Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Mobil van abu-abu milik sekolah melaju membelah jalan raya kota yang cukup padat pagi itu.
Di dalam mobil, suasana terasa sangat tegang dan sunyi.
Pak Darmawan duduk di kursi depan menemani sopir sekolah, sementara Nadin dan Tommy duduk di kursi belakang.
Nadin terus menggigit kuku ibu jarinya sambil menatap buku rangkuman olimpiade di pangkuannya.
Sesekali gadis itu melirik ke arah Tommy yang sedang menyandarkan kepalanya di kaca jendela dengan mulut sedikit terbuka.
"Tom, lo bisa gak sih mukanya jangan kayak orang baru bangun tidur gitu?" tegur Nadin dengan nada kesal.
"Ini olimpiade tingkat kota, bukan acara kemah sekolah!"
Tommy mengerjapkan matanya dan mengusap ujung bibirnya yang berpura-pura ngiler.
"Maaf, Din, jalannya mulus banget jadi aku ngantuk," jawab Tommy sambil nyengir lebar.
Nadin membuang muka dengan rasa frustrasi yang luar biasa.
Gadis pintar itu merasa seperti sedang membawa sebuah bom waktu bersamanya.
Jika Tommy mengacau di panggung nanti, nama baik SMA Garuda dan reputasinya sebagai juara kelas akan hancur lebur di hadapan sekolah-sekolah elite lainnya.
"Bapak harap kalian berdua sudah siap," ucap Pak Darmawan dari kursi depan tanpa menoleh ke belakang.
"Fokus pada babak penyisihan pertama, kita harus bisa masuk ke jajaran sepuluh besar untuk lolos ke babak utama besok."
"Baik, Pak," jawab Nadin mantap.
"Iya, Pak, saya bakal dukung Nadin dari belakang," sahut Tommy dengan suara bersemangat yang terdengar sangat bodoh.
Tiga puluh menit kemudian, mobil van itu memasuki area parkir sebuah gedung konvensi besar di pusat kota.
Ratusan murid berseragam dari berbagai sekolah menengah atas bergengsi sudah memenuhi area pendaftaran.
Spanduk besar bertuliskan "Olimpiade Akademik Kota 2026" membentang di atas pintu masuk utama.
Saat Tommy, Nadin, dan Pak Darmawan berjalan memasuki lobi gedung, puluhan pasang mata langsung menatap ke arah mereka.
"Lihat itu, perwakilan dari SMA Garuda," bisik seorang siswi dari sekolah lain.
"Kudengar SMA Garuda tahun ini nyaris tidak lolos kualifikasi karena rata-rata nilai sekolah mereka menurun."
Bisik-bisik meremehkan itu terdengar jelas di telinga Nadin, membuat langkah kakinya semakin kaku.
Namun bagi Tommy yang memiliki IQ seratus sembilan belas, semua suara itu tidak lebih dari sekadar dengungan nyamuk yang tidak penting.
"Selamat pagi, Pak Darmawan," sapa sebuah suara angkuh dari arah belakang.
Mereka bertiga menoleh dan melihat seorang pria berjas rapi berjalan menghampiri mereka.
Di belakang pria itu, berdiri dua orang murid laki-laki dan perempuan dengan seragam merah marun yang sangat mewah.
Mereka adalah perwakilan dari SMA Nusantara, sekolah elite yang selalu memenangkan olimpiade ini selama tiga tahun berturut-turut.
"Selamat pagi, Pak Lukas," balas Pak Darmawan dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Tumben sekali SMA Garuda mengirimkan murid baru tahun ini, biasanya selalu Reyhan yang menjadi andalan," ucap Pak Lukas melirik sinis ke arah Tommy.
Murid laki-laki berseragam merah marun di belakang Pak Lukas maju selangkah dengan senyum meremehkan.
"Saya Leo, kapten tim SMA Nusantara," sapa anak itu sambil mengulurkan tangan ke arah Nadin.
Nadin menyambut jabatan tangan itu dengan sopan. "Nadin."
Mata tajam Leo lalu beralih menatap Tommy dari atas sampai bawah.
Postur Tommy yang membungkuk dan wajahnya yang terlihat linglung membuat Leo tertawa kecil.
"Dan kamu pasti yang menang seleksi sekolah karena gambar jaring laba-laba itu ya?" ejek Leo terang-terangan.
Kabar tentang kemalangan Reyhan yang dikalahkan oleh 'si bodoh yang beruntung' ternyata sudah menyebar luas di kalangan guru pembimbing lintas sekolah.
Wajah Nadin seketika memerah menahan malu mendengar ejekan dari juara bertahan tersebut.
Tommy hanya menggaruk kepalanya dengan raut wajah kebingungan.
"Iya, namaku Tommy, salam kenal Kak Leo," jawab Tommy menyambut jabatan tangan Leo dengan genggaman yang sengaja ia buat sangat lemah.
Leo menarik tangannya dengan cepat seolah baru saja memegang sesuatu yang menjijikkan.
"Jangan menangis kalau sekolah kalian tereliminasi di babak pertama, ya," bisik Leo dengan nada congkak sebelum berlalu pergi mengikuti gurunya.
Nadin mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi.
"Sombong banget anak itu," gerutu Nadin pelan.
"Biarkan saja, Din, buktikan di atas panggung nanti," ucap Pak Darmawan menenangkan muridnya.
Setelah proses pendaftaran selesai, seluruh peserta diarahkan memasuki aula utama yang sangat luas.
Terdapat lima puluh meja dengan tombol bel di atasnya, masing-masing meja ditempati oleh dua orang perwakilan dari setiap sekolah.
Tommy dan Nadin mendapat meja nomor tujuh belas di barisan tengah.
Di atas meja mereka terdapat layar monitor kecil yang akan menampilkan skor sementara.
"Perhatian seluruh peserta, babak penyisihan cepat akan segera dimulai," umumkan dewan juri dari atas panggung utama.
"Babak ini terdiri dari seratus soal campuran. Tim yang menekan bel paling cepat berhak menjawab."
"Jawaban benar mendapat sepuluh poin, jawaban salah akan dikurangi lima poin."
Suasana aula seketika menjadi sangat sunyi dan tegang.
Nadin meletakkan tangan kanannya tepat di atas tombol bel, siap untuk menekannya kapan saja.
Sementara Tommy sengaja memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, terlihat sangat santai dan tidak peduli.
"Soal pertama, bidang biologi molekuler," suara dewan juri menggema dari pengeras suara.
"Sebutkan nama enzim spesifik yang bertanggung jawab untuk membuka untai ganda DNA selama proses replikasi!"
Teng!
Suara bel pertama langsung berbunyi kurang dari satu detik setelah soal selesai dibacakan.
Layar monitor di depan meja tim SMA Nusantara menyala hijau terang.
Leo berdiri dengan senyum angkuh yang melekat di wajahnya.
"Enzim Helikase," jawab Leo dengan suara lantang dan penuh percaya diri.
"Benar! Sepuluh poin untuk SMA Nusantara."
Sorakan tepuk tangan langsung menggema dari barisan penonton yang berada di tribun atas.
Nadin menggigit bibir bawahnya, merasa sedikit tertinggal karena ia baru saja akan menekan tombol bel tersebut.
"Soal kedua, bidang sejarah dunia."
"Pada tanggal berapa perjanjian Versailles ditandatangani untuk mengakhiri Perang Dunia Pertama secara resmi?"
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