NovelToon NovelToon
PENGANTIN SANG JENDERAL

PENGANTIN SANG JENDERAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: Dede Queen

Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.

Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".

Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.

Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.

Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 — Rumah yang Kembali Berwarna

Jarak dari Istana Musim Dingin ke kediaman keluarga Li terasa berbeda kali ini. Dulu setiap langkah terasa berat, seolah bahu mereka memikul gunung kekhawatiran. Kini, meski kelelahan masih membekas di wajah, napas mereka terasa lebih ringan, dan cahaya matahari pagi yang menyelinap di antara dahan pohon terasa menyentuh kulit dengan kehangatan yang sesungguhnya.

Kereta kuda bergerak pelan menyusuri jalan-jalan kota yang mulai ramai. Penduduk yang lewat menoleh, ada yang membungkuk memberi hormat, ada yang berbisik pelan — berita tentang apa yang terjadi di istana telah menyebar seperti angin musim, namun belum ada yang tahu kisah lengkapnya.

Di dalam kereta, Ling Yue duduk bersandar di bahu Li An, jemarinya saling bertaut erat dengan tangan pria itu. Di seberang mereka, Rouran tertidur lelap, napasnya teratur dan tenang untuk pertama kalinya sejak sekian lama.

"Kau tahu," bisik Ling Yue pelan, "saat aku pikir kita tidak akan bisa keluar dari sana, aku sempat takut... takut semua ini hanyalah mimpi indah yang akan lenyap sewaktu aku terbangun."

Li An mengusap punggung tangan gadis itu lembut, bibirnya menyentuh keningnya sekilas. "Bukan mimpi. Dan aku berjanji, mulai hari ini, tidak ada lagi rahasia yang memisahkan kita. Tidak ada lagi kebohongan, tidak ada lagi perpisahan."

Kereta akhirnya berhenti di depan gerbang kediaman Li. Pintu-pintu kayu yang dulu tampak dingin dan angkuh kini berdiri terbuka lebar, seolah menyambut kepulangan mereka. Para pelayan berkerumun di halaman, wajah mereka bercampur lega dan gembira — banyak yang meneteskan air mata melihat tuan muda mereka pulang dengan selamat.

Namun saat melangkah masuk ke dalam aula utama, suasana yang menyambut mereka bukanlah sekadar sukacita. Di sana, di bawah lukisan besar ayah Li An, berdiri beberapa pejabat istana yang telah menunggu sejak tadi. Wajah mereka serius, tanpa senyum.

Li An mengantar Rouran ke kamarnya terlebih dahulu, memastikan gadis itu beristirahat dengan nyaman, lalu kembali ke aula bersama Ling Yue.

"Jenderal Li An," salah satu pejabat itu membuka pembicaraan dengan suara rendah. "Kami datang atas perintah Kaisar. Berita tentang kejadian di Istana Musim Dingin telah sampai ke telinga Baginda. Beliau bersyukur keamanan kekaisaran selamat, namun... ada hal-hal yang harus dibicarakan."

Li An mengangguk tenang. "Bicaralah. Aku siap mendengarkan."

"Kakakmu, Li Xuan, telah mengakui semua perbuatannya. Beliau memohon maaf sekaligus mengakui kesalahannya. Namun Baginda bingung menetapkan keputusan — di satu sisi, beliau telah melakukan pengkhianatan berat. Di sisi lain, banyak pejabat lama yang masih mengingat jasa ayahmu." Pejabat itu terdiam sejenak, lalu menatap lurus ke mata Li An. "Kaisar ingin mendengar pendapatmu sendiri. Apa yang seharusnya dilakukan pada kakakmu?"

Pertanyaan itu menimpa Li An seperti beban berat yang diletakkan kembali di pundaknya. Ia melangkah ke jendela, menatap ke arah halaman yang luas namun terasa sepi. Bagaimana mungkin ia menghukum darah dagingnya sendiri? Namun bagaimana pula membiarkan kesalahan yang begitu besar berlalu begitu saja?

Ling Yue mendekat perlahan, meletakkan tangannya di lengan pria itu. "Kau tidak harus memutuskan sendirian," bisiknya. "Dan kau tidak harus memilih antara keadilan dan kasih sayang. Ada jalan yang menampung keduanya."

Li An menoleh, menatap mata gadis itu yang tenang dan teguh. Ia menarik napas panjang, lalu berbalik menghadap para pejabat.

"Aku tidak memohon agar kesalahannya diabaikan," ucapnya lantang dan jernih. "Ia harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Namun biarkan hukuman itu menjadi jalan pertobatan, bukan akhir segalanya. Usulkan pada Kaisar — biarkan ia pergi ke perbatasan terjauh, membangun kembali desa-desa yang hancur, merawat mereka yang terluka. Biarkan ia membuktikan bahwa ia bisa berguna bagi negeri ini, bukan dengan kekuasaan, melainkan dengan keringat dan ketulusan."

Para pejabat saling berpandangan. Usulan itu tidak biasa, namun masuk akal dan penuh kebijaksanaan.

"Aku akan menyampaikan permohonan ini kepada Baginda," kata pejabat itu akhirnya. "Semoga keputusan ini membawa kedamaian bagi semua pihak."

