Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MISI "ICE SKATING" DAN PELINDUNG LUTUT
Raka berdiri di ambang pintu ruang tamu, dadanya naik turun dengan ritme yang tidak teratur. Kotak kado berwarna merah muda di tangannya sedikit bergetar, bukan karena berat, tapi karena amarah yang sedang dia tahan.
"Kau meracuninya!" tuduh Raka, suaranya tegas dan bergema di ruangan yang seharusnya tenang. "Kau meracuni pikiran Larasati dengan bualan-bualan anehmu! Dia tidak pernah mengeluh sebelumnya, tapi sejak dia bertemu denganmu, dia mulai bicara tentang... tentang apa itu beige flag! Kau menghancurkan kemurnian hatinya, Vania!"
Vania tidak berkedip. Dia tidak berdiri, tidak berteriak balik, dan sama sekali tidak terlihat takut. Dia hanya mengambil satu kue kering dari piring di depannya, menggigitnya dengan santai, lalu menelan.
"Raka," ucap Vania datar, mengusap remah kue di sudut bibirnya dengan serbet linen. "Turunkan suaramu. Kau berteriak seperti ayam jantan yang kehilangan jati diri. Dan untuk informasi, aku tidak meracuninya. Aku sedang memberinya konsultasi hubungan. Ada perbedaan besar antara racun dan obat, dan kau jelas butuh keduanya."
Raka mengernyitkan dahi, amarahnya sedikit teralihkan oleh nada merendahkan Vania. "Konsultasi? Kau? Wanita yang dulu pernah melempar vas bunga ke arah kepala Larasati?"
"Itu adalah insiden masa lalu yang sangat tidak profesional, dan aku sudah bertobat," balas Vania cepat, tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Dengar, Raka. Aku tidak sedang meracuni Larasati. Aku sedang merencanakan quality time untuk kalian berdua. Dan kebetulan, kami sedang membahas detailnya saat kau masuk dengan wajah cemberut itu."
Raka terdiam. Kotak kado di tangannya diturunkan perlahan. "Quality time? Kencan? Kencan apa?"
Vania tersenyum tipis, senyum yang membuat Raka secara insting waspada. Dia merogoh tas Hermes-nya dan mengeluarkan dua lembar tiket berwarna perak dengan cetakan hologram yang berkilau. Dia melemparkannya ke atas meja kopi. Tiket itu mendarat tepat di depan Raka.
"Arena Ice Skating di Mega Mall. Jam empat sore hari ini," ucap Vania. "Jangan terlambat. Dan saran aku, jangan pakai jas putih krem itu. AC di sana dingin banget, bisa bikin kamu flu, dan Larasati akan repot mengurusmu. Pakai jaket kulit atau sweater tebal."
Raka menatap tiket itu, lalu menatap Vania dengan tatapan yang campur aduk antara bingung dan curiga. "Kau... mengatur kencan untuk kami? Kenapa?"
"Karena aku bosan melihat kalian berdua bertingkah seperti robot yang kehabisan baterai setiap kali bertemu," jawab Vania sambil berdiri, merapikan gaunnya. "Sekarang, ambil Larasati dan pergi dari sini. Nikmati berdua ya. Aku akan menyusul nanti untuk... mengawasi."
***
Dua jam kemudian, Vania duduk di salah satu meja kafe yang menghadap langsung ke arena ice skating. Mega Mall di tahun 90-an adalah puncak kemewahan. Lampu neon berkedip-kedip di langit-langit, musik pop dangdut dan barat diputar bergantian dengan volume yang cukup keras, dan aroma popcorn bercampur dengan parfum air freshener jeruk sintetis.
Arena ice skating ini adalah lokasi wajib sinetron. Jika ada adegan jatuh cinta, adegan cemburu, atau adegan seseorang terjatuh dan harus digendong, pasti terjadi di sini.
Vania menyeruput hot chocolate-nya, matanya menatap ke arah pintu masuk arena. Raka dan Larasati baru saja datang. Raka terlihat kaku dalam sweater hitamnya, sementara Larasati mengenakan gaun pastel yang cantik tapi sangat tidak praktis untuk bermain di atas es.
Vania kemudian menatap pakaiannya sendiri. Dia mengenakan gaun elegan selutut berwarna hijau zamrud dengan potongan yang sangat chic. Tapi di balik gaun itu, tersembunyi rahasia yang sangat tidak elegan.
Dia memakai knee pads (pelindung lutut) tebal ukuran XL.
