NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas tahun, di 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti yang satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu sekota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi dan sadar semuanya nyata. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9 - Masakan Ibu Terasa Berbeda

Ibu semula mengira putrinya yang sampai hari itu belum pernah menyentuh pekerjaan dapur sudah tentu tidak akan bisa membedakan gula dan garam. Tapi yang terjadi sebaliknya. Begitu melangkah masuk ke dapur, Intan sama sekali tidak panik.

Ibu berdiri mematung di ambang pintu, kedua tangannya mencengkeram tepi bajunya sendiri, seolah ia mengawasi seorang tamu yang belum pernah datang ke rumah ini. Sejak kecil Intan memang anak yang cekatan dalam urusan buku, tetapi dapur adalah wilayah Ibu; mustahil anaknya tahu mengupas bawang tanpa menangis. Kini ia harus mengaku salah menebak.

Ia memilih dan mencuci sayuran lebih dahulu, lalu membasuh panci dan wajan. Apa yang dikerjakannya tersusun rapi dan berurutan; setiap peralatan yang ia sentuh kembali ke tempat semula, seperti dijaga oleh tangan yang sudah bertahun-tahun biasa bergerak di dapur. Ibu yang tadinya abai sejak awal kini mau tidak mau memperhatikan. Intan memotong bawang putih dan daun bawang menjadi potongan-potongan kecil, lalu menyimpannya begitu saja di atas talenan. Kemudian ia menoleh.

Ia melihat putrinya menggoreng dengan irama yang teratur — sudip berputar, sayur berloncatan, minyak mendesis — semuanya dilakukan tanpa buru-buru. Tidak ada setitik pun cipratan yang berserakan di lantai. Keterampilan kecil semacam itu tidak bisa dibuat-buat dalam semalam; terlihat jelas dari cara mata Intan menakar panasnya wajan sebelum memasukkan sayur.

"Bu, kita cukup menumis satu piring sawi putih dan satu piring telur daun bawang, kan?"

Ibu mengangguk. Ia memang hanya membeli satu bonggol sawi putih, seikat daun bawang, dan dua butir telur bebek. Di luar kedua masakan itu memang tidak ada bahan lain yang bisa dimanfaatkan. Yang membuatnya takjub adalah kelincahan Intan memegang sudip.

"Nak, kamu diam-diam pernah belajar masak?" tanya Ibu penasaran.

Intan tidak menemukan alasan; ia hanya bisa mengangguk patuh. Ibu bergumam dua kali, tetapi akhirnya tidak berkata apa-apa. Ia berdiri tenang di luar pintu dapur sambil mengamati detail demi detail — cara Intan menakar garam, cara ia memecahkan telur bebek dengan satu tangan, cara ia membalik sayur di tengah minyak panas. Sesekali ia mengingatkan beberapa hal yang tidak disangka-sangka oleh Intan — taburan garam sebaiknya di awal, daun bawang paling akhir — itulah cara Ibu mengajarinya masak.

Begitulah mereka berdua — Ibu yang tidak pernah lelah menunjukkan, dan Intan yang tidak pernah bosan meniru. Di antara bunyi minyak yang berdesis dan sayur yang mengepul, ada percakapan yang tidak perlu kata: dapur adalah tempat pertama di mana mereka belajar tentang satu sama lain.

Intan membalikkan badan menghadap tungku. Di saat Ibu tidak memperhatikan, ia sembunyi-sembunyi meneteskan setetes air mustika ke dalam panci berisi beras. Tetesan itu membuyar dan hilang di antara butiran beras. Menyaksikan air mustika masuk ke dalam panci, hatinya sedikit plong. Perlahan, tetapi pasti, ia tidak akan terburu-buru.

Setetes itu terlalu kecil untuk mengubah warna, bau, atau bentuk apa pun. Intan memutar-mutar senduk di dalam panci, memastikan airnya menyebar rata di antara butiran beras sebelum ia berbalik menghadap dapur. Semuanya berjalan lancar, seolah rencana kecil ini sedang didukung oleh keberuntungan semata.

"Kalau pengaruhnya pelan-pelan membenahi tubuh Bapak dan Ibu," pikir Intan dalam hati, "apakah Ibu akan terlempar lagi ke jalan yang sama seperti dahulu?"

Ia tidak berani berharap terlalu tinggi. Perubahan demi perubahan mesti berjalan pelan; air mustika yang pekat bahkan tidak boleh diminum segelas penuh. Yang penting hari ini, untuk pertama kalinya sejak lama, makanan di rumah ini dimasak dengan tangan yang benar-benar ingin menjaga kesehatan orang tuanya.

Tepat ketika masakan siap, Bapak baru pulang. Begitu melangkah masuk, ia menaruh perlengkapan kerjanya di dekat pintu, lalu berseru dengan nada yang dibuat-buat, "Huh? Hari ini keluarga kita masak apa sampai wanginya tercium dari bawah?"

Ibu mendecak dan memarahinya sambil tersenyum. "Kau ini. Hari ini putrimu yang masak, dia juga yang menyiapkan semua. Cuci tangan dulu, baru makan!"

"Hei! Anakku hebat!"

