Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 - Pindah Rumah, Pindah Nasib
Malam itu, rumah mereka yang mungil dipenuhi suara tawa untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun.
Bapak bergegas pulang lebih dulu sambil membawa kabar kemenangan, dan ditertawakan Ibu karena ceritanya bertumpuk-tumpuk.
Bapak baru sampai di ambang pintu sudah membuka suara.
"Ratmi! Ratmi! Anak kita dapat empat ratus empat puluh satu!"
Ibu yang sedang mengaduk sayur hampir menjatuhkan sendoknya.
Dimas yang kebetulan pulang lebih awal ikut berdiri di tengah dapur, mendengar ulang cerita itu, lalu menepuk pundak adiknya dengan ringan.
"Baik, besok kau sekolah di SMA Nusantara 1 seperti rencanamu."
Malam itu Ibu memasak berlimpah: lima lauk, satu sup, hidangan yang bahkan jarang muncul saat hari raya.
Intan memandangi meja yang penuh itu, kemudian diam-diam menelan sejuta perasaan. Seperti biasa, satu tetes air mustika disisihkannya ke dalam panci sup sebelum dihidangkan, tersembunyi dari mata orang mana pun. Rahasia antara dirinya dan sumur kecil itu tetap menjadi rahasia.
"Besok kita punya tamu," kata Ibu tiba-tiba sambil menyendokkan nasi. "Bu Irma."
Suasana meja makan langsung hening sekejap.
Intan memutar-mutar sendok di atas piring, mencoba membayangkan wajah Bu Irma yang biasanya berapi-api itu ketika harus duduk berhadapan dengan mereka. Orang yang paling sering menyebut keluarga mereka miskin itulah yang sekarang harus menghadapinya sambil menyapa.
Ibu tertawa kecil dan menambahkan.
"Bukan untuk diajak makan. Dia hanya datang menengok dari jauh-jauh, katanya mau bertanya kabar. Sudah terbiasa, tiap keluarga kita dapat kabar baik, dia selalu datang lihat-lihat. Sekarang dia bingung bagaimana harus berkata. Keponakan yang dulu kukira sudah pasti melarat seumur hidup, ternyata juara satu se-kota. Hmm, malu, ya?"
Intan tersenyum getir.
Di seberang gang rumah mereka yang sempit, pintu besi Bu Irma tertutup rapat. Namun gosipnya selalu punya cara untuk berjalan lebih jauh daripada kakinya. Sejak sore tadi dia sudah dua kali lewat di depan rumah sambil pura-pura menjemur pakaian; matanya melirik-lirik ke arah mereka seperti seorang detektif yang sedang mengintai.
Besok dia pasti akan mengorek dengan nada manis, lalu sesudah itu menyebarkan kabar gembira itu dengan tambahan racun.
"Mana mungkin anak mereka dapat nilai setinggi itu? Pasti ada yang aneh."
Intan berhenti makan, lalu memandangi Bapak.
"Pak. Sebentar lagi usaha kita makin besar. Sudah waktunya kita memikirkan tempat tinggal yang lebih layak."
Bapak dan Ibu saling pandang. Dulu, pertanyaan semacam ini akan dijawab dengan dua pasang mata penuh tanya. Tetapi malam ini Bapak mengangguk.
"Iya. Tapi bukan sekali jadi. Kita pelan-pelan saja."
"Lambat-lama," Intan melanjutkan pelan, "keluar dari rumah sempit ini. Menjauh dari Bu Irma, jauh juga dari semua mata yang suka menghitung seberapa pantas kami ini. Kalau langkah kita sudah cukup jauh, kita bisa pindah."
Dimas menaruh sendoknya.
"Niat bagus, tapi jangan lupa sekolah. Kuliahku setahun lagi, dan kau di SMA. Kalau urusan mencari uang kalian sudah bisa, biaya sekolah jangan dicampur dengan urusan itu. Biarlah memang pusing, tetapi kita bertahan."
Ia tersenyum, lalu menatap Intan.
"Aku bangga punya adik pintar. Eh, bukan, punya adik juragan es campur."
Ia memberi isyarat jempol, lalu mengibaskan ujung rambutnya dengan gaya sok, membuat Ibu dan Bapak tertawa terbahak-bahak.
Mereka tertawa bersama-sama, dan Ibu terpaksa menutup telinga karena suaranya terlalu ramai.
