NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang CEO Beranak Tiga

Istri Pengganti Sang CEO Beranak Tiga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:764.3k
Nilai: 5
Nama Author: Moon28

"Apa?! Kak Rania kabur?!"

Surat di tangan Gladis bergetar hebat. Matanya membelalak tak percaya saat membaca tulisan tangan kakaknya untuk ketiga kalinya.

Maaf, Ayah, Ibu. Aku tidak bisa menikah dengan pria yang bahkan tidak aku cintai. Aku memilih hidupku sendiri. Jangan mencariku.

Tubuh Gladis mendadak lemas.

Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir persiapan pernikahan kakaknya dengan seorang CEO ternama. Semua undangan telah disebar. Hotel mewah telah dipesan. Para relasi bisnis penting dijadwalkan hadir.

Namun sang calon pengantin justru menghilang.

"Ayah... bagaimana ini?" suara Gladis bergetar.

Di ruang keluarga yang megah namun terasa mencekam, wajah kedua orang tuanya tampak pucat.

Ayahnya terduduk lemah sambil memegangi dada.

"Kita tidak boleh membatalkan pernikahan ini."

"Tapi Kak Rania sudah pergi!"

"Kau tidak mengerti, Gladis!" bentak ibunya tiba-tiba.

Gadis itu terdiam.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat ketakutan pada orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moon28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ada yang khawatir

Suara mesin mobil akhirnya benar-benar berhenti di halaman rumah keluarga Wijaya.

Belum sempat mesin dimatikan...

Pintu rumah sudah lebih dulu terbuka.

"MAMAAAAA!"

Rian berlari sekencang mungkin dengan kedua tangan terbuka lebar.

Gladis yang baru turun dari mobil sampai terkaget-kaget melihat bocah itu berlari seperti angin.

"Pelan, Rian!" serunya sambil tertawa.

Namun Rian sama sekali tidak mengurangi kecepatannya.

Begitu sampai di depan Gladis, bocah kecil itu langsung memeluk pinggangnya erat.

"Mama pulang!"

"Iya, Sayang," jawab Gladis lembut sambil mengusap kepala Rian yang mulai berkeringat.

"Aku kangen."

Gladis terkekeh pelan.

"Lho, kan Mama cuma kuliah."

"Tapi lama."

"Memangnya berapa lama?"

"Dari pagi."

"Itu memang dari pagi."

"Tetap lama."

Gladis tertawa geli mendengar jawaban polos itu.

Dari teras rumah, Raka dan Raina ikut menghampiri.

Meski tidak berlari seperti Rian, keduanya tetap menyambut Gladis.

"Assalamualaikum, Mama," ucap Raina sopan sambil mencium tangan Gladis.

"Waalaikumsalam," jawab Gladis sambil mengusap kepala gadis kecil itu.

Raka ikut mencium tangannya.

"Capek, Ma?"

"Alhamdulillah tidak."

"Kuliah lancar?"

"Lancar."

Raka mengangguk pelan.

"Syukurlah."

Gladis tersenyum hangat.

Dalam hati ia bersyukur.

Perubahan si kembar benar-benar terasa.

Dulu mereka hampir tidak pernah bertanya seperti ini.

Sekarang...

Sedikit demi sedikit mereka mulai menunjukkan perhatian.

Saat Gladis sedang berbincang dengan ketiga anak itu...

Dimas muncul dari dalam rumah sambil membawa sebuah map.

Melihat pemandangan tersebut, senyum jahilnya langsung mengembang.

"Ehem..."

Suara dehemannya sengaja dibuat keras.

Gladis menoleh.

"Lho, Mas Dimas."

"Iya, Nyonya."

Dimas tersenyum lebar.

"Sepertinya..."

"Bukan cuma Rian yang khawatir dari tadi."

Gladis mengernyit heran.

"Hah?"

"Siapa lagi?"

Dimas pura-pura berpikir sambil mengusap dagunya.

"Hmm..."

"Si kembar?"

Gladis menoleh kepada Raka dan Raina.

Raka langsung menggeleng pelan.

"Bukan saya."

Raina ikut mengangkat kedua tangan.

"Aku juga tidak."

Gladis kembali melihat Dimas.

"Kalau begitu siapa?"

Dimas melirik ke arah ruang kerja.

"Bukan si kembar."

"Lalu?"

Dimas kembali berdeham.

"Ehem..."

"Mas Dimas?" panggil Gladis semakin penasaran.

Dimas tersenyum semakin lebar.

"Itu..."

"Nyonya."

"Iya?"

"Bibik."

"Hah?"

"Iya."

"Bibik yang khawatir."

Jawab Dimas secepat kilat.

Di balik jawaban itu, matanya justru melirik ke arah Arsen yang baru saja keluar dari ruang kerja.

Gladis mengikuti arah pandangan Dimas.

Matanya langsung bertemu dengan Arsen.

Pria itu berdiri beberapa langkah dari pintu ruang kerja.

