NovelToon NovelToon
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.

​Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.

​Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.

​Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.

​Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.

​Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

​Satu minggu berlalu seperti kedipan mata bagi mereka yang tenggelam dalam ilusi asmara, namun terasa seperti hitungan mundur menuju eksekusi mati bagi harga diri Hanif. Pagi ini, di salah satu masjid besar di pinggir kota, sebuah akad nikah siri yang digadang-gadang sebagai ibadah suci oleh keluarga Hanif akhirnya dilangsungkan. Pernikahan itu digelar sangat sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga inti, kerabat dekat Sarah, dan beberapa saksi yang sengaja dibayar untuk mempercepat proses administrasi di bawah tangan.

​Namun, kesederhanaan esensi acara itu mendadak luntur oleh kehebohan yang diciptakan oleh keluarga pengantin wanita dan Ibu kandung Hanif, Ibu Rahma. Sejak pukul tujuh pagi, area serambi masjid sudah dipenuhi oleh riuh suara perempuan yang saling mematut diri di depan cermin portabel.

​Ibu Rahma, Sarah, ibunya, hingga para sepupu dari kampung halaman Sarah tampak sangat heboh dalam urusan pakaian. Mereka mengenakan kebaya dan brokat muslimah berwarna ungu pastel yang seragam. Potongannya penuh dengan payet-payet tajam yang berkilau berlebihan di bawah sorotan lampu, dipadukan dengan hijab satin yang ditata menjulang tinggi lengkap dengan tusuk konde swarovski imitasi. Kehebohan mereka untuk tampil wah' justru memancarkan kesan norak yang dipaksakan demi terlihat seperti keluarga bangsawan.

​Di sudut selasar masjid, Hanum berdiri dengan tenang, ditemani oleh salah satu asisten pribadinya yang setia memegang tas kerja. Sepasang mata jernih Hanum menatap lurus ke arah gerombolan berwajah menor itu dengan tatapan datar yang tidak terbaca. Namun, di dalam hatinya, sebuah kerutan heran tidak dapat disembunyikan.

"Sejak kapan Ibu mertuaku mau seroyal itu membelikan pakaian brokat seragaman sekeluarga besar untuk Sarah?." batin Hanum, seulas senyum satir terukir di sudut bibirnya.

Hanum tahu persis bahwa Ibu Rahma tidak kekurangan uang. Wanita tua itu masih menerima kiriman uang bulanan yang sangat melimpah dari suaminya Papa tiri Hanif yang saat ini bekerja di luar negeri. Namun, watak Ibu Rahma yang terkenal sangat pelit dan perhitungan soal uang pribadinya membuat Hanum yakin akan satu hal jika pakaian seragam mewah ini pasti bukan dibeli dari dompet Ibu Rahma sendiri. Jawabannya hanya satu, Hanif pasti telah menguras sisa-sisa terakhir likuiditas tabungannya atau bahkan nekat berutang demi membiayai gengsi keluarga selingkuhannya ini agar sang ibu mau memberikan restu penuh. Sungguh pemandangan pria bodoh yang sedang menggali kuburnya sendiri demi menyenangkan semua orang.

​Namun, jika keluarga Sarah mengira mereka bisa menenggelamkan pesona Hanum dengan brokat ungu pastel berpayet heboh itu, mereka salah besar. Pagi ini, Hanum sengaja datang bukan untuk meratap, melainkan untuk menegaskan garis pembatas yang jelas antara dirinya dan wanita perampas itu.

​Hanum sama sekali tidak berpakaian sederhana. Dia justru memperlihatkan kelas sosialnya yang sesungguhnya secara mutlak. Hanum mengenakan gaun abaya modern berbahan sutra premium berwarna hitam legam yang jatuh dengan sangat anggun di tubuh proporsionalnya. Tidak ada payet murah yang berkilau norak, melainkan potongan siluet yang sangat berkelas hasil rancangan desainer ternama Paris. Hijab segi empat yang dikenakannya terbuat dari sutra murni berserat halus dengan logo kecil berlapis emas putih dari brand Hermès di sudutnya.

​Bukan hanya itu, aksesoris yang melekat di tubuh Hanum pagi ini adalah perwujudan dari kata mewah yang sesungguhnya. Di pergelangan tangan kirinya melingkar jam tangan Rolex Oyster Perpetual bertatahkan berlian kecil yang berkilau lembut, bukan berkilau tajam seperti swarovski tiruan. Di jemarinya terpasang cincin berlian bersertifikat GIA yang besarnya tiga kali lipat dari cincin tiga puluh lima juta yang dibanggakan Sarah. Setiap langkah kaki Hanum memancarkan aura intimidasi yang kuat, membuat beberapa kerabat Sarah yang tadi tertawa keras mendadak bungkam dan menyingkir perlahan saat Hanum melintas. Kelas dan karisma seorang CEO wanita tidak akan pernah bisa ditiru oleh kosmetik tebal.

