Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Tamu di Ambang Pintu
Sabtu pagi di lantai 45 diawali dengan ketenangan yang relatif. Cahaya matahari pagi menembus jendela kaca raksasa, memantul di atas lantai marmer ruang tamu. Dania sedang duduk di meja makan dengan laptop terbuka, meneliti draf revisi tata letak pencahayaan untuk Grand Dirgantara Tower.
Di sisi lain ruang terbuka itu, Arvin berdiri dengan kaos polos hitam dan celana santai, menyeduh teh tanpa gula. Tidak ada jas tegap atau dasi kaku pagi ini, namun aura dominannya tetap terasa kuat.
BZZZ... BZZZ...
Suara bel antarkom interkom pintu depan mendadak berdering nyaring, memecah ketenangan pagi.
Arvin menghentikan gerakannya. Dahi tegasnya berkerut dalam. Petugas keamanan di lobi bawah seharusnya memberi tahu terlebih dahulu melalui telepon internal sebelum ada tamu yang naik ke unit penthouse.
Arvin melangkah menuju layar monitor di samping pintu. Begitu layar menyala, wajahnya seketika mengeras bagai cadas.
Di balik kamera pintu luar, berdiri Ibu Helen bersama seorang pengacara senior keluarga. Pintu akses privat elevator lantai 45 tampaknya berhasil dilewati Ibu Helen menggunakan kartu akses khusus peninggalan Almarhum Kakek Wijaya.
"Siapa?" tanya Dania dari meja makan seraya mendongak, menyadari perubahan ekspresi Arvin.
"Ibu Helen," jawab Arvin dingin dan cepat. "Dia membawa pengacara keluarga. Mereka ada di depan pintu sekarang."
Dania seketika berdiri, menutup laptopnya refleks. "Ibu Helen? Mau apa dia ke sini pagi-pagi?"
"Memeriksa apakah kita benar-benar tinggal serumah sebagai suami istri, atau cuma rekayasa status," tegas Arvin seraya menatap sekeliling ruang tamu.
Seketika, kedua orang itu menyadari satu masalah besar: penthouse ini terlihat terlalu terpisah. Kamar Dania di koridor barat terkunci rapat, tidak ada satu pun barang wanita yang tercecer di ruang utama atau kamar tidur Arvin di koridor timur. Segala hal di rumah ini memancarkan sinyal bahwa dua orang asing hidup di zona terpisah.
BZZZ... BZZZ...
Suara bel berdering untuk kedua kalinya, lebih panjang dan tidak sabar.
"Dania, dengar," Arvin mengikis jarak, berdiri dua langkah di depan Dania dengan pandangan sangat tajam. "Ibu Helen mencari celah sekecil apa pun untuk membuktikan kita melanggar klausul perwalian. Kita tidak punya waktu untuk berdebat."
"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Dania cepat, mengesampingkan gengsinya dan berfokus pada mode krisis.
"Bawa tas tanganmu, beberapa pakaian, dan barang pribadimu dari kamar barat ke kamarku sekarang," perintah Arvin tegas. "Satu menit."
Dania tidak membuang waktu. Ia berlari kecil ke kamarnya di koridor barat, menyambar beberapa pakaian, botol parfum, serta sikat giginya, lalu berlari menuju kamar tidur utama Arvin di koridor timur.
Ini adalah pertama kalinya Dania melangkah masuk ke dalam kamar pribadi Arvin. Ruangan itu sangat luas, bernuansa abu-abu gelap dengan ranjang berukuran king-size yang rapi. Tanpa ragu, Dania meletakkan parfum dan sisirnya di atas meja rias Arvin, serta melemparkan salah satu jaketnya ke atas arm-chair di sudut kamar agar terlihat 'hidup'.
Sementara itu, Arvin dengan tenang berjalan menuju pintu depan, merapikan kaus polosnya sebelum menekan tombol buka otomatis.
Pintu berpanel kayu mahoni tergeser terbuka.
Ibu Helen berdiri di sana dengan gaun sutra formal dan tatapan mata yang dipenuhi kecurigaan. Di belakangnya, Tuan Kusuma—pengacara senior berambut perak—memegang sebuah map dokumen.
"Selamat pagi, Arvin," sapa Ibu Helen dengan nada manis yang dibuat-buat, namun matanya langsung menyapu ke dalam penthouse. "Maaf Auntie datang tanpa mengabari. Tuan Kusuma perlu mencocokkan beberapa verifikasi faktual terkait status domisili ahli waris untuk laporan penutup audit minggu lalu."
