Sebuah pernikahan yang begitu megah, suatu hal yang selama ini diimpikan oleh Devina, tiba-tiba dihancur begitu saja oleh seseorang yang selama ini sangat dia benci.
Bukan hanya pernikahannya, tapi perusahaan keluarganya pun mengalami kehancuran.
"Aku sanggup membuat perusahaan ayahmu kembali berjalan, tapi dengan satu syarat, kamu harus menikah denganku!"
Itulah yang diucapkan oleh Abian Pratama, seorang CEO dingin dan kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Udara malam ini begitu dingin, tanpa Devina sadari, dengan mata terpejam, dia menarik selimut yang dipakai oleh Abian.
Hal tersebut membuat Abian terbangun, dia mendesis kesal, lalu menarik selimutnya kembali.
Devina enggan mengalah, dia menarik lebih kuat, sehingga terus terjadi saling tarik-menarik selimut diantara mereka berdua.
Abian menghela nafas dalam-dalam. Dia segera bangkit duduk, "Di lemari ada banyak selimut. Kamu ambil saja selimut yang lain, tidak perlu merebut selimut yang aku pakai."
Devina enggan membuka matanya. Dia malah merangkul dengan erat selimut tersebut. "Aku ingin selimut ini, kamu saja yang pakai selimut lain."
Abian berkata dengan dingin, "Kamu berani memerintahku?"
Devina menjawab dengan santai, "Tentu saja aku berani. Untuk apa aku takut padamu?"
Abian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia segera turun dari ranjang, untuk membawa selimut yang lain di lemari.
Namun, saat dia ingin kembali ke ranjang. Dia melihat Devina yang sedang tertidur sambil merentangkan kedua tangannya dan membuka kedua kakinya lebar-lebar, sehingga dia tidak memiliki tempat untuk tidur disana.
Abian menarik nafas dalam-dalam. Lalu berkata di dalam hatinya. "Tahan, Abian. Kamu pasti bisa melewati ujian ini. Semua ini hanya sementara."
Dengan langkah gontai, Abian harus berjalan ke arah sofa. Malam ini, dia terpaksa harus tidur disana.
Devina sebenarnya pura-pura tidur. Dia tersenyum penuh kemenangan, lalu berkata di dalam hati, "Ini baru permulaan. Aku akan selalu membuatmu kesal, agar kamu segera melepaskanku, Abian."
...****************...
Paginya... di ruang makan, Devina terlihat sangat rileks karena semalam dia tidur dengan nyenyak. Berbeda dengan Abian, tubuhnya sangat terasa pegal, bahkan dia kurang tidur, hingga menguap sedari tadi.
Melihat Abian yang terlihat yang seolah sedang kelelahan, membuat orang tuanya saling berpandangan dan tersenyum penuh arti. Mereka mengira pasti semalam anak dan menantunya telah melakukan malam pertama beronde-ronde, membuat Abian begitu kelelahan.
"Sepertinya racikan yang kamu buat benar-benar manjur," bisik Bianca kepada suaminya.
Dylan hanya tersenyum penuh rasa bangga.
Namun, Bianca menjadi lebih mengkhawatirkan menantunya. Pasti Devina jauh lebih kelelahan dibandingkan dengan Abian.
Bianca segera memberikan sebuah vitamin pada menantunya. "Ini vitamin untukmu."
Devina yang sedang makan, dia mengerutkan kening. "Vitamin untuk apa, Ma?"
"Untuk menjaga imun tubuh. Semalam Abian pasti sudah membuat kamu kelelahan."
Jawaban dari Bianca membuat Abian dan Devina yang sedang makan, hampir tersedak.
Namun, Tiba-tiba Devina mendapatkan sebuah ide, agar dia bisa membuat Abian semakin kesal kepadanya. Dia pun pura-pura mengeluh. "Iya, aku hari ini sangat kelelahan sekali, Ma. Sampai semua badanku terasa pegal."
Bianca menjadi merasa kasihan kepada menantunya itu. "Ya ampun, kamu harus banyak beristirahat, Devina sayang."
Devina segera menggerakan tangannya untuk mengambil jeruk.
Bianca langsung menatap tajam pada Abian. "Bian, kamu ini gak ada romantisnya. Cepat bantu Devina kupasin jeruk!"
Abian sangat tidak terima, sejak kapan dia mengupasin jeruk untuk seseorang?
Tapi saat melihat mamanya sedang menatap tajam padanya, dia terpaksa membawa satu buah jeruk, lalu mengupas kulitnya.
Devina belum puas, dia masih ingin membuat Abian kesal. "Pasti sangat enak di pagi yang dingin ini minum coklat hangat."
Bianca langsung menyuruh Abian. "Bian, cepat buatkan coklat hangat untuk istrimu. Kamu harus belajar jadi suami yang siap siaga, jangan hanya mengandalkan pembantu. Contoh Papamu."
"Ehem." Dylan langsung berdehem, seolah sedang membanggakan diri.
Abian mendelik tajam ke arah Devina. Dia benar-benar sangat kesal. Sebenarnya anak orang tuanya itu dia atau Devina?
Dengan perasaan kesal, dia segera pergi ke dapur, lalu membuatkan coklat hangat untuk Devina.
Saat Abian hendak duduk kembali, tiba-tiba Devina berkata lagi.
"Ya ampun, aku lupa tidak membawa ponsel. Pasti ketinggalan di kamar."
Bianca langsung menyahut. "Biar Abian yang ambil. Kamu jangan banyak bergerak, Devina."
Abian langsung protes. "Nanti saja. Biar..."
Bianca langsung memeloti Abian.
Abian sangat menyadari betul bahwa mamanya memang sangat cantik, penampilannya tak kalah dengan wanita muda. Tapi jika sedang marah, semua jenis hantu pun akan langsung minder. Jadi, dia terpaksa harus nurut.
Devina hanya bisa menahan tawa, kapan lagi dia bisa membuat Abian patuh seperti itu. Dia langsung menjulurkan lidahnya pada Abian, seolah sedang mengejeknya.
Abian hanya membalasnya dengan tatapan tajam. Sayangnya dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena orang tuanya ada disana.
Dia bergegas masuk ke dalam lift sambil menggerutu di dalam hati. "Oke, kali ini kami bisa mengerjaiku. Tapi aku di hari-hari berikutnya aku akan membalasnya."
pasti elian cuma ngaku2 doang....😡