Bapak mengacungkan jempol ke arah Intan, lalu dengan gembira pergi mencuci tangan dan mengambil tempat duduk. Intan menyantap makanannya dengan wajah datar, berpura-pura tidak terjadi apa-apa, padahal dalam hatinya ia sudah tidak sanggup menahan girang. Awalnya Ibu mengira ucapan Bapak berlebihan. Namun begitu ia mengecap nasi, mimik wajahnya berubah. Ia mengunyah pelan, mengecap sekali lagi, lalu menatap nasi di piringnya dengan heran. "Mengapa aku merasa nasi hari ini beda? Enak sekali."

Nasi masih nasi yang sama, airnya air biasa, pancinya juga panci yang sama. Lalu mengapa rasanya berubah sampai sebesar itu? Ibu membaui nasinya, mengecapnya sekali lagi, seakan mencari kebohongan yang tidak terlihat. Ia menatap sekeliling, dari kiri ke kanan, atas ke bawah, tetapi tidak menemukan penjelasan.

Jawabannya tidak akan ditemukan dengan cara seperti itu. Ibu menggaruk belakang kepalanya pelan, lalu meletakkan sendoknya, memutuskan untuk menikmatinya saja. Setidaknya ada satu alasan baik untuk membuatnya bisa tidur nyenyak malam ini. Rasa itu tetap ada, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat menjelaskannya. Ibu menyendok sesuap lagi untuk mencicipi, kali ini lebih pelan, lalu menggeleng pelan ketika hasilnya tetap sama. Kalau begitu, pastilah ada yang berubah pada cara masak hari ini.

Bapak berkata dengan bangga, "Apa kataku tadi! Kau memang tidak percaya kalau anakku hebat!"

"Dasar, mulutmu tidak bisa berhenti walau sedang makan!" Ibu menyodorkan sepotong sawi ke arah Bapak sambil melotot. Ia tidak berkata apa-apa lagi, tetapi dalam hati ia membenarkan ucapan Bapak.

Malam itu keluarga kecil ini makan bersama dengan tenang. Nasi putih yang sama diiringi dua lauk sederhana terasa lebih lembut, dan bahkan Bapak yang biasanya menyantap paling cepat kali ini mengunyah perlahan sambil mendengarkan Ibu bercerita soal pasar yang baru dirapikan. Tidak ada yang menyinggung persoalan pelajaran, tidak ada yang menyebut utang; justru keheningan itulah yang membuat malam terasa sempurna. Sesekali telepon dari asrama berdering, suara Dimas yang ceria membuat tawa Bapak menggelegar di ruang makan.

Entah ilusi atau bukan, malam itu pasangan suami istri itu makan bersama Intan lalu tidur dengan sangat nyenyak. Sebelumnya, Ibu selalu terbangun dua kali di tengah malam; malam ini ia tidur sampai pagi tanpa satu pun gangguan, dan tidurnya terasa jauh lebih nyenyak. Kalau tidur cukup, suasana hati pun menjadi lebih baik. Pagi-pagi Ibu bangun lebih dulu, bersenandung pelan sambil mulai memasak.

Di kamarnya, Intan tersenyum kecil. Perubahan yang ia simpan rapat-rapat di dasar panci itu kini sedang bekerja pelan-pelan di dalam tubuh orang tuanya. Tidak ada seorang pun yang menaruh curiga; perubahan demi perubahan kecil itu hanya mereka rasakan, tanpa pernah mampu menjelaskannya. Pagi itu, seperti hari-hari sebelumnya, dapur rumah kembali berdenyut oleh bunyi-bunyi kesibukan yang hangat. Ada sebutir tekad baru yang mulai tumbuh di rumah itu — dan rumah yang hangat selalu berawal dari dapur.

1
Myz Pena
wiiiih luar biasa intan ya dalam pemikirannya udah jalan banget beda dengan yang anak seusianya.. maklum intan kan hanya kembali ke masa lalu jadi dia benar2 belajar dan memanfaatkan semuanya 🤭
Myz Pena
waaah sepertinya reza benar2 serius dan pengen belajar seperti intan 👍
Myz Pena
waaah reza sepertinya bakal lebih akrab nih dengan intan 🤭
MULIANA 💦
ngobrol panjang, ujung-ujungnya juga ngegosip kan bu 🤭 lebih baik gini, langsung menghindar
MULIANA 💦
kamu udah banyak tahu tentang masa depan. gunakan kesempatan itu untuk mengubah hidupmu intan. biar gak mati sia-sia lagi
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana: iya betul sekali
total 1 replies
MULIANA 💦
bersyukur aja pak bu 🤭 namanya juga lagi belajar mengubah jalan takdir 🤭
Fairuz
Momen sarapan bubur bareng keluarga sederhana ini hangat banget😍😖
Filan
jadi ini kejadian sebelumnya?
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana: iya betul sekali😄
total 1 replies
Filan
oh si Vino ini cuma memeras Intan toh? Karena Intan punya skill.
Filan
kenapa si Intan ini? apa maunya? Dia mau balas dendam bukan sih?
Filan
bukannya dia sudah tahu? kok pura-pura?
Filan
ada apa nih si buaya Vino?
Filan
itu cara agar kamu membuka matamu lebar-lebar
Filan
Ini masa sekarang apa masa lalu sih? apa dia masih mau sama Vino?
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana: itu masa lalu
total 1 replies
Filan
mintanya maksa... ga berhenti ngoceh kalau ga di-iya-in
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
wah ada sambutan luar biasa juga😄
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
sudah otak bisnis nih intan😄
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
iya pasti ikut bangga dan bahagia donk
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
orang tuanya reza apa akan setuju ya
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
wah sudah dapat calon teman dekat 1 sekolah nanti😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!