seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESAN BERDARAH
Kabut beracun setebal kapas kotor menggantung rendah di udara Lembah Siksa, menyembunyikan rawa-rawa ungu yang terus mendidih dan meletupkan gas belerang. Jarak pandang di dalam dungeon tingkat Hard ini tidak lebih dari lima meter. Pepohonan mati dengan dahan-dahan bengkok yang menyerupai cakar kerangka raksasa menjulang dari balik lumpur pekat, menciptakan siluet mengerikan setiap kali kilatan petir merah menyambar di langit-langit dimensi buatan tersebut. Suhu di tempat ini sangat lembap dan membuat kulit terasa gatal, sebuah indikasi bahwa miasma racun sedang berusaha menembus pori-pori.
Di tengah salah satu dataran lumpur yang agak keras, Bastian berdiri tegap. Perisai raksasanya memancarkan pendar emas yang membentuk kubah energi tipis beradius tiga meter, menolak kabut racun itu mendekat. Ia bersiul pelan, menendang tengkorak monster buaya mutan yang baru saja ia hancurkan rahangnya beberapa menit lalu.
"Medan yang benar-benar menyebalkan," gerutu Bastian, memutar bahunya yang terbalut zirah tebal. "Jika Valerius tidak membekaliku dengan artefak pemurni udara kelas atas, paru-paruku pasti sudah berlubang sejak lima menit pertama kita masuk."
Andre berdiri tidak jauh dari Bastian, tubuhnya bersandar pada batang pohon mati yang berderak pelan. Alih-alih berlindung di dalam kubah energi Bastian, pemuda itu membiarkan tubuhnya diselimuti kabut racun. Namun, sebuah fenomena aneh terjadi. Kabut ungu itu tampak segan menyentuh kulitnya, membelah diri sejauh beberapa sentimeter dari pakaiannya seolah diusir oleh tekanan aura tak kasat mata.
"Mereka sudah masuk," gumam Andre, matanya yang sehitam obsidian menatap tajam ke arah kegelapan lorong rawa yang baru saja mereka lewati. "Sepuluh detak jantung. Bergerak dalam formasi memencar. Mereka mencoba mengepung kita dari tiga arah yang berbeda."
Bastian menyeringai, menancapkan perisainya ke tanah basah dengan suara dentuman berat. "Kerja bagus dari para anjing suruhan guild besar. Mereka benar-benar repot mengirim sepuluh pembunuh kelas elit hanya untuk dua orang rookie. Kau mau ambil yang mana, Andre?"
"Tahan bagian depan dan sisi kirimu. Biarkan mereka menyerang lebih dulu," Andre menarik pedang peraknya secara perlahan, menghasilkan bunyi gesekan logam yang sangat pelan namun mematikan. "Aku akan mengurus sisanya dari dalam bayangan. Pastikan kau tidak mati, Tuan Muda."
Sedetik setelah kalimat itu terucap, tubuh Andre memudar, melebur sempurna ke dalam kabut beracun dan bayangan pepohonan mati, meninggalkan Bastian sendirian di tengah ruang terbuka yang sunyi.
Tiga ratus meter dari posisi Bastian, Vex, seorang Assassin tingkat atas dari Guild Shadowhand, merayap di atas dahan pohon dengan kelincahan seekor macan kumbang. Di bawah komandonya, sembilan pembunuh bayaran lainnya dari Guild Titan dan Phoenix bergerak secara terkoordinasi. Mereka semua mengenakan jubah kamuflase termal yang menyembunyikan suhu tubuh dan menekan suara langkah kaki mereka hingga titik terendah.
Level rata-rata mereka adalah 38. Mereka adalah veteran yang tangan dan senjatanya sudah berlumuran darah puluhan, bahkan ratusan manusia yang dianggap menghalangi jalan guild besar. Bagi Vex, misi ini terasa seperti lelucon yang berlebihan.
"Target utama terlihat," bisik Vex melalui alat komunikasi sihir di telinganya. Ia mengintip dari balik daun membusuk, melihat Bastian yang berdiri sendirian di dekat perisainya, tampak lengah dan kelelahan. "Hanya Tuan Muda Valerius. Si kuli panggul tidak terlihat. Mungkin dia sedang buang air atau mati ditelan rawa. Kita habisi sang Tanker sekarang. Tim Titan, hancurkan pertahanannya dari depan. Tim Phoenix, siapkan sihir pembekuan dari jarak jauh. Aku dan timku akan memenggal lehernya dari titik buta."
"Dimengerti," balas suara parau dari pihak Titan.
Tiga pria kekar bersenjatakan kapak ganda melompat keluar dari balik kabut beracun. Mereka mengaktifkan skill pendorong kecepatan kelas Berserker, menerjang ke arah Bastian seperti banteng mengamuk. Di saat yang sama, dua penyihir wanita dari Phoenix yang bersembunyi di atas pohon mulai merapalkan mantra Frost Bind untuk membekukan kaki Bastian agar sang Tanker tidak bisa menghindar.
