Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Yuxin kembali ke kamarnya bersama Xiao Yan.
Begitu pintu tertutup rapat, Xiao Yan langsung menghela napas lega, seperti baru saja menahan napas sejak tadi. "Nona benar-benar hebat! Bai Hui langsung diam seribu bahasa tadi."
Yuxin duduk di depan meja rias, menatap bayangannya sendiri di cermin perunggu. "Itu baru peringatan kecil, Xiao Yan. Bai Hui masih akan mengulanginya lagi, kalau dia tidak benar-benar takut."
"Kenapa Nona bilang begitu?"
"Karena dia tidak bertindak atas kemauannya sendiri," jawab Yuxin, mengambil sisir dari meja rias dan mulai merapikan rambutnya sendiri, menolak halus saat Xiao Yan hendak membantunya. "Seorang dayang tidak akan berani memprovokasi tuan rumah tanpa dorongan, kecuali dia yakin betul tuannya akan melindunginya. Bai Hui hanya alat. Yang perlu aku waspadai adalah tangan yang menggerakkannya."
Xiao Yan duduk di tepi ranjang, memperhatikan Yuxin dengan seksama. "Nona pikir, Nona Ruoxi sengaja menyuruhnya?"
"Tidak perlu disuruh secara langsung," Yuxin meletakkan sisirnya, menatap pantulan dirinya sendiri lekat-lekat. "Cukup dengan membiarkan dayangnya tahu, bahwa menyerangku tidak akan berakibat apa-apa baginya. Itu sudah cukup untuk membuat orang seperti Bai Hui merasa aman melakukannya."
Dia berbalik menghadap Xiao Yan, ekspresinya melunak sedikit. "Tapi jangan khawatir. Aku tidak butuh waktu lama untuk mengenali pola semacam ini."
Xiao Yan menatapnya dengan kagum sekaligus bingung. "Nona benar-benar hebat bisa membaca situasi, Nona terlihat jauh lebih dewasa dan jauh lebih seperti Nona bangsawan sesungguhnya... Seperti sudah mengalami banyak hal. Padahal sebelum Nona masuk kesini sudah banyak rumor menyebar di kediaman ini... bahwa Nona wanita tidak berpendidikan dan mudah untuk di tindas."
Ucapan itu membuat dada Yuxin sedikit tercekat. Xiao Yan tidak tahu betapa dekatnya dia dengan kebenaran, bahwa gadis di depannya ini memang sudah mengalami banyak hal, hanya saja di kehidupan yang berbeda, di garis waktu yang tidak akan pernah dia ingat.
"Mungkin karena aku sudah cukup lama hidup jauh dari kenyamanan," jawab Yuxin akhirnya, memilih jawaban yang aman namun tidak sepenuhnya bohong. "Itu mengajarkanku untuk melihat sesuatu lebih dalam daripada yang terlihat di permukaan."
Xiao Yan mengangguk pelan, meski matanya masih menyimpan rasa penasaran yang tidak terucap. "Kalau begitu, Nona istirahatlah dulu. Saya akan menyiapkan air hangat untuk Nona."
Setelah Xiao Yan keluar, Yuxin menatap jendela kamarnya, memandang langit senja yang mulai berubah warna. Di kejauhan, dia bisa melihat siluet paviliun tempat Chen Ruoxi tinggal, lampu-lampunya baru saja dinyalakan satu per satu oleh para pelayan.
Nikmati saja rumah ini selagi kau bisa, Chen Ruoxi, batinnya dingin. Karena aku baru saja mulai menghitung setiap langkahmu.
Tak lama kemudian, Xiao Yan kembali setelah m3nyiapkan air hangat untuk Yuxin mandi.
Tepat saat itu, seorang pelayan dari paviliun Nyonya Su datang mengetuk pintu. Wanita itu melangkah masuk dengan kepala tegak, tidak menundukkan sedikit pun, dan tidak memberi salam hormat seperti seharusnya seorang pelayan kepada nona besar.
"Nyonya Su menyuruhku menyampaikan," ucapnya datar, nadanya angkuh, "akan diadakan pesta penyambutan untuk Nona Yuxin, sekaligus memperkenalkan Nona pada kalangan atas."
Yuxin memperhatikan sikap pelayan itu dengan saksama, cara berdirinya, cara bicaranya, seolah dia sedang menyampaikan pesan kepada seseorang yang setara, bukan kepada putri sulung keluarga Lin. Di kehidupannya yang dulu, ia akan memaklumi sikapnya itu tapi kali ini ia tidak akan membiarkannya.
"Kapan pestanya akan diadakan?" tanya Yuxin tenang, tidak menunjukkan reaksi atas sikap kurang ajar itu.