Setelah mereka pergi, kediaman itu kembali hening — namun kali ini hening yang damai. Li An duduk di beranda, menatap ke arah taman yang mulai mekar bunga-bunganya. Ling Yue duduk di sampingnya, tidak berkata apa-apa, cukup berada di sana.

"Kau tahu," kata Li An pelan setelah cukup lama diam, "sejak kecil aku selalu merasa kalah dibanding kakakku. Ayah memujanya, semua orang memandangnya. Lalu kabar kematiannya datang... dan aku merasa seolah-olah aku harus menggantikan tempatnya, menjadi sempurna, menjadi kuat." Ia menghela napas panjang. "Hari ini aku sadar — aku tidak perlu menjadi dia. Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri."

Ling Yue tersenyum lembut, menyelipkan sehelai rambut ke belakang telinganya. "Dan justru karena itulah aku mencintaimu. Bukan karena kau jenderal yang hebat, bukan karena keturunanmu yang mulia — melainkan karena hatimu yang lembut sekaligus teguh."

Wajah Li An memerah samar, lalu ia menggenggam tangan gadis itu, mendekatkannya ke dadanya. "Dulu, sebelum semua kekacauan ini terjadi, aku berniat melamar kau dengan sungguh-sungguh. Apakah... apakah keinginan itu masih sama di hatimu?"

Ling Yue menunduk, pipinya merona merah, namun suaranya jelas dan tegas. "Sudah sejak saat itu hatiku sudah menjawab ya. Tidak peduli apa yang terjadi, jawabanku tidak akan pernah berubah."

Li An tersenyum lebar — senyum yang paling tulus yang pernah dilihat Ling Yue. Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya, membiarkan dunia di luar sana berputar tanpa mereka sejenak.

Namun kebahagiaan itu belum lengkap. Malam harinya, saat suasana kediaman mulai tenang, Rouran datang ke kamar Ling Yue. Wajahnya tampak gelisah, seolah ada sesuatu yang tertahan di kerongkongan.

"Kakak..." panggilnya pelan.

Ling Yue segera mengajaknya duduk di tepi tempat tidur. "Ada apa? Apakah kau masih merasa tidak enak badan?"

Rouran menggeleng, lalu menatap lurus ke mata saudarinya. "Ada sesuatu yang harus kukatakan... sesuatu yang selama ini aku simpan sendirian. Dan aku takut kalau kau mengetahuinya, pandanganmu padaku akan berubah."

Ling Yue menggenggam kedua tangan saudarinya. "Tidak akan pernah berubah. Apa pun itu, kita hadapi bersama."

Rouran menarik napas panjang, lalu memulai ceritanya dengan suara bergetar. "Kau ingat saat kita kecil, saat orang-orang desa mengusir kita? Mereka bilang darah kita membawa sial... dan dulu aku pikir itu cuma kata-kata kejam orang yang tidak tahu apa-apa. Tapi ternyata... ada kebenaran di baliknya."

Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "Keturunan kita bukan sekadar keturunan biasa. Kita adalah keturunan penjaga kuno — mereka yang bertugas menjaga keseimbangan antara kekuatan yang tersembunyi di negeri ini. Dan karena itulah banyak orang mengincar kita... bukan hanya sekarang, tapi sudah sejak puluhan tahun lalu."

Ling Yue tertegun. "Lalu... bahayanya belum selesai?"

"Belum," jawab Rouran pelan namun tegas. "Li Xuan hanyalah salah satu dari mereka yang menginginkan kekuatan itu. Masih ada orang lain — mereka yang bergerak diam-diam, menunggu saat yang tepat untuk muncul. Dan mereka tahu kita masih hidup."

Kabar itu seperti air dingin yang menyiram kehangatan yang baru saja tumbuh di hati mereka. Ancaman belum berakhir. Perjuangan mereka masih panjang.

Namun Ling Yue tidak gemetar. Ia merangkul saudarinya, menatapnya dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.

"Biarkan mereka datang," ucapnya tenang. "Kita tidak sendirian lagi. Ada Li An. Ada Paman Feng. Dan ada kita berdua. Selama kita bersatu, tidak ada kekuatan apa pun yang bisa memisahkan atau menghancurkan kita."

Pintu kamar terbuka pelan. Li An berdiri di sana, wajahnya serius namun tidak takut. Ia telah mendengar semuanya.

"Rouran benar," ucapnya pelan namun tegas. "Ancaman belum berakhir. Tapi sekarang kita tahu siapa kita, dan apa yang harus dijaga. Kita akan lebih waspada. Kita akan lebih kuat." Ia melangkah masuk, berdiri di samping mereka. "Dan aku berjanji — tidak akan ada lagi yang menyakiti kalian berdua. Selama aku bernapas, aku adalah perisai kalian."

Malam itu mereka tidur sedikit. Mereka duduk bersama, menyusun rencana, saling menguatkan. Ancaman baru sedang mendekat, bayangan yang lebih gelap dari sebelumnya perlahan turun. Namun di tengah semua itu, satu hal yang tidak berubah — ikatan di antara mereka semakin kuat, semakin dalam, semakin tak terpisahkan.

Matahari terbit membawa pagi yang cerah, namun juga membawa peringatan halus di angin. Petualangan mereka belum berakhir. Justru, babak yang sesungguhnya baru saja dimulai.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!