NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reruntuhan

Suara deru mesin helikopter pemantau milik aparat penegak hukum berputar pelan di langit malam kawasan pelabuhan utara. Sorot lampu sorot raksasa berwarna putih terang membelah kegelapan, menyoroti kompleks gudang logistik bobrok tempat Viktor Tan dan seluruh jaringan sindikat bawah tahunannya baru saja runtuh dalam satu malam. Garis polisi berwarna kuning membentang panjang di sepanjang gerbang masuk, sementara puluhan petugas berseragam taktis sibuk mengamankan puluhan anggota sindikat yang terduduk lemas dengan tangan diborgol di atas aspal basah.

Di sudut agak jauh dari kerumunan petugas, sebuah mobil sedan hitam milik instansi kejaksaan agung terparkir tenang di bawah naungan lampu jalan. Di dalam kabin yang sejuk, Hartawan Kusuma duduk di kursi belakang sambil melipat kedua tangannya di atas lutut, menatap tajam ke arah pintu gudang tempat Viktor Tan digiring keluar dengan kepala tertunduk lesu di antara dua petugas bersenjata.

Pintu mobil sebelah kanan terbuka pelan. Seorang pria paruh baya berjas rapi—Kepala Divisi Khusus Investigasi Kejaksaan, Pak Baskoro—masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya rapat-rapat. Ia menghela napas panjang sebelum menoleh ke arah Hartawan dengan ekspresi wajah yang menyiratkan rasa takjub bercampur kelegaan yang luar biasa.

"Bagaimana situasinya, Baskoro?" tanya Hartawan tanpa mengalihkan pandangannya dari luar jendela. "Apakah seluruh dokumen transaksi dan data brankas utama milik Viktor berhasil diamankan?"

Pak Baskoro merapikan dasinya sejenak, lalu mengangguk mantap. "Semuanya lengkap, Tuan Hartawan. Tanpa kurang satu lembar pun. Salinan data digital yang masuk ke server kantor kami tadi malam bekerja bagaikan kunci master yang membuka seluruh brankas rahasia jaringan mereka. Mulai dari aliran dana pencucian uang, daftar pejabat korup, hingga sindikat penyelundupan internasional—semuanya terangkum rapi dalam satu direktori terenkripsi."

Hartawan tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang sudah lama tidak ia tunjukkan di hadapan publik. "Apakah tim forensik digital menemukan petunjuk mengenai siapa pihak anonim yang mengirimkan semua direktori peretasan itu tepat sebelum penggerebekan?"

Baskoro tersenyum masam, menggelengkan kepalanya perlahan. "Itulah bagian paling misterius dari seluruh operasi malam ini, Tuan Hartawan. Tim siber kami mencoba melacak balik sumber protokol peretasan tersebut hingga ke tingkat akar server global. Hasilnya? Nihil. Jejak digital itu terputus di sebuah titik virtual kosong yang seolah-olah dikendalikan oleh entitas kecerdasan buatan tingkat militer yang tidak kasat mata. Tidak ada nama, tidak ada rekam jejak identitas."

Hartawan terdiam sejenak. Ia tahu persis siapa dalang di balik "entitas tidak kasat mata" yang dimaksud oleh sang kepala divisi investigasi. Bayangan seorang remaja tujuh belas tahun dengan seragam sekolah rapi, sorot mata tenang, dan kecerdasan analitis yang melampaui batas nalar manusia melintas di benaknya.

"Terkadang, ada beberapa hal di dunia ini yang memang sengaja dibiarkan tetap menjadi misteri, Baskoro," ucap Hartawan pelan dengan nada penuh makna. "Yang terpenting saat ini adalah kanker yang menggerogoti urat nadi perekonomian kota kita telah dibersihkan sampai ke akar-akarnya."

"Anda benar, Tuan Hartawan," setuju Baskoro mengangguk hormat. "Kota ini akhirnya bisa bernapas lega setelah bertahun-tahun berada di bawah cengkeraman bayangan Viktor Tan."

Sementara itu, jauh dari hingar-bingar lampu sorot kepolisian dan investigasi kejaksaan di pelabuhan utara, suasana di dalam kamar sederhana Rian di rumah susun pinggiran kota terasa begitu hening dan damai.