Masih mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung.

Tatapannya sempat berhenti pada Gladis beberapa detik.

"Lancar kuliahnya?" tanya Arsen dengan suara tenang.

"Lancar, Mas," jawab Gladis sambil tersenyum.

"Macet?"

"Sedikit."

Arsen mengangguk pelan.

"Syukurlah."

Gladis memperhatikan wajah suaminya.

Entah hanya perasaannya saja atau memang benar...

Pipi Arsen tampak sedikit memerah.

Ia lalu menoleh lagi ke arah Dimas yang sedang menggigit bibir menahan senyum.

Barulah Gladis menyadari sesuatu.

"Oh..."

Jangan-jangan...

Yang dimaksud Dimas tadi...

Bukan Bibik.

Gladis menahan senyumnya.

"Mas Dimas..."

"Iya, Nyonya?" jawab Dimas sepolos mungkin.

"Tadi benar Bibik yang khawatir?"

"Iya."

"Yakin?"

"Sangat yakin."

"Tidak ada orang lain?"

"Tidak ada."

"Benar?"

"Benar."

Dimas menjawab tanpa berkedip sedikit pun.

Namun tepat setelah mengucapkannya...

Ia malah melirik Arsen lagi.

Gladis hampir tertawa.

"Mas Dimas..."

"Hm?"

"Kalau bohong dosanya banyak."

"Saya tidak bohong."

"Betul?"

"Iya."

"Bibik memang sempat bertanya."

"Lalu?"

"Yang lain..."

Dimas pura-pura batuk.

"Ehem..."

"Kebetulan ikut mendengar."

Arsen langsung berdeham pelan.

"Dimas."

"Iya, Pak?"

"Kamu sudah selesai bekerja?"

"Sudah, Pak."

"Kalau begitu..."

Arsen berhenti sejenak.

"Pulang."

Dimas langsung membulatkan mata.

"Lho?"

"Diusir, Pak?"

"Bukan."

"Jam kerjamu selesai."

"Oh..."

Dimas mengangguk.

Namun bukannya pergi, ia malah mendekati Rian.

"Rian."

"Iya Om?"

"Tahu tidak..."

"Apa?"

"Tadi ada yang lihat jam berkali-kali."

Rian langsung penasaran.

"Siapa?"

Dimas pura-pura melihat ke kanan dan ke kiri.

"Hmm..."

"Siapa ya..."

Belum sempat ia melanjutkan...

Arsen sudah memanggil.

"Dimas."

"Iya, Pak?"

"Saya."

"Hah?"

"Yang akan menghitung sampai tiga."

Dimas langsung berdiri tegak.

"Kenapa, Pak?"

"Satu..."

"Pak, saya diam."

"Dua..."

"Saya benar-benar diam."

"Tiga."

Belum selesai angka tiga keluar...

Dimas langsung pura-pura mengunci mulutnya memakai tangan.

Rian justru semakin penasaran.

"Om Dimas."

"Hm?"

"Tadi siapa?"

Dimas melirik Arsen.

Lalu melirik Gladis.

Kemudian tersenyum jahil.

"Rahasia."

Rian langsung protes.

"Ih..."

"Om pelit."

"Kalau sudah besar nanti Om kasih tahu."

"Kenapa nanti?"

"Soalnya sekarang Om masih ingin kerja di sini."

Semua orang langsung tertawa.

Bahkan Raka sampai menutup bukunya karena ikut geli.

Suasana sore itu terasa sangat hangat.

Gladis masuk ke dalam rumah sambil membawa tas kuliahnya.

Belum sempat duduk...

Bibik sudah datang membawa segelas teh hangat.

"Nyonya capek?"

"Sedikit, Bik."

"Silakan diminum."

"Terima kasih."

Rian langsung duduk di samping Gladis.

"Mama."

"Iya?"

"Besok kuliah lagi?"

"Iya."

"Lama lagi?"

"Iya."

Rian langsung memeluk lengan Gladis.

"Kalau begitu Rian ikut."

Gladis tertawa.

"Memangnya nanti Rian mau belajar apa?"

"Mau belajar jadi mahasiswa."

"Memangnya mahasiswa ngapain?"

"Duduk."

"Makan."

"Terus pulang."

Raka langsung berkomentar datar.

"Itu bukan mahasiswa."

"Lalu apa?"

"Itu Rian."

Semua kembali tertawa.

Arsen yang sedari tadi berdiri di dekat jendela tanpa sadar ikut tersenyum.

Ia memperhatikan Gladis yang sabar menjawab semua pertanyaan Rian.

Memperhatikan Raka yang kini jauh lebih sering berbicara.

Memperhatikan Raina yang beberapa kali tersenyum.

Rumah yang dahulu selalu sunyi...

Kini hampir setiap hari dipenuhi tawa.

Tanpa sadar...

Sudut hati Arsen terasa hangat.

