NovelToon NovelToon
Reincarnation Of The Lemitless

Reincarnation Of The Lemitless

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26 — Pesta di Aula Es

Malam itu, Raja Fenrir mengadakan perjamuan besar untuk menyambut rombongan Kael, diadakan di aula utama istana yang dibangun langsung dari formasi es alami yang entah bagaimana tidak pernah mencair meski api unggun besar menyala di tengah ruangan, dijaga tetap stabil oleh semacam sihir kuno khas Beastman yang menyeimbangkan panas dan dingin secara sempurna.

"Ini teknik yang diwariskan turun-temurun," Ragna menjelaskan ketika Kael menatap fenomena aneh itu dengan penasaran, duduk di sampingnya di meja perjamuan panjang yang dipenuhi hidangan daging panggang dan minuman keras khas pegunungan utara.

"Menyeimbangkan elemen berlawanan adalah bagian penting dari filosofi Beastman—kekuatan sejati datang dari harmoni, bukan dominasi satu elemen atas yang lain."

Perjamuan itu jauh berbeda dari formalitas kaku yang biasa Kael temui di istana Valtherion atau bahkan keanggunan tenang Sylvariel.

Di sini, tawa keras dan cerita-cerita heroik tentang perburuan dan pertarungan mengalir bebas, para pemimpin klan dari berbagai jenis Beastman berbagi kisah dengan antusiasme yang tulus, menciptakan suasana hangat yang penuh persahabatan kasar namun tulus.

"Ceritakan tentang pertarunganmu melawan monster di Death Forest," salah satu pemimpin klan Tiger meminta dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu, setelah mendengar sedikit tentang latar belakang Kael dari Ragna.

Kael menceritakan pengalamannya dengan Blood Bear, disambut sorak-sorai kagum dari para Beastman yang menghargai kisah pertarungan brutal melawan kekuatan alam liar—sesuatu yang sangat resonan dengan nilai-nilai budaya mereka sendiri.

Di sudut lain aula, Seraphina duduk dengan lebih tenang, mengamati interaksi hangat antara Kael dan para Beastman dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Lyra, yang duduk tidak jauh darinya, memperhatikan hal yang sama, dan untuk pertama kalinya, kedua wanita itu menemukan diri mereka bertukar pandangan yang penuh pemahaman diam-diam tentang perasaan yang mereka berdua rasakan terhadap pemuda yang sama.

"Kau sudah lama mengenalnya," Lyra akhirnya berkata, memulai percakapan dengan Seraphina untuk pertama kalinya secara langsung dan pribadi.

"Sejak dia membangunkanku dari tidur seribu tahun," Seraphina menjawab, nada suaranya berhati-hati namun tidak defensif. "Dia telah menjadi... sangat berarti bagiku sejak saat itu."

"Aku bisa melihatnya," Lyra berkata dengan kejujuran yang mengejutkan, tidak ada nada permusuhan dalam suaranya.

"Dan aku juga bisa melihat betapa dia menghargaimu, dengan cara yang berbeda dari yang dia tunjukkan kepada siapa pun yang lain."

Seraphina menatapnya lama, mempertimbangkan implikasi dari percakapan yang tidak terduga ini. "Kau juga memiliki perasaan terhadapnya."

Itu bukan pertanyaan, dan Lyra tidak berusaha menyangkalnya. "Aku menghormatinya, mengagumi kekuatannya dan karakternya. Apakah itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam, aku sendiri masih belum sepenuhnya yakin."

"Ras Elf hidup sangat lama," Seraphina berkata, mengingat percakapan Lyra sebelumnya tentang perspektif waktu ras mereka. "Kau punya waktu untuk memahami perasaanmu sendiri tanpa terburu-buru."

"Dan kau?" Lyra bertanya balik. "Seribu tahun tertidur, kini bangkit kembali dengan seseorang yang telah menjadi begitu penting bagimu. Apakah kau takut kehilangan waktu yang telah hilang itu?"

Pertanyaan itu menghantam sesuatu yang dalam pada diri Seraphina, dan dia terdiam sejenak sebelum menjawab dengan jujur. "Ya. Aku takut. Tapi aku juga belajar bahwa hidup—benar-benar hidup, bukan hanya bertahan—berarti mengambil risiko untuk peduli terhadap seseorang, meski itu berarti risiko rasa sakit."

Kedua wanita itu duduk dalam keheningan yang penuh pemahaman untuk beberapa saat, menyadari kompleksitas situasi yang mereka berdua hadapi tanpa perlu menyelesaikannya malam itu juga.

"Aku pikir," Lyra akhirnya berkata dengan senyum tulus yang mengejutkan, "kita berdua cukup dewasa untuk tidak membiarkan hal ini menjadi sumber permusuhan di antara kita, terlepas dari bagaimana perasaan kita masing-masing berkembang di masa depan."