"Tiga hari lagi," jawab pelayan itu singkat, matanya bahkan tidak sepenuhnya menatap Yuxin, melainkan mengedar ke sekeliling kamar seolah menilai-nilai. "Nyonya Su ingin Nona bersiap dengan baik."
"Baiklah. Sampaikan terima kasihku pada Nyonya Su."
Pelayan itu mengangguk sekilas, tanpa membungkuk, hanya anggukan kecil yang nyaris tidak sopan lalu berbalik hendak pergi tanpa menunggu diizinkan undur diri.
Xiao Yan yang sejak tadi berdiri kaku di sudut ruangan langsung mendekat, wajahnya memerah menahan kesal. "Nona! Apa Nona lihat sikapnya? Dia bahkan tidak membungkuk sama sekali! Itu sangat tidak sopan!"
"Tunggu!"
Suara Yuxin tidak keras, tapi cukup tegas untuk menghentikan langkah pelayan itu di ambang pintu.
Xiao Yan yang sejak tadi menahan kesal, langsung menoleh dengan mata berbinar penuh harap.
Pelayan itu berbalik perlahan, alisnya sedikit terangkat, seolah heran ada yang berani menahannya. "Ada apa lagi, Nona?"
"Siapa namamu?" tanya Yuxin, suaranya tenang namun dingin.
Pelayan itu terdiam sejenak, tidak menyangka akan ditanyai seperti itu. "Aku... Xu Tian, Nona."
"Xu Tian," Yuxin mengulang nama itu perlahan, seolah menyimpannya baik-baik dalam ingatan. "Sejak kapan seorang pelayan di rumah keluarga Lin terbiasa menyampaikan pesan tanpa memberi salam kepada tuannya?"
Wajah pelayan sedikit berubah, namun dia masih berusaha mempertahankan sikap angkuhnya. "Aku hanya menyampaikan pesan dari Nyonya Su, Nona. Tidak ada maksud lain."
"Aku tidak bertanya soal maksudmu," jawab Yuxin, bangkit berdiri perlahan, langkahnya mendekat dengan tenang namun penuh tekanan. "Aku bertanya soal tata krama. Atau mungkin, di paviliun tempat kau biasa mengabdi, tidak ada yang mengajarkanmu cara memberi hormat pada putri sulung keluarga ini?"
Pelayan itu mulai gelisah, matanya melirik ke arah pintu, seolah mencari jalan keluar dari situasi yang tiba-tiba berubah ini. "Aku... aku minta maaf, Nona. Aku tidak bermaksud kurang ajar."
"Berlutut," ucap Yuxin singkat.
Pelayan itu tersentak. "Nona?"
"Kau dengar aku," Yuxin mengulang, nadanya tidak naik sedikit pun, namun terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. "Berlutut, dan sampaikan permintaan maafmu dengan benar. Atau haruskah aku yang melapor langsung pada Ibu, bahwa pelayan dari paviliunnya sendiri tidak tahu cara menghormati anggota keluarga Lin?"
Ancaman itu, meski diucapkan dengan tenang, cukup untuk membuat pelayan itu akhirnya berlutut di lantai, kepalanya tertunduk dalam. "Hamba mohon maaf, Nona Yuxin. Hamba khilaf."
Yuxin menatapnya beberapa saat, membiarkan keheningan itu berlangsung cukup lama untuk terasa menekan. "Aku maafkan kali ini. Tapi ingat baik-baik... tidak peduli dari paviliun mana kau berasal, atau siapa yang biasa kau layani, kau tetap berada di bawah atap keluarga Lin. Dan aku, adalah putri keluarga Lin yang sesungguhnya di rumah ini."
"Hamba mengerti, Nona. Sekali lagi, hamba mohon maaf." Pelayan itu bangkit perlahan, kali ini membungkuk dalam-dalam sebelum benar-benar undur diri, langkahnya jauh lebih tergesa dari saat dia masuk.
Begitu pintu tertutup, Xiao Yan menghambur mendekat, wajahnya berseri-seri. "Nona benar-benar hebat! Aku tidak menyangka Nona akan bersikap setegas itu!"
Yuxin duduk kembali, menghela napas pelan. Ada kepuasan kecil yang menjalar di dadanya, bukan karena kemenangan atas seorang pelayan rendahan, tapi karena ini adalah langkah pertama. Langkah kecil untuk menunjukkan, kedudukan nya lebih tinggi dari para pelayan dan dari Ruoxi.
"Ini baru permulaan, Xiao Yan," ucapnya pelan. "Aku ingin semua orang di rumah ini, perlahan-lahan, belajar untuk tidak meremehkanku lagi."