Dimas yang sebenarnya sudah berpamitan ternyata kembali masuk karena mapnya tertinggal di meja.

Begitu melihat Arsen sedang memperhatikan Gladis dan anak-anak dengan tatapan lembut...

Ia berhenti.

Pelan-pelan mengambil mapnya.

Lalu berbisik sangat lirih.

"Pak..."

Arsen menoleh.

"Apa?"

"Kayaknya..."

"Apa lagi?"

"Rumah ini sekarang lebih ramai ya."

Arsen mengangguk singkat.

"Iya."

"Lebih hidup."

"Iya."

Dimas tersenyum tulus.

"Itu semua karena Nyonya."

Arsen tidak langsung menjawab.

Ia kembali memandang ke arah ruang keluarga.

Di sana...

Rian sedang bercerita panjang lebar tentang dinosaurus.

Raka sesekali menyanggah dengan wajah datar.

Raina ikut menimpali.

Sedangkan Gladis tertawa sambil mendengarkan mereka satu per satu.

Beberapa detik kemudian...

Barulah Arsen menjawab pelan.

"Iya..."

"Sekarang rumah ini memang terasa berbeda."

Jawaban singkat itu membuat Dimas ikut tersenyum.

Namun tentu saja...

Sifat jahilnya tidak mungkin hilang begitu saja.

Ia mendekat sedikit ke arah Arsen lalu berbisik,

"Pak..."

"Hm?"

"Kalau nanti Nyonya pulang kuliah lagi..."

"Bapak jangan gengsi telepon."

Arsen menoleh perlahan.

Tatapannya datar seperti biasa.

"Dimas."

"Iya, Pak?"

"Kamu masih di sini?"

Dimas langsung nyengir.

"Ups."

"Saya benar-benar pulang sekarang."

Belum selesai kalimatnya...

Ia sudah berlari menuju pintu depan.

Dari belakang terdengar suara Rian berteriak,

"Om Dimas!"

"Iya?"

"Besok datang lagi!"

Dimas tertawa sambil melambaikan tangan.

"Kalau Bos tidak marah, Om datang lagi!"

Arsen hanya menggeleng kecil melihat tingkah asistennya.

Sedangkan Gladis yang melihat ekspresi Arsen akhirnya tidak mampu lagi menahan senyum.

Entah kenapa...

Melihat wajah Arsen yang sedikit salah tingkah karena terus digoda Dimas terasa sangat lucu.

Dan untuk pertama kalinya...

Sore itu dipenuhi tawa seluruh penghuni rumah keluarga Wijaya.

1
мєσωzα
ceritanya seru.. mungkin bisa sedikit diperbaiki penulisannya.. bagian percakapan agak rncu, jadi harus muter otak buat nebak siapa yg ngomong..
мєσωzα
ini udah tamat toh? kirain mau sampai si bungsu lahir.. sayang banget, nanggung ini thor ceritanya 🥺
мєσωzα
yah bos, jangan 10 persen laaah.. 25 atau 50 persen gitu (ngelunjak) 🤭
мєσωzα
harusnya "mama", bukan "tante"
мєσωzα
harap maklum ya dis, suamimu kelamaan ngeduda, jadinya lepas kontrol 🤭
мєσωzα
intinya, arsen takut kesetrum kalo deket" kamu dis 🤣
мєσωzα
seneng banget tiap ada laki-laki yg berpikir seperti ini.. semoga suamiku kelak punya pola pikir yg sama 🥰
мєσωzα
hahahaha untung baru kiss dikit ya.. coba kalau udah lanjut, bahaya banget 🤣🤣🤣
мєσωzα
emangnya kamu pernah dimandiin di bengkel? ko tau rasanya 🤣
мєσωzα
aaah gemeeessshh.. pingin guling-guling aku tuh 😍
мєσωzα
ko lucu banget sih.. canggung tapi manis 🤣
мєσωzα
ini mereka belum sekamar ya?
мєσωzα
well, beda umurnya memang lumayan beda jauh sih 😅
Irawati Soetojo
Tante???
мєσωzα
bukannya dulu rania itu juga dijodohkan ya? terpaksa dinikahkan sama arsen sebagai imbalan untuk bantu perusahaan keluarganya? kenapa disini dibilang rania itu wanita yg dicintai arsen?
мєσωzα
maaf thor, sepertinya untuk bagian percakapan perlu diperbaiki lagi.
kalau yg mengucapkan masih orang yg sama, walaupun beda kalimat, usahakan tetap ada diantara tanda ".." yg sama
misal disini seharusnya ditulis "mungkin. tapi instingku kuat." karna yg ngomong masih salsa.. kalau dipisah, jadi terkesan diucapkan oleh dua orang
мєσωzα
hahaha untung gak pingsan roy 🤣
мєσωzα
apakah roy pengagum rahasianya gladis?
Irawati Soetojo
kok anak²??? mahasiswa itu
Moms Rafi-alhusaini 🌺
aku mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!