​"Penghulu sudah siap. Silakan pengantin pria dan para saksi mengambil tempat," suara panitia masjid memecah keheningan.

​Hanif berjalan menuju meja akad dengan jas yang tampak sedikit longgar efek dari berat badannya yang turun drastis akibat stres memikirkan utang pabrik seminggu ini. Namun, saat matanya tidak sengaja menangkap sosok Hanum yang berdiri anggun di dekat tiang masjid, langkah Hanif sempat terhenti.

Dadanya berdesir hebat. Hanum tampak begitu cantik, begitu berkelas, dan begitu jauh dari jangkauannya sekarang. Ada rasa sesal dan takut yang mendadak menyergap hatinya, namun dia buru-buru membuang muka saat ibunya menyenggol lengannya.

​Sarah duduk di samping Hanif dengan kepala tertunduk malu-malu, meskipun matanya sesekali melirik sinis ke arah Hanum, mencoba memamerkan bahwa hari ini dia adalah pemenangnya.

​"Saya terima nikah dan kawinnya Sarah binti Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

​"Bagaimana para saksi? Sah?"

​"Sah!"

​"Alhamdulillah..."

​Gema doa terdengar di dalam ruangan masjid. Seketika itu juga, rona kebahagiaan yang luar biasa meledak di wajah Ibu Rahma dan seluruh keluarga Sarah. Ibu Sarah bahkan langsung terisak dramatis, memeluk kerabatnya seolah-olah anaknya baru saja dipersunting oleh seorang pangeran mahkota. Sarah bernapas lega, menyunggingkan senyum kemenangan yang paling lebar sambil mencium tangan Hanif yang kini telah resmi menjadi suaminya di bawah hukum agama. Ibu Rahma menepuk dada bangga, merasa misinya untuk memberikan madu bagi Hanum telah sukses besar.

​Selesai doa bersama, sesi yang paling dinantikan oleh mereka pun tiba: sesi foto bersama di depan pelaminan mini yang disewa di dalam aula masjid.

​"Ayo, Mbak Hanum, ikut foto di sini sebagai istri tua. Biar kelihatan kompak dan berkah poligaminya," panggil Ibu Rahma dengan nada suara yang sengaja dikeras-keraskan agar didengar oleh penghulu dan saksi, sebuah upaya manipulatif untuk menekan mental Hanum.

​Hanum tidak menolak. Dia melangkah maju dengan senyuman profesional yang sangat tenang. Dia berdiri di sisi kanan Hanif, sementara Sarah berada di sisi kiri menggandeng lengan pria itu dengan posesif. Sebelum fotografer menekan tombol rana, Hanum dengan gerakan yang sangat cepat dan elegan, mengeluarkan ponsel pintar iPhone 15 Pro Max miliknya dari dalam tas Chanel hitamnya.

​Klik! Klik!

​Hanum sengaja mengambil foto pernikahan siri antara Hanif dan Sarah langsung dari sudut pandangnya, memastikan wajah semringah Hanif, Sarah yang memegang buku nikah siri buatan, dan wajah culas Ibu Rahma terekam dengan sangat jelas dan beresolusi tinggi. Begitu gambar tersimpan, Hanum langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dengan gerakan anggun, tanpa ada yang menyadari bahwa foto itu baru saja dikirimkan ke ruang obrolan WhatsApp milik Pak Baskoro sebagai bukti tambahan yang tak terbantahkan untuk persidangan gugatan cerai dan pidana penelantaran anak yang sedang mereka susun.

​"Terima kasih," ucap Hanum pendek setelah satu kali jepretan kamera fotografer selesai. Dia langsung mundur dari barisan, menolak untuk berlama-lama berada di dalam pusaran energi norak tersebut.

​Setelah seluruh rangkaian acara di dalam aula selesai, keluarga besar Sarah dan Ibu Rahma berbondong-bondong menuju ke pelataran depan masjid yang memiliki tangga batu putih berlatar belakang kubah besar. Mereka ingin melakukan sesi foto luar ruangan yang lebih estetik untuk dipamerkan di media sosial kampung halaman.

​Hanum berjalan perlahan di belakang mereka, berniat untuk langsung menuju ke mobil Alphard miliknya yang sudah menunggu di gerbang masjid. Namun, langkah kakinya terhenti di batas suci selasar, tempat di mana para jemaah meletakkan alas kaki.