Rian duduk bersila di atas lantai kayu kamarnya dengan punggung tegak lurus. Di sekeliling tubuhnya, pendar cahaya keemasan yang terang benderang berputar membentuk pusaran energi spiritual yang sangat tebal. Setiap kali ia menarik napas, udara malam di dalam ruangan bergetar hebat, memancarkan gelombang frekuensi tinggi yang menenangkan jiwa dan raga.

[ Pemberitahuan Sistem: Sinkronisasi energi inti kultivator purba mencapai 100%. ] [ Proses transisi pembersihan karma lingkungan selesai sepenuhnya. ] [ Akses Pelatihan Tingkat Kelima: Pemahaman Struktur Dimensi Makro dan Pengendalian Elemen Dasar Murni kini terbuka. ]

Serangkaian teks transparan berwarna keemasan itu melintas di retinanya, berkedip lembut sebelum perlahan memudar ke dalam kesadaran batinnya.

Rian membuka kedua matanya perlahan. Kilatan cahaya keemasan yang sangat tajam dan agung terpancar dari manik matanya, menerangi sudut-sudut kamar yang gelap gulita bagaikan kilat di malam hari, sebelum akhirnya meredup kembali menjadi warna hitam legam yang tampak sangat tenang dan dalam.

Ia menghembuskan napas pelan. Udara yang keluar dari bibirnya membentuk garis uap tipis berwarna putih keemasan yang langsung menguap di udara.

"Tingkat kelima..." bisik Rian seorang diri pada keheningan malam, suaranya terdengar begitu berwibawa dan penuh kedewasaan. "Hierarki kekuatan dunia fana ini ternyata hanyalah kulit ari dari hamparan semesta yang jauh lebih luas. Menjatuhkan sindikat seperti Viktor Tan hanyalah membersihkan debu kecil di atas meja kerja."

Ia meregangkan otot-otot tubuhnya sejenak, lalu bangkit berdiri dari posisi meditasinya. Ia melangkah mendekati meja belajar, merapikan beberapa buku catatan matematika dan lembar formulir olimpiade sains yang kemarin diserahkan oleh Maya. Di sudut meja, layar laptopnya menyala lembut, menampilkan pesan teks masuk dari Pak Darma yang mengucapkan terima kasih atas persiapan materi olimpiade untuk minggu depan.

Rian mengetikkan balasan singkat dan sopan, lalu menutup layar laptopnya.

Bagi Rian, kehidupan ganda sebagai seorang pelajar SMA biasa dan seorang kultivator tingkat tinggi bukanlah sebuah beban yang melelahkan, melainkan sebuah bentuk keseimbangan kosmik yang menarik untuk dijalani. Ia tahu bahwa setelah kejatuhan Viktor Tan, dinamika kekuasaan di kota ini akan mengalami pergeseran besar. Namun, selama ia memegang kendali atas jalan pikirannya sendiri, tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang dapat menggoyangkan prinsip hidupnya.

Keesokan paginya, matahari pagi bulan Oktober menyinari halaman kompleks SMA Bina Bangsa dengan hangat. Udara pagi terasa segar, membawa aroma dedaunan basah setelah sisa hujan gerimis semalam.

Suasana di koridor sekolah tampak jauh lebih hidup dan ceria dibandingkan minggu-minggu sebelumnya. Sejak berita mengenai tertangkapnya Viktor Tan dan runtuhnya jaringan sindikat korporasi bayangan menghiasi halaman utama seluruh surat kabar pagi ini, bayang-bayang ketakutan dan tekanan psikologis yang selama ini mencekam para siswa dan staf pengajar di SMA Bina Bangsa seolah-olah lenyap seketika bagai ditelan bumi.

Kelompok Kevin dan Bara tampak berjalan lesu di koridor utama lantai dua. Tidak ada lagi gelagat arogan atau tatapan meremehkan yang biasa mereka tunjukkan kepada siswa beasiswa. Sejak keluarga besar Surya kehilangan seluruh aset dan pengaruh politik mereka akibat terbongkarnya aliran dana ilegal, Kevin dan Bara kini berstatus sebagai siswa biasa yang harus berhati-hati dalam setiap tindakan agar tidak dikeluarkan dari sekolah.