Namun, Bastian sama sekali tidak berniat menghindar.
Saat tiga kapak ganda yang memancarkan aura membunuh itu berjarak kurang dari satu meter dari wajahnya, Bastian tersenyum lebar. Ia menghantamkan tinjunya ke perisai raksasanya sendiri.
"Absolute Guard!"
Ledakan energi emas memancar dengan kekuatan yang menyilaukan. Tiga kapak ganda itu menghantam perisai Bastian, namun tidak ada darah yang tumpah, tidak ada tulang yang patah. Sebaliknya, gelombang kejut dari benturan itu memantul kembali dengan kekuatan dua kali lipat. Ketiga Berserker dari Titan menjerit kesakitan ketika senjata mereka retak dan tulang pergelangan tangan mereka remuk seketika. Tubuh kekar mereka terhempas ke belakang, menabrak genangan rawa beracun.
"Hanya segini kemampuan anjing penjaga Guild Titan?!" tawa Bastian menggelegar, suaranya membelah kesunyian mematikan di dungeon itu. "Bahkan pukulan adik bungsuku terasa lebih keras dari ini!"
Vex mengumpat di atas pohon. "Penyihir Phoenix! Tembak dia sekarang!"
Namun, tidak ada jawaban dari alat komunikasinya. Hanya ada suara statis yang mengerikan, disusul oleh suara gemericik sesuatu yang basah jatuh ke tanah.
Vex menoleh ke arah pepohonan di seberangnya, tempat dua penyihir Phoenix seharusnya berada. Jantung pembunuh bayaran itu nyaris berhenti berdetak. Di dahan pohon yang tinggi itu, kedua tubuh penyihir wanita tersebut masih dalam posisi merapal mantra, namun kepala mereka tidak ada di tempatnya. Darah menyembur dari leher yang terpotong rapi, mewarnai kabut racun menjadi merah, sebelum kedua tubuh tanpa kepala itu jatuh berdebum ke dalam lumpur.
Di balik dahan tempat mayat itu jatuh, sepasang mata sehitam jurang tak berdasar menatap lurus ke arah Vex.
Itu adalah si kuli panggul. Andre.
Vex tidak sempat memproses kecepatan pemuda itu. Sebelum ia bisa berteriak memberi peringatan, Andre sudah menghilang dari dahan tersebut, seolah tertelan oleh ruang hampa.
"Mundur! Formasi pertahanan penu—"
Perkataan Vex terpotong oleh jeritan melengking dari arah bawah. Salah satu bawahan Assassin-nya dari Shadowhand tiba-tiba terpaku di tempat, menatap tak percaya pada sebilah pedang perak yang menembus dadanya dari belakang. Andre muncul tepat dari dalam bayangan pembunuh itu sendiri. Dengan satu putaran pergelangan tangan yang elegan dan kejam, Andre menarik pedangnya, merobek jantung musuhnya, lalu menendang mayat itu ke samping.
"Satu," gumam Andre dengan suara datar yang entah bagaimana mampu mengalahkan riuhnya suara rawa yang mendidih.
Kepanikan absolut melanda kelompok elit itu. Para pembunuh bayaran yang tersisa mencoba berbalik dan melarikan diri, menyadari bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan manusia biasa. Namun, di dalam kabut beracun dan kegelapan, Andre adalah raja yang mutlak.
Gaya bertarungnya jauh dari kata manusiawi. Ia tidak membuang energi untuk menangkis. Ia menggunakan kombinasi gerakan Shadow Step untuk melompat dari satu bayangan ke bayangan lainnya, memangkas jarak puluhan meter dalam pecahan detik. Pedang peraknya yang diselimuti aura Swordmaster membelah baja dan daging dengan kemudahan yang sama.
Vex hanya bisa melihat kilatan-kilatan cahaya perak yang menari di dalam kabut. Setiap kali cahaya itu berkedip, terdengar suara daging robek dan rintihan kematian. Tiga Berserker dari Titan yang sedang meronta di tanah karena tangan mereka patah, dibungkam selamanya hanya dengan tiga tebasan bersih yang memutuskan leher mereka secara berurutan. Dua Assassin lainnya dari Shadowhand mencoba menyerang Andre dari arah sayap kanan secara bersamaan, namun Andre hanya menunduk sedikit, membiarkan pisau mereka menebas udara kosong, lalu melakukan putaran horizontal yang membelah tubuh kedua Assassin itu tepat di pinggang.
Darah menggenang, bercampur dengan racun rawa, menciptakan bau kematian yang mencekik paru-paru.