​Hanum menunduk, mengenakan kembali alas kakinya yang sejak tadi diletakkan di rak khusus. Itu adalah sepasang sandal slop berbahan kulit domba premium berwarna hitam dengan gesper logam berlapis emas berbentuk huruf H yang sangat ikonik sandal orisinal dari rumah mode Hermès seharga dua puluh lima juta rupiah yang dia beli saat perjalanan bisnis ke Italia tahun lalu. Sandal itu tampak begitu berkilau, bersih dan memancarkan kemewahan yang tenang di atas lantai marmer masjid.

​Pada saat yang sama, Ibu Sarah yang sedang sibuk merapikan kain brokat anaknya di tangga depan, tidak sengaja menoleh ke arah selasar. Matanya yang jeli langsung menangkap kilau logo emas di atas sandal yang sedang dipakai Hanum. Meskipun tidak tahu nama mereknya secara pasti, otak materialistis Ibu Sarah tahu betul bahwa barang yang melekat di kaki madu anaknya itu adalah barang yang harganya pasti setara dengan motor matic baru.

​Dengan urat malu yang tampaknya sudah putus akibat euforia pernikahan, Ibu Sarah melangkah lebar mendekati Hanum. Wajahnya yang menor dipenuhi senyum kepura-puraan yang sangat menjijikkan.

​"Aduh, Mbak Hanum..." sapa Ibu Sarah dengan suara yang cempreng, matanya terus melirik ke arah kaki Hanum tanpa berkedip. "Itu... sandalnya bagus sekali ya, Mbak? Mengkilap, warnanya juga cocok sekali kalau dipakai sama kebaya putih Sarah di depan tangga sana."

​Hanum tidak menyahut, dia hanya berdiri tegak, melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Ibu Sarah dengan pandangan mata yang sedingin es.

​Tanpa memedulikan tatapan mengintimidasi dari Hanum, Ibu Sarah justru melanjutkan kata-katanya dengan nada yang teramat tidak tahu malu. "Begini, Mbak... Sarah kan hari ini jadi ratu sehari, tapi tadi buru-buru dari rumah cuma pakai sandal selop kain yang payetnya agak copot di jalan. Kelihatannya kurang difoto kalau di tangga depan. Boleh tidak... kalau sandal yang Mbak Hanum pakai itu dipinjam sebentar untuk Sarah? Cuma buat sesi foto di depan masjid ini saja kok, Mbak. Lagian Mbak Hanum kan cuma berdiri menonton di pinggir, tidak ikut foto lagi. Kasihan Sarah, biar kelihatan mewah sedikit di foto pernikahannya. Sesama keluarga harus saling berbagi, kan?"

​Mendengar permintaan yang teramat picik, lancang dan tidak tahu malu itu keluar dari mulut seorang wanita yang baru saja menikahkan anaknya dengan suami orang, asisten pribadi Hanum yang berdiri di belakang langsung menarik napas tajam, bersiap untuk menegur. Namun, Hanum mengangkat satu tangan kanannya, memberi isyarat agar asistennya tetap diam.

​Di sinilah, untuk pertama kalinya di hadapan keluarga baru Hanif, Hanum memperlihatkan taringnya yang sesungguhnya. Kelas sosial, martabat, dan ketegasan seorang wanita mandiri berdarah dingin meluap dari dalam dirinya.

​Hanum tidak marah secara meledak-ledak. Dia justru mundur satu langkah, lalu menatap Ibu Sarah dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan yang begitu menusuk sumsum tulang. Sebuah senyuman dingin, sinis, dan penuh penghinaan terukir di bibir merah meronanya.

​"Meminjam sandal saya untuk anak Anda?" tanya Hanum, suaranya mengalun rendah, tenang, namun memiliki daya hancur yang luar biasa kuat hingga membuat Ibu Sarah seketika membeku di tempat.

​"I-iya, Mbak... cuma sebentar untuk foto..." jawab Ibu Sarah, mendadak gugup karena atmosfer di sekitar Hanum berubah menjadi begitu mencekam.

​Hanum terkekeh pelan, sebuah kekehan yang terdengar sangat merendahkan. "Ibu... dengarkan saya baik-baik. Sandal yang sedang saya injak di kaki saya saat ini adalah Hermes Oran Sandal kulit asli buatan tangan dari Eropa. Harganya dua puluh lima juta rupiah. Dan yang paling penting... ukuran kaki saya adalah tiga puluh delapan."

​Hanum memajukan tubuhnya sedikit, menatap tepat ke dalam manik mata Ibu Sarah dengan kilat mata yang tajam seperti belati. "Sementara anak Anda, Sarah... dari cara dia berjalan dan postur tubuhnya, ukuran kakinya jelas-jelas empat puluh. Kaki anak Anda terlalu besar, kasar dan lebar untuk bisa masuk ke dalam barang berkelas seperti ini. Jika dipaksakan... sandal mahal saya ini bisa rusak dan robek karena menahan beban yang bukan kapasitasnya."