Setelah piring-piring mulai kosong, Bapak mengambil selembar kertas dan pensil dari laci meja, lalu mulai menggambar angka-angka: modal mutiara, sewa pojok bulanan, ongkos teh, dan potongan untuk tabungan. Angka-angka itu adalah bahasa yang dulu hanya dikenal Intan dari buku.
"Kalau semacam ini," ujar Bapak sambil mengetukkan ujung pensilnya, "setahun lagi, semoga, kita sudah bisa mulai menyicil rumah kecil di sisi barat. Jauh dari lorong ini, tapi tidak terlalu jauh dari plaza."
Malam itu, sejak makan malam sampai keheningan kamar, pikiran Intan dipenuhi nama-nama kampung yang lebih dekat ke pusat kota: kampung yang dihuni para pelajar dan pekerja, dengan gang yang lebih luas, dengan mata yang lebih sedikit. Di lantai atas, Dimas sudah menutup buku; Intan mendengar suara kasurnya bergesek sebelum lampunya padam.
Intan menghitung di bawah selimut: kapan gerobak itu berubah menjadi kedai, kapan kedai itu berubah menjadi sesuatu yang lebih besar, dan jalan itu hanya bisa ditempuh dengan satu-satunya tanah aman yang dimilikinya, air mustika di punggung tangannya, sebanyak yang diperlukannya, sejumlah yang tidak mencurigakan.
Pagi-pagi keesokan harinya, sebelum matahari jadi terik, Intan bangun lebih dulu dari semuanya.
Intan menumpuk perlengkapan gerobak satu per satu: ketel, sendok panjang, wadah mutiara, dan botol kecil berisi air mustika.
Sambil memeluk termos teh yang masih hangat, ia bergerak ke arah pintu.
Di balik pintu itu, sebuah bungkus kecil berisi sepotong kue apem menunggu, tebakan siapa yang bangun lebih dulu untuk menyiapkan sarapan.
Enak sekali. Intan menyeringai, mengemas setengahnya ke dalam bekal, lalu melangkah ke Plaza Cendrawasih dengan langkah yang sama seperti biasa.
Bapak menyusul di belakang dengan mengayuh sepeda tuanya, sambil mengantar teh dan beras bumbu.
Ketika mereka lewat di depan rumah Bu Irma, pintu besi itu terbuka sedikit. Bu Irma menjulurkan kepalanya, seakan ingin melontarkan sesuatu, tetapi sebelum mulutnya terbuka Bapak tersenyum dan mengangkat tangan.
"Selamat pagi, Bu. Kabar baik ya, anak kami masuk SMA Nusantara 1."
Bu Irma mengunci bibir, menarik kepalanya kembali seperti siput yang tersentuh, lalu berbalik dan menutup pintu tanpa berkata apa-apa. Ada suara gumaman kecil dari balik pintu, tetapi pintu itu tidak terbuka lagi.
Intan mengayuh di samping Bapak, dan untuk pertama kalinya merasa bahwa kampung kecil ini tidak akan pernah menelan mereka kembali seperti dulu.
Rumah tua yang sempit itu masih rumah mereka sekarang, tetapi di ujung jalan yang sedang mereka susuri ada rumah yang lebih lapang: rumah yang akan mereka beli dengan keringat, dengan air mustika, dan dengan angka empat ratus empat puluh satu yang kini mengantar langkah mereka ke SMA Nusantara 1.
Pindah rumah, pindah nasib. Semua pasti berjalan seiring, asal kaki mereka tidak berhenti melangkah.
Namun di atas semua itu, yang sedang mereka petik hari ini adalah rasa yang tidak dibeli oleh uang mana pun: kepercayaan keluarga yang sedang pulih, satu per satu.
Gerobak es campur di plaza, ujian masuk SMA se-kota, dan selembar kertas berangka-angka di tangan Bapak, semuanya menuju ke satu arah yang sama: sebuah pintu yang akan mereka buka sendiri, tanpa bersandar pada siapa pun.
Pagi itu, sebelum kendaraannya menghilang di ujung jalan, Bapak menoleh sekali ke belakang dan tersenyum besar. Dulu, di tempat yang sama, mereka hanya bisa bertahan. Sekarang mereka sedang berjalan menuju sesuatu yang lebih besar, dan untuk pertama kalinya langkah itu terasa ringan.