NovelToon NovelToon
MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.

Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.

Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.

"Jangan sentuh!"

Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.

"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Setelah memastikan napas Romeo terdengar teratur dan efek obat membawanya masuk ke dalam tidur nyenyak, Aluna mengunci pintu kamar kakaknya perlahan dari luar. Langkah kencangnya membawa tubuh rapuh itu keluar menembus dinginnya udara malam. Gerimis tipis yang mengguyur jalanan terasa menusuk hingga ke tulang, menambah pekat rasa takut yang bercokol di dada.

​Di pinggir jalan yang temaram, Aluna berdiri dengan jemari bertautan erat dan dada yang berdegup kencang bak ditabuh genderang perang. Setiap kali lampu kendaraan melintas, jantungnya melonjak panik. Begitu sebuah taksi kosong berhenti, dengan tangan gemetar Aluna menyebutkan alamat eksklusif di kawasan perbukitan yang dikirimkan oleh Hayden.

​Perjalanan itu terasa sangat menyiksa. Setiap detik yang berlalu seakan membawanya semakin dekat ke gerbang neraka.

​Taksi akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tempa raksasa setinggi empat meter yang berdiri angkuh di tengah rimbunnya pepohonan perbukitan. Belum sempat Aluna keluar, seorang penjaga berbadan tegap berseragam rapi sudah mendekat, menyapa dengan sikap sangat formal seolah sudah mengantisipasi kedatangannya.

​"Nona Aluna?" tanyanya sopan.

​Aluna mengangguk kaku, suaranya tertahan di tenggorokan. "I-iya..."

​"Mari, Nona. Tuan Hayden sudah menunggu di dalam," ucap penjaga itu seraya membukakan pintu taksi dan menuntunnya menuju sebuah mobil golf car mewah untuk melintasi pekarangan mansion yang sangat luas.

​Mansion pribadi Hayden berdiri megah di puncak bukit dengan gaya arsitektur gothic-modern yang menawan sekaligus mengintimidasi. Begitu melangkah melewati pintu jati raksasa di aula utama, mata Aluna disuguhi pemandangan interior yang luar biasa. Pilar-pilar marmer tinggi menopang langit-langit berhias lampu kristal gantung yang memancarkan pendar keemasan.

 Di setiap sudut koridor berdiri patung-patung pahatan batu alam bertema klasik yang penuh estetika, serta deretan lukisan megah beraliran ekspresionisme dengan garis tegas yang sangat mencirikan karakter pemiliknya.

​Namun, estetika yang menakjubkan itu tak sanggup mengikis rasa cemas Aluna.

​Rendra, asisten pribadi Hayden, melangkah menghampiri Aluna di aula utama dengan raut wajah yang tampak sedikit tegang dan tidak tenang.

​"Nona Aluna, silakan ikut saya," panggil Rendra setengah berbisik, nadanya tergesa-gesa.

​Aluna menyusuri koridor berkarpet tebal mengikuti Rendra. Namun, saat mendekati pintu ganda ruang tamu utama yang sedikit terbuka, terdengar gemertak barang pecah dipadu dengan bentakan bernada dingin dan tajam dari dalam ruangan.

​"Cukup, Valery! Keluar dari rumahku sekarang juga!"

​Aluna menghentikan langkahnya seraya mencengkeram tas kecilnya erat-erat. Melalui celah pintu yang terbuka, ia bisa melihat sosok Hayden berdiri menjulang dengan kemeja hitam yang beberapa kancing atasnya sudah terbuka kasar. Wajah pria itu tampak sangat memerah, pelipisnya bertumpuk butiran keringat dingin, dan urat-urat di lehernya menegang menahan gejolak hebat.

​Di hadapannya, seorang wanita bergaun merah marun yang sangat anggun—Valery—terlihat memegang cangkir kristal yang kini sudah kosong.

​"Hayden, kenapa kau selalu menolakku?!" seru Valery dengan nada histeris, mencoba mendekat dan meraih lengan Hayden. "Orang tua kita sudah sepakat! Perjodohan ini untuk kebaikan kita berdua! Apa kurangnya aku dibanding wanita-wanita murahan di luar sana?!"

​"Aku tidak pernah menyetujui perjodohan konyol itu!" teriak Hayden murka, menepis kasar tangan Valery hingga wanita itu limbung. Breath pria itu memburu sesak. Gelombang panas yang aneh dan membakar tiba-tiba menjalar liar dari dalam dadanya, menguasai kesadaran dan membuat seluruh persendiannya bergetar hebat.

​Hayden menyapu pandangannya ke meja, menatap cangkir teh herbal yang baru saja disajikan oleh Valery. Iris mata gelapnya berkilat penuh ancaman mutlak saat menyadari apa yang telah terjadi.