Arvin berdiri bersedekah tangan di ambang pintu, menghalangi pandangan mereka secara alami.
"Verifikasi domisili?" sahut Arvin dingin tanpa senyum sedikit pun. "Seingat saya, tim audit independen sudah mengesahkan seluruh berkas hari Senin lalu, Auntie Helen. Apakah ada prosedur baru yang tidak saya ketahui?"
Pengacara Kusuma berdehem canggung. "Ini hanya formalitas penutup, Tuan Arvin. Kami hanya perlu memastikan bahwa syarat kelayakan tinggal bersama sesuai amanat almarhum—"
"Auntie cuma khawatir," potong Ibu Helen seraya melangkah maju, memaksa Arvin menyisih sedikit. "Banyak rumor bilang kamu dan istrimu hanya memakai rumah ini sebagai alamat formalitas, tapi tidak benar-benar hidup bersama. Sebagai komisaris dan keluarga, Auntie berhak memastikan."
Ibu Helen melangkah masuk ke dalam ruang tamu dengan tumit sepatu tingginya yang berdenting kencang di atas lantai marmer. Matanya yang tajam meneliti setiap sudut—mencari tanda-tanda kebohongan.
Tepat saat itu, pintu kamar tidur utama di koridor timur terbuka.
Dania melangkah keluar. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan kardigan rajut longgar, rambut panjangnya dicepol asal-asalan namun tetap anggun. Ia memegang cangkir teh yang masih berasap, bersikap seolah-olah ia baru saja menikmati pagi yang tenang di rumahnya sendiri.
"Arvin? Ada tamu?" tanya Dania dengan suara lembut yang terkontrol, menatap Ibu Helen dan Pengacara Kusuma dengan sedikit rasa terkejut yang berkelas.
Ibu Helen menghentikan langkahnya. Matanya menyipit menatap Dania, lalu beralih pada pintu kamar utama Arvin yang terbuka sedikit—memperlihatkan jaket wanita milik Dania yang terhampar di kursi dan botol parfum di meja rias yang terlihat jelas dari luar.
Arvin berjalan mendekati Dania, merangkul pinggang wanita itu secara alami—sebuah gerakan refleks yang sangat mulus dan terasa protektif. Dania sempat menegang sesaat saat telapak tangan Arvin yang hangat dan kokoh menyentuh pinggangnya, namun ia langsung menyesuaikan diri dengan bersandar tipis pada tubuh tegap sang CEO.
"Selamat pagi, Ibu Helen," sapa Dania seraya tersenyum tenang. "Ada hal penting apa sampai berkunjung sepagi ini di hari libur kami?"
Ibu Helen menatap pegangan tangan Arvin di pinggang Dania dengan raut wajah yang berubah agak kaku. Kecurigaan yang ia bawa dari rumah seolah membentur dinding tebal yang tak tergoyahkan.
Arvin menatap bibinya dengan mata yang dingin dan mematikan. "Auntie Helen sudah melihat apa yang ingin Auntie lihat, bukan? Pernikahanku dan kehidupan rumah tanggaku bukan konsumsi publik atau materi tontonan dewan komisaris."
Pengacara Kusuma cepat-cepat menengahi. "Semua sudah sangat jelas dan sesuai prosedur, Tuan Arvin. Saya rasa verifikasi domisili ini sudah cukup."
Ibu Helen mengepalkan tangannya di balik tas mewahnya. Ia menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. "Bagus kalau begitu. Auntie cuma memastikan almarhum Kakekmu tidak dikhianati. Kalau begitu, kami permisi."
Ibu Helen berbalik dan melangkah keluar bersama pengacaranya. Begitu pintu ganda penthouse tertutup rapat dan terdengar bunyi kunci otomatis terkunci, suasana di dalam ruangan seketika hening.
Arvin langsung menarik kembali tangannya dari pinggang Dania, melangkah mundur satu pijakan.
Dania menghembuskan napas panjang yang ditahannya sejak tadi, bahunya rileks kembali. "Akting yang lumayan, Tuan CEO."
Arvin menatap Dania, lalu melirik ke arah kamar tidurnya. "Serangan Ibu Helen belum selesai. Dia hanya akan makin penasaran."
Dania menaikkan pandangannya, menatap mata Arvin yang pekat. "Kalau begitu, kita pastikan dia tidak akan pernah menemukan celah di rumah ini."