"Aku setuju," Seraphina menjawab, merasakan penghargaan baru terhadap kebijaksanaan dan kedewasaan sang Putri Elf. "Kael membutuhkan sekutu yang kuat dan setia lebih dari apa pun saat ini. Apa pun yang terjadi di antara kita, itu tidak boleh mengganggu tujuan yang lebih besar yang sedang kita perjuangkan bersama."

Kembali ke sisi lain aula, Kael, tidak menyadari percakapan penting yang baru saja terjadi antara dua wanita yang telah menjadi begitu penting baginya, melanjutkan diskusi serius dengan Raja Fenrir tentang aliansi dan informasi tentang Fragmen Darah Primordial.

"Aku ingat legenda kuno dalam tradisi lisan klan kami," Raja Fenrir berkata setelah mendengarkan penjelasan lengkap tentang situasi yang mereka hadapi.

"Tentang kekuatan primal yang mengalir dalam darah nenek moyang pertama Beastman, kekuatan yang memungkinkan mereka mengambil bentuk hewan sepenuhnya, bukan hanya transformasi parsial seperti kebanyakan Beastman modern."

"Kau pikir itu bisa jadi berhubungan dengan fragmen yang kami cari?" Kael bertanya penuh harap.

"Mungkin," Raja Fenrir mengangguk pelan.

"Ada sebuah kuil kuno di pegunungan tertinggi wilayah kami, tempat konon nenek moyang pertama kami menerima berkah primal itu. Tempat itu sudah lama ditinggalkan dan dianggap terlalu berbahaya untuk dikunjungi, tapi jika kau bersedia mengambil risiko, mungkin ada petunjuk berharga di sana."

Kael menatap ke arah puncak gunung tertinggi yang terlihat samar melalui jendela es aula, tertutup awan gelap yang menandakan cuaca ekstrem di ketinggian itu.

"Aku bersedia mengambil risiko itu," katanya dengan tekad yang jelas. "Jika ada kesempatan untuk memahami lebih jauh tentang apa yang kuhadapi, aku harus mengambilnya."

Raja Fenrir tersenyum, mengangguk dengan hormat yang semakin dalam terhadap tekad pemuda di hadapannya. "Kalau begitu, besok pagi, kita akan mempersiapkan ekspedisi menuju Kuil Nenek Moyang. Tapi peringatkan dirimu, Kael—banyak yang telah mencoba mencapainya, dan sedikit yang kembali dengan selamat."

Ekspedisi menuju Kuil Nenek Moyang dimulai keesokan paginya, dengan tim yang jauh lebih ramping dari rombongan besar yang telah menemani Kael sejauh ini—hanya Kael, Seraphina, Ragna yang bersikeras ikut serta sebagai pemandu, dan dua pemburu elit Beastman yang ditugaskan Raja Fenrir untuk membantu menavigasi medan berbahaya itu.

"Kenapa kau ingin ikut?" Kael bertanya kepada Ragna saat mereka mulai mendaki jalur curam yang semakin tertutup salju tebal.

"Karena ini bagian dari warisanku juga," Ragna menjawab dengan nada serius yang jarang dia tunjukkan, jauh berbeda dari sikap kompetitifnya yang biasa.

"Jika benar ada hubungan antara kuil ini dan kekuatan primal nenek moyang kami, aku ingin menjadi bagian dari penemuan itu, bukan hanya mendengar cerita dari orang lain."

Pendakian itu jauh lebih menantang dari yang mereka perkirakan.

Angin kencang menerjang dengan kekuatan yang mengancam menjatuhkan mereka dari jalur sempit, dan suhu yang terus menurun membuat bahkan Kael dengan regenerasinya yang luar biasa mulai merasakan efek dari hipotermia yang mengancam.

[Peringatan: Suhu ekstrem terdeteksi. Absolute Regeneration bekerja untuk mengimbangi kerusakan sel akibat dingin.]

"Bertahanlah," Seraphina berkata, bergerak lebih dekat dengannya untuk berbagi kehangatan tubuh sambil terus mendaki. "Kita hampir sampai berdasarkan peta yang diberikan Raja Fenrir."

Pada titik tertentu, jalur yang mereka lalui menyempit hingga hanya cukup untuk satu orang berjalan dengan hati-hati, tebing curam di kedua sisi menciptakan risiko jatuh yang fatal jika satu langkah saja salah.

"Ini bagian paling berbahaya," salah satu pemandu Beastman memperingatkan, suaranya nyaris tertelan angin kencang. "Banyak yang gagal melewati titik ini."

Kael memutuskan untuk menggunakan Teknik Langkah Bayangan Angin untuk membantu mereka melewati bagian tersulit itu, menyalurkan sebagian kecil Qi-nya untuk membantu menstabilkan langkah setiap anggota tim secara bergantian, menciptakan semacam jangkar energi yang mencegah mereka tergelincir meski angin terus berusaha menjatuhkan mereka.

[Adaptation terhadap kondisi ekstrem: 23%.]

