Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Gemerlap lampu Jakarta malam itu tampak seperti hamparan berlian yang berserakan di atas kain beludru hitam.
"Indah sekali" gumam langit.
Pemandangan dari dinding kaca penthouse mewah miliknya begitu memukau.
Namun, fokus Langit malam itu teralih oleh sosok yang berdiri di dekat jendela besar tersebut.
Bumi berdiri di sana, memandang ke luar. Di tangannya mencengkeram sebuah cangkir keramik tipis berisi kopi instan saset yang dibawanya sendiri.
Pemandangan itu terasa kontras dan sedikit menggelitik bagi Langit.
Interior ruangan ini serba minimalis modern dengan furnitur italia bernilai ratusan juta, namun Bumi tetap setia dengan kopi warung andalannya.
"Laki-laki yang unik, dan aku_" seketika langit menghentikan kata-katanya, dia tak percaya kalau tanpa sadar akan mengatakan suka, bahaya!, batinnya.
Langit memperhatikannya dari sofa kulit abu-abu. Pemuda yang kini berstatus sebagai calon suaminya itu dulunya hanya seorang montir di bengkel motor pinggir jalan.
Teringat akan kenangan pertama bertemu, dan juga saat berlarian menghindari kejaran preman yang akan mengeroyoknya.
"Saat-saat yang menegangkan dan menyenangkan" gumamnya pelan.
Pakaiannya dulu selalu bernoda oli, tetapi entah mengapa, pembawaan Bumi selalu sangat tenang, tidak ada rasa canggung atau minder yang terpancar dari dadanya yang tegap.
Langit berdiri, melangkah mendekati Bumi yang mulai bergerak menuju lorong kamar tidur.
Langkah kaki mereka membawa keduanya berhenti tepat di depan pintu kamar masing-masing yang saling berhadapan.
"Bumi," panggil Langit, memecah keheningan koridor.
Bumi menoleh, menaikkan sebelah alisnya. "Ya?"
"Aku cuma mau menegaskan satu hal lagi, aku berharap kita di sini bisa menjaga privasi masing-masing, walaupun kita berada di bawah satu atap, urusan pribadi tetap jadi batas suci. Kamu paham, kan?" ucap Langit datar, mencoba terdengar tegas.
Bumi tersenyum tipis. Senyuman itu seketika mengubah wajah garangnya dengan rahang tegas dan tatapan tajam menjadi terlihat sangat manis.
"Tentu saja. Aku akan melakukan hal itu. Kamu tenang saja, Langit,"
jawab Bumi dengan suara baritonnya yang meneduhkan.
Sudah hampir satu minggu Bumi tinggal di penthouse tersebut. Namun, malam ini terasa sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Mengapa? Karena sebuah surat kontrak pernikahan enam bulan baru saja ditandatangani oleh mereka berdua beberapa saat yang lalu.
Ada ikatan hukum baru yang mengikat mereka, membuat atmosfer di dalam rumah terasa sedikit canggung sekaligus mendebarkan, itulah yang dirasakan Langit dan juga Bumi.
Langit masuk ke kamarnya, mencoba memejamkan mata.
Beberapa saat kemudian,
Jam digital di nakas menunjukkan pukul dua dini hari ketika ia mendadak terjaga, tenggorokannya terasa sangat kering. Ia meraih botol air di meja nakas, tetapi kosong.
Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Langit bangkit dari tempat tidur.
Suasana penthouse sangat gelap karena semua lampu utama sudah dimatikan.
Saat melangkah di koridor atas menuju tangga bawah, telinga Langit yang sensitif menangkap sebuah suara gemerisik dari arah dapur lantai bawah.
Ada orang? pikir Langit seketika panik. Kepalanya yang masih mengantuk lupa total kalau dia tidak lagi tinggal sendirian di ruangan luas ini. Dia lupa ada Bumi.
Jantung Langit berdegup kencang. Ia meraba dinding dapur, tangannya tidak sengaja menyentuh gagang tongkat sapu yang tergeletak di dekat lemari penyimpanan.
Dengan memegang erat sapu tersebut, Langit bergerak pelan, menjinjit tanpa suara.
Di dekat dapur yang remang-remang, Langit menyadari ada bayangan hitam yang tinggi dan besar.
Jiwa pertahanannya mendadak aktif, tanpa berpikir panjang, Langit mengangkat tongkat sapu itu tinggi-tinggi.
