tempatnya seperti yang diceritakan Dini semalam. Dari sela-sela pagar, pekarangan rumahnya tampak hening, dan kelihatannya memang tidak ada aktivitas manusia di sana.

Rasa heranku kembali muncul saat memandangi pintu rumahnya yang tertutup rapat. Aku bertanya-tanya di dalam hati, ke mana Maya pergi setelah meminta bantuan uang kemarin sore?

Saat aku menyapu serakan pasir halus di dekat fondasi batako bawah pagar Maya, sapu lidiku menyenggol selembar benda kecil yang terhimpit di celah batu. Benda itu berbentuk lipatan kertas kusam yang agak basah oleh embun pagi.

Aku menghentikan ayunan sapu lidi, lalu membungkukkan badan untuk mengambil benda tersebut dari celah batako. Jemari tangan kananku menarik keluar lembaran kertas lipat itu dengan sangat hati-hati agar seratnya tidak sobek.

Kertas itu ternyata adalah selembar nota kelontong bekas bertuliskan cetakan tinta biru kusam dari warung warga di ujung gang. Di bagian depannya tertera rincian barang belanjaan dapur sehari-hari seperti beras, gula, dan minyak goreng.

Namun, ketika membalikkan lembaran nota tersebut, mataku menangkap goresan pensil hitam di bagian belakang kertas yang kosong. Di sana tertera sebuah catatan angka yang ditulis dengan goretan tebal dan ditekan amat keras.

Angka 8.

Goresan angka delapan itu tampak berulang dan sangat jelas di atas kertas nota yang kusam. Melihat angka itu, benakku tidak lagi sekadar heran melihat bentuk angkanya, melainkan mulai bertanya-tanya tentang alasannya.

Mengapa tanggal delapan begitu penting bagi Maya sampai ia terus-menerus mengucapkannya dengan cemas dan kini menuliskan angka yang sama di lembaran nota ini? Apakah tanggal delapan ada kaitannya dengan janji pengembalian uang atau ada hal lain yang sedang ditanggungnya?

"Sugeng enjang, Bu Sari! Pagi-pagi punjul sampun rajin menyapu gang," tegur sebuah suara dari arah depan lorong sekitar pukul enam lewat lima belas menit pagi.

Aku tersentak kaget dari lamunanku yang dalam. Dengan gerakan refleks, aku melihat sekeliling lalu melipat kertas nota basah itu dan memasukkannya rapat-rapat ke dalam saku daster katunku.

Bu Astuti, tetangga depan gang yang baru kembali dari warung, berjalan melintas sembari membawa keranjang anyaman bambu berisi sayuran dan tempe. Wajahnya yang tenang menyapa dari balik pagar pendek.

"Eh, sugeng enjang, Bu Astuti. Nggih puniki, nimbang nganggur nunggu banyu mendidih di dapur," sahutku berusaha merapikan nada suaraku agar terdengar biasa.

Bu Astuti menghentikan langkah kakinya sebentar di dekat tempatku berdiri. Ia memandangi rumah Maya yang tampak sepi dan membisu dari luar.

"Bu Sari, sampeyan ngertos mboten Tante Maya teng pundi?" tanya Bu Astuti.

"Rumahnya kok kelihatan sepi banget dari semalam," tambah Bu Astuti sembari membetulkan letak keranjang belanjaannya.

Aku memegang gagang sapu lidi di tangan kiriku, lalu menjawab secukupnya sesuai apa yang kulihat. Aturan keretanggaan membuatku merasa tidak perlu mengumbar masalah pribadi tetangga.

"Mboten ngertos pasti saya, Bu Astuti. Kemarin sore Maya cuma ketemu saya sebentar di pintu samping, tapi mboten cerita mau ke mana-mana," jawabku tenang tanpa membeberkan urusan utang atau memar di tangannya.

Bu Astuti mengangguk-angguk pelan, membetulkan letak selendang kainnya di pundak. Ia tidak menambah pertanyaan lain dan bersiap melanjutkan jalannya.

"Nggih pun, Bu Sari. Saya duluan ya, mau masak buat anak-anak," pamitnya ramah sembari tersenyum.

"Nggih, Bu Astuti, manggah," balasku pendek sembari menganggukkan kepala.

Bu Astuti berjalan melangkah pergi menyusuri gang, meninggalkan lorong yang kembali hening dan tenang. Aku menyelesaikan sapuan terakhir, memasukkan sampah daun ke wadah plastik, lalu kembali ke dalam rumah.

Pukul enam lewat empat puluh lima menit pagi, aku bergegas mandi dan mengenakan seragam resmi bank swasta tempatku bekerja. Kemeja biru tua dan rok kain hitam panjang yang kurapi membuatku siap untuk berangkat kerja tepat waktu.

Dini dan Ranti sudah duduk rapi di meja makan menikmati sarapan nasi goreng buatan Ranti. Aku duduk sebentar bersama mereka, menyuap beberapa sendok nasi goreng dan meminum teh hangat.

"Nanti kalau kalian mau keluar rumah, jangan lupa kunci pintu depan rapat-rapat ya," pesanku pada kedua putriku sebelum berdiri.

"Iya, Bu, pasti kami kunci," jawab Dini dan Ranti serentak sembari mengangguk.

Setelah berpamitan dan mencium punggung tanganku, anak-anak masuk ke kamar masing-masing untuk bersiap. Aku berjalan menuju meja makan, meraih tas kerja kulit cokelatku yang tergeletak di atas kursi.

Sebelum melangkah ke luar melewati pintu depan, tanganku meraba saku baju seragam kerjaku. Di dalam saku kemeja itu, lipatan nota kelontong berangka delapan yang kutemukan di bawah pagar Maya tersimpan rapi.

Aku memantapkan niat di dalam hati untuk tidak sekadar menyimpan rasa heran ini di dalam benak. Nanti sesampainya di kantor bank, aku akan mencoba memeriksa rekam catatan transaksi dan riwayat kontak nasabah atas nama Maya atau Rian, untuk mencari tahu apakah ada petunjuk finansial atau informasi kontak keluarga yang bisa menjelaskan keadaan tetanggaku itu.

Dengan langkah mantap, aku mengunci pintu depan rumah, melangkah menyusuri gang dingin Kota Malang menuju halte bus kota pukul tujuh lewat lima belas menit pagi.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!