NovelToon NovelToon
[~ Seluruh Keluargaku Adalah Mafia ~]

[~ Seluruh Keluargaku Adalah Mafia ~]

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Sistem
Popularitas:98
Nilai: 5
Nama Author: Bintang Pury A.

Di Tengah papan catur yang berkilauan, berdiri bidak ratu emas raksasa yang gagah dan berkuasa menjadi pusat perhatian, dikelilingi barisan bidak-bidak setia yang tak tergoyahkan. Langit di belakangnya bergolak dengan pijar galaksi, seolah menggambarkan dunia yang luas namun penuh rahasia dan kekuatan tersembunyi.

Simbol sempuna dari sebuah keluarga satu pemimpin utama yang memegang kendali, didukung seluruh anggota yang berdiri tegak bersama tak terpisahkan, tak terkalahkan. Di balik kemewahan dan keanggunan, tersimpan jarring kekuasaan yang mengatur segalanya. Setiap langkah adalah taktik, setiap senyuman menyimpan rahasia, dan setiap anggota adalah bagian dari permainan yang tak semua orang pahami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Pury A., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 Di Balik Pintu Emas Margaretha

Lampu gantung kristal raksasa berkilauan menaburkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan utama kediaman Margaretha. Musik klasik mengalun lembut, menyatu dengan suara tawa halus dan denting gelas yang saling bersentuhan. Gaun sutra bermotif halus, permata yang berkilau, dan setelan jas paling rapi berpadu di antara kerumunan orang-orang terpandang pengusaha raksasa, tokoh berpengaruh, keluarga-keluarga lama yang namanya tercatat dalam sejarah negeri ini. Siapa pun yang melangkah ke sini akan menyimpulkan: ini adalah pesta keluarga paling bahagia, paling dihormati, dan paling sempurna di negeri ini.

Namun aku tahu. Di balik setiap senyum yang dipasang rapi, tersembunyi sesuatu yang tak boleh diucapkan dengan suara lantang. Sesuatu yang bahkan namanya dilarang disebut di meja makan kami.

Aku berdiri di balik tiang pualam yang besar, menyembunyikan sebagian tubuhku, dan memperhatikan mereka semua. Di tengah ruangan, Daddy berdiri dikelilingi sekelompok pria. Alexander William Margaretha mengenakan setelan jas hitam yang pas di badan, rambutnya tertata rapi memutih di pelipis, dan di wajahnya terpasang senyum yang ramah sekaligus menjaga jarak senyum yang membuat orang lain merasa dihormati sekaligus tak berani melanggar batas. Tangan besarnya menggenggam gelas berisi anggur tua, dan setiap kali ia berbicara, orang-orang mendengarkan dengan kepala sedikit menunduk.

“Alexander Margaretha... kekuasaannya tak terukur,” kudengar seseorang berbisik pelan di kejauhan. “Siapa pun yang berpihak padanya, akan naik. Siapa pun yang melawannya...” Suara itu menghilang, digantikan desis napas yang tertahan.

Aku menghela napas panjang. Mereka hanya melihat kekayaan. Mereka tidak melihat apa yang tersembunyi di baliknya. Mereka tidak tahu bahwa setiap bangunan yang berdiri atas nama Margaretha, setiap kesepakatan yang ditandatangani, tersimpan rapat bersama rahasia yang tak boleh diketahui dunia luar.

“Grace?”

Suara lembut Mommy terdengar tepat di samping telingaku. Aku menoleh dengan sedikit terkejut. Victoria Rose Margaretha berdiri anggun, gaunnya berwarna krem keemasan yang menyapu lantai, rambut cokelat kemerahan tersusun rapi ke belakang, dan di lehernya berkilauan kalung pusaka keluarga batu safir biru tua yang seolah menampung seluruh rahasia malam. Di wajahnya terpasang senyum yang tak pernah luntur, senyum yang ia pakai setiap kali kami tampil di depan orang lain.

“Kenapa berdiri sendirian di sini, Sayang?” tanyanya pelan, tangannya menyentuh lenganku dengan lembut. “Semua orang menantikan kehadiranmu. Kau adalah putri bungsu keluarga ini, Grace Isabella Margaretha. Nama itu berarti sesuatu yang besar.”

Aku menunduk, memainkan ujung gaunku dengan jari-jariku yang dingin. “Mommy... aku tidak pandai berbicara seperti mereka. Aku tidak tahu harus berkata apa, bagaimana berdiri, bagaimana menatap mereka tanpa gemetar.”

Mommy tersenyum lebih hangat, lalu mengusap pipiku perlahan. “Kau tidak perlu banyak bicara, Nak. Cukup berdiri tegak, tersenyum, dan biarkan nama keluarga ini yang berbicara untukmu. Margaretha tidak memohon perhatian ia mendapatkannya.” Ia berhenti sejenak, menatap mataku lekat-lekat. “Tapi ingat satu hal: jangan pernah bertanya hal-hal yang belum saatnya kau ketahui. Dan jangan pernah menatap mata orang-orang terlalu lama mereka akan takut, atau mereka akan berharap terlalu banyak, dan keduanya sama berbahayanya.”

