Sinopsis:
Ethan Vance—Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi dan jenius biomekanika—tewas mengenaskan akibat sabotase reaktor fusi. Namun, bukannya masuk neraka, jiwanya justru terlempar ke dunia Murim dan lahir kembali sebagai Cheon Ryeon, bayi dari klan paling bawah di Kultus Iblis.
Keluarga Cheon yang dulunya berjaya kini hanya dianggap sampah dan terus ditindas oleh klan-klan utama lainnya. Tidak punya pil energi mahal atau kitab pusaka? Tidak masalah. Bagi seorang mantan jenderal, Dantian manusia tidak ada bedanya dengan reaktor mikro, dan jurus pedang tak lebih dari kalkulasi arah dan sudut jatuh!
Bersama sahabat-sahabat senasib yang tak kalah aneh—mulai dari anak buangan ahli racun yang matre, gadis perkasa bertulang tebal, sampai pembunuh jalanan yang sinis—Ryeon mulai membangun kekuatannya dari nol.
"Dunia ini bertarung pakai takdir dan mistis? Lucu sekali. Mari kuajarkan cara bertarung menggunakan logika dan sains!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Mikyail Ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Utusan Ortodoks dan Peta Reaktor Kuno
Insiden penundukan Geng Serigala Hitam dalam hitungan detik menyebar bagaikan api menyambar jerami kering di Kota Perbatasan Linjiang. Tidak ada lagi faksi Unortodoks atau kelompok preman lokal yang berani bermain-main dengan Serikat Dagang Roda Bintang. Dalam kurun waktu tiga hari, toko tiga lantai itu dibanjiri pesanan pil pemurni saraf, alat tambang efisien, serta zirah komposit dari para pedagang lintas wilayah.
Di lantai tiga gedung Serikat Dagang—ruangan khusus yang dirancang kedap suara dengan lapisan dinding komposit penyerap getaran—Cheon Ryeon sedang memeriksa data transaksi harian.
Tok, tok, tok.
Pintu ruangan diketuk tiga kali dengan irama yang sangat teratur.
Baek Hyun melangkah masuk dari balik pintu rahasia di dinding. "Bos, ada utusan khusus dari Klan Jaegal yang mau bertemu. Dia membawa token batu giok yang sama persis seperti milikmu."
Ryeon mengangguk pelan. "Suruh dia masuk."
Seorang pemuda paruh baya berpakaian sutra biru melangkah masuk dengan santai. Sikapnya sangat sopan saat ia membungkuk hormat dan meletakkan sebuah kotak kayu jati berukir di atas meja Ryeon.
"Salam, Ketua Cheon Ryeon," ucap utusan itu dengan suara pelan. "Saya utusan pribadi Nona Jaegal So-yeon. Nona mengirimkan kotak ini beserta informasi penting terkait pergerakan Aliansi Ortodoks."
Ryeon membuka kotak kayu jati tersebut. Di dalamnya terbaring sebuah gulungan kulit domba tua yang tepinya sudah agak menguning, serta satu kepingan logam komposit Bumi yang baru.
"Nona So-yeon menyampaikan bahwa tiga hari lalu, para Tetua Tinggi dari Sekte Pedang Qingcheng dan Sekte Wudang menemukan situs reruntuhan kuno di daerah Lembah Kabut Jiwa," lanjut utusan itu. "Organisasi rahasia Ordo Mata Dantian sudah mendirikan markas utama mereka di sana untuk mengaktifkan Reaktor Inti Kedua."
Mata hitam Ryeon menyempit kilat.
Ryeon membuka gulungan kulit domba tersebut. Di dalamnya terlukis peta topografi Lembah Kabut Jiwa lengkap dengan titik-titik formasi pelindung serta jalur patroli pasukan Ordo Mata Dantian.
"Nona So-yeon meminta Anda untuk bertemu di perbatasan Lembah Kabut Jiwa dua hari dari sekarang," tambah utusan itu. "Pasukan Aliansi Ortodoks rencananya bakal melakukan penyerbuan terbuka ke sana, dan Nona mau kita memanfaatkan kekacauan itu untuk mengamankan Reaktor Inti sebelum dihancurkan atau direbut oleh para tetua faksi Ortodoks."
Ryeon mengamati peta tersebut dengan matanya yang analitis.
Reaktor Inti Kedua, batin Ryeon. Jika reaktor ini berhasil diamankan dan dipelajari dengan pemahaman sains Bumi, kita bisa menciptakan sumber energi terbarukan tanpa perlu menguras Dantian manusia.
"Sampaikan pada Nona So-yeon, aku dan tim inti Ordo Roda Bintang bakal tiba di lokasi tepat waktu," kata Ryeon datar.
Utusan itu membungkuk hormat sekali lagi. "Baik, Ketua Cheon. Saya pamit mundur."
Setelah utusan itu pergi, Ryeon memanggil Tang Jin-Bao dan Gong Son-mi ke ruangan atas.
Jin-Bao masuk membawa catatan inventaris barang, sementara Son-mi membawa laporan kesiapan pasukan Garda Depan.
"Jin-Bao, bagaimana pasokan amunisi gas penetral dan jarum mikro-karbon kita?" tanya Ryeon.
"Lengkap lima ratus persen, Bos!" seru Jin-Bao bangga. "Setelah dapat pasokan dana dari penjualan zirah kemarin, aku sudah memproduksi seratus selongsong racun anestesi baru dan lima puluh meriam tekanan gas portabel!"
Son-mi menepuk perisai komposit di tangannya. "Pasukan Garda Depan kita yang berisi tiga puluh murid terpilih dari Asrama Bawah juga sudah siap bergerak kapan saja."
Ryeon berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar yang menghadap langsung ke arah jajaran pegunungan Central Plains di kejauhan.
"Perjalanan kita kali ini bukan cuma bentrokan kecil di perbatasan," ujar Ryeon dengan suara dingin dan penuh wibawa. "Kita bakal masuk ke jantung wilayah pertikaian antara Aliansi Ortodoks dan Ordo Mata Dantian."
Ryeon merogoh kompas pelacak frekuensi pemberian So-yeon dari dalam jubahnya. Jarum magnetik pada kompas tersebut bergetar halus, menunjuk lurus ke arah barat daya—posisi Lembah Kabut Jiwa.
"Baek Hyun," panggil Ryeon. "Pimpin tim bayangan untuk mengintai jalur perbatasan terlebih dahulu. Jin-Bao dan Son-mi, siapkan pasukan pengangkut logistik."
"SIAP, BOS!" seru mereka bertiga serempak dengan mata berbinar penuh semangat.
Ryeon menatap kompas di tangannya. Misteri teknologi masa lalunya di Bumi dan ancaman organisasi rahasia yang mengintai benua Murim kini makin dekat untuk terkuak. Dan bersama Ordo Roda Bintang serta Jaegal So-yeon, Sang Jenderal Sains siap mengukir sejarah baru di Central Plains!