​"Kau... apa yang kau masukkan ke dalam minumanku, Valery?!" desis Hayden dengan suara rendah yang sangat berbahaya.

​Valery justru tersenyum tipis, melangkah mendekat tanpa rasa takut sedikit pun. "Hanya sedikit perangsang, Hayden... Obat itu sangat kuat. Kau tidak akan bisa menahannya sendirian malam ini. Biarkan aku membantumu..."

​"Menjijikan!" bentak Hayden, matanya merah memancarkan amarah liar. "Rendra! Masuk!"

​Rendra yang berdiri di samping Aluna langsung mendorong pintu lebar-lebar. "Siap, Tuan!"

​"Seret wanita ini keluar dari mansionku! Jangan biarkan dia melangkahkan kaki di mansion ini lagi!" perintah Hayden seraya mencengkeram tepi meja marmer untuk menopang tubuhnya yang kian membara dan kehilangan keseimbangan.

​"Hayden! Tidak! Jangan lakukan ini padaku! Hayden!" jerit Valery histeris saat dua pengawal berbadan tegap langsung memegang kedua tangannya dan menyeretnya keluar secara paksa melewati Aluna yang terpaku ketakutan di ambang pintu.

​Ruang tamu kini mendadak hening, hanya disisakan oleh deru napas Hayden yang sangat berat dan memburu. Pria itu menyapu kasar keringat di dahi dengan punggung tangannya. Akalnya mulai terdesak oleh efek obat gairah dosis tinggi yang membakar seluruh sarafnya.

​"Rendra..." panggil Hayden dengan suara serak, parau, dan hampir tak terkendali. "Carikan aku wanita... siapa saja... panggil sekarang..."

​"T-Tuan..." Rendra terbata, panik melihat kondisi majikannya yang sudah benar-benar berada di ambang batas.

​Saat Hayden menengadahkan kepalanya yang terasa berat, pandangannya yang samar dan liar menangkap sosok Aluna yang berdiri gemetar di dekat pintu.

Di bawah pengaruh obat yang melumpuhkan akal sehatnya, Hayden bahkan lupa bahwa dialah yang memaksa gadis itu datang ke mansion malam ini. Kehadiran Aluna di matanya saat ini murni dianggap sebagai jawaban atas gelora panas yang membakar tubuhnya.

​Aluna yang melihat kilat mata Hayden yang tidak lagi jernih mendadak diliputi rasa panik yang amat sangat. Pria itu bukan lagi Hayden yang angkuh dan dingin, melainkan sosok asing yang berbahaya dan kehilangan kendali penuh.

​"T-tidak..." bisik Aluna penuh ketakutan. Ia mundur beberapa langkah, memutar tubuhnya untuk melarikan diri menuju pintu keluar. "Aku harus pergi dari sini... aku harus pergi!"

​Namun, sebelum Aluna sempat melangkah keluar dari koridor, sebuah gerakan secepat kilat menerjangnya dari belakang.

​Genggaman tangan Hayden yang sangat panas dan kuat bagaikan cengkeraman besi mendadak mencengkeram pergelangan tangan Aluna, menghentikan langkahnya secara mutlak.

​"Aaahh! Lepaskan aku, Hayden!" jerit Aluna histeris, berusaha memukul dan memberontak sekuat tenaga. "Lepaskan! Jangan sentuh aku!"

​"Kau... tidak bisa pergi kemana-mana, Aluna..." bisik Hayden serak tepat di samping telinganya. Napas pria itu yang membara menyapu leher Aluna, dipenuhi hasrat liar yang tak lagi mampu ia bendung.

​Tanpa memedulikan jeritan, tangisan, maupun pukulan Aluna yang mendarat di dadanya, Hayden menarik tubuh rapuh gadis itu dengan paksa, menyeretnya menyusuri lorong megah menuju kamar tidur pribadinya di ujung koridor.

*

*

*

1
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Mia Camelia
Hayden makin gak bisa melepaskan Aluna nih🤭
𝐀⃝🥀Weny
baru aja baca, udah disuguhin Bombay banyak sama othor😭
Mia Camelia
siap thor 😁penasaran nih visual ny gimana😂
diga pues
+21☻️☻️☻️
diga pues
☻️☻️☻️
diga pues
serigala☻️
diga pues
ugh☻️
Mia Camelia
hayden obsesif banget ini mah ke aluna🤭
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
diga pues
ugh🌚
Ita Putri
haduuhh
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna
Mia Camelia
lanjut thor😁
Mita Paramita
Thor nih novelnya sampai tamat kn? gak kayak novel kemarin yang dihapus? padahal lagi seru cerita ny
Mita Paramita: siap Thor 🔥🔥🔥🔥
semangat Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Mia Camelia
seru banget thor😁😁😁
MissSHalalalal: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!