Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Surat Perjanjian yang Terbakar
Pagi itu, sinar matahari Jakarta menembus kaca raksasa penthouse lantai 45 dengan kehangatan yang lembut. Di meja kerja koridor timur, Arvin duduk di kursi kulit mewahnya. Namun kali ini, di hadapannya bukan lagi berkas laporan keuangan atau grafik saham Dirgantara Group, melainkan sebuah map kulit berwarna hitam yang sudah agak kusam di bagian tepinya.
Itu adalah dokumen asli Pernikahan Rahasia 1 Tahun yang mereka tandatangani beberapa bulan lalu—dokumen yang dulu menjadi benteng dingin di antara mereka.
Suara langkah kaki berirama halus mendekat. Dania melangkah masuk membawa nampan berisi cangkir kopi hitam kesukaan Arvin dan secangkir teh hangat untuk dirinya sendiri. Ia mengenakan gaun rumah berwarna krem yang simpel namun memperlihatkan keanggunannya.
Dania meletakkan cangkir kopi di samping laptop Arvin, lalu matanya tertuju pada map hitam di atas meja.
"Kamu mengeluarkan dokumen itu lagi?" tanya Dania lembut seraya mendudukkan tubuhnya di tepi meja kerja Arvin.
Arvin mendongak, meraih jemari Dania dan mengusapnya dengan lembut. Pria tegap itu menarik map tersebut mendekat, membuka lembaran kertas yang penuh dengan stempel hukum dan pasal-pasal perjanjian yang kaku.
"Aku baru saja memeriksanya pagi ini," kata Arvin, suara baritonnya merendah. "Klausul nomor satu, dua, hingga seluruh poin hak dan kewajiban di atas kertas ini... semuanya dirancang untuk saling membatasi."
Dania menyunggingkan senyum tipis, mengingat kembali betapa kaku dan defensifnya mereka saat pertama kali menyusun kalimat demi kalimat di kertas itu.
"Saat itu, kita berdua sama-sama tidak saling percaya," bisik Dania, jemarinya mengusap bahu kokoh Arvin. "Aku takut kamu hanya memanfaatkanku untuk saham lima puluh satu persen itu, dan kamu takut aku punya niat tersembunyi terhadap keluargamu."
Arvin berdiri dari kursinya, menyisipkan tangannya di pinggang Dania dan membawa tubuh istrinya rapat ke dalam dekapan hangatnya. Ia menatap mata bening Dania dengan kedalaman rasa yang terpancar jelas.
"Dan sekarang, lembaran kertas ini adalah hal paling tidak berguna yang pernah ada di rumah ini," tegas Arvin jujur.
Arvin meraih korek api besi dari laci meja kerjanya. Tanpa ragu sedikit pun, ia memantik api kecil dan membakar sudut lembaran dokumen perjanjian kontrak tersebut di atas wadah kaca khusus.
Dania membelalakkan matanya tipis, terkejut namun dipenuhi rasa haru yang membuncah. Ia menyaksikan lidah api perlahan merayapi deretan pasal, pasal demi pasal, menghancurkan stempel hukum dan tulisan 'Pernikahan Rahasia 1 Tahun' menjadi abu hitam yang tak berbekas.
"Arvin... apa yang kamu lakukan?" bisik Dania dengan suara bergetar bahagia.
"Menghancurkan batasan terakhir di antara kita," sahut Arvin mantap seraya membuang sisa kertas yang terbakar ke wadah kaca. Ia mematikan sisa api, lalu berbalik menatap Dania sepenuhnya. "Mulai detik ini, tidak ada lagi kontrak satu tahun. Tidak ada lagi draf bisnis. Kamu adalah istriku, Dania Kirana Dirgantara... sampai kapan pun."
Dania menatap abu kertas yang telah hancur, lalu beralih menatap wajah tegas Arvin yang kini dipenuhi kehangatan cinta tanpa syarat. Air mata haru menggenang di sudut mata Dania. Ia melingkarkan kedua lengannya di sekeliling leher Arvin, menarik tubuh pria itu dan memeluknya erat-erat.
"Terima kasih, Arvin," bisik Dania di balik dada bidang suaminya. "Terima kasih sudah memilih untuk mencintaiku."
Arvin mempererat pelukannya, mengecup pelipis dan rambut Dania berulang kali, menikmati keharuman dan kedamaian yang kini menyelimuti seluruh sudut penthouse mereka.
Sore harinya, Arvin dan Dania memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama di area taman atap (roof garden) lantai 45. Taman kecil bermandikan lampu-lampu gantung temaram itu menjadi tempat favorit baru mereka untuk bersantai.
Arvin duduk di sofa taman seraya memangku laptopnya, sementara Dania bersandar santai di sampingnya seraya membaca majalah desain internasional.
"Arvin," panggil Dania pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah.
"Ya, sayang?" sahut Arvin refleks—sebuah sapaan manis yang kini meluncur sangat alami dari bibir sang CEO.
Dania tersenyum manis mendengar sapaan itu, lalu menoleh. "Minggu depan tim desain kita akan mulai mengerjakan pemetaan fase dua Grand Dirgantara Tower. Erlangga menyarankan agar kita melakukan survei lapangan langsung ke kawasan tapak proyek."
Mendengar nama Erlangga disebut, jemari Arvin di atas papan ketik laptop mendadak berhenti. Pria tegap itu menoleh menatap Dania, matanya menyipit tipis memancarkan kecemburuan halus yang sangat menggemaskan.
"Erlangga lagi?" gumam Arvin dengan nada suara yang sengaja dibuat datar, namun jelas menyimpan rasa tak suka.
Dania menahan tawa gigilnya melihat ekspresi Arvin. Ia meletakkan majalahnya, mendekatkan wajahnya ke pipi Arvin. "Kenapa? Dia kan arsitek senior di timku, Arvin."
"Aku tahu," sahut Arvin kaku, menutup laptopnya dan meletakkannya di meja. Ia meraih kedua tangan Dania, menatap istrinya dengan pandangan posesif yang hangat. "Tapi aku tidak suka melihatnya terlalu sering berada di dekatmu, bahkan untuk urusan proyek."
Dania tertawa renyah, usulan cemburu dari seorang CEO raksasa yang biasanya begitu dingin dan tak tersentuh ini selalu berhasil menghangatkan hatinya. Dania mengusap rahang tegas Arvin dengan lembut.
"Tuan CEO yang terhormat," goda Dania penuh kasih sayang. "Hati dan pikiran arsitek utama ini sudah sepenuhnya dikuasai oleh pemilik saham mayoritasnya. Anda tidak perlu khawatir pada siapa pun."
Arvin menatap bibir Dania yang tersenyum manis, lalu sudut bibirnya terangkat dalam senyuman tampan. Ia menarik tubuh Dania hingga duduk di pangkuannya, mengurung wanita itu dalam dekapan protektifnya.
"Ucapanmu tadi harus dibayar dengan kepatuhan pada aturanku malam ini, Nyonya Dirgantara," bisik Arvin rendah di samping telinga Dania, sebelum menautkan bibirnya dengan bibir Dania dalam sebuah ciuman yang manis dan sarat akan romansa yang membara di bawah pendar lampu taman atap.