Time travel seorang gadis yang terpeleset di acara festival lampion kampus.
Karya Fantasi kedua setelah Petualangan Mayanza, semoga berkenan di baca tiap episode nya... 🤍😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuat Syair
"Xiu Ren, ibu tidak yakin kau akan berhasil, tapi coba saja dulu" kata Ibu Xiu Ren.
"Akan aku coba Ibu..." kataku penuh semangat.
"Tandumu sudah menunggu nak...berdoa dan berhati-hatilah" Kata Ayah Xiu Ren.
Mereka sangat khawatir pada nasib Xiu Ren, untuk menulis dan memabaca saja Xiu Ren sangat kurang, karena sebelum menjadi Mentri, Ayah Xiu Ren adalah seorang bangsawan di kampung, dengan kekayaan hasil perdagangannya yang luas, Xiu Ren kecil sering ditinggal dan tidak di perhatikan.
Perkerjaannya hanya bermain, belajar melukis dan melakukan kegiatan wanita bangsawan pada umumnya.
Saat pindah ke Ibukota semuanya berubah, Xiu Ren remaja harus berlatih lebih keras, namun karena dia baru belajar banyak hal yang tidak dia ketahui tentang Ilmu Pengetahuan dan Sastra.
Aku menaiki tandu tiba di Istana.
Putri Ang lebih dulu datang, dia mengenakan pakaian berwarna ungu dan putih, Putri Nay datang bersamaan denganku dengan pakaian berwarna Kuning Biru, dan Aku mengenakan Pakaian Putih corak bunga sakura di bagian rok panjang, rambutku di hias dengan hiasan rambut bunga berwarna merah, harapan Ibu aku tampil dengan berani di hadapan ahli sastra Istana.
Penampilan yang terbaik, itu pesan Ibu.
Sesuai urutan pemenang hari kemarin, kami tampil membacakan puisi hari ini.
"Yang Pertama Putri Xiu Ren, Putri dari Mentri Keuangan, dipersilahkan mengambil kertas untuk merangkaikan puisi dari kata-kata yang di persiapkan" kata Kepala Dayang Istana.
Aku memberi hormat dan mengambil lembaran kertas.
Aku menoleh sejenak melihat Dayang May, dia tersenyum dan memberiku semangat
.
Kertas kubuka "Aliran Air" kataku membaca pelan.
Aku berpikir...
Semua mata memandangku, ayahku gugup melihatku.
Dia yakin, aku pasti tidak bisa.
Aku mulai..berkata dengan lantang..
"Angin bertiup dari Istana Timur...
Mengajak daun layu berterbangan...
Tanpa menoleh lagi untuk kembali...
jatuh ke Aliran Air menuju Barat...
daun layu berganti bunga...
Bunga bersemi di waktunya mekar
Saat aliran air jernih hujan menyentuh bumi
membawa bunga-bunga cantik menjadi segar"
Ucapku lalu menunduk.
Ayahku takjub...
Dia langsung berdiri, sangat terkejut...
Apakah benar itu putrinya Xiu Ren.
"Putriku..." kata Ayahku, semua bertepuk tangan.
Pangeran Fang menatapku tersenyum.
Aku duduk dengan sombong sekarang.
Tatapan gadis lain yang meremehkanku sepertinya berganti menjadi riuh pujian.
"Nona...kau berhasil...kau hebat Nona" kata dayang May.
Kali ini aku berhasil lagi menang dalam lomba mendapat dua poin penuh.
dari tiga babak dan satu bonus pemenang gadis pembawa lentera.
**
Aku berjalan menunggu di lorong Istana, dayang pergi sebentar memanggil pembawa tandu.
Tanganku di tarik.
"Jangan berusaha untuk menang" kata Pangeran Fang.
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Kau terlihat sangat bodoh" kata Pangeran Fang.
Aku melepaskan tangannya.
"Kalau aku terlihat sangat bodoh tapi aku mampu, kau mau apa?" tanyaku.
"Jadi kau benar-benar menginginkan menjadi permaisuri?
gadis sepertimu tidak akan tahan hidup di istana" katanya tegas tatapannya tajam.
Dalam hati aku berpikir, apa dia melakukan ini juga dengan wanita yang lain.
"besok pagi aku akan pergi berperang, jangan berharap mencari perhatian lagi" kata Pangeran Fang.
Memangnya hidup Xiu Ren selama ini mencari perhatian.
"Nona...nona Xiu?." panggilan Dayang May.
Aku berbalik dan Pangeran Fang, pergi meninggalkanku.
Pergelangan tanganku sakit.
Aku pergi ikut Dayang menuju tandu kembali ke Kediaman Mentri.
**
Ibu dan Ayah bersorak dengan gembira.
"Ayah tidak menyangka anakku...ayah sangat bangga" kata Ayah Xiu Ren memelukku.