Kata-katanya terasa berat di dadaku. Aku mengangguk pelan, meski hatiku masih bimbang.

“Apakah... apakah semua orang di sini tahu siapa kami sebenarnya?” tanyaku pelan, nyaris tak terdengar.

Mommy menoleh ke arah Daddy, lalu menyapu pandangannya ke seluruh ruangan ke arah ketujuh anaknya yang kini berdiri berkelompok, tampak begitu kokoh, begitu yakin:

Edward, anak tertua, berdiri tepat di sisi Daddy. Wajahnya tenang, matanya tajam memindai setiap sudut ruangan, seolah ia sedang membaca peta yang tak terlihat orang lain. Ia adalah pewaris utama, bayangan yang selalu mengikuti Daddy, tangan kanan yang menjalankan setiap keputusan dengan ketepatan yang menakutkan.

Di sampingnya Will, tegap dan waspada. Tak banyak bicara, tapi siap melangkah maju seketika jika ada bahaya mengancam salah satu dari kami.

Charlotte berdiri di dekat mereka, tersenyum memikat pada seorang tamu namun matanya tak pernah ikut tersenyum sepenuhnya. Ia adalah wajah ramah yang menyembunyikan rencana yang tak akan diketahui siapa pun sampai terlambat.

Henry berdiri agak terpisah, di sudut ruangan, memperhatikan segalanya dengan tenang. Mulutnya tertutup, tapi matanya mencatat setiap gerak, setiap kata, setiap perubahan ekspresi.

George berdiri tegak, rahangnya kokoh, tatapannya lurus dan tegas. Ia tak suka berputar-putar jika ada yang salah, ia akan menunjuknya secara langsung.

Dan Sophie, kakak perempuanku yang lain, berdiri sedikit di belakang, menatapku dengan tatapan yang lembut dan penuh pengertian. Ia satu-satunya yang sepertinya memahami keresahan di mataku.

“Sebagian tahu,” jawab Mommy perlahan. “Sebagian menebak. Dan sebagian lagi memilih untuk tidak berpikir terlalu jauh karena takut menemukan jawaban yang tidak mereka inginkan.” Ia memegang tanganku. “Kami bukan orang jahat, Grace. Ingatlah itu. Kami hanya melindungi apa yang menjadi milik kami. Dan di dunia ini, cara terbaik untuk melindungi diri adalah dengan membuat orang lain segan menyakiti kami.”

“Tapi Mommy... rasanya seperti kita berdiri sendirian,” ucapku lirih. “Di tengah keramaian ini, aku merasa sendirian.”

Mommy menghela napas pelan, lalu menarikku ke dalam pelukan singkat namun hangat. “Itulah beban nama Margaretha, Sayang. Semakin tinggi kita berdiri, semakin sedikit orang yang berani mendekat. Tapi kau tidak sendirian. Daddy, Edward, Will, Charlotte, Henry, George, Sophie... dan aku. Kita tujuh bersaudara, kita satu kesatuan. Selama kita saling menjaga, tak ada yang bisa meruntuhkan kita.”

Ia mundur perlahan. “Sekarang, tersenyumlah. Daddy akan berbicara sebentar lagi. Dan kau harus berdiri di samping keluargamu.”

Aku mengangguk, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah maju. Kerumunan perlahan memberi jalan. Mata-mata itu tertuju padaku menilai, mengamati.

Di depan sana, Daddy menoleh dan melihatku. Ia mengangguk pelan. Edward menatapku sekilas lalu mengangguk. Will tersenyum tipis. Charlotte mengedip pelan. Henry menatap sebentar lalu kembali memantau ruangan. George mengangguk mantap. Sophie tersenyum lembut.

Aku berdiri di antara mereka ketujuh anak Margaretha, berjejer rapi, kokoh seperti menara. Daddy mengangkat tangannya, dan seketika ruangan hening total.

“Terima kasih telah hadir,” suaranya berat dan memenuhi ruangan. “Keluarga Margaretha berdiri teguh karena satu hal: kesetiaan. Siapa pun yang berdiri bersama kami, akan kami lindungi. Siapa pun yang setia, akan kami angkat. Dan siapa pun yang berani melawan...”

Ia berhenti, keheningan menindih udara.

“...akan kami hapus.”

Tepuk tangan meledak, namun aku tak ikut bertepuk. Aku hanya berdiri di sana, merasakan dingin menjalar perlahan. Di luar sana, mereka sudah menyebut kami dengan nama yang tak pernah diucapkan di meja makan kami.

Mereka menyebut kami Mafia.

Dan saat ini, untuk pertama kalinya, aku merasakan beban itu turun ke pundakku. Aku tidak bisa lari. Aku tidak bisa menyangkal.

Aku adalah Grace Isabella Margaretha. Dan seluruh keluargaku... adalah mafia.

Permainan catur baru saja dimulai. Dan aku kini berdiri di papan itu. ♟️🖤

......~ Bersambung ~......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!