​Wajah Ibu Sarah seketika berubah merah padam seperti udang rebus. Dia merasa seperti ditampar di depan umum dengan kata-kata yang begitu halus namun sangat menghina fisik dan kelas sosial anaknya.

​"Mbak Hanum... kok bicaranya begitu menghina? Sarah kan sekarang sudah jadi istri Hanif juga, jadi madu Mbak..." protes Ibu Sarah dengan suara yang mulai bergetar karena menahan malu dan amarah.

​"Madu?" Hanum menaikkan satu alisnya, lalu merapikan tas Chanel-nya dengan gerakan santai. "Status pernikahan siri di bawah tangan tidak akan pernah bisa mengubah kelas sosial seseorang, Ibu. Anda dan anak Anda bisa saja merebut sepotong daging busuk dari rumah saya, tapi Anda tidak akan pernah bisa menyentuh, apalagi meminjam barang-barang yang menjadi simbol kelas hidup saya."

​Hanum membalikkan tubuhnya, bersiap melangkah pergi, namun dia sengaja menoleh kembali ke arah Ibu Sarah yang masih berdiri kaku dengan wajah syok.

​"Sampaikan pada anak Anda dan juga pada Hanif... nikmati saja panggung sandiwara murahan kalian hari ini dengan baju brokat seragam itu. Dan tolong... jangan pernah lancang menyentuh apa pun yang melekat di tubuh saya. Karena dari awal... kelas kita memang sudah berbeda jauh. Selamat berfoto di atas tangga semen masjid dengan sandal kain Anda yang rusak."

​Tanpa menunggu jawaban atau makian dari Ibu Sarah, Hanum melangkah tegap meninggalkan pelataran masjid dengan suara ketukan sandalnya yang terdengar begitu tegas dan berwibawa di atas lantai marmer. Langkahnya begitu anggun, menuju mobil Alphard hitam yang pintunya langsung dibukakan oleh sang sopir dengan takzim.

​Hanum meninggalkan pelataran masjid dengan perasaan puas, tahu betul bahwa tamparan kelas yang baru saja dia berikan hanyalah sebuah hidangan pembuka kecil sebelum neraka kemiskinan dan jeratan hukum yang sesungguhnya menghancurkan total kebahagiaan semu Hanif dan Sarah mulai esok hari.

1
sunaryati jarum
Semoga prosesnya cepat sesuai harapan
Noey Aprilia
Reader aja ikutn jngkel tau ga....
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
Arin
Salah lawan nih......Hanif dimiskinkan semiskin miskinnya😁😁😁
Muft Smoker
gengsiny jgn byk2 kak tian ,, nnti org gx kebagian ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
meski kaku Dan dingiin ,, tp tian sosok laki2 yg tanggung jawab ,,
Noey Aprilia
Iye...iye....
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
Ma Em
Ternyata Hanif dan Bu Rahma itu sebenarnya dulunya orang miskin namun setelah menikah lagi Bu Rahma diangkat derajat dan jadi orang kaya dan terhormat dan kelakuannya jadi sombong dan sekarang Hanif dan Bu Rahma kembali ke awal lagi , semoga Hanum berjodoh dgn Tian karena Tian sdh menyayangi anak2 Hanum .
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Noey Aprilia
Mau heran,tp gtulh knytaannya....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
sat set 😍😍
Noor hidayati
anak anak hanum itu umur 9th apa 5th,kok tingkahnya kayak masih balita,kalau 9th kan berarti sudah kelas 3 SD
Noor hidayati
kembar telat itu apa ya,apa sama dengan kembar tidak identik
Himna Mohamad
good kkk
Muft Smoker
udh kak ,, hanum ma tian aj ,, meski kaku , dingiin , bak kulkas 100 pintu ,, tp Dari sikap ny dy begitu menghargai hanum , menyayangi si kembar ,, udh pas tuh jd bpa Dan suami idaman 👍👍👍😁😁😁😁
Muft Smoker
waah ad apa niih ,, tian klo suka jgn lama2 di pendam ,, takut keburu jdii Batu ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
susi ana
apakah nantinya Tian akan bersama Hanum?
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
blcak areng: makasih kakak🙏🙏
total 1 replies
Noey Aprilia
Mngknkh sbnrnya tian udh ska hanum dr dlu,cma dia mngalah dmi yg onoh???
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....
Noey Aprilia: Gabut.....🤣🤣🤣
total 2 replies
cinta semu 2
Hanif u sengaja gali lubang buat kematian u sendiri🤭
cinta semu 2
hanum kecerdasan u mampu membuat Hanif gila...🤣🤣🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!