Setelah hampir dua jam perjuangan melawan elemen yang ganas, mereka akhirnya mencapai dataran tinggi kecil di mana Kuil Nenek Moyang berdiri—struktur batu kuno yang tertutup lapisan es tebal, namun ukiran-ukiran di dindingnya masih terlihat jelas, menggambarkan sosok-sosok Beastman dalam bentuk transformasi penuh yang jauh lebih besar dan kuat dari apa pun yang pernah Kael lihat.

"Luar biasa," Ragna berbisik, matanya melebar penuh kekaguman menatap kuil yang hanya pernah dia dengar dalam legenda. "Aku tidak pernah membayangkan akan benar-benar berdiri di sini."

Mereka memasuki kuil itu dengan hati-hati, dan di dalamnya, meski dingin masih terasa, angin yang mengamuk di luar tidak bisa menembus dinding-dinding kuno itu.

Di tengah ruangan utama, sebuah altar batu sederhana berdiri, dan di atasnya, tertanam dalam es yang tidak pernah mencair, sebuah objek kecil berkilau dengan cahaya biru pucat yang berdenyut lembut.

[Fragmen Terdeteksi: Energi Primordial — Elemen Naluri Primal.]

Kael menahan napas melihat notifikasi itu. "Ini dia," katanya, mendekati altar dengan hati-hati. "Ini fragmen yang kita cari."

"Bagaimana kita mengeluarkannya dari es?" Seraphina bertanya, memeriksa lapisan es tebal yang membungkus objek itu dengan seksama.

Ragna melangkah maju, matanya berkilat dengan tekad. "Biar aku yang mencoba. Jika ini benar-benar berhubungan dengan warisan nenek moyangku, mungkin darahku bisa membantu membukanya."

Dia menggores telapak tangannya sendiri dengan cakarnya, membiarkan beberapa tetes darah jatuh ke permukaan es yang membungkus fragmen itu.

Seketika, es itu mulai retak, cahaya biru dari fragmen di dalamnya semakin terang, seolah merespons darah Beastman yang mengalir di atasnya.

"Ini berhasil," Ragna berkata dengan napas tertahan, terus membiarkan darahnya mengalir sampai akhirnya seluruh lapisan es pecah berkeping-keping, membebaskan fragmen kecil berbentuk kristal biru pucat yang mengambang bebas di udara untuk sesaat sebelum melayang perlahan ke arah Kael.

"Kenapa itu bergerak ke arahku?" Kael bertanya, sedikit gugup melihat objek misterius itu mendekat.

"Mungkin karena fragmen dalam dirimu memanggilnya," Seraphina menduga, mengingat penjelasan Penjaga World Tree tentang fragmen-fragmen yang tersebar namun berasal dari sumber yang sama.

Fragmen itu akhirnya menyentuh dada Kael, dan cahaya biru menyilaukan meledak sesaat sebelum objek itu benar-benar menyatu dengan tubuhnya, menghilang sepenuhnya ke dalam dirinya.

[Fragmen Naluri Primal terserap.]

[Peringatan: Integrasi Fragmen Primordial dimulai.]

[Proses ini mungkin memerlukan waktu untuk stabilisasi penuh.]

Kael merasakan gelombang energi baru mengalir melalui tubuhnya, berbeda dari Qi biasa—lebih liar, lebih primal, membangkitkan naluri yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, seolah sebagian kecil dari esensi hewan buas kini menjadi bagian dari dirinya sendiri.

"Kau merasakannya?" Ragna bertanya, mengamatinya dengan mata penuh rasa ingin tahu.

"Ya," Kael menjawab, suaranya sedikit bergetar dengan sensasi asing yang mengalir dalam dirinya. "Rasanya seperti... seperti aku bisa merasakan setiap makhluk hidup di sekitarku, insting mereka, cara mereka bergerak dan berburu."

[Adaptation terhadap Fragmen Naluri Primal: 3%.]

Seraphina mendekat, menyentuh lengannya dengan lembut, memastikan dia baik-baik saja setelah proses integrasi yang jelas tidak biasa itu. "Bagaimana perasaanmu?"

"Kuat," Kael menjawab dengan senyum yang mulai muncul di tengah kelelahan dari pendakian dan proses integrasi. "Dan sedikit kewalahan, tapi kuat."

Mereka menghabiskan waktu beberapa jam lagi di kuil itu, memeriksa ukiran-ukiran kuno untuk mencari informasi tambahan tentang fragmen dan asal-usulnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk mulai perjalanan turun sebelum cuaca menjadi lebih buruk lagi.

Ketika mereka akhirnya kembali ke ibu kota Frostgard dua hari kemudian, membawa kabar tentang keberhasilan menemukan dan mengintegrasikan fragmen pertama, seluruh istana bergema dengan kegembiraan dan harapan baru—bukti nyata bahwa perjuangan mereka melawan Dravos mungkin memiliki peluang yang lebih besar dari yang mereka bayangkan sebelumnya, satu fragmen pada satu waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!