"Rasakan ini, penyusup!" teriak Langit histeris sambil mengayunkan sapu ke arah bayangan itu.
Brakk! Pletak!
"Aduh! Hei! Apa-apaan ini?!" sebuah suara berat mengerang kaget dan kesakitan.
Ternyata pukulan sapu itu mengenai pundak tegap orang tersebut. Orang itu tak lain adalah Bumi yang tengah memegang segelas air dingin.
Akibat serangan mendadak dari Langit, gelas di tangan Bumi terguling.
Air es di dalamnya tumpah ruah, langsung membasahi seluruh bagian depan kaus oblong tipis yang dikenakan Bumi.
"Shit!, apa yang kamu lakukan?" Bumi merasa dadanya begitu dingin dan mengibaskan kaosnya sebentar.
Malam yang semula sunyi senyap seketika penuh dengan keramaian dan kehebohan.
"Maling! Ada maling besar di rumahku!" pekik Langit panik, bersiap mengayunkan sapunya lagi ke arah kepala Bumi.
Melihat kepanikan Langit yang sudah tidak terkendali, Bumi bertindak cepat.
Dengan gerakan tangkas mantan anak jalanan, ia maju selangkah dan langsung mendekap tubuh Langit.
Tangan besar Bumi membekap mulut Langit dengan pelan namun kuat agar pekikan langit itu tidak membangunkan pihak keamanan gedung.
"Sstt! Tenang, Langit! Ini aku, Bumi! Bukan maling!" bisik Bumi tepat di telinga Langit, mencoba menenangkannya.
Napas Langit memburu. Ia terpaku diam saat menyadari wangi maskulin yang familier menyerbu indra penciumannya. Namun, kesadaran lain mendadak menghantam kepala Langit.
Karena tubuh mereka kini berhimpitan sangat rapat, Langit bisa merasakan kelembapan yang dingin.
Mata Langit perlahan turun. Karena kaus putih Bumi basah kuyup akibat tumpahan air es tadi, kain tipis itu melekat sempurna pada kulitnya.
"Ya Tuhan, pemandangan apa ini" batinnya, dan jantungnya mulai berdetak kencang.
Dada bidang, lekuk otot perut yang keras, dan proporsi tubuh Bumi yang atletis tercetak dengan sangat jelas di depan mata Langit.
Seketika itu juga, sebuah pikiran liar muncul di kepala Langit. Wajahnya mendadak memanas, memerah padam sampai ke telinga.
"Tidak_tidak, jangan berpikir macam-macam langit!" Bibir langit komat Kamit sambil memejamkan matanya.
"Hei, kau tidak apa-apa?" Suara Bumi entah kenapa begitu lembut terdengar oleh Langit.
"Hem, bisa tolong menjauh dariku?" Perlahan langit membuka matanya.
Bumi yang merasa Langit sudah tenang perlahan benar-benar melepaskan bekapannya. "Kamu sudah sadar? Aku cuma mau ambil minum"
Belum sempat Bumi menyelesaikan kalimatnya, Langit langsung berbalik dengan gerakan patah-patah.
Ia tidak berani menatap dada Bumi lagi. Dengan langkah seribu, Langit berlari kencang menaiki anak tangga menuju kamarnya, sambil berteriak_
"Maaf! Maafkan aku! Aku lupa kalau kamu tinggal di sini!" Langit histeris dari kejauhan sebelum terdengar suara pintu kamar yang dibanting dengan sangat keras.
"Apa-apaan dia?" Sejenak Bumi mengerutkan keningnya, berpikir keras melihat keanehan tingkah langit yang lari tunggang-langgang begitu saja.
Di dapur yang remang-remang, Bumi yang ditinggalkan sendirian hanya bisa menghela napas panjang.
Ia menatap kausnya yang basah kuyup, lalu melihat ke arah tangga atas tempat Langit menghilang.
"Dasar wanita aneh"
Sebuah senyuman geli kembali terbit di wajah garangnya.
"Katanya suruh jaga privasi masing-masing," gumam Bumi pelan sambil menggelengkan kepala, bersiap membersihkan kekacauan di lantai dapur malam itu.
Sementara di kamar yang lain, langit sudah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, berusaha memejamkan mata namun pada akhirnya malah terlihat pemandangan indah dada bidang Bumi.
"Akh!" Langit berteriak kesal malam ini.
Jangan lupa Komen ya, LIKE dan HADIAH nya.