"Ibu tidak menyangka, tidak sia-sia kau menjadi pemenang, putriku takdirmu memang menjadi permaisuri istana" kata Ibu Xiu Ren.
Aku hanya mengangguk-angguk anggaplah aku setuju.
walaupun dalam hati aku harus kembali ke duniaku.
Aku masuk ke kamar berganti pakaian, berpikir apa maksud pangeran Fang.
Besok hari istirahat ujian di Istana aku bisa bersantai, jalan-jalan keliling kota.
**
"Nona, kita tidak bisa melakukan ini, terakhir kita ketahuan Nona dikurung di kamar" kata Dayang May
"
Tenang saja, kali ini pasti tidak ketahuan" kataku
"Nona, kau sedang dalam masa ujian menjadi calon istri Putra Makhkota kalau sampai Tuan dan Nyonya tau kita berdua pasti akan mendapat hukuman" kata Dayang mencegahku menaiki pagar.
Dayang mondar mandir menengok kesana kemari karena khawatir ketahuan.
Aku akhirnya melompat keluar pagar, menunggu di bawah pohon sementara dayang keluar lewat gerbang agar tidak mencurigakan.
Aku dan Dayang May berhasil keluar rumah, kami berbelanja jepitan rambut, makanan dan bermain di taman.
Dengan uang yang banyak, aku bisa sepuasnya berbelanja.
Tempat ini sungguh berbeda dari tempatku, dimana aku harus banyak berhemat uang, karena kedua orang tuaku membuangku menganggap aku adalah seorang pembangkang.
Aku tidak mau sekolah bisnis seperti yang mereka inginkan, kuliah seni yang menurut mereka tidak membanggakan mereka suatu hari kelak.
"Nona melamun, memikirkan apa?" tanya Dayang May, sambil mengayunkanku di ayunan.
"Tidak...." kataku tersenyum melihat ke arahnya.
Aku terkejut melihat pria yang berdiri di belakangnya, melompat dari ayunan yang sedang berayun.
Brakkkk....aku terjatuh ke tanah.
"Nona, kenapa nona melompat?" tanya Dayang May dengan cepat berlari ke arahku.
Lututku sakit sekali, sementara Pria itu malah tertawa.
"Kenapa kau disitu?" kataku pada Pangeran Fang yang sedang tertawa.
"Sangat lucu, seperti katak melompat" kata Pangeran Fang.
Dayang memapahku berdiri.
Lututku berdarah
"Bukankah kau bilang kemarin, hari ini kau berangkat berperang. Kenapa tidak berangkat sana" aku mengibas-ngibaskan tanganku yang penuh pasir.
Dayang terkejut dengan keberanianku, tangan Dayang gemetar.
"Hei! beraninya mengusirku" kata Pangeran Fang maju mendekat ke arahku, dia di temani pengawal namun pengawalnya duduk jauh di bawah pohon.
"Aku tidak mengusir,
Ayo dayang kita pulang" kataku pada Dayang May.
Dayang mengangguk setuju.
kakiku sangat sakit, sepertinya keseleo parah karena sebelumnya juga pernah jatuh.
"Kemari..." kata Pangeran Fang mengikuti langkahku, menyingkirkan tangan Dayang May.
Dayang May mundur.
Pangeran Fang menggendongku berjalan ke bawah pohon,
Melihat luka kakiku.
Lututku berdarah, "Dayang carilah obat luka untuk Nona mu ini" kata Pangeran Fang.
"Baik, Pangeran" kata Dayang May dengan patuh meninggalkan.
Hanya ada aku dan Pangeran Fang yang duduk di samping serta Pengawal yang jaraknya agak jauh.
"Kau kabur dari rumah? sudah sesore ini?" kata Pangeran Fang.
"Jangan terlalu perhatian padaku" jawabku.
Pangeran Fang menatapku heran, "Sebelumnya kau pemalu dan selalu menghindar, juga nampak bodoh" kata Pangeran Fang ketus.
Benar-benar menghina Xiu Ren, "Ini sifat asliku" kataku menatapnya sambil gemetar menahan sakit.
Air mataku keluar, Dayang May belum datang membuatku gelisah.
Pangeran Fang mengeluarkan saputangan, mengusap air mataku.
Saputangan bersulam bunga melati, seingatku ini saputangan sulamanku, ada noda darah di beberapa bagian saputangan.
"Ini saputangan sulamanku kan" aku menyentuh tangan Pangeran Fang.
Pangeran Fang lekas merebutnya dari genggamanku dan memasukan lagi ke sakunya.
"Aku hanya menggunakan yang di siapkan istana" katanya lagi memadang ke arah lain.
Dayang berlari datang, luka di kakiku di obati dan di perban.
"Kau bisa pulang, hari sudah sore dan mendung" kata Pangeran Fang.
Aku bangkit berdiri, berjalan di papah Dayang May.
Pengawal mengambil kuda Pangeran Fang, mereka juga akan segera kembali ke Istana.
Bersambung...