Dalam waktu kurang dari dua menit sejak penyerangan dimulai, sembilan dari sepuluh pembunuh elit bayaran itu telah menjadi tumpukan daging cincang tak bernyawa. Tidak ada pertarungan. Ini adalah eksekusi sepihak.
Vex terjatuh dari dahannya, kakinya lumpuh oleh teror yang meremukkan kewarasannya. Ia merangkak mundur di atas lumpur beracun, napasnya memburu, matanya membelalak menatap sesosok siluet yang berjalan perlahan dari balik kabut.
Andre melangkah santai, mengayunkan pedangnya ke samping untuk mengebaskan sisa darah yang menempel di bilahnya. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan emosi—tidak ada kepuasan, tidak ada kemarahan, hanya kekosongan absolut layaknya dewa kematian yang sedang melihat serangga.
"K-kau... apa sebenarnya kau ini?!" jerit Vex, air matanya bercampur dengan keringat dingin. Ia mencoba merogoh belati peledak di sabuknya, namun tangan kanannya tiba-tiba mati rasa.
Andre telah memotong lengan kanan Vex hingga sebatas siku dalam gerakan yang bahkan tidak tertangkap oleh mata.
Vex menjerit histeris, mencengkeram puntung lengannya yang menyemburkan darah segar.
"Kau berasal dari Guild Shadowhand, bukan?" suara Andre terdengar tenang, langkah kakinya berhenti tepat di depan Vex yang menangis meronta-ronta di tanah. Ujung sepatu bot Andre menginjak dada Vex, menekan tulang rusuk pembunuh itu hingga berderak. "Kalian dikirim oleh ketua-ketua kalian untuk mematahkan kakiku, benar?"
"T-tolong... ampuni aku... aku hanya menerima perintah!" Vex memohon dengan suara parau, harga dirinya sebagai elit tingkat atas hancur lebur di hadapan eksistensi murni dari rasa takut.
"Aku tidak butuh permohonanmu. Aku butuh kurir," ucap Andre. Ia membungkuk, menatap langsung ke dalam mata Vex yang bergetar. "Aku akan membiarkanmu hidup malam ini. Kembali ke kota. Temui pria berkacamata yang memerintahmu, ketua dari Shadowhand, serta teman-teman kotornya dari Titan dan Phoenix."
Andre menarik pedangnya sedikit, lalu menggunakan ujung bilahnya untuk melepaskan pin emblem lambang guild Shadowhand dari dada Vex, mengumpulkannya bersama sembilan emblem lain milik bawahan Vex yang telah tewas.
"Sampaikan pesan ini pada mereka," bisik Andre, matanya memancarkan niat membunuh yang membuat suhu di sekitar mereka turun hingga membekukan rawa beracun di bawah tubuh Vex. "Era di mana mereka memonopoli kota ini sudah berakhir. Mulai malam ini, setiap kali mereka mencoba menyentuh atau memata-matai siapa pun yang berada di bawah perlindungan Rishing Guild, aku akan datang dan mengambil kepala mereka. Beri tahu mereka, bayangan tidak pernah meleset."
Andre membalikkan badan, menyarungkan pedangnya, dan berjalan kembali ke arah Bastian yang sedari tadi menonton pertunjukan berdarah itu sambil bersandar santai pada perisainya.
Vex dibiarkan hidup, merangkak dalam keputusasaan yang akan terus menghantuinya seumur hidup.
Keesokan paginya, matahari bersinar terang menyinari Sektor Pusat, seolah tidak ada kejahatan yang terjadi dalam semalam. Di kafe elit di lantai 50, tiga ketua guild raksasa kembali berkumpul untuk menikmati sarapan pagi mereka, menunggu laporan keberhasilan operasi malam itu.
Pria berkacamata dari Shadowhand sedang menyesap kopinya sambil tersenyum arogan ketika seorang pelayan kafe masuk dengan wajah pucat pasi dan tangan gemetar, membawa sebuah nampan perak tertutup.
"T-Tuan... ada paket kiriman yang diletakkan di depan meja resepsionis lantai bawah. Tertera untuk Tiga Ketua Guild," ucap pelayan itu dengan suara bergetar.
Ketua Titan mengerutkan kening. "Buka."
Pelayan itu membuka tutup nampan perak tersebut dan seketika jatuh pingsan karena bau amis yang menyengat tajam.
Di atas nampan perak yang berkilau itu, tergeletak sepuluh emblem lambang guild yang berlumuran darah segar, tertata rapi membentuk sebuah huruf 'R'. Di bawah tumpukan emblem itu, terdapat secarik kertas perkamen putih yang ditulis menggunakan darah, menampilkan dua baris kalimat yang sangat singkat, namun cukup untuk membuat wajah ketiga ketua guild raksasa itu pucat pasi seputih kertas.
Jangan memancing bayangan, atau kalian yang akan ditelan.
— Rishing.