Ini bukan sembarang pelindung lutut, batin Vania, menatap "kamera" imajinernya yang melayang di dekat pot tanaman plastik. Ini adalah pelindung lutut tebal yang biasanya dipakai pemain voli profesional. Gaun Chanel-ku jadi sedikit menonjol dan aneh di bagian lutut, tapi demi keselamatan nyawa, aku rela mengorbankan estetika. Fisika sinetron 90-an itu kejam, guys. Jatuh di aspal \= lecet. Jatuh di es \= patah tulang, amnesia, atau koma tiga bulan. Aku tidak mau ambil risiko.
Di sebelahnya, di dalam tas Hermes-nya, dia sudah menyiapkan satu rol plester besar, cairan antiseptik, dan perban elastis. Dia siap menjadi tim medis darurat jika plot mengharuskan Larasati cedera.
Dari kejauhan, Vania melihat Larasati mulai meluncur canggung di atas es. Raka berdiri di sebelahnya, tangannya terulur kaku untuk menopang. Vania menyeringai. Ini saatnya.
Tiba-tiba, tanpa ada batu atau akar pohon yang menghalangi, sepatu skate Larasati tersangkut di permukaan es yang sebenarnya rata.
Dan... action! batin Vania.
Larasati kehilangan keseimbangan. Tubuhnya miring ke samping. Raka, dengan refleks Male Lead yang sudah terlatih oleh naskah, langsung menerjang maju. Dia menangkap pinggang Larasati dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menopang punggung wanita itu.
Larasati mendongak. Raka menunduk.
Mata mereka bertemu.
Waktu seolah melambat. Musik di kafe yang tadinya berisik, di telinga Vania berubah menjadi alunan biola yang romantis dan syahdu. Angin indoor berhembus pelan, mengibarkan rambut Larasati yang terurai. Raka menatap bibir Larasati, dan Larasati memejamkan matanya, bersiap untuk momen falling into arms yang sempurna.
Vania di mejanya mengacungkan jempolnya ke arah "kamera". Misi sukses. Plot aman. Raka dan Larasati bahagia, aku selamat dari tebing.
Tapi senyum kemenangan di wajah Vania tiba-tiba membeku.
Bayangan gelap jatuh menutupi meja kafenya. Suhu di sekitarnya seolah turun drastis, bukan karena AC kafe, tapi karena aura dingin yang menguar dari sosok yang baru saja berdiri di sampingnya.
Vania perlahan menunduk.
Di bidang pandangnya, sepasang sepatu bot musim dingin berwarna hitam terbuat dari kulit tebal dengan sol karet yang berat, berdiri tegak di atas lantai marmer kafe.
Vania menatap sepatu bot itu. Lalu dia menatap ke atas. Celana bahan hitam. Kemeja turtleneck putih. Dan sebuah mantel musim dingin yang sangat tebal, berbulu di bagian kerah, dengan kancing emas yang mengkilap.
Vania menatap wajah Kevin.
Pria itu berdiri di sana, menatap ke arah arena ice skating dengan tatapan yang sulit dibaca. Dia memakai mantel setebal itu di tengah cuaca Jakarta yang sedang panas terik, di mana suhu di luar ruangan mencapai 33 derajat Celsius. Keringat tidak terlihat di pelipisnya, tapi Vania yakin pria itu pasti sedang mengalami heatstroke internal.
Apa dia sudah gila? batin Vania, matanya terbelalak. Ini Jakarta, Kevin! Bukan Swiss! Kau mau pingsan karena kepanasan di depan umum?!
Kevin perlahan menoleh, menatap Vania yang duduk dengan mulut sedikit terbuka. Sudut bibir pria itu terangkat, membentuk senyuman miring yang penuh dengan kepercayaan diri dan sedikit nada mengejek.
"Jadi, ini caramu mengagalkan rencanaku," ucap Kevin, suaranya rendah dan berat, menembus suara musik pop di kafe. Dia melangkah satu langkah lebih dekat, aroma cologne mahal dan dinginnya es menabrak indera penciuman Vania. "Kau terlalu transparan, Vania. Kau pikir dengan mengatur kencan ini, kau bisa menyelamatkan mereka dari aku?"
Kevin menatap Vania lekat-lekat, matanya berkilat dengan obsesi yang makin menjadi. "Tapi kau lupa satu hal. Di mana pun mereka pergi, aku akan selalu ada di sana. Termasuk di sini."
BERSAMBUNG...