Di sisi lain koridor, Rian melangkah tenang dengan tas ransel tersampir di bahunya. Mengenakan kemeja seragam putih bersih dan rompi almamater sekolah, kehadirannya kini tidak lagi dipandang sebelah mata. Beberapa siswa junior dan senior menyapanya dengan senyuman hormat dan binar kagum saat mereka berpapasan—sebuah perubahan sosial yang drastis, meskipun Rian sendiri menanggapinya dengan sikap biasa saja tanpa rasa besar kepala.

"Rian! Tunggu sebentar!"

Sebuah suara akrab memanggil namanya dari belakang. Rian menghentikan langkahnya dan menoleh. Maya berlari kecil menyusulnya dengan membawa setumpuk buku catatan fisika tebal di dadanya, napasnya sedikit tersenggal-sengah karena terburu-buru.

Begitu sampai di hadapan Rian, Maya tersenyum cerah, matanya berbinar antusias. "Syukurlah aku berhasil mengejarmu! Kau tahu berita utama koran pagi ini, kan? Seluruh jaringan kejahatan yang selama ini meneror kota kita akhirnya benar-benar dibongkar oleh pihak berwenang!"

Rian tersenyum tipis, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Ya, aku sempat melihat beritanya sekilas di ponsel tadi pagi. Berita yang cukup bagus untuk mengawali pekan ini."

"Bagus? Itu berita luar biasa!" sahut Maya dengan nada kagum yang tidak bisa disembunyikan. Ia menatap Rian lekat-lekat, lalu merendahkan sedikit suaranya. "Omong-omong... beberapa guru di ruang guru tadi pagi sempat berbisik-bisik. Mereka bilang, runtuhnya sindikat itu terjadi tepat setelah data digital rahasia mereka bocor secara misterius dari server pameran sains kita kemarin. Menurutmu, apakah itu ada hubungannya dengan peretas misterius yang sempat menyerang stan kita?"

Rian tetap mempertahankan ekspresi wajah yang datar dan tenang. Ia menatap Maya dengan sorot mata yang sulit ditebak. "Dunia digital memiliki hukum sebab dan akibatnya sendiri, Maya. Orang-orang yang terbiasa bermain api di dalam kegelapan pada akhirnya pasti akan terbakar oleh cahaya yang mereka coba padamkan sendiri."

Maya terdiam sejenak, meresapi kalimat filosofis yang diucapkan oleh teman sekelasnya itu. Meskipun Rian tidak pernah memberikan jawaban yang pasti atau menyombongkan diri, Maya selalu merasa ada keluasan wawasan yang luar biasa di balik setiap kata-kata pemuda di depannya.

"Kau selalu punya cara unik untuk menjelaskan hal-hal rumit dengan sangat sederhana, Rian," kata Maya tersenyum manis. "Oh ya, omong-omong soal olimpiade sains regional minggu depan, Pak Darma bilang beliau ingin kita mengadakan sesi latihan tambahan di laboratorium komputer lantai tiga setelah jam sekolah selesai hari ini. Apakah kau punya waktu luang?"

Rian mengangguk pelan. "Ya, aku punya waktu. Aku akan datang ke laboratorium setelah bel akhir pelajaran berbunyi."

"Hebat! Kalau begitu aku duluan ke kelas ya, sampai jumpa nanti!" ucap Maya riang, lalu berbalik melangkah cepat menuju ruang kelas 11-B di ujung koridor.

Rian memandang punggung Maya sejenak sebelum kembali melanjutkan langkahnya menyusuri koridor sekolah yang diterangi oleh cahaya matahari pagi yang cerah.

Di dalam dadanya, aliran energi Qi berputar selaras dengan detak jantungnya, memberikan ketenangan abadi yang tidak bisa digoyahkan oleh badai apa pun di dunia luar. Bagi Rian, perjalanan di sekolah ini hanyalah sebuah persinggahan sementara dalam bentangan waktu kultivasi spiritualnya yang tanpa batas. Namun, di tempat ini pula, ia belajar bahwa keadilan sejati bukanlah sesuatu yang datang begitu saja, melainkan sesuatu yang ditegakkan oleh mereka yang memiliki keberanian untuk berdiri tegak di tengah kegelapan.

Pintu kelas terbuka lebar menyambut langkah kakinya, menandakan dimulainya babak baru kehidupan yang tenang, penuh makna, dan berpijar di atas landasan kebijaksanaan yang kokoh.

1
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!