6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 - BALAI DESA TANPA BAYANGAN
Gapura kayu itu masih berderit terbuka sendiri. Tidak ada angin, tidak ada yang mendorong. Kayu lapuk itu bergerak pelan seperti ada tangan tak terlihat yang membukakannya untuk kami.
Nenek tua di depan masih melambai. Senyumnya lebar, tapi matanya kosong tidak berkedip.
"Ayok masuk, anak-anak. Sudah kami tunggu dari tadi," ucapnya lagi. Suaranya pelan tapi jelas terdengar padahal jarak kami masih seratus meter.
Kami berenam saling pandang. Tas di punggung terasa semakin berat. Kaki gue seperti dilem ke tanah, tidak mau melangkah.
Farhan yang tadi banyak bercanda sekarang diam pucat. Riko yang biasanya paling berani, tangannya gemetar memegang kamera sampai hampir jatuh. Sinta sudah mau nangis, memeluk lengan Maya erat-erat.
"Gimana Sel? Kita masuk nggak?" bisik Bima pelan ke gue. Sebagai ketua, semua mata tertuju ke gue.
Gue menarik nafas panjang. Kalau kita balik sekarang, kita tidak punya kendaraan, Pak Jono sudah pergi dengan mobil bak nya, dan KKN kami akan gagal. Pak Dosen pasti marah. Gue coba beranikan diri.
"Assalamualaikum, Nek. Kami dari KKN Universitas," sapa gue dengan suara yang gue paksa ramah, sambil melangkah pelan mendekati gapura.
Semakin dekat, semakin jelas keanehan mereka. Enam warga itu pakai baju yang sangat lusuh, seperti baju lama tahun 80-an. Kulit mereka pucat abu-abu. Dan yang paling jelas, mereka tidak punya bayangan. Matahari jam 12 siang tepat di atas kepala, tapi tanah di bawah kaki mereka kosong, tidak ada bayangan hitam sama sekali, padahal bayangan kami panjang dan jelas.
Nenek itu mengangguk, "Waalaikumsalam. Saya Nek Jum. Ini warga Desa Kalijati. Balai desa sudah kami siapkan untuk kalian tinggal."
Nenek itu berbalik, jalan duluan. Lima orang di belakangnya mengikuti tanpa suara, langkah kaki mereka tidak menimbulkan bunyi di tanah becek.
Kami terpaksa mengikuti.
Melewati gapura, hawa langsung berubah. Di luar gapura tadi panas terik, tapi begitu masuk desa, udara langsung dingin menusuk, seperti masuk ke dalam kulkas. Kabut tipis turun menutupi jalan desa.
Desa Kalijati sepi. Rumah-rumah kayu berjejer di kiri kanan jalan, tapi semua pintunya tertutup rapat, jendelanya gelap. Tidak ada suara ayam, tidak ada anak kecil bermain, tidak ada suara orang masak. Hanya sunyi.
"Kok sepi banget ya Nek? Warga lain kemana?" tanya Maya mencoba ramah.
Nek Jum tidak menoleh, tetap jalan, "Warga lain sudah di dalam rumah. Mereka malu ada pendatang. Nanti malam mereka keluar."
Jawaban yang aneh. Siang-siang malu, malam baru keluar?
Setelah jalan lima menit, kami sampai di sebuah bangunan paling besar di tengah desa. Bangunan kayu panggung yang agak besar, dengan tulisan BALAI DESA KALIJATI yang sudah miring.
"Pintu tidak dikunci, masuk saja. Barang kalian sudah ada di dalam," kata Nek Jum.
Kami kaget. "Barang? Barang apa Nek?"
Nek Jum tersenyum lebar lagi, "Tas kalian yang di kampus tadi."
Gue merinding seketika. Tas yang tadi pagi ada di kampus? Bagaimana bisa ada di dalam balai desa ini padahal kami bawa sendiri?
Nek Jum dan lima warga itu pergi begitu saja, menghilang di balik kabut tanpa pamit.
Kami dorong pintu balai desa. Pintu kayu itu terbuka dengan bunyi berderit panjang.
Di dalam balai desa yang gelap dan berdebu, ada enam ranjang kayu berjejer. Dan di atas setiap ranjang, sudah ada ransel dan koper kami, tersusun rapi. Persis seperti yang kami bawa.
Tapi di ransel gue, ada yang aneh. Ritsletingnya terbuka, dan di dalamnya ada tanah basah dan bunga kamboja yang masih segar.
Dan di dinding balai desa, ada foto hitam putih besar. Foto enam orang. Wajahnya persis seperti kami berenam. Tapi foto itu terlihat sangat tua, sobek-sobek, dan di pojok bawahnya ada tulisan tahun: 1978.
Tahun 1978? Foto itu diambil 48 tahun lalu, sebelum kami lahir. Tapi kenapa wajahnya adalah wajah kami?
Maya tiba-tiba menjerit pelan sambil menunjuk ke pojok ruangan. Di pojok balai desa yang gelap, ada sesajen. Nasi kuning, ayam panggang, dan enam gelas teh yang masih mengepul panas.
Seolah-olah seseorang baru saja menyiapkan makan siang untuk kami, dan tahu persis kami akan sampai jam ini.
Riko mengangkat kameranya, mencoba memfoto sesajen itu. Tapi di layar kameranya, sesajen itu tidak terlihat. Yang terlihat di layar kamera hanya meja kosong berdebu.
"Sel..." bisik Sinta dengan air mata sudah mengalir, "Gue mau pulang. Gue nggak mau KKN di sini."
Gue ingin bilang iya, gue juga mau pulang. Tapi pintu balai desa di belakang kami tiba-tiba tertutup sendiri dengan keras. Banting. Terkunci dari luar.
Dan dari luar jendela, kami mendengar suara banyak orang berjalan mengelilingi balai desa. Banyak langkah kaki. Padahal tadi desa sepi.
Mereka sudah mengepung kami.
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